Pendudukan Palestina serta hubungan pemerintah Indonesia dengan Israel

Sumber gambar, OMAR AL-QATTAA/AFP via Getty Images
- Penulis, Faisal Irfani
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 14 menit
BBC News Indonesia mewawancarai jurnalis dan peneliti dari Australia, Antony Loewenstein, untuk membahas aksi Israel di Palestina. Dalam buku terbarunya, Antony mengungkap bagaimana pemerintah dan militer Israel menjadikan Palestina sebagai "lahan uji coba" senjata-senjata yang mereka miliki sebelum dijual ke negara-negara di dunia.
Buku Antony yang dirilis 2023 silam diberi tajuk The Palestine Laboratory: How Israel Exports the Technology of Occupation Around the World—selanjutnya The Palestine Laboratory.
Temuan Antony didasarkan pada penyelidikan atas dokumen-dokumen rahasia, wawancara eksklusif, hingga liputan langsung di lapangan.
"Seperti yang saya katakan, Israel selalu memandang Palestina sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup mereka dalam jangka panjang karena mereka percaya bahwa harus ada mayoritas penduduk Yahudi untuk bertahan hidup," ujarnya.
Selama lebih dari setengah abad, Israel telah menerapkan "dominasi" serta "kontrol" yang meluas terhadap orang-orang Palestina dan intensitasnya semakin meningkat dalam dua tahun belakangan.
Untuk mewujudkan "penguasaan" yang sempurna, Israel ditopang keberadaan teknologi canggih berbentuk drone sampai mesin mata-mata. Dari Palestina, alat-alat ini lantas diperdagangkan ke tingkat global.
Dalam perbincangan kurang lebih satu jam, kami membahas seputar taktik Israel, bahaya yang ditimbulkan, sampai hubungannya dengan Indonesia di bawah rezim Prabowo Subianto.
Berikut petikannya.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Dalam buku Anda dijelaskan dengan begitu rinci bahwa Israel menempatkan Palestina seperti laboratorium teknologi perang di mana masyarakat Palestina yang mesti menanggung dampaknya. Teknologi tersebut kemudian dijual ke negara lain, yang daftarnya merentang dari Asia, Eropa, sampai Timur Tengah. Apa yang mendorong Israel melakukan ini?
Israel telah memandang Palestina sebagai ancaman bagi kelangsungan hidupnya sejak awal, bahkan sebelum 1948 ketika Israel menjadi negara, dan hampir sepanjang sejarah keberadaan Israel.
Sejak 1948, meskipun meningkat secara signifikan setelah 1967, ketika Israel menguasai Tepi Barat dan Gaza, Yerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan, Israel merancang berbagai teknologi, alat, dan metode untuk mengendalikan populasi yang bagi mereka dianggap tidak diinginkan.
Jadi, di era modern, saya kira abad ini, kita berbicara tentang drone, spyware, smart wall, drone pembunuh, quadcopter, dan berbagai alat lainnya. Dan biasanya alat-alat ini pertama kali diuji coba pada masyarakat Palestina di Palestina, hampir seperti uji konsep, jika boleh dikatakan.
Kemudian, alat-alat ini secara rutin dijual sebagai alat yang telah teruji di medan perang ke sejumlah besar negara di seluruh dunia. Dan seperti yang saya katakan dalam buku, kita sebenarnya tidak tahu jumlah pasti negara yang telah dibeli Israel dalam setengah abad terakhir. Saya perkirakan sekitar 125 hingga 130 negara.
Israel melakukannya karena, dan jelas ketika kita berbicara tentang Israel, kita mengacu pada pemerintah Israel, pemerintah-pemerintah yang berkuasa secara berturut-turut, banyak warga Israel, dan militer Israel.
Orang Israel memandang Palestina sebagai ancaman, sebagai ancaman terhadap keberadaan mereka, sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup mereka sebagai negara Yahudi.
Oleh karena itu, Palestina telah didiskreditkan dengan sangat berhasil selama bertahun-tahun, baik di dalam Israel maupun, menurut saya, sebagian besar [negara-negara] Barat, sehingga pemantauan, pengawasan, pembunuhan, dan penargetan terhadap mereka tidak dianggap kontroversial. Bahkan, sering kali dianggap sebagai hal yang diperlukan.
