Apa yang perlu dilakukan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah?

Militer Israel membombardir Lebanon dengan serangan udara, pada 30 September 2024.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Militer Israel membombardir Lebanon dengan serangan udara, pada 30 September 2024.
    • Penulis, Paul Adams
    • Peranan, Koresponden BBC untuk isu diplomasi
  • Waktu membaca: 5 menit

Setahun yang lalu, berbagai foto dan video dari Timur Tengah yang beredar di media sosial dan pers menunjukkan sesuatu yang begitu intens.

Ketika itu Israel masih belum pulih dari serangan teror terburuk dalam sejarah mereka, sementara Gaza dihujani bom. Peristiwa tersebut terasa seperti sebuah titik balik.

Masalah Israel-Palestina, yang tidak terlihat di mata masyarakat dunia selama bertahun-tahun, kembali mencuat.

Semua orang tampaknya terkejut dengan situasi itu. Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Jake Sullivan, membuat pernyataan satu minggu sebelum eskalasi konflik meningkat, “Wilayah Timur Tengah saat ini lebih tenang dibandingkan dua dekade lalu.”

Setahun setelah Sullivan mengeluarkan kata-kata itu, Timur Tengah membara.

Lebih dari 41.000 warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel. Dua juta warga Gaza lainnya mengungsi.

Di Tepi Barat, 600 warga Palestina kehilangan nyawa karena serangan Israel. Di Lebanon, satu juta orang telah mengungsi dan lebih dari 2.000 orang tewas, juga karena serangan Israel.

Di sisi lain, 1.200 warga Israel tewas pada hari-hari pertama eskalasi konflik. Setidaknya 350 tentara Israel tewas di Gaza.

Adapun, 200.000 warga Israel terpaksa meninggalkan rumah mereka di dekat Gaza dan di sepanjang perbatasan utara yang bergejolak dengan Lebanon. Sekitar 50 tentara dan warga sipil tewas akibat roket Hizbullah.

Israel, Gaza, Timur Tengah

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Warga Israel memperingati satu tahun serangan 7 Oktober.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Di Timur Tengah, negara dari luar kawasan ini juga turut terlibat. AS membuat klaim berupaya mencegah agar krisis tidak terus meningkat. Upaya itu ditandai dengan kunjungan presiden AS, misi diplomatik yang tak terhitung jumlahnya, dan pengerahan sumber daya militer dalam jumlah besar.

Namun semuanya sia-sia. Roket telah ditembakkan dari jauh di Irak dan Yaman.

Dan dua musuh bebuyutan, Israel dan Iran, juga telah saling bertukar serangan. Hampir dipastikan akan terjadi serangan yang lebih besar lagi.

Pemerintah AS jarang terlihat gagal memberi pengaruh.

Ketika konflik telah menyebar, asal muasal konflik telah memudar dari pandangan.

Baca juga:

Kehidupan warga Gaza, sebelum dan sesudah 7 Oktober, hampir terlupakan ketika media dengan penuh semangat mengantisipasi “perang habis-habisan” di Timur Tengah.

Beberapa orang Israel yang kehidupannya berubah drastis pada hari yang mengerikan itu juga merasa diabaikan.

“Kami telah disingkirkan,” kata Yehuda Cohen, ayah dari sandera Nimrod Cohen, kepada Kan News Israel pekan lalu.

Cohen menganggap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas “perang sia-sia yang telah mengadu semua musuh melawan kita”.

“Dia melakukan segalanya, dengan sukses besar, untuk mengubah peristiwa 7 Oktober menjadi peristiwa kecil,” ujarnya.

Israel, Gaza, Timur Tengah

Sumber gambar, EPA-EFE/REX/Shutterstock

Keterangan gambar, Dua juta warga Gaza telah mengungsi akibat respons Israel terhadap serangan 7 Oktober.

Tidak semua warga Israel mempunyai sudut pandang yang sama dengan Cohen. Banyak yang kini melihat serangan Hamas tahun lalu sebagai serangan pembuka dari strategi yang lebih luas yang dilakukan musuh-musuh Israel untuk menghancurkan negara Yahudi tersebut.

Bagaimanapun terdapat fakta bahwa Israel membalas serangan Hamas. Mereka meledakkan pager di Lebanon, melakukan pembunuhan yang ditargetkan, meletuskan bom jarak jauh serta menjalankan operasi militer yang dipimpin oleh badan intelijen kebanggaan mereka.

Berbagai serangan militer itu mengembalikan kepercayaan diri Israel yang hilang setahun yang lalu.

“Tidak ada tempat di Timur Tengah yang tidak dapat dijangkau oleh Israel,” kata Netanyahu menyatakan dengan percaya diri, pekan lalu.

Dalam sejumlah jajak pendapat, tingkat kepercayaan publik terhadap Netanyahu sempat berada pada titik terendah selama berbulan-bulan setelah tanggal 7 Oktober 2023.

