El Nino: Beberapa daerah di Indonesia mulai alami kelangkaan air bersih

Bantuan air

Sumber gambar, Moh Isa

Keterangan gambar, Warga desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung, harus mengandalkan bantuan dari BPBD Kabupaten Bogor untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka.

Beberapa daerah mulai dilanda kekeringan, seiring Indonesia memasuki musim kemarau yang diprediksi akan lebih kering dari biasanya karena dampak El Nino.

Warga di Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat kesulitan mendapatkan air bersih setelah mengalami penurunan curah hujan yang signifikan.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan pihaknya telah melakukan modifikasi cuaca sejak bulan Maret untuk memitigasi kekeringan.

Seorang aktivis lingkungan dari Greenpeace mengatakan potensi kekeringan akibat El Nino turut diperparah oleh faktor perubahan iklim.

Warga Kabupaten Bogor mengaku 'banyak sumur mulai kering'

Di Kabupaten Bogor, kelangkaan air bersih akibat kekeringan dirasakan terutama di Desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung.

Moh Isa Priatna, sekretaris desa di Kalong Liud mengatakan banyak sumur warga yang kering karena nyaris tidak ada hujan selama tiga minggu terakhir. Seluruh 11 RW di desa tersebut mengalami kekeringan.

Kelangkaan air bersih membuat warga kesulitan untuk mandi dan mencuci. Ada kali di dekat desa itu, kata Isa, tapi airnya kering dan banyak limbahnya.

“Kalau untuk minum masih bisa pakai air galon isi ulang,” ujarnya kepada BBC News Indonesia lewat sambungan telepon.

Saat ini warga mengandalkan bantuan air bersih dari BPBD Kabupaten Bogor dan CSR perusahaan tambang Antam. Namun mereka harus mengeluarkan biaya sendiri untuk transportasi.

Hingga Senin kemarin BPBD sudah mengirim 13 tangki dan CSR Antam 10 tangki, kata Isa, tetapi itu hanya cukup kira-kira untuk empat hari dan belum semua warga kebagian.

Baca juga:

Warga mengantre untuk air bersih

Sumber gambar, Moh Isa

Keterangan gambar, Warga mengantre untuk air bersih di Desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Isa mengatakan desanya terbiasa mengalami kekeringan setiap tahun, tetapi tahun ini terasa lebih parah.

“RW-RW yang biasanya tidak terdampak, tahun ini terdampak. Jadi hampir semua RW itu minta [bantuan air],” ungkapnya.

Sementara itu di Desa Pangaur, Kecamatan Jasinga, kelangkaan air bersih dirasakan di beberapa titik saja, menurut pejabat setempat.

Kepala seksi kesejahteraan Desa Pangaur, Ita, mengatakan wilayah tersebut masih terkena hujan.

“Daerah yang [mengalami] kelangkaan air bersih posisinya jauh dari kali dan lebih dekat dengan jalan raya provinsi. Pendapatan air sumurnya kurang banyak,” ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Perempuan itu mengatakan desanya baru mendapatkan bantuan air bersih dari Pemkab sebanyak 5000 liter.

“Terus kebetulan pas hari itu ngirim, sebelumnya malamnya turun hujan, besoknya juga turun hujan lagi Alhamdulillah sampai sekarang hujannya masih turun,” kata Ita.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Petugas Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Dejan Habiburrahman menjelaskan kekeringan dimulai pada tanggal 2 Juni di dua desa di Kecamatan Nanggung, kemudian tanggal 6 Juni di tujuh desa di Kecamatan Jasinga.

Curah hujan di wilayah-wilayah tersebut sudah berkurang sejak akhir bulan Mei, kata Dejan. Dia memperkirakan bila hujan tidak kunjung turun, total ada 15 kecamatan di Kabupaten Bogor yang berpotensi mengalami kekeringan.

“Kekeringan menurut saya paling parah 2020. Tahun 2023 kemungkinan sama seperti 2020, dari banyaknya desa yang terdampak,” ujarnya. BPBD Kab. Bogor mencatat, pada 2020 sebanyak 23 desa/kelurahan di 8 kecamatan mengalami kekeringan.

Dejan mengatakan, BPBD telah mengirimkan 5000 liter air ke wilayah terdampak. Lembaga tanggap bencana itu mungkin akan mengirimkan air secara rutin, sesuai permintaan dari kecamatan/desa.

Kekeringan juga melanda beberapa wilayah lain di Indonesia. Media lokal melaporkan bahwa BPBD Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai mendata warga yang berpotensi mengalami krisis air bersih. Di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, enam dari 12 kecamatan mengalami kekeringan.

‘Mencicil’ dampak El Nino

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan biasanya Indonesia sudah masuk musim kemarau pada bulan Juni. Menurut data BNPB, selama 2013-2023, bencana kekeringan selama kemarau paling sering terjadi di sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Namun, musim kemarau kali ini dipengaruhi oleh fase El Nino.

“Nah fase El Nino ini memang puncaknya itu di Agustus, tetapi biasanya dampaknya atau efek dari kekeringan yang ditimbulkan – karena kalau kita bicara ini kan bencana dua aja kan, kekeringan atau karhutla – sudah mulai 'tercicil' sejak mungkin akhir Mei atau pertengahan Mei lalu, karena di beberapa tempat juga di Jawa timur juga sudah mengalami kekeringan,” kata Abdul Muhari kepada BBC News Indonesia.

