'Saya mensyukuri perdamaian, tapi kemakmuran kurang' – Cerita eks tentara GAM dan masalah kesejahteraan di Aceh

Arun, PT Arun, Lhokseumawe, Aceh, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, Paula Bronstein/Liaison

Keterangan gambar, Seorang pendukung GAM mengibarkan benderanya di perbukitan di atas pabrik gas alam cair Arun di Lhokseumawe, Aceh, 1 Desember 1999.
    • Penulis, Heyder Affan
    • Peranan, Wartawan BBC News Indonesia melaporkan dari Aceh
  • Waktu membaca: 17 menit

Kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia sudah berjalan 20 tahun. Ada harapan yang kuat untuk terus merawat perdamaian. Namun ada masalah yang dianggap belum teratasi, yaitu kesejahteraan ekonomi, ketidakadilan, hingga tata kelola birokrasi lokal.

Tarik-menarik antara harapan dan ketakutan, antara sinisme dan rasa percaya, progres dan penolakan, itulah yang membayangi peringatan 20 tahun perjanjian damai Aceh.

Harapan digantungkan lantaran perdamaian di Aceh sudah memasuki 20 tahun yang ditafsirkan bahwa siklus kekerasan di wilayah itu hanyalah mitos belaka.

Namun suara-suara bernada kecewa tidak bisa ditutup-tutupi bahwa perdamaian itu tidak dibarengi peningkatan kesejahteraan ekonomi bagi rakyat Aceh.

Tantangan dua pihak yang dulu bermusuhan agar terus membangun kepercayaan masih terdengar nyaring.

Di sisi lain, suara-suara lirih korban konflik yang seperti dilupakan butuh didengarkan supaya menjadi pelajaran agar konflik berdarah itu tak terulang.

Selama sepuluh hari, BBC News Indonesia mengunjungi Banda Aceh dan satu desa di pesisir pantai Barat-Selatan wilayah itu.

Kami akan menurunkan dua seri tulisan, dan inilah seri pertamanya.

---

"Di masa damai sekarang, istri kedua Muzakir itu becak mesin miliknya, bukan lagi senapan M-16," Saiful setengah berseloroh di hadapan kawannya, Muzakir.

Mata Saiful melirik becak mesin butut milik temannya itu. Di hadapan saya dan Saiful, Muzakir hanya tersipu.

Saiful dan Muzakir adalah warga Gampong Lambleut, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

Mereka berteman sejak Aceh luluh-lantak akibat konflik bersenjata.

Muzakir, eks kombatan GAM, MOU Helsinki, Pasar ikan Lampulo, 20 tahun MOU Helsinki, Gerakan Aceh Merdeka, GAM

Sumber gambar, Dokumen pribadi Muzakir

Keterangan gambar, Saat Aceh dihantam konflik, Muzakir menjadi tentara GAM dan bergerilya ke pegunungan dan hutan. Dia membawa senapan M-16. Setelah damai, dia mengendarai becak mesin untuk mengangkut ikan.

Muzakir, kelahiran 1976, adalah eks kombatan GAM. Adapun Saiful (53 tahun) adalah tipikal warga Aceh kebanyakan yang memilih tidak mau terjebak dalam konflik tersebut.

Saat bergerilya sekitar empat tahun di pegunungan di sekitar Aceh Besar, Muzakir memiliki senapan M-16.

Senjata mematikan itulah yang dia sebut sebagai istrinya—dia masih bujangan saat itu.

Ke mana pun dia pergi, termasuk saat tidur atau buang air besar, 'sang istri' itu ada di sampingnya.

Muzakir, eks kombatan GAM, MOU Helsinki, Pasar ikan Lampulo, 20 tahun MOU Helsinki, Gerakan Aceh Merdeka, GAM

Sumber gambar, Fairfax Media via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang tentara GAM sedang tidur siang di kamp mereka di perbukitan dekat Banda Aceh, Jumat 14 Januari 2005.

Tapi itu dulu. Semenjak GAM dan pemerintah Indonesia memilih berdamai pada 2005 lalu, Muzakir dan eks kombatan GAM lainnya harus merelakan 'istri' mereka untuk dihancurkan. Sebagai gantinya, ribuan pasukan TNI non organik wajib ditarik dari Aceh.

Kini, seperti diutarakan Saiful itu tadi, pria kelahiran Pidie itu sangat mengandalkan becak mesinnya agar asap dapurnya tetap mengepul.

Sehari-hari, dini hari atau selepas subuh, dia mengendarai becak mesinnya ke pasar ikan Lampulo di Banda Aceh. Perjalanan ini memakan waktu sekitar satu jam.

Di sanalah dia menawarkan jasa mengangkut ikan-ikan dari kapal nelayan yang baru merapat.

Jika musim banyak ikan, Muzakir dapat menjual ikan ke gampong Leubok Buni, Aceh Besar, tempat dia bersama istrinya tinggal dan membesarkan 10 anaknya.

20 tahun MOU Helsinki, aceh, banda aceh, Gerakan Aceh Merdeka, GAM, tentara GAM, kombatan GAM

Sumber gambar, Paula Bronstein/Liaison/Getty Images

Keterangan gambar, Sejumlah tentara GAM tengah salat berjamaah, 1 Juni 1999, di pedalaman Aceh.