Tentu saja, seperti yang Anda ketahui dari buku ini, saya sendiri adalah orang Yahudi dan saya secara fundamental menentang hal ini. Tapi, ini adalah pandangan mayoritas Yahudi Israel bahwa hal ini diperlukan untuk perlindungan kita.

Sumber gambar, Hassan Jedi/Anadolu via Getty Images
Pascaserangan 11 September, sebagaimana yang Anda tulis di buku Anda, Israel menjelma sebagai pemain kunci di industri senjata global. Dan Israel mengeksploitasinya menjadi profit. Mengapa 11 September adalah titik balik yang penting untuk Israel?
Jadi, satu atau dua hari setelah serangan 11 September, ada kutipan ini di buku saya, dan Anda bisa mendapatkan kutipan tepatnya dari cerita tersebut. Jadi saya tidak memberikan kata-kata persisnya, tapi intinya kurang lebih seperti ini.
[Benyamin] Netanyahu, yang saat itu belum menjadi perdana menteri, jelas memiliki ambisi untuk menjadi perdana menteri lagi, seperti yang dia lakukan beberapa tahun kemudian. Intinya, dia ditanya oleh media Amerika tentang pendapatnya mengenai peristiwa tersebut, pendapatnya mengenai serangan teroris.
Dan jawabannya adalah, dan sekali lagi, Anda bisa mendapatkan kata-kata tepatnya di buku, Itu sangat bagus. Itu hebat.
Dan orang-orang bertanya, Apa yang Anda bicarakan? Apa maksudmu?
Dan dia berkata, Oh, tidak, tidak, tidak, itu adalah serangan yang mengerikan, serangan yang mengerikan, tentu saja. Namun, dunia sekarang akan memahami apa yang telah kami alami selama ini.
Kami yang dimaksud adalah Israel. Israel telah mengklaim setelah 11 September bahwa mereka telah berperang melawan terorisme selama bertahun-tahun, melawan Muslim, melawan Arab, melawan Palestina.
Kemudian Barat dan dunia diminta melihat Israel sebagai model dan inspirasi. Lalu membiarkan Israel, baik pemerintah Israel maupun perusahaan Israel, untuk mengajarkan mereka cara menangani apa yang disebut sebagai terorisme. Banyak negara di dunia percaya hal itu. Mereka menerimanya.
Sekarang, AS jelas merupakan contoh yang paling jelas. Namun, banyak negara lain juga melakukannya, dari India hingga Hungaria hingga Indonesia. Bahkan negara-negara di mana Israel tidak memiliki hubungan resmi.
Negara-negara ini, meskipun sebagian besar adalah negara Muslim, sering kali ingin membeli teknologi ini dari Israel. Mereka ingin mendapatkan pelatihan dari Israel.
Dan tentu saja, saya berargumen bahwa hal itu sering dijual dengan kebohongan, yaitu dengan menggunakan alat dan teknologi ini, Anda sedang menjaga keamanan negara Anda. Padahal, menurut saya, sebenarnya hal itu memiliki efek sebaliknya.
Namun, itu bukan argumen yang diajukan Israel. Dan banyak negara menerima argumen tersebut. Jadi, selama 24 tahun terakhir, sejak [peristiwa] 11 September, industri senjata Israel mencapai hampir US$15 miliar berdasarkan angka terbaru yang kami miliki dari 2024.
Israel kini menjadi pedagang senjata terbesar kedelapan di dunia, yang luar biasa untuk negara kecil dengan populasi 10 juta orang.
Salah satu ideologi yang diterapkan Israel di Palestina, mengacu ke buku Anda, adalah dominasi. Membuat Gaza, sebagai contoh, menjadi penjara terbuka. Bagaimana ideologi dominasi ini diterapkan?
Seperti yang saya katakan, Israel selalu memandang Palestina sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup mereka dalam jangka panjang. Karena mereka percaya bahwa harus ada mayoritas penduduk Yahudi untuk bertahan hidup.
Dalam praktiknya di Tepi Barat atau Gaza—saya sudah mengatakan ini sebelum 7 Oktober—adalah keinginan untuk membuat kehidupan Palestina menjadi tak tertahankan.
Artinya, di Tepi Barat, mengusir Palestina dari tanah mereka. Ada banyak pos pemeriksaan yang harus dilalui untuk berpindah dari titik A ke titik B. Tidak ada pertanggungjawaban hukum atas pelanggaran yang dilakukan oleh pemukim atau tentara Israel.