Peta sebaran kejadian bencana kekeringan tahun 2013-2023

Sumber gambar, BNPB

Dia memperkirakan musim kemarau 2023 akan kurang-lebih sama dengan kemarau di 2018 atau 2019, sama-sama fase puncak periode El Nino. Adapun 2020 sampai Maret 2023 Indonesia dalam periode La Nina atau periode basah.

“La Nina ini kebalikan dari El Nino... La Nina itu tumpah ruah hujannya. Makanya dalam tiga tahun terakhir kita enggak berhenti ngurusin banjir aja dari Januari sampai Desember itu karena kemaraunya pun kita sebut kemarau basah,” tuturnya.

Grafik tren kejadian bencana kekeringan 2013-2023

Sumber gambar, BNPB

Abdul Muhari mengungkap bahwa BNPB sudah berusaha memitigasi kekeringan dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Tujuannya, mengisi embung-embung, waduk, danau sampai pada ketinggian air yang cukup untuk melewati musim kemarau.

Upaya itu dilakukan sejak bulan Maret, kata Abdul Muhari, karena masih ada awan hujan.

“Ini kita manfaatin di golden time untuk TMC ini saat sekarang, di saat kita masih ada hujan sekali 3 hari ... Nah ini kita distribusi dulu si hujannya untuk mengisi embung, waduk, danau tadi supaya tempat tempat penampungan alami air ini bisa terisi optimal bisa terpenuhkan secara optimal sebagai cadangan air nanti di musim kemarau,” ia menjelaskan.

Bagaimanapun, modifikasi cuaca hanyalah solusi jangka pendek untuk kekeringan. Solusi permanennya, kata Abdul Muhari, membutuhkan perbaikan ekosistem.

“Kenapa sih di musim hujan kita banjir? Ya karena enggak ada pohon kita yang cukup kuat untuk menahan air. Kenapa sih di musim kemarau kita kekeringan? Karena tidak ada cukup banyak air yang tersedia di daerah-daerah resapan karena enggak ada pohonnya.

“Kalau kita mau bicara solusi permanen ya ekosistem yang harus dibenerin. Karena kalau tidak sifatnya itu akan instantaneous lagi, cuma jangka pendek,” ungkapnya.

Sebelumnya, BMKG memprediksi bahwa El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang sebelumnya berada dalam fase netral mulai beralih pada periode Juni 2023 dan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat. Sementara itu gangguan iklim dari Samudra Hindia, yaitu IOD (Indian Ocean Dipole), juga diprediksi akan beralih menuju fase IOD Positif mulai Juni 2023.

"Kombinasi dari fenomena El Niño dan IOD Positif yang diprediksi akan terjadi pada semester II 2023 tersebut dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia selama periode Musim Kemarau 2023," papar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

"Bahkan sebagian wilayah diprediksi akan mengalami curah hujan dengan kategori Bawah Normal (lebih kering dari kondisi normalnya) hingga mencapai hanya 20 mm per bulan dan beberapa wilayah mengalami kondisi tidak ada hujan sama sekali (0 mm/bulan)."

Dwikorita menjelaskan bahwa selain memicu kekeringan, minimnya curah hujan juga akan berpotensi meningkatkan jumlah titik api, sehingga makin meningkatkan kondisi kerawanan untuk terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Warga memperlihatkan kondisi sawah yang kering di Desa Pasie Jambu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Kamis (8/6/2023).

Sumber gambar, Antarafoto

Keterangan gambar, El Nino dapat membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering.

Plt Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab mengatakan hasil pemantauan BMKG terhadap 699 Zona Musim (ZOM) hingga akhir Mei 2023, menunjukkan bahwa sebanyak 28% (194 ZOM) di wilayah Indonesia sudah masuk periode musim kemarau dan 56% wilayah lainnya (392 ZOM) masih mengalami musim hujan.

"Puncak musim kemarau diprakirakan akan terjadi pada bulan bulan Juli, Agustus, dan September 2023, yaitu sebanyak 582 ZOM (83%),” ujarnya.

Fachri menambahkan, pada puncak musim kemarau, curah hujan di bawah normal diprediksi akan terjadi di sebagian besar sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, NTB, Kalimantan, Sulawesi, Sulawesi Utara, Maluku Utara; serta sebagian NTT, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

“Bahkan beberapa daerah akan mengalami curah hujan yang sangat rendah yaitu kurang dari 20 mm/bulan meliputi Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT,” ujarnya.

Juru kampanye perubahan iklim dan energi Greenpeace Indonesia, Adila Isfandiari, menyoroti bahwa faktor krisis iklim dapat memperparah dampak kekeringan yang dibawa El Nino.

“Tanpa adanya El Nino, krisis iklim saja sudah menyebabkan krisis air bersih sangat bertambah. Apalagi dengan adanya El Nino,” kata Adila.

Misalnya, orang-orang yang desanya tenggelam akibat kenaikan muka air laut. Kedatangan El Nino yang dapat membuat kemarau jadi lebih panjang dan kering akan semakin menyulitkan mereka untuk mendapatkan air bersih, imbuh Adila.

Menurut laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), antara 1,5 dan 2,5 miliar orang tinggal di dalam area yang terpapar kelangkaan air bersih di dunia.

Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat, menjadi 3 miliar jika suhu Bumi naik 3C dan sampai 4 miliar jika suhu Bumi naik 4C pada 2050.