‘Semua perabotan ibu hancur, kursi terbalik semua’ – Banjir merendam puluhan ribu rumah di sejumlah daerah, BMKG prediksi cuaca ekstrem hingga pekan depan

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Banjir melanda sebagian wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir. Puluhan ribu rumah terendam. Ratusan ribu orang terdampak. Ratusan hektare lahan persawahan tergenang. Beberapa orang meninggal dunia.
Di Kota Padang dan sekitarnya di Sumatra Barat, sebanyak 10 kecamatan terendam air dengan ketinggian hingga dua meter. Selain banjir, di Kabupaten Pesisir Selatan, banjir bandang menyebabkan 10 orang hilang.
Di Kota Cirebon, Jawa Barat, banjir sejak Selasa (05/03) lalu telah merendam 42.617 rumah dan 160.414 jiwa terdampak di sembilan kecamatan. Dua orang dilaporkan meninggal dunia.
Kemudian di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, hujan deras sejak Senin (04/03) menyebabkan 11 kelurahan kebanjiran dengan ketinggian hingga dua meter. Dilaporkan 715 rumah terendam banjir dan satu orang meninggal.
Banjir juga menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, akibat hujar deras sejak Kamis (05/03).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat atau angin kencang masih akan terjadi pada periode Jumat (08/03) hingga Kamis (14/03).
“Untuk itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap peningkatan curah hujan yang berpotensi terjadi dalam seminggu ke depan dengan terus memperbarui informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca dari BMKG,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dalam keterangannya, Kamis (08/03).
Mulai dari aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) yang berdampak terhadap kondisi anomali curah hujan pada suatu wilayah yang dilaluinya, fenomena Cross Equatorial Northerly Surge – aliran angin permukaan yang berasal dari Laut Cina Selatan (LCS) dengan sangat kuat melintasi ekuator, hingga fenomena Super New Moon, dinamika atmosfer itu mempengaruhi potensi peningkatan curah hujan di Indonesia.
‘Semua perabotan Ibu hancur, kursi terbalik semua’
Rahimah, 60 tahun, menatap kosong ke arah genangan air yang merendam rumahnya sejak Jumat (08/03) dini hari.
Hingga pukul 13.30 WIB, air masih setinggi panggul di jalan depan rumahnya di Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat.
Ia mengaku pasrah melihat barang-barang di dalam rumahnya yang sudah hancur terendam oleh banjir.
“Semua perabot ibu hancur. Kursi tamu terbalik semua. Lemari, alat elektronik dan pakaian sudah terbenam,“ ujarnya kepada wartawan Halbert Caniago yang melaporkan untuk BBC News Indonesia dari Padang, Jumat (08/03).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
“Tidak ada yang bisa diselamatkan, paling menyelamatkan diri saja, ke lantai dua, kebetulan kami ada loteng,” tambahnya.
Rahimah menceritakan, hujan menguyur wilayahnya sejak Kamis (07/03) siang.
"Saya tidak menyangka air akan masuk ke dalam rumah saat pulang dari bekerja kemarin sekitar pukul 18.00 WIB," katanya.
Dia mengatakan hingga sekitar pukul 00.00 WIB, Jumat (08/03), hujan tak kunjung reda. Air pun mulai masuk ke dalam rumahnya.
"Air mulai masuk rumah tengah malam dan di dalam rumah sendiri tadi malam ketinggian air kira-kita setinggi pinggul," katanya.

Sumber gambar, Halbert Caniago
Sementara warga lainnya di Padang, Gimantroy (62 tahun) sedang membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di pagar rumahnya karena terbawa banjir yang melanda daerahnya
"Tadi malam itu ketinggian air kira-kira 1,5 meter dan di dalam rumah ketinggian air hampir sama dengan di luar," katanya.
Sementara, anak dan istrinya membantu mengangkut barang-barang yang masih bisa ia selamatkan dari banjir yang melanda.
"Semuanya terendam banjir. Lihat saja kulkas saya sampai dibawa air keluar dan tidak bisa diselamatkan lagi," katanya.