Warga Palestina diperlakukan sebagai warga kelas dua. Jika terjadi sesuatu, seorang Palestina di Tepi Barat akan dibawa ke pengadilan militer, sedangkan jika Anda seorang Yahudi Israel, Anda akan dibawa ke pengadilan sipil.
Ada istilah untuk ini. Itu disebut apartheid. Itu secara harfiah apa adanya, bukan pendapat saya. Itu hanya apa yang hampir semua organisasi hak asasi manusia di dunia katakan sedang terjadi di sana.
Sekarang di Gaza sendiri, sebelum 7 Oktober, tentu saja wilayah tersebut dikendalikan oleh Hamas. Tapi, Israel mengendalikan perbatasan darat, laut, dan udara di sekitar Gaza. Israel juga dapat memilih siapa yang boleh masuk dan keluar. Seperti yang kita katakan, itu adalah penjara terbuka.
Sekarang maju ke November 2025. Jujur saja, Gaza tidak lagi ada. Gaza telah rata dengan tanah. Meskipun tidak semua warga di Gaza telah dibunuh, meskipun 65, 70, 85 ribu orang Palestina telah dibunuh oleh Israel dalam dua tahun terakhir, kehidupan telah dibuat tidak tertanggungkan.
Keinginan jangka panjang banyak orang di Israel tetap sama. Dimulai pada 1948, pembersihan etnis berlanjut pada 1967.
Dengan kata lain, ketika kita sebagai orang Israel mendapat kesempatan untuk membuat hidup Palestina tidak mungkin, kita mengambil kesempatan itu untuk mengusir mereka dari tanah mereka. Ini adalah pandangan umum menurut jajak pendapat mayoritas Yahudi Israel.
Dan yang saya khawatirkan adalah Israel berhasil dalam misi itu karena hanya sedikit tekanan publik atau internasional untuk menghentikannya dari negara-negara Barat atau jujur saja, sebagian besar dunia Arab Muslim, termasuk Indonesia.
Mungkin Anda bertanya tentang ini, tapi saya ingin mengatakan bahwa menurut saya, dalam dua tahun terakhir sejak 7 Oktober, posisi pemerintah Indonesia secara publik sangat problematik.

Sumber gambar, Abed Rahim Khatib/Anadolu via Getty Images
Sekarang kita bicara soal Indonesia, mengingat Anda menyebut posisi [pemerintah] Indonesia yang problematik. Indonesia adalah salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Dan, seperti Anda ketahui, pemerintah Indonesia selalu mengatakan di publik bahwa mereka mendukung [kemerdekaan] Palestina dan tidak mengakui Israel. Tapi, dalam beberapa waktu belakangan, sempat ramai tudingan pemerintah Indonesia hendak mendekat ke Israel, yang kemudian dibantah pemerintah Indonesia. Bagaimana Anda melihat hubungan Indonesia dengan Israel?
Saya pikir, seperti banyak negara lain, Israel dan banyak negara Muslim sebenarnya ingin memiliki hubungan yang lebih baik.
Indonesia telah membeli perangkat lunak mata-mata Israel selama bertahun-tahun.
Indonesia telah menggunakan perangkat lunak mata-mata Israel terhadap warganya sendiri. Saya merasakan bahwa pemerintah Indonesia saat ini memiliki keinginan, di satu sisi, untuk menenangkan publik yang umumnya tidak menyukai Israel dan tidak ingin menjalin hubungan normal.
Sementara di sisi lain, [Indonesia] ingin lebih dekat dengan Amerika Serikat, [Donald] Trump, dan Barat.
Ada keyakinan bahwa jika Anda dekat dengan Barat, terutama Washington, siapa pun yang berkuasa, apakah itu Trump, [Joe] Biden, atau orang lain, Anda lebih mungkin mendapatkan manfaat.
Jika Anda bersikap sangat tegas, jika presiden Indonesia berbicara secara kritis tentang apa yang dilakukan Israel dan mengatakan, Kami tidak akan pernah menormalisasi hubungan dengan negara yang melakukan genosida terhadap Palestina,maka Anda akan mendapat banyak dukungan dari publik, tapi Anda akan mendapat kemarahan di Washington.
Dan menurut saya, [tidak mengundang] kemarahan di Washington lebih penting bagi presiden Indonesia daripada [dukungan] publik, mengingat dia baru saja memenangkan pemilihan relatif baru-baru ini.
