Limbah tambang logam berdampak pada 23 juta orang di seluruh dunia

Pemandangan udara bendungan yang berisi limbah dari operasi penambangan tembaga di Chili

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pemandangan udara bendungan yang berisi limbah dari operasi penambangan tembaga di Chili

Setidaknya 23 juta orang di seluruh dunia tinggal di dataran banjir yang terkontaminasi oleh konsentrasi limbah beracun yang berpotensi berbahaya bagi manusia.

Limbah tersebut berasal dari aktivitas penambangan logam, menurut sebuah penelitian.

Para ilmuwan Inggris memetakan 22.609 tambang logam aktif dan 159.735 tambang logam non-aktif di dunia dan menghitung tingkat polusi dari masing-masing titik.

Limbah kimia dapat timbul dari operasi penambangan dan merambat ke tanah dan saluran air.

"Kami memetakan area yang kemungkinan tercemar [limbah tambang logam].

"Ketika Anda menggabungkannya dengan data populasi, sekitar 23 juta orang di dunia hidup di tanah yang dapat disebut 'terkontaminasi'," kata Chris Thomas, profesor perairan dan kesehatan planet di University of Lincoln.

Oleh karena itu, para peneliti mengatakan tambang di masa depan harus direncanakan "dengan sangat hati-hati".

Temuan ini sangat penting karena permintaan melonjak untuk logam yang dapat digunakan dalam teknologi baterai dan elektrifikasi, termasuk lithium dan tembaga, kata Prof Mark Macklin dari University of Lincoln, yang memimpin penelitian itu.

"Kami sudah tahu tentang ini sejak lama," katanya kepada BBC News. "Yang mengkhawatirkan bagi saya adalah warisan - [polusi dari tambang yang ditinggalkan] masih mempengaruhi jutaan orang."

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Science, menggunakan data dari hasil riset tim sebelumnya tentang bagaimana polusi dari aktivitas penambangan bergerak dan terakumulasi di lingkungan.

Apa dampak limbah pertambangan logam bagi manusia?

Prof Chris Thomas mengatakan bahwa pengaruh pencemaran limbah logam terhadap manusia belum bisa dibuktikan dengan penelitian tersebut. Namun, penyebarannya cukup luas.

“Ada banyak cara orang yang terpapar [polusi dari penambangan logam]. Dan ada pertanian dan irigasi di banyak daerah itu," kata Thomas.

Tanaman yang tumbuh di tanah yang terkontaminasi, atau diairi oleh air yang terkontaminasi oleh limbah tambang, terbukti mengandung konsentrasi logam yang tinggi.

Limbah bocor ke hilir ketika sebuah bendungan roboh di pusat tambang di Rumania.

Sumber gambar, PAUL BREWER/UNIVERSITAS ABERYSTWYTH

Keterangan gambar, Limbah bocor ke hilir ketika sebuah bendungan roboh di pusat tambang di Rumania.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

"Hewan yang memakan rumput di dataran banjir juga dapat mengonsumsi tanaman dan sedimen yang terkontaminasi, terutama setelah banjir, ketika sedimen kaya logam segar diendapkan," para ilmuwan menjelaskan dalam penelitian mereka.

"Dengan perubahan iklim dan banjir yang lebih sering terjadi," Prof Macklin menambahkan, "warisan ini [polusi] akan menyebar dan meluas."

Prof Jamie Woodward dari University of Manchester, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan studi itu menyoroti ancaman yang timbul akibat "polusi senyap" yang tersimpan dalan dataran banjir.

"Banyak pemantauan sungai difokuskan pada air ketika ‘penjahat’ yang sebenarnya sering dikaitkan dengan sedimen sungai," katanya kepada BBC News.

Baca juga:

"Kita perlu lebih memahami bagaimana limbah diangkut di lingkungan dan di mana mereka disimpan. Hal ini memungkinkan kami untuk menilai bahaya dan menguranginya.

“Padang rumput dataran banjir yang sangat tercemar tidak boleh digunakan untuk penggembalaan ternak, misalnya."

Para peneliti menunjukkan dalam studi mereka bahwa penambangan logam melambangkan "bentuk kontaminasi lingkungan manusia yang paling awal dan paling gigih".

Sebab, limbah dari pertambangan sudah mencemari sistem sungai sejak 7.000 tahun yang lalu.

Bagaimana riset itu dilakukan?

Para ilmuwan mengumpulkan data tentang aktivitas pertambangan di seluruh dunia, yang diterbitkan oleh pemerintah, perusahaan pertambangan dan organisasi seperti US Geological Survey.

Informasi itu mencakup letak dari masing-masing tambang, logam apa yang diekstraksi, dan apakah tambang itu masih aktif atau sudah ditinggalkan.

Prof Macklin menjelaskan bahwa mayoritas logam dari penambangan logam akhirnya menjadi sedimen dalam tanah.

"Bahan inilah - yang terkikis dari ujung limbah tambang, atau di tanah yang terkontaminasi - masuk saluran sungai atau [dapat] mengendap di dataran banjir."

tambang logam australia

Prof Macklin dan rekan-rekannya menggunakan analisis lapangan dan laboratorium yang diterbitkan sebelumnya untuk mengetahui seberapa jauh sedimen yang terkontaminasi logam dapat bergerak ke dalam sungai-sungai dunia.

Data itu memungkinkan para ilmuwan untuk menghasilkan model komputer yang dapat menghitung tingkat saluran sungai dan dataran banjir di seluruh dunia yang tercemar oleh limbah pertambangan - baik dari aktivitas penambangan saat ini maupun historis.

Visualisasi data oleh Kate Gaynor dan Mike Hills