Kematian atlet Olimpiade yang hamil delapan bulan membangkitkan kesadaran akan bahaya eklamsia

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Ahmen Khawaja
- Peranan, BBC World Service
Saat mengandung bayi kembar di usia delapan bulan, Jamara Brooks-Parmer pergi belanja bersama suaminya.
Hari itu berjalan cukup normal di Miami, Florida, Amerika Serikat. Sang calon ibu tidak sabar melahirkan kedua anaknya ke dalam dunia, namun ia merasa ada yang tak beres.
“Saya merasakan sakit kepala hebat sejak pagi hari, yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Saya bahkan harus meminum obat penghilang rasa sakit kemudian tidur,” kata Jamara.
“Tetapi setelah kami sampai di toko, saya tiba-tiba merasa sangat lemas dan meminta suamiku lanjut belanja bersama seorang teman, sementara saya istirahat sejenak di tempat duduk.”
Namun saat suaminya melihat mukanya yang pucat, ia langsung sadar bahwa istrinya sangat kesakitan.
Jamara sempat kejang-kejang saat berjalan menuju mobil dan segera diantar ke rumah sakit.
Ketika para dokter melakukan operasi Caesar darurat, dia mengalami kejang tiga kali lagi.
“Kemudian, saya hanya ingat bangun di ruang rumah sakit setelah operasi.”

Sumber gambar, Jamara Brooks-Parmer
Baca juga:
Jamara didiagnosis mengidap eklamsia, sebuah kondisi darah tinggi yang berpotensi fatal dan bisa menyebabkan kejang-kejang.
Jamara benar-benar tak menyangka itu bisa terjadi. Sebab, ia belum pernah didiagnosis dengan pre-eklamsia, penyakit yang berhubungan, namun tidak se-berbahaya, yang biasanya diikuti eklamsia.
Apa itu eklamsia dan pre-eklamsia?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Pre-eklamsia biasanya terjadi di babak kedua kehamilan, tanda-tanda awalnya berupa tekanan darah tinggi atau hipertensi dan ditemukannya protein dalam urine.
Biasanya protein terdeteksi saat seorang calon ibu melakukan pemeriksaan kesehatan rutin menjelang kehamilan.
Namun, jika penyakit itu tidak langsung didiagnosis dan dimonitor, maka kondisi itu dapat berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius seperti eklamsia dan sindrom HELLP.
Sindrom HELLP adalah kondisi berbahaya ketika ibu hamil mengalami gangguan pada sel darah merah, gangguan fungsi hati, dan rendahnya trombosit.
Minggu ini, Badan Pengawas Obat & Makanan (FDA) Amerika Serikat telah menyetujui penggunaan tes darah yang dapat mengidentifikasi perempuan hamil yang beresiko mengidap pre-eklamsia.
Alat pemeriksaan baru tersebut dapat memberikan peringatan awal dengan memeriksa siapa di antara banyaknya perempuan-perempuan hamil yang memiliki gejala-gejala serupa yang berpotensi mengidap penyakit itu dalam dua minggu ke depan.
Kesadaran publik terkait eklamsia hanya baru-baru ini muncul setelah kematian mendadak atlet Olimpiade asal AS Tori Bowie, yang saat itu sudah delapan bulan hamil.
Kondisi itu lebih sering ditemukan pada perempuan kulit hitam dan kemungkinan menjadi faktor yang menyebabkan kematian bintang olahraga lari yang menyandang gelar Pelari Cepat Juara Dunia dan pernah meraih emas pada Olimpiade 2016.
Dua rekan Bowie, Allyson Felix dan Tianna Bartoletta, juga mengalami kondisi pre-eklamsia selama kehamilan mereka. Sama seperti Bowie, mereka perempuan kulit hitam.
Angkanya susah dipastikan, tetapi diperkirakan pre-eklamsia menyerang 3-8% perempuan hamil di seluruh dunia.
Gejalanya biasa mencakup kandungan protein di urine, sakit kepala berat, masalah penglihatan, rasa sakit di bawah tulang rusuk, rasa mual atau muntah, dan pembengkakan tiba-tiba pada bagian tangan, kaki, atau wajah.
Di Amerika Serikat, tingkat perempuan Afrika-Amerika yang mengidap pre-eklamsia itu 60% lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan kulit putih, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.
Jamara, yang merupakan perempuan keturunan Afrika-Amerika, mengatakan beberapa gejala-gejalanya diabaikan oleh dokter.

