Kisah siswa pertukaran pelajar asal China yang diduga jadi korban penculikan siber di AS

kai zhuang

Sumber gambar, Kepolisian Riverdale

Keterangan gambar, Siswa pertukaran pelajar asal China, Kai Zhuang, diduga menjadi korban penculikan siber di AS.
    • Penulis, Madeline Halpert
    • Peranan, BBC News
    • Melaporkan dari, New York

Keluarga seorang siswa pertukaran pelajar asal China menjadi korban pemerasan dengan modus “penculikan siber”. Para ahli memperingatkan aksi kejahatan ini kian menjadi tren global dan orang tua mana pun bisa menjadi sasaran berikutnya.

Pekan lalu, seorang siswa pertukaran pelajar bernama Kai Zhuang dilaporkan hilang oleh sekolahnya. Kepolisian Riverdale belakangan menemukan pelajar berusia 17 tahun itu di sebuah tenda di daerah pedesaan Utah dalam keadaan “kedinginan dan ketakutan”.

Kepolisian menambahkan, komplotan penipu yang identitasnya belum diketahui meyakinkan Zhuang untuk mengasingkan dirinya sendiri.

Begitu si remaja sendirian di hutan belantara, para “penculik” menuntut uang tebusan kepada keluarganya di China – lengkap dengan foto Zhuang yang diambilnya sendiri.

Komplotan ini mengeklaim Zhuang telah diculik sehingga keluarga pun membayar US$80.000 (Rp1,2 miliar) kepada para pelaku.

Kepada BBC, para pakar mengatakan kemajuan teknologi memudahkan pelaku kriminal untuk menjalankan metode penculikan siber.

Para ahli berpendapat bahwa meski belum ada data yang jelas mengenai jumlah kasus penculikan siber, peristiwa yang dialami Zhuang bukanlah insiden satu-satunya.

“Melihat cara tindak kriminal ini dilakukan dalam banyak kasus, [ini] bisa terjadi kepada siapa saja,” ujar Joseph Steinberg, pakar keamanan siber yang menjadi konsultan firma bisnis dan pemerintahan.

“Tindak kriminal ini menjadi semakin terpusat dan mahal.”

Apa itu penculikan siber?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Polisi meyakini para penculik mulai memanipulasi remaja 17 tahun ini sejak tanggal 20 Desember, saat dia terlihat di Utah dengan membawa perlengkapan berkemah.

Steinberg menyebutkan bahwa penculikan siber kerap dilakukan pelaku kejahatan dengan menelepon atau mengirim pesan kepada korban dan meyakinkannya bahwa orang terdekat mereka sudah diculik.

Korban mengaku mendengar suara teriakan via telepon yang diikuti klaim pelaku kejahatan bahwa orang kesayangan mereka dalam marabahaya. Pelaku kemudian menuntut uang tebusan.

Baca juga:

“Mereka akan melakukan segala cara agar Anda tetap terhubung di telepon,” tutur Marie-Helen Maras, direktur Pusat Studi Kejahatan Siber di Kampus Hukum Pidana John Jay.

“Mereka mengancam akan menyakiti ‘korban’ jika Anda menutup telepon atau meminta pertolongan supaya Anda ketakutan dan tergesa-gesa mengambil keputusan.”

Maras, yang mempelajari kasus-kasus penculikan dunia maya, menambahkan sudah ada beberapa kasus siswa pertukaran pelajar asal China di negara-negara lain – termasuk Kanada dan Australia – yang dipaksa berpura-pura diculik supaya sanak saudara mereka bisa diperas.

Kai Zhuang

Sumber gambar, Kepolisian Riverdale

Keterangan gambar, Kai Zhuang ditemukan pada hari Minggu (31/12) silam

Seberapa sering hal ini terjadi?

Para ahli mengatakan tidak ada data mengenai seberapa sering penculikan virtual terjadi. Kendati demikian, mereka menekankan bahwa kemajuan teknologi membuat metode kriminal ini lebih gampang untuk dilakukan.

Steinberg khawatir pelaku kejahatan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk menirukan suara korban guna meminta uang tebusan.

“Teknologi saat ini sudah sampai di titik di mana bahkan orangtua yang benar-benar akrab dengan buah hati mereka pun bisa tertipu,” tutur Steinberg.

Media sosial juga memudahkan para pelaku untuk mempelajari dan mengumpulkan informasi calon korban sebelum menghubungi mereka.

Metode ini memungkinkan pelaku untuk benar-benar mengerti kehidupan korban.

Kai Zhuang

Sumber gambar, Kepolisian Riverdale

Keterangan gambar, Sebelumnya, polisi di Utah yakin Kai Zhuang diculik demi mendapatkan uang tebusan

Pelaku kriminal “bahkan bisa menyulap angka-angka supaya kesannya ini datang dari Anda sendiri”, ujar Maras.

“Mereka semakin baik dalam hal menutup-nutupi upaya penipuan.”

Steinberg menilai kejahatan serupa menghasilkan uang tebusan yang semakin besar. Menurutnya, jarang sekali para pelaku tertangkap.

Sebelumnya, pelaku kejahatan menyasar individu yang lebih rentan - misalnya, imigran gelap dan orang-orang yang tidak fasih berbahasa Inggris - dengan nilai tebusan yang kecil.

Namun, untuk kasus Zhuang, otoritas menyebut uang tebusannya sangat besar.

“Kejahatan siber barangkali adalah kejahatan yang paling bikin untung,” tutur Steinberg. “Anda bisa menyasar orang-orang dengan bahasa yang berbeda. Anda bisa melakukannya dari mana saja.”

Bagaimana mencegahnya?

Walaupun para ahli mengatakan siapa saja dapat menjadi korban penculikan virtual, terdapat langkah-langkah untuk melindungi diri dengan lebih baik.

Steinberg menyebutkan langkah pertamanya cukup sederhana: menyadari permasalahan ini. Orang-orang harus tahu informasi pribadi mana yang dapat diakses publik dan tetap waspada.

Tetapi mereka yang disasar harus melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Untuk mereka yang ada di AS, bisa melaporkan terlebih dahulu ke Pusat Pengaduan Kejahatan Internet di FBI.

Baca juga:

Setelah menerima telepon atau pesan darurat, Steinberg menyarankan untuk segera mengontak orang tersayang untuk memverifikasi lokasi mereka. Keluarga juga bisa menciptakan kata kunci atau kalimat tertentu untuk diutarakan dalam situasi darurat guna mengelabui para pelaku.

Steinberg menambahkan bahwa lembaga penegak hukum dan perusahaan telekomunikasi juga bisa berperan dalam mencegah kejahatan serupa terjadi pada kemudian hari dengan memperbaiki sistem autentikasi dan melacak sumber telepon.

Sekalipun jumlah korbannya tidak diketahui, para pakar mengatakan langkah-langkah kecil ini bisa menjaga keselamatan banyak orang.

“Realitanya adalah bahwa kita tahu orang-orang seperti kita… menjadi korban,” pungkas Steinberg.