Cerita kekasih aktivis pro-demokrasi Myanmar yang dihukum mati, "Hanya langit yang menjadi satu-satunya media kami untuk berkomunikasi"

Kabar terbaru dari Myanmar, Senin (25/07), telah mengguncang masyarakat di sana. Negara yang dikuasai oleh junta militer itu mengeksekusi mati empat aktivis pro demokrasi, termasuk mantan anggota parlemen Phyo Zeya Thaw dan veteran pemimpin revolusi, Ko Jimmy.
BBC berbicara dengan keluarga dan kolega mereka satu pekan sebelum keduanya dieksekusi mati.
"Saya suka menatap bintang-bintang. Dia tahu sekali soal ini. Saat itu, saya tahu hanya langit yang menjadi satu-satunya media kami untuk berkomunikasi," kenang Thazin Nyut Aung pada 3 Juni malam.
Saat itu, dia tahu bahwa militer sudah mengatakan bahwa eksekusi tunangannya, Phyo Zeya Thaw akan tetap dilanjutkan. Phyo sudah ditahan sejak Januari.
Phyo Zeya Thaw adalah satu dari empat aktivis—termasuk Ko Jimmy yang memiliki nama asli Kyaw Min Yu, Hla Myo Aung dan Aung Thura Zaw—yang hukuman matinya telah dikonfirmasi hari itu.
Mereka dieksekusi sekitar akhir pekan lalu, tapi tidak jelas kapan. Media militer melaporkan kematian mereka pada Senin pagi.
Beberapa pekan sebelumnya, Thazin Nyunt Aung berharap sesuatu yang berbeda akan terjadi. "Saya sangat yakin, kami tetap terhubung, dan dia akan tetap tabah," katanya.
Thazin Nyunt Aung berlindung pada harapan bahwa Myanmar tidak pernah melakukan eksekusi mati pada siapa pun lebih dari tiga dekade - eksekusi mati terakhir dilakukan pada 1988.
Dari rap menuju perlawanan
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Phyo Zeya Thaw merupakan satu dari 120 orang yang divonis hukuman mati sejak terjadinya kudeta berdarah oleh militer untuk menggulingkan pemerintahan yang terbentuk dengan demokratis pada Februari tahun lalu.
Militer juga menangkap Aung San Suu Kyi, pemimpin partai pemenang pemilu, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).
Militer menuduh adanya kecurangan dalam kemenangan telak NLD. Tuduhan ini telah dibantah oleh penyelenggara pemilu.
Melalui kebijakan keras, militer menghantam gelombang protes yang menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah di Myanmar, melibatkan puluhan ribu orang.
Baca Juga:
Phyo Zeya Thaw ditangkap sembilan bulan setelah kudeta terjadi, yaitu pada November 2022. Dia dituduh mengatur serangkaian serangan terhadap junta.
Dia merupakan anggota parlemen partai NLD, termasuk kolega dekat Aung San Suu Kyi. Dia mendampingi hampir di seluruh lawatan luar negeri Suu Kyi dari 2015 sampai 2020.
Tapi sebelum kudeta, dia memutuskan tidak ikut pemilu, karena ia ingin kembali ke minat lainnya: menjadi penyanyi rap.
"Dia ingin mencipta lagu dan pentas di atas panggung lagi," kata Thazin Nyunt Aung.
"Kami punya banyak mimpi sebagai seniman. Setiap orang punya banyak tujuan dan mimpi, tapi semua telah hancur karena kudeta. Para pengunjuk rasa ditangkap dan dibunuh serta dipenjara," tuturnya.

Sumber gambar, Handout
Phyo Zeya Thaw mulai terkenal secara nasional setelah mendirikan ACID, salah satu grup musik hip hop di Myanmar pada 2000.
Album pertama mereka "SaTin Gyin", yang secara harafiah berarti permulaan, menempati posisi tangga lagu teratas selama berbulan-bulan, menentang ekspektasi di negara yang cukup konservatif.
Musik ACID bergema mengiringi rasa frustasi anak-anak muda yang hidup di bawah diktator militer Than Shwe.
Tapi Phyo Zeya Thaw menginginkan lebih untuk negaranya.
Kemudian dia mendirikan perkumpulan anak-anak muda bernama "Generation Wave" dengan tiga teman SMA-nya setelah Revolusi Saffron 2007. Gerakan ini diwarnai protes yang dipimpin para biksu terkait dengan kenaikan bahan bakar.
Perkumpulan ini membuat grafiti pro-demokrasi, membagikan stiker, dan pamflet berisi pesan-pesan tentang demokrasi. Perkumpulan mereka kemudian dilarang dan Phyo Zeya Thaw ditangkap pada 2008. Tapi kemudian dibebaskan tiga tahun kemudian di bawah amnesti.
"Zeya Thaw membenci kediktatoran militer dan ketidakadilan sejak awal," kata temannya sekaligus salah satu pendiri Generation Wave, Min Yang Naing.
"Keyakinannya untuk mengakhiri kediktatoran militer sangat kuat. Dia selalu siap menghadapi bahaya apa pun yang datang.
"Mereka [junta] ingin meneror dan menakuti masyarakat. Tapi seperti biasa, Zeya Thaw tidak peduli dengan hukuman mati.
"Walaupun dia mungkin merasakan sesuatu di dalam dirinya, tapi hal itu tak akan ia tunjukkan kepada mereka [junta]. Itulah Zeya Thaw."
Tindak kekerasan yang diikuti dengan kudeta 2021 sangat brutal bagi banyak aktivis pro-demokrasi.
Kekasih Zeya Thaw , Thazin Nyunt Aung, meninggalkan rumahnya di Yangon, dan pindah ke rumah aman, tempat di mana ia tinggal sejak saat itu.
Nyunt Aung mengatakan sudah berhenti menggunakan Facebook sebelum waktu tidur, karena tidak ada konten yang dapat ia temukan di dalamnya, selain penangkapan pengunjuk rasa dan kekejaman oleh militer.