Sumber gambar, Jamara Brooks-Parmer
”Saya memang mengalami pembengkakan berlebihan, tetapi ketika saya memberitahu dokter, mereka mengabaikannya dengan mengatakan ‘Anda mengandung dua [bayi] jadi kemungkinan Anda hanya menyerap banyak cairan’.
”Mereka hanya menyarankan agar saya tetap terhidrasi.”
Selama masa penyembuhan, Jamara mengetahui bahwa ia hampir meninggal.
“Setelah saya bangun, saya melihat ibu saya di samping. Ia mengatakan, ‘Kamu baru melahirkan bayi-bayimu, mereka memberi pilihan [siapa yang hidup], antara kamu atau mereka, atau semuanya.”
Lima tahun kemudian, pada 2015, Jamara hamil untuk kedua kalinya dengan gejala-gejala serupa dengan kehamilan pertamanya. Tetapi kali ini, pengalamannya lebih baik dari sebelumnya.
Dokter yang ia kunjungi adalah orang Afrika-Amerika, bukan orang kulit putih. Jamara mengatakan ia lebih sadar akan gejala-gejalanya, tetapi juga sang dokter ‘menyuarakan lebih’ untuknya. Ia mengatakan elemen rasisme tidak bisa dikesampingkan.
“Pada minggu ke-34 saya hamil, ketika tekanan darah saya sedang sangat tinggi, dia [dokter] tidak berlama-lama dalam membantu saya melahirkan anak perempuan saya.”
“Kini saya seorang advokat dan saya meningkatkan kesadaran dalam komunitas saya tentang kondisi yang mengancam nyawa ini yang saya dulu tidak tahu.”
Perempuan kulit hitam terancam

Sumber gambar, Ebony Ford
Baca juga:
Melalui sebuah kelompok penyintas eklamsia, Jamara bertemu dengan Ebony Ford di Washington DC.
Seorang advokat kesehatan maternal yang berusia 36 tahun, Ebony adalah seorang ibu baru, yang melahirkan anak keduanya, Roman, secara prematur dua bulan yang lalu.
Ia menggendong ‘bayi mukjizatnya’ dengan sangat protektif, sebelum menceritakan kembali pengalaman traumatisnya mengandung dan melahirkan.
Ebony, yang juga merupakan perempuan Afrika-Amerika, pertama kali mengalami eklamsia saat ia hamil dengan anak perempuannya, Reign, lima tahun yang lalu.
“Pada minggu ke-25, saya mulai mengalami sedikit pembengkakan di bagian pergelangan kaki. Dan tekanan darah saya menjadi sangat tinggi saat diperiksa.
“Saya khawatir dan berharap diberikan tes darah tetapi dokter mengatakan, ‘semua baik-baik saja’.
“Tetapi kemudian, pembengkakan sedikit di bagian kaki dan tangan saya menjadi sangat besar. Saya sampai tidak bisa melepas cincin pernikahan saya. Saya tidak bisa bernapas dengan teratur.
“Penglihatan saya menjadi sangat kabur dan saya merasa seperti seseorang sedang duduk di atas dada saya.”
Ebony masih di babak kehamilan awal, baru memasuki minggu ke-26, tetapi dia pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya.
“Di sana, saya mengetahui tekanan darah saya berada di 262, melebihi 154. Dokter itu bingung bagaimana saya masih sadar diri.”
Sebagai rujukan, tekanan darah yang ideal seharusnya berada di antara 90/60, dan 120/80, menurut Layanan Kesehatan Nasional.
“Ketika saya memberitahu kabar ini kepada keluarga saya lewat telepon, hasil tes darah keluar. Ternyata saya benar-benar mengalami kegagalan organ.”
Pemeriksaan menunjukkan bahwa Ebony mengidap sindrom HELLP, yang menyebabkan gangguan hati dan pembekuan darah langka yang dapat mempengaruhi wanita hamil. Ini dapat menyebabkan sepsis dan kegagalan organ.