Bagi saya, negara mana pun yang melihat Israel setelah perilakunya dalam dua tahun terakhir dan berpikir bahwa kita harus bergerak menuju normalisasi sekarang—setelah mereka membunuh 70, 80, 90 ribu orang terutama Muslim—jelas tidak peduli pada Muslim.
Anda mendefinisikan posisi Indonesia problematik sejak 2023, atau dua tahun belakangan. Bagaimana Anda sampai pada kesimpulan ini?
Saya memang mengikuti politik Indonesia. Saya mengikuti komentar yang dibuat oleh presiden sebelumnya maupun presiden saat ini. Saya tidak mengklaim bahwa saya telah melihat setiap pernyataan di Indonesia. Saya tidak tinggal di Indonesia.
Tapi, saya sadar, dari percakapan dengan teman-teman, baik teman Indonesia maupun teman yang sering berkunjung ke Indonesia, bahwa banyak elite Indonesia yang memiliki simpati yang mengkhawatirkan terhadap Israel. Dan hal itu tidak berubah sejak 7 Oktober.
Menurut saya, sangat gila bahwa dalam dua tahun terakhir tidak ada satu pun negara Muslim besar di dunia Arab atau di luarnya yang secara resmi memutuskan hubungan dengan Israel.
Faktanya, sering kali sebaliknya. Mereka ingin, pada dasarnya, menjadi lebih dekat dengan Israel. Dan Indonesia, sayangnya, menjadi bagian dari tradisi itu. Dan menurut saya, itu sangat memalukan.

Sumber gambar, YASUYOSHI CHIBA/AFP via Getty Images
Presiden Indonesia kini dijabat seseorang dengan latar belakang militer. Kritik dari banyak organisasi sipil di sini adalah bahwa terdapat kecenderungan Prabowo ingin membawa Indonesia ke rezim militer. Apakah dengan begitu, yang saya tanyakan, Prabowo bakal lebih mendekat ke Israel?
Tentu saja iya, itulah kesan saya. Dan seperti yang saya katakan, hubungan banyak negara Muslim dengan Israel tidak hanya tentang Israel. Hal itu banyak berkaitan dengan Washington.
Dan saya pikir ada keinginan yang besar, terutama dengan Trump sebagai presiden saat ini. Trump tidak dapat diprediksi. Trump memberlakukan tarif pada banyak negara, yang jelas berdampak secara ekonomi pada negara-negara tersebut, termasuk Indonesia.
Saya pikir ada keyakinan bahwa jika Anda memuaskan seorang diktator otoriter seperti Trump, maka somehow Anda akan mendapatkan kesepakatan yang lebih baik. Dan bagian dari itu adalah menunjukkan penghormatan atau pujian [kepada Trump].
Hal itu benar-benar menunjukkan kepada saya bahwa banyak elite Indonesia meremehkan puluhan ribu Palestina yang telah dibunuh. Dan untuk memberi hadiah kepada Israel atas genosida. Menurut saya itu memalukan.
Dan saya mengatakan itu sebagai seorang Yahudi.

Sumber gambar, YOAN VALAT/POOL/AFP via Getty Images
Dan pandangan seperti ini, dalam kacamata yang lebih luas, diyakini negara-negara Muslim lain di dunia yang melihat Israel adalah cara mendekat ke Washington? Apakah ini juga berpengaruh ke kampanye solusi dua negara?
Solusi dua negara selalu menjadi ilusi. Itu selalu menjadi rencana yang didorong terutama oleh kekuatan Barat, AS, Eropa, Australia, Inggris, sebagai basa-basi.
Anda tidak bisa, di satu sisi mendorong kebijakan yang berbicara tentang membagi negara: satu negara Palestina, satu negara Israel.
Sementara pada saat yang sama, seperti yang telah dilakukan Israel dengan dukungan Barat, mendukung, mempersenjatai, dan mendanai sejumlah besar [pembangunan] permukiman di Tepi Barat.
Menurut saya, dalam beberapa bulan terakhir, ketika negara-negara seperti Australia, UK, dan Prancis—bukan Amerika, tentu saja, tapi negara lain—mendorong solusi dua negara, saya sering menyebutnya sebagai solusi zombie.

Sumber gambar, Suzanne Plunkett - Pool/Getty Images
Jadi, tidak, solusi dua negara tidak akan pernah terjadi.
Mungkin ada pemimpin yang terus membicarakannya, tapi Israel tentu tidak, AS tentu tidak, dan negara-negara Barat yang membicarakannya serta negara-negara Arab seperti Arab Saudi tidak memiliki minat untuk menekan Israel.
