Ratusan pengungsi eks-Syiah kembali ke Sampang setelah dibaiat menjadi Sunni, Tajul Muluk masih ditolak: 'Padahal saya yang mengembalikan mereka ke Sunni'

Sumber gambar, Dok. Mustopa
Ratusan pengikut eks-Syiah yang telah dibaiat menjadi Sunni akhirnya bisa kembali ke kampung halamannya di Sampang, Madura, setelah lebih dari satu dekade terlunta-lunta di pengungsian rumah susun Sidoarjo, Jawa Timur. Ini merupakan gelombang kedua pemulangan pengungsi setelah dilakukan pertama kali pada April 2022 lalu.
Namun, pemulangan ini masih menyisakan sejumlah masalah. Di kampung halaman, rumah mereka sudah rata dengan tanah dan masih ada penolakan sebagian masyarakat terhadap Tajul Muluk - mantan pemimpin Syiah Sampang yang kini juga sudah menjadi penganut Sunni.
Pejabat setempat menyampaikan komitmen untuk membantu dan tokoh masyarakat menyerukan garansi keamanan selama pengungsi tidak kembali menjadi penganut Syiah.
Seorang pemerhati keberagaman menilai ini sebagai bagian dari "koridor kemanusiaan", sekaligus cara pemerintah menangani konflik agama yang biasa mengambil langkah "menekankan tuntutan mayoritas dan meminta yang minoritas paham posisi".

Sumber gambar, Dok. Mustopa
Sekitar 265 mantan penganut eks-Syiah yang pada 2020 silam dibaiat menjadi Sunni, akhirnya bisa kembali ke kampung halamannya di Sampang, Madura, Kamis (04/05).
Lebih dari satu dekade mereka terusir dari kampung halaman dan harus menempati tempat tinggal sempit di sebuah rumah susun di Sidoarjo.
Pada 2012 lalu, komunitas Syiah di Sampang menjadi sasaran kekerasan kelompok intoleran. Sebagian rumah mereka dirusak dan dibakar. Serangan ini mengakibatkan seorang penganut Syiah meninggal, dan tujuh lainnya mengalami luka berat.
Pemimpin komunitas Syiah Sampang saat itu, Tajul Muluk, mendekam di penjara selama empat tahun dengan tuduhan penistaan agama. Setelah bebas, Tajul juga ikut mengungsi bersama ratusan pengikutnya di Sidoarjo.
Setelah tinggal di lokasi pengungsian selama bertahun-tahun, akhirnya Tajul Muluk dan sebagian besar pengikutnya memutuskan untuk berikrar meninggalkan Syiah dan beralih menjadi penganut Sunni pada 2020.
Keputusan ini menjadi jalan bagi ratusan pengungsi untuk kembali ke kampung halamannya.

Sumber gambar, Dok. Mustopa
Pengungsi berdatangan di Sampang
Saat matahari menggelantung tepat di atas kepala, sekitar lima bus masuk ke pelataran Pendopo Kabupaten Sampang, Jawa Timur.
Satu per satu, pengungsi eks pengikut Syiah yang diangkut dari Rusun Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo, menuruni anak tangga bus.
Wajah mereka tampak kelelahan, setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam.
Di antara mereka adalah Moh. Kadir - ia berusia sekitar delapan tahun saat mengungsi dari Sampang ke Sidoardjo. Kini ia berusia 19 tahun.
"Yang saya rindukan, ketika berkumpul dengan keluarga, saudara-saudara dekat seperti sepupu, agar bisa berkumpul bareng," kata Kadir yang tiba bersama dengan orang tua dan tiga saudara kandungnya.

Sumber gambar, Dok. Mustopa
Namun, Kadir dan keluarganya sudah tidak bisa menempati rumahnya yang dulu karena sudah tidak ada. "Tinggal di rumah saudara dulu, ke Desa Blu'uran," sebutnya.
Dari bus lainnya, Rani, 23 tahun, mengaku sudah dijanjikan pemerintah setempat memperoleh tempat tinggal baru. "Yang dijanjikan itu, mau diganti rugi, pokoknya banyak," katanya sambil tersenyum lepas.
Baik Kadir dan Rani mengatakan rencana pertama yang akan dilakukan setelah tiba di kampung halamannya adalah "silaturahmi", agar makin dekat dengan warga.
Kedua muda-mudi ini telah berikrar untuk meninggalkan Syiah dan menganut paham Sunni pada 2020 silam. Syarat yang diminta sejumlah ulama di Sampang ketika mereka ingin kembali ke kampung halaman.
Kepulangan ratusan pengungsi ini merupakan gelombang kedua setelah gelombang pertama sebanyak 53 jiwa.
Cerita pengungsi gelombang pertama

