TPNPB-OPM sandera pilot Susi Air di Pegunungan Papua: 'Pilot aman, disandera di tempat terpencil'

Sumber gambar, Tribun News
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim telah menyandera pilot maskapai Susi Air berkebangsaan Selandia Baru, Philips Max Marthin.
”Pilot itu aman. Itu tanggung jawab kami, organisasi kami TPNB-OPM. Dia disandera di tempat yang terpencil ” kata juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, kepada BBC News Indonesia, Rabu (08/02).
Sebelumnya, dalam keterangan kepada media, Polda Papua menyampaikan bahwa pesawat maskapai Susi Air jenis Pilatus Porter PC 6/PK-BVY hilang kontak di Bandara Distrik Paro, Kabupaten Nduga, Papua, pada Selasa (07/2) pukul 06.17 WIT.
Baca juga:
Pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Mozes Kilangin, Kabupaten Mimika, membawa lima penumpang. Menurut laporan kantor berita Antara, kelima individu itu bernama Demanus Gwijangge, Minda Gwijangge, Pelenus Gwijangge, Meita Gwijangge, dan bayi Wetina W.
Pesawat tersebut seharusnya sudah kembali ke Bandara Mozes Kilangin pada pukul 07.45 WIT setelah lepas landas dari lokasi tersebut menuju Nduga pada pukul 05.33 WIT.
”Namun hingga sampai sampai pukul 09.15 WIT, pesawat belum juga kembali dari Distrik Paro Kabupaten Nduga ke Timika,” kata Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Ignatius Benny Ady Prabowo dalam keterangan resmi, Selasa (07/02).
"Identitas pilot Philips Marthin (37 Tahun) yang merupakan WNA asal Selandia Baru," sambungnya.
Apa tuntutan TPNPB-OPM?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, mengatakan lima penumpang Susi Air tidak disandera.
“Lima penumpang itu orang asli Papua, mereka tidak disandera karena kami berjuang untuk orang asli Papua, kecuali mereka menjadi mata-mata dan polisi Indonesia itu baru kami tembak,” kata Sebby kepada BBC News Indonesia.
Adapun pilot berkebangsaan Selandia Baru bernama Philips Max Marthin disandera dan tidak akan dilepaskan sampai Selandia Baru dan negara-negara lain bertanggung jawab.
"New Zealand [dan] Australia bertanggung jawab atas kematian satu juta lebih penduduk orang asli Papua selama 60 tahun di tangan pemerintah kolonial Republik Indonesia.
“Selama ini Australia, New Zealand, Amerika, Eropa mendukung Indonesia kirim senjata, melatih tentara, polisi bunuh orang Papua, orang asli Papua selama 60 tahun. Kami tunggu Australia, New Zealand, Amerika, Eropa bicara. Perserikatan Bangsa-Bangsa, bicara,“ cetus Sebby.
TPNPB-OPM, lanjut Sebby, punya tuntutan.
“Pilot itu penjaminan untuk kami bicara di meja perundingan antara kami dan Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.“
Baca juga:
Apa langkah pemerintah Indonesia?
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan tim gabungan Polri-TNI dari tim Operasi Damai Cartenz di Papua akan dikerahkan untuk menyelamatkan pilot dan penumpang pesawat Susi Air di Distrik Paro, Kabupaten Nduga, Papua, Selasa, 7 Februari 2023.
Dia menyebut pihak penyandera sebagai KKB atau Kelompok Kriminal Bersenjata.
“Terkait dengan perkembangan dari pilot dan penumpang yang diamankan oleh KKB, saat ini memang sedang dalam pencarian. Kami tim gabungan dari Operasi Damai Cartenz saat ini sedang melakukan operasi pencarian. Untuk hasilnya akan kita infokan,” kata Kapolri Jenderal Sigit dalam konferensi pers, seperti dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (07/02).
Bagaimana respons Susi Pudjiastuti, pemilik Susi Air?
Pemilik maskapai Susi Air sekaligus Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, memohon doa untuk keselamatan pilot dan penumpang pesawat Susi Air.
"Mohon doakan dan dukungannya. Dengan segala kerendahan hati dan atas nama kemanusiaan, Kami mohon keselamatan pilot dan penumpang PK BVY. Mohon dukungan & doa semoga pilot kami di Nduga Paro diberikan lindungan Alloh SWT, bisa kami jemput selamat," ungkap Susi dalam postingan di Twitter @Susipudjiastuti, Selasa (07/02).