Pria paruh baya itu menceritakan bahwa hujan yang terjadi sejak Kamis (07/03) siang memang cukup deras dan ia tidak menyangka banjir akan merendam setinggi itu.
"Sebenarnya saya sudah menyelamatkan beberapa barang-barang dan surat-surat penting. Tetapi ketinggian air memang cukup tinggi, sehingga tidak bisa lagi diselamatkan," katanya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Rahimah dan Gimantroy hanya segelintir orang yang terdampak banjir di Kota Padang. Kepala Pelaksana BPBD Sumbar Rudy Rinaldy mengatakan terdapat ribuan rumah di 10 kecamatan di Padang terendam banjir.
“Banjir akibat curah hujan yang sangat besar, mencapai 390mm. Fokus kami mengevakuasi korban terdampak.
Dia menyebut ada sejumlah lokasi belum terjangkau karena akses terputus. Pihaknya sedang koordinasi mencoba mencapai lokasi tersebut agar dapat mengevekuasi warga yang terisolasi.
“Sementara untuk jumlah pengungsi masih didata,” tambahnya.
Selain di Padang, banjir juga menyebabkan longsor di Kabupaten Pesisir Selatan.
“Ada 10 orang hilang tertimbun longsor. Satu orang sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Rudy.
Apa penyebab hujan ekstrem di Padang?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Menurut laporan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau-Padang Pariaman, hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem terjadi di Padang, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat, dan Kabupaten Pasaman.
Dampaknya, banjir menggenangi perumahan warga di Kota Padang dengan ketinggian air antara satu hingga dua meter.
Selain itu, hujan juga menyebabkan terjadinya longsor di Sitinjau Lauik yang memutus jalur Padang – Solok, serta longsor di Pesisir Selatan.
“Hujan ekstrem yang terjadi di wilayah Kota Padang dan sekitarnya diakibatkan oleh pertemuan massa udara [konvergen], suhu muka laut di perairan barat Sumaera Barat cukup hangat dan kelembaban udara tinggi pada lapisan rendah hingga lapisan tinggi.”
Baca juga:
“Berdasarkan data citra satelit dan citra radar, hujan intensitas lebat berlangsung dalam durasi yang lama mulai dari siang hingga malam hari," tulis laporan itu.
Kondisi tersebut menyebabkan wilayah tangkapan hujan tidak mampu menampung curah hujan yang sangat tinggi sehingga terjadi banjir dan longsor, menurut laporan tersebut.
“Dengan melihat kondisi atmosfer saat ini, masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dapat disertai petir/kilat di sebagian besar wilayah Sumatra Barat hingga dua hari ke depan.”
Puluhan ribu rumah tergenang, ratusan ribu jiwa terdampak

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Andry Denisah
Selain di Sumatra Barat, banjir juga menggenangi beberapa wilayah lain di Indonesia.
Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 715 rumah terendam banjir di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara sejak Senin (04/03).
Satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi, air laut pasang dan luapan kali Lasolo sehingga drainase tidak dapat menampung debit air.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Andry Denisah
Pemerintah Kota Kendari lalu menetapkan masa tanggap darurat selama tiga hari ke depan sejak Kamis (07/03).
Salah satu warga Kelurahan Sodohoa, Kecamatan Kendari, Dea mengaku baru kali ini mengalami banjir bandang.
"Bukan lagi air meluap tapi banjir bandang. Bagaimana tumpah satu kali itu air, selama saya tinggal di sini baru kali ini banjir masuk dalam rumah sampai satu meter lebih, rumah bagian depan itu tinggi air sampai dua meter," terang Dea, seperti dikutip dari Kompas.com, Kamis (07/03).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Di Kota Cirebon, Jawa Barat, menurut laporan BPBD Jawa Barat, banjir sejak Selasa (05/03) lalu telah merendam 42.617 rumah.
Banjir itu juga menyebabkan 160.414 jiwa terdampak di sembilan kecamatan.
