'The Crown' seri kelima: Kisah perceraian Pangeran Charles-Putri Diana yang ‘mencekam, namun diceritakan dengan buruk’

    • Penulis, Hugh Montgomery
    • Peranan, BBC Culture

Dengan bertabur pemeran-pemeran bintang seperti Imelda Staunton, Dominic West dan Jonny Lee Miller, musim kelima serial The Crown menceritakan kisah perceraian Pangeran Charles dan Putri Diana pada era 1990-an. Namun untuk sebuah drama bertensi tinggi, serial yang tayang di Netflix pada 9 November 2022 ini sepertinya ditulis dengan buruk, tulis jurnalis BBC Culture, Hugh Montgomery.

Pada musim kelimanya, serial The Crown telah mencapai titik yang dinanti-nantikan.

Mengingat saga Netflix tentang keluarga kerajaan Inggris ini dimulai dengan megah dan bisa dibilang agak hagiografis, ada ekspektasi akan drama bertensi tinggi ketika alur ceritanya mencapai tahun 1990-an.

Itu adalah dekade di mana para bangsawan ini diperlakukan layaknya selebriti, sebagian besar dipicu oleh “Perang Wales” alias gejolak pernikahan Pangeran dan Putri Wales pada saat itu.

Itu lah mengapa sepuluh episode terbaru dari serial ini, di mana para pemerannya sekali lagi berganti dan sosok Ratu diperankan oleh Imelda Staunton, telah memicu lebih banyak kontroversi dibanding musim-musim sebelumnya.

Jadwal tayangnya yang berjarak singkat setelah kematian Ratu Elizabeth II pun menambah kekhawatiran seputar perilisannya.

Sejauh ini, mantan Perdana Menteri John Major –yang di dalam serial diperankan oleh Jonny Lee Miller—menggambarkan The Crown sebagai “omong kosong besar” karena menunjukkan bahwa pada 1990, Pangeran Charles ingin agar Ratu turun tahta dengan bantuannya.

Sementara itu, aktris Judi Dench menulis surat terbuka yang menjuluki The Crown sebagai “sensasionalisme kasar” yang berujung membuat Netflix menyertakan pemberitahuan di dalam trailernya yang menekankan bahwa serial ini adalah “dramatisasi fiksi”.

Komentator kerajaan pun telah mengisyaratkan kemungkinan betapa “marahnya” Pangeran William soal reka ulang wawancara antara ibunya dengan jurnalis BBC –yang kini didiskreditkan—Martin Bashir pada 1995 di dalam serial ini.

Namun, ayahnya mungkin tidak akan terlalu marah karena diperankan oleh aktor kelas atas, Dominic West.

Untuk menjawab pertanyaan besar saat ini: haruskah The Crown dan penciptanya, Peter Morgan, mempermainkan fakta-fakta yang ada secara sembrono?

Di satu sisi, Anda bisa berargumen bahwa menuduh The Crown terlalu dibuat-buat berarti melewatkan alasan utamanya, yakni membayangkan apa yang tidak akan pernah bisa kita ketahui melalui sejarah, pertukaran intim yang terjadi di balik pintu-pintu istana.

Spekulasi kreatif semacam ini lah yang menghasilkan adegan terbesar pada musim ini secara dramatis: pertemuan yang menegangkan, namun seimbang antara Ratu Elizabeth II dan Putri Diana menjelang wawancara dengan Bashir, di mana Staunton dan Elizabeth Debicki akan membagi dua rasa simpati Anda.

Tetapi dengan fakta-fakta yang dicampur aduk, atau malah diabaikan begitu saja, tampaknya wajar untuk mempertanyakan mengapa – serta apa untungnya.

Tanpa mengadili setiap pilihan naratif, serial ini jelas-jelas sengaja menyimpang dari kebenaran tanpa pandang bulu: contohnya pada episode pertama, di mana plot turun tahta Ratu didasarkan pada jajak pendapat yang mengejutkan dari Sunday Times yang menggambarkan Monarki menghadapi ancaman itu, sehingga itu menyebabkan Pangeran Charles bergerak menentang ibunya.

Kalau Anda bisa melihat pemberitaan dari jajak pendapat itu yang tersimpan di arsip The Times, Anda akan menemukan artikel bernada positif yang dibuka dengan, “Keluarga Kerajaan memasuki era 1990-an sebagai bagian yang sangat populer dalam kehidupan masyarakat Inggris”.

Laporan itu juga mencatat bahwa sembilan dari 10 orang merasa menyukai Sang Ratu.