Jadi, itu adalah ilusi.
Di buku Anda, Anda menyebut ada semacam fenomena digital saat konten-konten mengenai Palestina disensor atau bahkan hilang. Mengapa ini terjadi?
Jadi, ketika media sosial benar-benar meledak, sekitar 10 tahun yang lalu, banyak pihak di pemerintah Israel menyadari bahwa mereka tidak lagi dapat mengendalikan narasi dengan mudah seperti di masa lalu—ketika hanya ada surat kabar dan radio.
Saya tidak mengatakan Israel selalu mengendalikan narasi, mereka tidak melakukannya, tapi lebih mudah ketika hanya ada lima surat kabar dan tiga stasiun radio. Tiba-tiba blogger, dan sekarang influencer, dan sebagainya muncul dalam jumlah tak terbatas.
Dan mereka menyadari bahwa daripada mencoba memenangkan pertarungan ideologi, mereka akan menekan Facebook, Twitter, dan platform lain seperti TikTok untuk menyensor, membungkam, atau mencemarkan nama baik kritikus.
Mereka mengklaim bahwa mereka hanya menargetkan ekstremis kanan, antisemit, atau Nazi, tapi sejatinya tidak benar.
Sering kali, sebenarnya, yang mereka targetkan adalah orang-orang yang hanya mem-posting tentang Palestina, yang dituduh sebagai antisemit, tapi sebenarnya tidak, itu omong kosong.
Itu dimulai sekitar 10 tahun lalu tapi meningkat secara drastis sejak 7 Oktober 2023. Tapi, satu hal yang saya katakan dalam buku ini, dan perasaan saya tentang hal ini semakin kuat, saya sebenarnya tidak yakin itu benar-benar berhasil.
Yang saya maksud adalah akun-akun tersebut diblokir, itu terjadi. Namun, dalam dua tahun terakhir sejak 7 Oktober dan pembantaian massal Israel di Gaza, Anda melihat jutaan orang di seluruh dunia, dari negara-negara Barat hingga negara lain, termasuk negara Anda, Indonesia, marah atas apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina, dan melakukan protes.
Mereka bereaksi terhadap apa yang mereka lihat secara online, baik itu Instagram, TikTok, Facebook, atau platform apa pun yang mereka gunakan.

Sumber gambar, Moiz Salhi/Anadolu via Getty Images
Meskipun banyak akun diblokir dan dilarang, mata orang-orang tidak bisa dibohongi. Kita melihat apa yang terjadi. Kecuali Anda mampu memblokir setiap akun yang membahas Palestina—yang sulit dibayangkan akan terjadi—maka pada akhirnya Anda bisa mencoba menyensor orang, mengintimidasi mereka, dan membungkam mereka, tapi pada akhirnya orang tahu apa yang mereka tahu.
Apa yang dilakukan Israel saat ini, hanya dalam setahun ini saja, mereka menghabiskan US$150 juta lebih untuk propaganda, untuk mencoba meyakinkan orang. Tapi, sebenarnya itu berarti membayar influencer Barat dan lainnya untuk pergi ke Israel dan mengatakan betapa indahnya tempat itu, mencoba meyakinkan Kristen evangelis di Amerika bahwa Israel adalah teman mereka dan mereka harus mendukung Israel.
Ada kesadaran, terutama di kalangan generasi muda, usia 18 hingga 35 tahun di banyak negara, bahwa perasaan mereka terhadap Israel telah berubah secara radikal, menjadi jauh lebih negatif dalam dua tahun terakhir karena apa yang mereka lihat, karena kehancuran, penyiksaan, kekerasan, dan hal-hal mengerikan yang mereka lihat secara online. Jadi, ada perang Israel yang sangat aktif di media sosial.
Saya tidak yakin bahwa hal itu benar-benar akan meyakinkan jutaan orang di seluruh dunia bahwa Israel berada di pihak yang benar, karena mereka telah melihat apa yang telah dilakukan Israel dan itu sangat mengerikan.
Wawancara ini terselenggara berkat kerja sama dengan Jakarta International Literary Festival (JILF). JILF diadakan pada 13 sampai 16 November 2025 di Taman Ismail Marzuki (TIM). Untuk informasi lebih lanjut, silakan akses di tautan ini.