Dua orang dilaporkan meninggal dunia.
Selain intensitas hujan yang tinggi, banjir yang melanda 37 desa di sembilan kecamatan itu dipicu oleh limpasan Sungai Cisanggarung dan Sungai Ciberes.
Selain menerjang bangunan rumah dan fasilitas publik, banjir juga merendam 923,5 hektare lahan persawahan.
Seorang warga Cirebon, bernama Isa, mengatakan banjir di wilayahnya terjadi dalam waktu singkat dengan intensitas tinggi, ditambah lagi meluapnya sungai di dekat rumahnya.
"Jam enam sampai sembilan malam di hari Selasa, hujan g banget, terus setelah itu, air langsung ke sini, banjir tinggi sekali. Tengah malam langsung mengungsi, air tinggi," kata Isa, seperti dikutip dari Kompas.com, Kamis (07/03).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan akan menormalisasi dan meninggikan tanggul di lima sungai di Cirebon untuk mencegah terjadinya bencana banjir saat musim hujan.
Selain itu, banjir juga menggenani sejumlah wilayah di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, akibat hujar deras sejak Minggu (03/03). Menurut laporan BNPB, wilayah terdampak berada di Kecamatan Sambisari.
“Hujan lebat menyebabkan debit air sungai meluap hingga menggenangi pemukiman warga," menurut keterangan BNPB.
BNPB menyebut longsor yang juga terjadi telah mengakibatkan tiga warga tertimbun, 56 jiwa terancam dan lima jiwa terdampak, kata BNB
Bagaimana prakiraan cuaca ektrem ke depan?
BMKG mengidentifikasi bahwa masih ada potensi peningkatan curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia dalam sepekan ke depan, terhitung sejak 7 Maret 2023.
Peningkatan itu dipicu oleh aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), fenomena gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial yang aktif di wilayah Indonesia.
MJO, gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin adalah fenomena dinamika atmosfer yang mengindikasikan adanya potensi pertumbuhan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah aktif yang dilewatinya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Andry Denisah
Selain itu, curah hujan itu juga dipengaruhi oleh peningkatan kecepatan angin dari utara Indonesia hingga melintasi equator melalui Selat Karimata yag mengindikasikan aktivitas Cross Equatorial Northerly Surge (CENS).
”Potensi pembentukan pusat tekanan rendah di Samudra Hindia Barat Daya - selatan Jawa dan Australia bagian utara yang dapat memicu terbentuknya pola pumpunan dan perlambatan angin di Indonesia bagian selatan,” tulis BMKG dalam rilisnya.
Dampak dari dinamika atmosfer itu adalah akan ada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat atau angin kencang di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 8 hingga 14 Maret.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Andry Denisah
Selain peningkatan curah hujan, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan beberapa wilayah pesisir Indonesia, seperti di antaranya Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara juga diprediksi akan mengalami banjir rob.
”Adanya fenomena Super New Moon atau fase Bulan Baru yang bersamaan dengan Perigee (jarak terdekat bulan ke bumi) pada tanggal 10 Maret 2024 berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum,” kata Guswanto.
“Untuk itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap peningkatan curah hujan yang berpotensi terjadi dalam seminggu kedepan dengan terus memperbarui informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca dari BMKG,” kata Guswanto.
Sebelumnya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati memperingatkan potensi cuaca ekstrem akan terjadi pada periode peralihan musim hujan ke musim panas (pancaroba).
BMKG mengestimasi waktunya berlangsung Maret-April 2024.
“Berdasarkan analisis dinamika atmosfer yang dilakukan BMKG, didapati bahwa saat ini puncak musim hujan telah terlewati di berbagai wilayah Indonesia, khususnya bagian Selatan Indonesia,” kata Dwikorita dalam keterangan resminya.
Hal ini, kata dia, mengindikasikan bahwa wilayah tersebut akan mulai memasuki peralihan musim di bulan Maret hingga April.