Sumber gambar, Dok. Mustopa
Mat Rosid, 34 tahun, adalah pengungsi eks-Syiah yang ikut dalam gelombang pertama. Saat ditemui wartawan Mustopa yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, ia ikut menyambut rombongan gelombang kedua.
"Selama di desa kami, kampung kami ini alhamdulilah, tidak ada permasalahan, tidak ada perselisihan. Kami sudah satu tahun di Blu'uran, aman-aman saja. Lebih aman dari pada yang dulu," katanya.
Setahun ini di Sampang, ayah dua anak ini bekerja sebagai petani. Ia juga sudah mengikuti kegiatan bersama masyarakat seperti salat berjamaah dan mengaji bersama.
"Kami bersyukur bahwa kami sudah diterima oleh masyarakat [kecamatan] Karangpenang dan Ombenn. Sudah ikut kegiatan masyarakat. Mengikuti aturan yang ada di kampung," tambah Rosid.
Baca Juga:
Kepala Desa Blu'uran, Moh. Faruq, mengakui seluruh pengungsi eks-Syiah yang kembali pada gelombang pertama masih menumpang tinggal di rumah keluarga terdekat, karena belum punya rumah sendiri.
"Masih belum ada bantuan sama sekali," kata Faruq.
Di gelombang kedua ini, ia melaporkan setidaknya 22 eks-pengikut Syiah yang akan kembali ke wilayahnya. "Harapan untuk pemerintah supaya secepatnya bantuan itu terealisasi," katanya.
Tajul Muluk masih ditolak

Sumber gambar, BBC Indonesia
Selain itu, Moh. Faruq juga mengatakan belum bisa menjamin keamanan sepenuhnya bagi pengungsi yang kembali ke wilayahnya. Musababnya, ada pengungsi yang belum melaporkan kepulangannya kepada tim verifikasi yang terdiri dari tokoh masyarakat dan ulama.
"Nggak daftar tujuh orang. Mereka ikut imamnya, Tajul Muluk. Kalau imamnya ke Tajul tak jadi masalah, cuma ketika ada permasalahan di bawah satu atau tiga tahun mendatang, ya jangan salahkan kami," kata Faruq.
Ketika ditemui saat menemani rombongan pengungsi yang akan kembali ke Sampang, Tajul Muluk tak menampik dirinya masih mendapat penolakan dari masyarakat.
"Harapan saya sudah tidak ada persoalan-persoalan lagi, karena dulu ada masalah Syiah seperti itu. Sekarang mereka sudah kembali ke Sunni, dan saya mengembalikan mereka ke Sunni.
"Tapi kenapa kok masih juga ada penolakan, itu yang jadi persoalan bagi saya," kata Tajul.
Tajul Muluk adalah mantan pimpinan Syiah Sampang sekaligus orang yang mendorong pengikutnya memeluk aliran Sunni.
Tajul mengaku sudah melakukan upaya pendekatan terhadap masyarakat, "termasuk saudara semua saya antarkan, itu kan bagian dari upaya-upaya untuk harmonisasi."
Sejauh ini, masih terdapat empat keluarga yang bertahan di Rusun Sidoardjo karena belum berbaiat ke Sunni, kata Tajul.
Komitmen untuk keselamatan dan bantuan

Sumber gambar, Dok. Mustopa
Sejumlah tokoh agama dan masyarakat di Sampang menjanjikan keamanan bagi pengungsi yang akan kembali ke Sampang.
"Insya Allah aman, karena mereka sudah ikrar 100% kembali ke Sunni dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang menyimpang," kata Ketua MUI Sampang, Bukhori Maksum.
"Sekarang itu kan kondusif bagus, alhamdulillah. Tidak ada apa-apa," kata Munaji, tokoh masyarakat setempat.
Di sisi lain, Bupati Sampang Slamet Junaidi berjanji di hadapan pengungsi untuk memberikan bantuan.

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Untuk bantuan dan seterusnya, pemerintah daerah komitmen antara lembaga pemerintah. Dari awal kami komit, sekalipun pakai dana pribadi kami siap. Saya siap," kata Bupati Slamet di aula pendopo diiringi tepuk tangan.
Slamet Junaidi yang tinggal setahun lagi menjabat bupati Sampang, menambahkan, pihaknya membuka pengaduan dan "siap bantu 24 jam" jika terdapat persoalan.
"Jaga hubungan komunikasi dengan baik, karena dari awal saya yakin ini saudara semua, masih ada hubungan darah," tambah politikus NasDem tersebut.