Beberapa paragraf terakhir dari artikel itu memang menyebutkan statistik yang dikutip oleh The Crown, bahwa hampir setengahnya akan mendukung Ratu turun tahta lebih awal, namun artikel itu menyertakan kata kunci “pada tahap tertentu”.

Itu agak berbeda dengan bagaimana statistik tersebut ditayangkan di serial ini, seolah ada keinginan yang mendesak untuk turun tahta, ditambah penilaian publik yang menganggap bahwa Ratu pada titik itu “tidak relevan”, “tua” dan “mahal”.

Selain pertimbangan etis, mengapa kekeliruan atas fakta-fakta itu penting secara statistik tampaknya telah menunjukkan kegagalan paling mendasar dalam serial ini yang lebih mencolok dibanding musim-musim sebelumya: kemalasan luar biasa dalam menulis alur ceritanya.

Realita yang ada mungkin terlalu bernuansa, sehingga serial ini memilih jalan pintas, menimpanya dengan menghubungkan alur-alur ceritanya secara salah.

Itu terlihat dari diskusi tentang popularitas Ratu yang merosot disandingkan dengan masalah kapal pesiar kesayangannya, Britannia, yang membutuhkan anggaran besar untuk memperbaikinya.

“(Kapal) itu adalah buatan dari zaman lain…dalam banyak hal sudah usang,” kata Pangeran Philip, diperankan oleh Jonathan Pryce.

Kemudian adegan yang dihapus tentang Pangeran William diajarkan mengenai Guy Fawkes –ekstrimis Katolik Inggris yang berniat meledakkan Istana Westminster saat sidang pembukaan parlemen pada 1605 dan kemudian menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan—tepat ketika ibunya, Putri Diana, bersiap diwawancara oleh Bashir pada 5 November.

Analogi-analogi keliru jarang dihindari, yang sebetulnya akan tampak baik-baik saja sebagai sebuah kalimat di dalam buku sejarah, namun dalam serial ini terlalu dibesar-besarkan dan dibuat-buat.

Dan ketika karakter-karakternya tidak berbicara dalam metafora tanpa disadari, mereka makin cenderung mengeluarkan opini layaknya kolumnis koran yang frustasi.

Pergeseran fokus

Terlepas dari semua itu, ketika The Crown mencapai paruh kedua dari keseluruhan ceritanya, setidaknya serial ini menarik sebagai sebuah sinetron.

Musim-musim sebelumnya yang memanfaatkan bangsawan sebagai prisma untuk mengeksplorasi sejarah Inggris dan geopolitiknya, kini terasa kedap, picik, sekaligus menyajikan psikodrama keluarga dan kisah dari sebuah institusi yang mengalami disfungsi internal.

Banyak perhatian akan tertuju pada penggambaran hubungan antara Ratu dengan pewarisnya, Pangeran Charles.

Pada episode keempat, kita akan melihat Pangeran Charles berkata kepada ibunya, “kalau kita adalah keluarga biasa dan ada dinas sosial datang berkunjung, mereka akan menempatkan kami di tempat penitipan anak, dan Ibu akan dipenjara!”.

Tetapi yang lebih gereget adalah penggambaran hubungan pernikahan Ratu dan Pangeran Philip. Pada tahap ini, mereka digambarkan sebagai dua orang yang tidak memiliki kesamaan, dan Pangeran Philip tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

Adegan imajiner yang akan sangat kontroversial adalah di mana Philip bersikeras tidak akan memutus hubungan dekat dengan “teman spiritualnya” Penny Romsey (diperankan oleh Natasha McElhone), namun Ratu juga harus terlihat berteman dengan Romsey demi meredakan gosip yang tidak diinginkan.

Sementara itu, “Perang Wales” lah yang diprediksi akan memberikan momen-momen dramatis yang nyata dalam serial ini, karena perseteruan menguat dalam “bulan madu kedua” yang penuh bencana akibat penerbitan Diana: Her True Story karya Andrew Morton serta rekaman-rekaman “Camillagate”, wawancara yang mengandung pengakuan samar Pangeran Charles dengan Jonathan Dimbeby, dan tentu saja wawancara pengakuan Putri Diana yang proses pengadaan, pembuatan film, dan pemutarannya yang kontroversial memakan dua episode.

Dengan laporan yang baru dirilis tahun lalu tentang tipuan yang dilakukan Martin Bashir demi mendapatkan wawancara dengan Putri Diana, perkembangan situasi ini menambah aspek kontemporer dengan menggambarkan perdebatan di dalam internal BBC terkait persoalan ini.

