Ritual Asyura oleh komunitas Syiah di Bandung sempat dilabeli 'sesat' - Apa yang terjadi?

Pemuda jemaah Ahlul Bait Indonesia (ABI) Kota Bandung sedang membawakan syair duka atas kematian Imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.

Sumber gambar, (Dok. ABI Kota Bandung)

Keterangan gambar, Sejumlah anggota Ahlul Bait Indonesia (ABI) Kota Bandung sedang menjalani peringatan Asyura. Mereka membawakan syair duka atas kematian Imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW, sambil menepuk-nepuk dada kiri. Ritual ini adalah ekspresi kesedihan atas gugurnya Imam Husein.

Peringatan Asyura oleh komunitas Islam Syiah di Bandung pada akhir pekan lalu sempat "diributkan" sekelompok orang setelah videonya beredar di media sosial. Sikap terbuka masyarakat Syiah serta penerimaan yang ditunjukkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar dan warga sekitar, akhirnya, mampu meredam agitasi itu.

Video kegiatan Asyura itu sempat diedarkan di grup-grup aplikasi berbagi pesan dan media sosial, dengan ditambah kata-kata "sesat" atau "menyalahi ajaran Islam" terkait acara itu.

Setelah informasi seperti beredar luas, dan sempat menjadi viral, komunitas Syiah di Bandung meresponnya dengan memberikan keterangan secara terbuka.

Mereka menjelaskan tujuan dan makna acara Asyura tersebut, serta mengklarifikasi bahwa pihaknya sudah mendapat izin kepolisian.

MUI Jabar mengatakan pihaknya memaklumi adanya perbedaan peringatan Asyura versi Syiah dan Sunni.

Sejauh ini MUI Pusat belum pernah memfatwakan Syiah sebagai ajaran sesat dan MUI Jabar pun mengikuti “buku pedoman yang diterbitkan MUI Pusat”.

Bagaimanapun, menurut salah-seorang pimpinan organisasi yang mewadahi komunitas Syiah di Indonesia, situasi saat ini buat mereka “sudah relatif lebih baik”.

Salah satu buktinya, acara peringatan Hari Asyura Nasional yang diadakan di Basket Hall Gelora Bung Karno pada Jumat, 28 Juli 2023 lalu berlangsung lancar, tanpa persekusi dari pihak manapun.

Komunitas Syiah: 'Tidak ada yang ditutup-tutupi'

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pengamat politik dan hubungan internasional Timur Tengah, Dina Sulaeman, mengatakan yang menjadi masalah besar adalah ketidaktahuan perekam video yang kemudian disebarluaskan dan diselipkan narasi-narasi tertentu.

Padahal itu merupakan bagian dari peringatan tahunan Asyura yang selalu diadakan setiap 10 Muharram dan perbedaan dalam melakukan sebuah peringatan adalah hal yang “wajar”.

“Tidak ada satu negara yang homogen, hanya satu pemikiran saja. Bahkan di mazhab Sunni pun juga ada berbagai aliran, ada berbagai pandangan.

"Jadi memahami perbedaan, menerima perbedaan, itu adalah hal yang penting yang perlu diedukasikan ke semua orang.

"Jangan langsung kaget ketika melihat ada yang berbeda, diskusi dululah,” kata Dina kepada BBC News Indonesia, Selasa (02/08).

Ketua DPP Ahlut Bait Indonesia (ABI) Kota Bandung, Rustana Adhi, “menyayangkan” pihak-pihak yang menyebarkan video yang disebutnya sebagai “fitnah” tanpa melakukan klarifikasi kepada mereka selaku penyelenggara acara.

“Dari warga mereka memahami, mereka hanya melihat saja. Jadi sudah paham karena di sini sudah bertahun-tahun dari tahun 1980-an, nggak ada masalah,” kata Rustana kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Rustana menekankan bahwa mereka tidak “menutup-nutupi” kegiatan apapun.

Adapun Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat (MUI Jabar), Rafani Achjar, mengatakan kegiatan dalam video itu memang “khas Syiah” dan biasa dilakukan dalam peringatan Asyura pada 10 Muharram, ketika cucu Nabi Muhammad, Sayyidina Husein, dan keluarganya dibantai oleh kelompok pro-khalifah.

“Mereka begitu, melakukan penyiksaan diri dengan maksud mengenang, merasakan kesedihan yang dialami oleh Hasan Husein, cucu Nabi yang wafat di Karbala, itu versi mereka. Kalau versi kita tidak begitu. Versi kita, kita rayakan Asy Syuro, Asy Syuro ini kan hari yang istimewa dengan perenungan, mengambil hikmah, mendekatkan diri pada Allah,” ujar Rafani.