Sumber gambar, BBC Burmese
Ketika tahu tentang vonis hukuman mati Zeya Thaw, ia mengatakan matanya berlinang, dan tubuhnya gemetar. Dia merasa kedinginan.
Nyunt Aung mengenang saat itu: keluar dari rumah amannya lalu berjalan tak tentu arah dengan pikiran tak karuan.
Untuk menenangkan dirinya, Nyunt Aung menatap ke langit, dan melafalkan doa-doa Budha.
"Saya mengirimkan cinta kepadanya, dan berjanji tidak akan menyerah. Kami tidak akan mundur sama sekali. Kami akan berjuang sampai akhir," katanya.
Revolusi tak berkesudahan
Kyaw Min Yu, dikenal sebagai Ko Jimmy, juga sudah tidak asing dengan kehidupan di balik jeruji besi.
Pria 53 tahun, yang menghabiskan hampir setengah usianya di dalam penjara, menyebut sel sebagai "rumah kedua". Pada tahun 1989, dia ditangkap dan dijatuhi hukuman 20 tahun kerja paksa.
Dia kembali ditangkap pada Oktober tahun lalu, dan dituduh menjadi salah satu dalang di balik pembunuhan intel militer, serta pengrusakan pembangkit listrik, dan gedung-gedung milik pemerintah. Berbagai tuduhan ini dibantah oleh istrinya.

Sumber gambar, Getty Images
Tindakan perlawanan Ko Jimmy diawali saat ia menjadi pemimpin mahasiswa dalam pemberontakan 1988. Saat itu ratusan ribu orang memberontak melawan diktator Ne Win yang memerintah selama 26 tahun.
Tapi meski di balik penjara, dia tak pernah bisa melupakan gadis SMA berseragam putih hijau. Hal yang dia ceritakan kepada media NPR bertahun-tahun kemudian pada 2014.
Enam tahun setelah menghabiskan waktu di penjara, gadis itu, Nilar Thein, dikirim ke penjara yang ia tempati karena mengorganisir unjuk rasa. Ko Jimmy mulai menulis surat kepadanya, dan bunga-bunga cinta bermekaran.
Dia melamarnya, meskipun mereka tak bisa menikah di dalam penjara.
Pasangan ini dilepaskan pada 2004, setelah Ko Jimmy menghabiskan waktu 15 tahun di penjara, dan Nilar Thein delapan tahun. Mereka kemudian menikah.
Tapi tiga tahun kemudian, mereka sudah menempati garis depan pada periode revolusi lainnya.
Pada 2007, saat Myanmar tersapu Revolusi Saffron, pasangan ini mulai kembali memimpin protes.
Putri mereka saat itu baru berusia beberapa bulan ketika Ko Jimmy kembali ditangkap. Nilar Thein segera bersembunyi, berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya dengan bayinya yang baru lahir.
Sebelum akhirnya ditangkap, Nilar Thein berhasil meninggalkan bayinya bersama keluarganya untuk mendapat perawatan. Pasangan ini bersatu kembali setelah mereka dibebaskan melalui amnesti pada 2012.
"Lebih dari tiga dekade revolusi, Jimmy telah mengalami situasi paling buruk baik di dalam dan luar penjara. Kami semua harus mengatasinya dengan semangat tak gentar," kata Min Zeya, pemimpin lain dari "Generasi 88".
Setelah penangkapan terakhir, banyak yang berharap junta tidak lagi menghukum mati para aktivis, sebagian berkat tekanan internasional yang meningkat.
"Pada 1988, banyak orang dijatuhi hukuman mati karena menentang kediktatoran militer. Saya bahkan menghabiskan beberapa waktu dengan orang-orang itu di penjara. Tapi tak ada yang dieksekusi mati, dan banyak yang kemudian dibebaskan," kata Min Zeya.
Kabar hukuman mati yang dilakukan sekitar akhir pekan kemarin sangat mengejutkan, karena para petinggi militer telah mengatur pertemuan virtual para aktivis dengan keluarga mereka pada Jumat pekan lalu.
Juru bicara militer bahkan membantah desas-desus tentang eksekusi segera dilakukan. Ia mengatakan bahwa eksekusi tidak akan dilakukan tergesa-gesa.
Nilar Thein menolak untuk berbincang dengan BBC dengan alasan keselamatan.
Tapi dia telah mengunggah konten di Facebook setiap hari, menghitung jumlah hari dia terpisah dengan suaminya.
Pada Senin kemarin, setelah kabar hukuman mati beredar, dia menulis, "Sayangku, tolong tetap hidup, revolusi kita harus menang, kamu berada di penjara Insein."
Beberapa jam kemudian, ia kembali mengunggah pernyataan, "Sampai saya melihat mayat Jimmy... Saya tidak akan melakukan ritual apa pun."
Masih belum jelas apakah jenazah dari empat aktivis yang dieksekusi ini sudah dikremasi atau belum.
Tapi Nilar Thein dan Thazin Nyunt Aung, yang masih diburu junta, tak akan bisa menguburkan jenazah dari orang yang mereka sayangi.