Sumber gambar, Ebony Ford
“Mereka memutuskan pada kehamilan saya di minggu ke-26 dan lima hari untuk membantu saya bersalin lewat kondisi darurat, tetapi mereka harus membuat saya pingsan sebelumnya.”
“Saya benar-benar berusaha bertahan hidup pada saat itu. Hal terakhir yang ingat adalah memberitahu suami saya bahwa saya mencintainya sambil menangis.
Anak perempuannya bernama Reign lahir dengan berat badan hanya 0,88 kilogram.
“Saya berpikir pre-eklamsia saya memang diabaikan. Dokter saya tidak memikirkan tekanan darah tinggi saya dengan serius dan bahkan memilih untuk tidak memeriksa darah saya minggu itu.
“Dia bersikap sangat pasif dalam perawatannya.”
Dia menunggu hampir empat tahun sebelum mencoba mengandung bayi lagi.
Kali ini, Ebony memilih untuk memiliki tim perawatan berbeda.
“Mereka merancang rencana bagi saya dan memberitahu gejala-gejala apa yang perlu saya waspadai.
“Kemudian dalam kehamilan saya di minggu ke-30, saya mulai mengalami gejala pre-eklamsia lagi. Kami menyadari bayi itu sudah tidak berkembang lagi dan memasuki tahap keempatnya.
“Plasenta saya mulai tidak berfungsi dan saya harus tinggal di rumah sakit selama berminggu-minggu agar mereka dapat memantau [kondisi] saya. Tepatnya pada minggu ke-31, saya mulai mengalami masalah pernapasan."
Dokternya memutuskan untuk melahirkan putranya Roman pada minggu ke-31 pada 6 April tahun ini, dengan berat badan lebih dari 0,91 kilogram.
Kematian ibu
Jamara dan Ebony sama-sama hidup, tetapi kebanyakan perempuan tidak.
Sekitar 70.000 perempuan dan 500.000 bayi meninggal di seluruh dunia setiap tahun akibat komplikasi yang berkaitan dengan pre-eklamsia, menurut CDC.
“Eklamsia adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh plasenta, organ tubuh yang menyediakan oksigen dan nutrisi kepada bayi yang sedang tumbuh,” kata Manu Vatish, seorang profesor kebidanan di Universitas Oxford di Inggris.
“Dan ketika seorang ibu mulai mengalami kejang, akan menjadi sangat sulit untuk menstabilkan ibu untuk melahirkan bayinya dan memastikan ibu itu baik-baik saja.
“Jelas ada beberapa elemen dalam biologi kehamilan yang berbeda pada perempuan kulit hitam.
“Ketika Anda tinggal di Afrika, ada masalah kurang gizi di sana, karena ketidaktersediaan berbagai jenis nutrisi dan mineral. Selain itu juga, kecenderungan ras Anda, [perempuan] keturunan kulit hitam berisiko lebih tinggi terkena penyakit ini."

Sumber gambar, Prof Manu Vatish
Baca juga:
Departemen Kesehatan AS mengatakan ada berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kesenjangan tersebut, termasuk rasisme struktural, bias yang implisit, dan perbedaan dalam kualitas perawatan kehamilan.
Prof Vatish mengatakan dia melihat prasangka ras benar-benar terjadi selama dia berpraktik.
“Ada ketidakseriusan dalam menanggapi orang-orang kulit hitam dan Asia dan saya telah melihat itu sepanjang karier saya.
"Kekhawatiran mereka diabaikan. Mereka tidak mendapatkan pereda nyeri secepat orang-orang kulit putih.
"Ada perilaku yang meluas oleh staf yang cenderung merugikan wanita kulit hitam dan Asia."
Ebony merasa dirinya beruntung bisa mendapatkan tim perawatan yang mencari tahu lebih dalam tentang kekhawatirannya.
“Saya akan selalu menyarankan agar perempuan memilih tim perawatan suportif untuk memastikan kekhawatiran mereka didengar.
"Satu pemeriksaan pasif hampir membuat saya tidak selamat.”