Sejauh ini MUI Pusat belum pernah memfatwakan Syiah sebagai ajaran sesat dan MUI Jabar pun mengikuti “buku pedoman yang diterbitkan MUI Pusat”.

Namun, Rafani mengatakan akan mengadakan pertemuan dengan MUI Kota Bandung untuk membahas tindakan selanjutnya pada Jumat (04/08) nanti.

Apa yang terjadi dalam video ritual Asyura?

Gedung Huseinyah Azh Zahro, Jalan Gegerkalong, Kota Bandung, yang menjadi kantor DPP ABI.

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Gedung Huseinyah Azh Zahro, Jalan Gegerkalong, Kota Bandung, tempat komunitas Ahlul Bait Indonesia mengelar perayaan Asy Syuro yang videonya viral.

Berdasarkan keterangan Rustana Adhi, kegiatan yang terekam dalam video yang viral itu diambil dari “kos-kosan” di dekat Gedung Huseinyah Azh Zahro, tempat pengajian dan kajian untuk Ahlul Bait Indonesia.

Salah satu narasi yang beredar menyebut “sekelompok orang menari-nari di dalam masjid kawasan Gegerkalong”.

Padahal, ritual itu, kata Rustana dilakukan di Gedung Huseinyah Azh Zahro. Sementara masjidnya berlokasi di belakang gedung tersebut, yaitu Masjid Nurul Falah, masjid komunitas Syiah Kabuyutan.

Yang disebut-sebut sebagai tarian itu pun sebenarnya “hanya gerakan memukul dada” dalam peringatan Asyura.

Gerakan tersebut dirangkai dengan penyampaian ceramah berisi pembahasan hikmah perjuangan Sayyidina Husein, dilanjutkan dengan pembacaan maqtal atau narasi peristiwa.

Pembacaan narasi peristiwa tragis tersebut terkadang disertai dengan lantunan syair-syair yang diiringi dengan gerakan memukul dada oleh sekelompok penampil, tambah Rustana.

Gerakan memukul dada, kata dia, merupakan bukti ekspresi kesedihan yang mendalam pada cucu Rasul yang dibantai.

“Kalau gemerlap lampu merah artinya yang menunjukkan darah. Jadi peristiwa Imam Husein itu dua lambangnya, merah dan hitam.

"Kalau hitam itu kesedihan, kalau merah itu perlawanan untuk melawan kezaliman menegakkan keadilan,” kata ketua DPP ABI Kota Bandung itu.

Selain video yang viral, peringatan Asyura DPP ABI Kota Bandung juga diprotes sekelompok orang dari Paguyuban Pengawal NKRI (PPNKRI).

Mereka dikabarkan sempat menggeruduk kepolisian untuk melaporkan aktivitas DPP ABI yang menaruh sesajen di masjid.

“Nggak ada masalah karena yang diprotes oleh kelompok PPNKRI itu ketika Kabuyutan mengadakan acara di masjid dengan, kalau pandangan mereka, sesajen. Padahal itu kan hidangan untuk para tamu,” kata Rustana menjelaskan.

Tidak ada kegaduhan dan kericuhan dalam kegiatan itu karena aparat kepolisian berhasil membuat situasi kembali kondusif.

Umat Syiah menghadapi persekusi

Pengungsi warga Islam Syiah di Sampang sebelum dipaksa pindah.
Keterangan gambar, Pengungsi warga Islam Syiah di Sampang sebelum dipaksa pindah.

Rustana Adhi mengklaim warga di sekitar mereka “tidak masalah” dengan aktivitas mereka. Apalagi mereka juga kerap mengadakan "bantuan sosial dan pengajian dengan warga".

Protes yang datang selama ini, dikatakan Adhi, berasal dari pihak luar. Empat tahun lalu, PPNKRI juga pernah menggeruduk mereka dan memasang “spanduk antisyiah”.

Para penganut Syiah beberapa kali mendapat persekusi dari kelompok-kelompok tertentu karena dianggap sesat.

Baca juga:

Salah satu peristiwa yang terbesar terjadi pada warga Syiah di Sampang, Madura, pada 2012 lalu.

Warga Islam Syiah diusir dari kampungnya di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Sampang, pada 26 Agustus 2012 lalu, setelah sebagian besar rumah mereka dibakar dan dirusak oleh sekelompok orang.

Sejak saat itulah, sebanyak 165 orang warga Syiah tinggal di dalam GOR tersebut dengan status sebagai pengungsi.

Keinginan mereka untuk kembali ke kampung halamannya, selalu ditolak Pemda dan otoritas keamanan Kota Sampang, karena alasan keamanan.

Akhirnya, mereka harus direlokasi ke Sidoarjo, Jawa Timur.

Sepuluh tahun setelahnya mereka akhirnya kembali ke kampung halamannya setelah dibaiat menjadi Suni.