(Apa yang mungkin dilakukan Direktur Jenderal BBC saat itu, John Birt atas implikasi bahwa dia turut menugaskan wawancara tanpa sepengetahuan Ketua Dewan BBC saat itu, Marmaduke Hussey, akan menarik untuk disimak).

Mengingat bahwa Pangeran Charles dan Putri Diana memiliki salah satu pernikahan paling luar biasa dalam sejarah manusia, serial ini menampilkan dengan baik bagaimana pada saat yang bersamaan pernikahan itu juga sangat menyedihkan.

Ini adalah poin yang dibuat dengan tajam, di mana di dalam fiksi ini, perceraiannya disahkan pada hari yang sama ketika mereka mengungkap kehancuran pernikahan mereka sendiri.

Sementara itu, ada sejumlah spekulasi bahwa serial ini membuktikan citra publik terburuk bagi Raja baru, yang nyatanya, selain memperjuangkan nilai-nilai progresifnya dan bekerja dengan lembaga amal The Prince’s Trust, upaya arbitrase pernikahan pasangan ini terasa sangat adil.

Satu adegan di antara mereka yang menonjolkan kesedihan pada episode kedua terakhir, ketika upaya berdamai dengan sepiring telur orak-arik di flat Putri Diana di Istana Kensington justru tiba-tiba berubah menjadi saling tuding. Pada titik ini, The Crown menunjukkan dua orang yang tidak pernah bisa cocok.

Bagaimana dengan peforma para aktornya? Performa mereka kali ini sangat beragam.

Tak pelak, semakin sulit bagi para aktor yang memerankan keluarga kerajaan ini meyakinkan para penonton, karena apa yang ditampilkan di layar telah makin banyak menyatu dengan ingatan para pemirsa dalam kehidupan nyata.

Terlepas dari itu, beberapa penampilan aktor tidak tampak baik. Itu berlaku untuk Lesley Manville, yang memerankan adik kandung Ratu, Putri Margaret. Dia membawa kesan aneh dan sopan pada karakter Putri Margaret yang justru dikenal flamboyan.

Begitu pula dengan West sebagai Pangeran Charles yang tampak tidak pas. Pendahulunya sebagai pemeran Charles yang lebih muda, Josh O’Connor, berhasil menjiwai peran itu, menggambarkan karakter pemalu dan naif sang pangeran. Sedangkan West tampak tidak mampu meredam karisma bintangnya.

Sebaliknya, para aktor yang tampil lebih baik adalah mereka yang tidak melekat pada persona mapan yang perlu diredam.

Claudia Harrison, yang meneruskan Erin Doherty sebagai Putri Anne –anak dari Ratu Elizabeth II—berhasil menggambarkan keseimbangan antara kepelikan dan kehangatan.

Sedangkan Jonathan Pryce sebagai Pangeran Philip menunjukkan penampilan berkelas karena tampak meyakinkan meski secara fisik tidak mirip dengan karakter yang dia perankan.

Debicki pun cukup berhasil menirukan kebiasaan Putri Diana melalui mimik yang dia pelajari, seperti mata melihat ke atas dan intonasi halus.

Sementara itu, Staunton, sebagai Ratu Elizabeth II, mulanya terlihat tak cocok untuk peran ini. Namun entah bagaimana, seiring berjalannya cerita, dia tampil begitu meyakinkan dan intens sehingga pertanyaan soal seberapa besar sosok Ratu yang dia tampilkan benar-benar mewakili Ratu yang sesungguhnya tidak lagi penting.

Dalam episode terakhir dari serial ini, perasaan déjà vu muncul ketika Tony Blair (diperankan Bertie Carvel) mulai berkuasa.

Putri Diana pun terlihat berkemas untuk mengunjungi kapal pesiar Mohamed Al-Fayed, di mana dia akan bertemu dengan putra pebisnis itu, Dodi.

Dalam musim berikutnya yang juga merupakan musim terakhirnya, alur cerita The Crown akan bersanding dengan karya Morgan lainnya yang memenangkan Oscar pada 2006, The Queen, tentang kematian Putri Diana.

The Queen merupakan karya pertama Morgan dari ketertarikannya terhadap kehidupan keluarga kerajaan Inggris.

Menurut saya membandingkannya dengan apa yang sudah ditampilkan di The Queen tidak akan membantu The Crown sama sekali. Namun terlepas dari itu, The Crown sebagai “acara televisi” yang tidak terbantahkan dan aman dari mesin kontroversi, pasti akan tetap membuat dunia terguncang sampai akhir.

Versi bahasa Inggris dari artikel berjudul The Crown series 5 review: 'Gripping, but badly-told soap' ini dapat Anda baca di BBC Culture.