Kini tingkat kepercayaan publik terhadapnya kembali melonjak. Namun apakah ini akan menjadi semacam lampu hijau untuk serangan militer Israel yang lebih dahsyat?

Akan berujung ke mana seluruh peristiwa ini?

“Tak satu pun dari kita tahu kapan musik akan berhenti dan di mana semua orang akan berada pada saat itu,” kata Simon Gass, mantan duta besar Inggris untuk Iran, kepada BBC’s Today Podcast.

Baca juga:

AS masih terlibat dalam kisruh di Timur Tengah ini, meskipun kunjungan Panglima Komando Pusat, Jenderal Michael Kurilla, ke Israel lebih terasa seperti manajemen krisis dibandingkan eksplorasi jalur diplomatik.

Ketika Pemilihan Presiden AS tinggal empat minggu lagi dan situasi politik di Timur Tengah menjadi lebih pelik dibandingkan sebelumnya, ini bukanlah saat yang tepat bagi AS untuk mengambil inisiatif baru.

Untuk saat ini, tantangan terbesar mereka hanyalah mencegah eskalasi konflik membesar.

Ada asumsi umum, di antara sekutu-sekutu Israel, bahwa mereka mempunyai hak – bahkan kewajiban – untuk menanggapi serangan rudal balistik oleh Iran minggu lalu.

Tidak ada warga Israel yang tewas dalam serangan itu dan Iran tampaknya menargetkan sasaran militer dan intelijen, namun Netanyahu berjanji akan memberikan balasan yang keras.

Setelah berminggu-minggu meraih apa yang disebutnya sebagai kesuksesan taktis yang menakjubkan, Netanyahu tampaknya kini mempunyai ambisi besar.

Dalam pidato langsungnya kepada rakyat Iran, ia mengisyaratkan bahwa pergantian rezim akan terjadi di Teheran.

“Ketika Iran akhirnya bebas, segalanya akan berbeda. Momen itu akan datang lebih cepat dari perkiraan orang,” kata Netanyahu.

Bagi sebagian pengamat, retorika Netanyahu mencerminkan apa yang dikatakan kelompok neokonservatif AS menjelang invasi mereka ke Irak pada tahun 2003.

Meski saat ini terdapat bahaya yang terpendam dalam konflik yang terjadi, setidaknya pagar pembatas yang rapuh masih tetap berdiri.

Iran mungkin memimpikan sebuah dunia tanpa Israel, namun mereka tahu bahwa mereka terlalu lemah untuk menghadapi satu-satunya negara adidaya di kawasan ini, terutama pada saat Hizbullah dan Hamas – sekutu dan proksi mereka berada dalam apa yang disebut sebagai “poros perlawanan” – sedang dihancurkan.

Dan Israel, yang sangat ingin menyingkirkan ancaman yang ditimbulkan oleh Iran, juga tahu bahwa mereka tidak dapat melakukan hal ini sendirian, meskipun mereka telah mencapai keberhasilan baru-baru ini.

Perubahan rezim tidak ada dalam agenda Joe Biden, begitu pula wakil presidennya, Kamala Harris.

Adapun Donald Trump, saat ia tampak siap untuk menyerang Iran–setelah Teheran menembak jatuh pesawat pengintai AS pada bulan Juni 2019–mantan presiden tersebut mundur pada saat-saat terakhir.

Trump mundur meski dia memerintahkan pembunuhan seorang jenderal penting Iran, Qasem Soleimani, tujuh bulan kemudian.

Hanya sedikit orang yang membayangkan, setahun yang lalu, bahwa Timur Tengah sedang menuju momen paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir.

Namun jika dilihat melalui kaca spion raksasa, 12 bulan terakhir tampaknya sungguh sangat kacau.

Dengan banyaknya peristiwa yang mematikan dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, para pembuat kebijakan – dan kita semua – berupaya keras memahaminya.

Ketika konflik yang meletus di Gaza memasuki tahun kedua, semua pembicaraan tentang “hari setelahnya”–bagaimana Gaza akan direhabilitasi dan diatur ketika pertempuran akhirnya berakhir–telah berhenti, atau tenggelam oleh hiruk pikuk perang yang lebih luas.

Demikian pula halnya dengan diskusi yang bermakna mengenai resolusi konflik Israel dengan Palestina.

Pada titik tertentu, upaya diplomasi untuk Timur Tengah barangkali akan mendapatkan kesempatannya lagi.

Itu berpotensi muncul ketika Israel merasa telah menimbulkan cukup banyak kerusakan terhadap Hamas dan Hizbullah.

Pada saat yang sama, Israel dan Iran sama-sama telah menyatakan sikap mereka, sementara Pilpres AS juga telah berakhir.

Peluang diplomasi itu akan terjadi, jika Timur Tengah tidak terjerumus ke krisis yang lebih dalam.

Namun saat ini, hari-hari saat diplomasi menjadi solusi yang paling utama terasa masih sangat jauh.