‘Sudah lebih baik’

Ketua DPP ABI Kota Bandung Rustana Adhi berpose di depan kantor DPP ABI

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Ketua DPP ABI Kota Bandung Rustana Adhi mengatakan aktivitas pengikut Syiah yang viral itu merupakan acara tahunan memperingati 10 Muharram.

Meski sering menghadapi persekusi, tokoh Syiah Indonesia, Muhsin Labib mengatakan situasi saat ini buat mereka “sudah relatif lebih baik”.

Salah satu buktinya, acara peringatan Hari Asyura Nasional yang diadakan di Basket Hall Gelora Bung Karno pada Jumat, 28 Juli 2023 lalu berlangsung lancar, tanpa persekusi dari pihak manapun.

Kondisi yang relatif membaik disebut Muhsin terjadi berkat kehadiran organisasi-organisasi yang aktif, yang membangun komunikasi dengan pemerintah, walaupun dia juga mengakui di “akar rumput” kondisinya berbeda.

Muhsin Labib mengatakan setiap daerah pun punya cara dan tradisi berbeda dalam memperingati 10 Muharram.

Di Bengkulu misalnya, ada tradisi Tabuik dengan ritual khusus yang menggunakan keranda. Di Jawa, masyarakat memperingatinya dengan Gerebek Suro.

Oleh sebab itu, dia mempertanyakan mengapa beberapa kelompok masih melakukan protes terhadap kegiatan mereka.

“Masyarakat yang masih belum terdidik dengan baik, terbiasa di bawah doktrin kelompok-kelompok intoleran, agamawan, yang memang memandang kelompok lain, seperti kalau Anda punya toko, orang lain punya toko, mestinya kan kita mempromosikan kualitas jualan kita bukan malah menjelekan untuk orang lain.

"Jadi, black market itu juga berlaku dalam pemahaman agama,” kata Muhsin ketika dihubungi BBC News Indonesia, Selasa (02/08).

Oleh sebab itu, para pengikut Islam Syiah di Indonesia disebutnya sudah melakukan cara-cara tertentu agar bisa beradaptasi.

Muhsin menyebut ada yang mengakui secara terbuka seperti dirinya, tapi tidak jarang juga yang “menyembunyikan diri mereka” karena “arus toleransi yang masih dominan”.

Padahal menurut dia, orang-orang yang bersembunyi itu bahkan sudah “berkontribusi untuk negara”.

“Fokus ABI dan komunitas Syiah sekarang ini bagaimana mereka menerima kita sebagai bagian dari bangsa ini agar bisa berkontribusi… Bukan untuk semua orang menerima keyakinan kita, tapi supaya orang menerima keberadaan kita,” ucapnya menegaskan.

‘Umpan untuk gerakan ekstrem’

Menurut Muhsin Labib masalah intoleransi perlu dibereskan segera karena dia menilai intoleransi yang dibiarkan akan berujung pada tindakan “radikalisme”.

“Nah, persoalannya mereka hanya sibuk dengan radikalis terkait dengan negara. Padahal sebelum terkait dengan negara mereka intoleran terhadap keyakinan orang lain,” katanya menjelaskan.

Apa yang terjadi pada pengikut Syiah di Gegerkalong, Bandung, juga merupakan bentuk intoleransi.

Dan tudingan sesat yang dialamatkan pada pengikut Syiah dalam video yang sempat viral di media sosial beberapa hari lalu itu juga dikhawatirkan bisa memicu dampak yang “berbahaya”.

Pengamat politik dan hubungan internasional Timur Tengah Dina Sulaeman pun khawatir kegaduhan yang ditimbulkan karena kesalahpahaman itu bisa menjadi “umpan baru buat gerakan-gerakan ekstrem di Indonesia”.

Menurut pengamatannya, sejak 2011-2012 lalu, banyak peningkatan radikalisme dan terorisme di Tanah Air yang merupakan efek dari konflik-konflik yang di Timur Tengah, misalnya ISIS. Di Timur Tengah, isu yang dipakai adalah melawan Syiah.

“Kalau ini juga berkembang di Indonesia, semakin melebar tanpa ada upaya klarifikasi atau penjelasan tentang apa yang terjadi, ini akan menjadi umpan baru buat kelompok-kelompok radikalisme atau kelompok ekstrem di Indonesia untuk membangkitkan kembali gerakan mereka.”

“Ini yang menurut saya penting diwaspadai oleh kita semua, jangan sampai karena ketidaktahuan, cuma kaget saja, kita malah memberikan umpan baru buat gerakan-gerakan ekstrem di Indonesia,” kata Dina.

---

Wartawan Yuli Saputra di Bandung berkontribusi dalam artikel ini.