Sumber gambar, kemenag.go.id
Dalam kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Rumadi Ahmad, mengatakan pemulangan pengungsi akibat konflik agama ini merupakan bukti "pemerintah itu tidak pernah tinggal diam."
"Proses ini makin mendewasakan kita semua, terutama masyarakat Sampang dengan kekhasannya masing-masing, kita semakin dewasa dalam menghadapi berbagai macam perbedaan," kata Rumadi.
'Koridor kemanusiaan dan langkah pragmatis'

Sumber gambar, kemenag.go.id
Perwakilan Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) Jawa Timur, Muhammad Muadz menegaskan pengungsi yang beralih aliran dari Syiah ke Sunni ini "tidak ada pemaksaan dari semua pihak".
Muadz adalah koordinator pendamping utama terhadap ratusan pengungsi Syiah Sampang di Rusun Sidoardjo dalam beberapa tahun terakhir.
"Semua upaya yang dilakukan ini dalam koridor kemanusiaan," kata Muadz yang saat ini sudah tidak lagi mendampingi pengungsi Sampang atas permintaan Tajul Muluk.

Sumber gambar, AFP
Namun, pemerhati keberagaman dari SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos melihat ini bukan terobosan rekonsiliasi dalam konflik perbedaan keyakinan.
"Nggak ada juga terobosan," kata Tigor kepada BBC News Indonesia.
Pemulangan pengungsi eks Syiah dari Sampang ini memang belum sepenuhnya sempurna, karena masih menyisakan persoalan, di antaranya bantuan perumahan yang belum terealisasi, dan masih ada penolakan terhadap pimpinannya, Tajul Muluk.
Pendekatan ini disebut Tigos sebagai langkah umum yang biasa digunakan "pemerintah yang bersifat pragmatis" untuk menanggulangi konflik perbedaan keyakinan. Caranya, kata dia, menekan kelompok minoritas dan menguatkan tuntutan kelompok mayoritas.

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Kecenderungan untuk lebih menekankan tuntutan mereka yang mayoritas, yang lebih kuat, dan meminta yang lemah atau minoritas mengerti dan memahami posisi mereka yang lemah," kata Tigor.
Menanggapi hal ini, juru bicara kementerian agama, Mariana Hasbie mengatakan, "Selalu ada pendampingan dari Bimas Islam, Kasubdit Bina Paham. Subdit ini yang sejak awal mendampingi."

Kronologi konflik Syiah Sampang
Keberadaan Islam Syiah di Sampang diketahui mulai dirintis 1980-an lewat ketertarikan seorang kyai bernama Makmun terhadap aliran Syiah, menurut laporan KontraS.
Ia kemudian menyekolahkan anak-anaknya ke pesantren yang cenderung bermazhab Syiah.

Pada 2004, salah satu anaknya - Tajul Muluk - mendirikan pesantren di Desa Karanggayam, Sampang, secara gotong royong. Namun seiring berjalannya waktu, dakwah Syiah yang dibawakan Tajul dituding sesat oleh sejumlah ulama di Sampang.
Akhir 2011, pesantren yang didirikan Keluarga Makmun itu dihancurkan sekelompok orang yang berujung pada pemidanaan Tajul Muluk sebagai penista agama. Berikut kronologi konflik Syiah Sampang, diurutkan dari peristiwa terbaru:
Mei 2023
- Gelombang kedua pemulangan 265 pengungsi - penganut eks-Syiah yang dibaiat ke Sunni - ke Sampang. Diperkirakan masih ada empat keluarga yang bertahan menganut Syiah di pengungsian Sidoarjo.
April 2022
- Gelombang pertama pemulangan 53 pengungsi - penganut eks-Syiah yang dibaiat ke Sunni - ke Sampang.
November 2020
- 274 penganut Syiah yang mengungsi di Sidoarjo dibaiat untuk ikut ke ajaran Sunni, termasuk pemimpinnya, Tajul Muluk.

Sumber gambar, BBC Indonesia
2013 - 2020
- Komunitas Syiah Sampang berada di pengungsian Rumah Susun Sidoarjo.
Juli 2013
- Penganut Syiah Sampang menolak 'bertobat' atas desakan ulama Madura.
Juni 2013
- Kelompok Syiah pindah ke rumah susun Sidoarjo dari GOR Sampang. Mereka didemo ribuan ulama dan santri dari Madura.

Sumber gambar, AFP
September 2012
- Ratusan penganut Syiah Sampang terusir dari kampung halamannya dan mengungsi ke ke GOR Sampang.
- Hukuman Tajul Muluk ditambah menjadi empat tahun penjara di tingkat pengadilan tinggi.
Agustus 2012
- Sebagian besar rumah penganut Syiah di Sampang dirusak dan dibakar sekelompok orang. Seorang pengikut Syiah tewas, dan tujuh lainnya mengalami luka berat.
Juli 2012
- Pemimpin komunitas Syiah Sampang, Tajul Muluk divonis dua tahun penjara karena tuduhan penistaan agama.
Desember 2011
- Sekelompok orang membakar pesantren Misbahul Huda dan rumah penganut Syiah.