Namun, saat saya dan videografer BBC, Dwiki Marta, menemui Muzakir di rumahnya, 22 Juli lalu, dia terlihat mengeluh lantaran sudah beberapa hari tak berangkat ke Pasar ikan Lampulo.

"Sedang musim badai, tidak ada kapal yang melaut," kata Muzakir. Ini artinya tidak ada ikan-ikan yang dapat dia angkut.

Baca juga:

Kantongnya makin menipis karena tidak ada pemasukan. "Padahal ada biaya yang harus ditanggung, terutama terkait sekolah anak-anak."

Sampai awal Agustus 2025 lalu, musim badai itu tak kunjung berakhir. Praktis dia mengandalkan istrinya yang membuka jasa menjahit dan menjadi agen penjualan gas elpiji 3kg.

Dalam situasi seperti itulah, ketika saya bertanya apa yang dia pikirkan saat perdamaian Aceh sudah memasuki 20 tahun, Muzakir seperti menyalahkan keadaan sekarang.

Muzakir, eks kombatan GAM, MOU Helsinki, Pasar ikan Lampulo, 20 tahun MOU Helsinki, Gerakan Aceh Merdeka, GAM

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Heyder Affan

Keterangan gambar, Muzakir (kanan) dan istri di rumahnya di Gampong Leubok Buni, Aceh Besar.

Jika memang Aceh digambarkan mengalami perubahan lebih baik setelah perdamaian diteken, dan lebih-lebih ketika sejumlah eks elit GAM berhasil berkuasa dalam pemilu yang demokratis, sosok Muzakir adalah komponen penting di dalamnya.

Dia menghormati Muzakir Manaf, bekas panglima perangnya yang baru beberapa bulan menempati posisi sebagai Gubernur Aceh. Dan dia bukan pembelot, dia tetap setia menjadi anggota Partai Aceh—jelmaan GAM—yang sebagian elitnya berkuasa menjadi bupati dan gubernur.

Dia hanya frustasi atas pilihan damai yang disebutnya tidak menjanjikan apa pun bagi kemajuan ekonomi, setidaknya dari cara pandang dan pengalamannya sendiri.

Muzakir, yang tidak lulus SMP saat bergabung GAM pada akhir 1980-an, tentu mengetahui predikat Aceh sebagai salah-satu daerah termiskin di Indonesia, selain juga masalah tingginya pengangguran di sana.

GAM, tentara GAM, Gerakan Aceh Merdeka, perlucutan senjata, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Heyder Affan

Keterangan gambar, Sejumlah tentara GAM (berpakaian hitam, kiri) menghadiri acara perlucutan senjata di sebuah lapangan di Banda Aceh, Aceh, Desember 2005.

Tidak menutupi-nutupi perasaannya, Muzakir bahkan membandingkan situasi sekarang dan saat dia masih bergerilya di hutan-hutan dan pegunungan di Aceh Besar.

"Kalau dulu, kalau ada makanan, sama-sama makan bersama. Kalau tak ada, sama-sama diam," ujarnya, lirih. "Kalau sekarang, enggak ada nasi, beras, itu yang susah."

Sampai di sini, Anda mungkin mengira Muzakir hanya sesumbar. Tidak, ada kalimat lanjutannya.

Dia kemudian jelas-jelas menyindir tajam para pemimpin di Aceh, walaupun dia masih menaruh kepercayaan kepada mualem—panggilan akrab kepada Muzakir Manaf, Gubernur Aceh dan Ketua Umum Partai Aceh.

"Kalau petinggi, kami enggak tahu. Kalau kami pion, beginilah keadaannya," Muzakir melepas tawa getirnya.

MOU Helsinki, GAM, Hamid Awaluddin, Martii Ahtisaari, Malik Mahmud

Sumber gambar, OLIVIER MORIN/AFP

Keterangan gambar, Kesepakatan damai pemerintah Indonesia dan GAM ditandatangani di Helsinki, 15 Agustus 2005. Hamid Awaluddin (kiri, perwakilan pemerintah Indonesia), Martii Ahtisaari (eks Presiden Finlandia sekaligus mediator perundingan), serta Malik Mahmud (kanan, perwakilan GAM).
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Bukankah setelah perdamaian, Anda bisa hidup tenang dan bisa kembali ke kampung dan membangun keluarga, sahut saya.

Muzakir kemudian menatap saya, dan tidak memungkiri dirinya ikut mensyukuri tak ada lagi perang, sehingga masyarakat Aceh bisa beraktivitas normal.

Namun, sambungnya cepat-cepat, situasi sekarang tidaklah mudah. "Itulah selama masa damai ini, untuk kemakmuran memang kurang."

Apa yang dikeluhkan Muzakir ini, seperti yang terekam dalam pertemuan saya dengan sejumlah orang di Aceh, mulai akademisi hingga politikus, jamak terdengar dan mirip ratapan massal: Mereka menyambut positif perdamaian yang memasuki tahun ke-20, tetapi menganggap kesejahteraan masyarakat Aceh belum terealisasi.

Ada yang pesimisme, tetapi hampir bersamaan ada pula yang bersikap optimis.

Dalam derajat tertentu, muncul pula suara-suara yang menganggap apa yang mereka sebut sebagai ketidakpercayaan Jakarta kepada Aceh sebagai biang keroknya.

Tapi ada pula yang menganggap soal tata kelola di Aceh yang justru amburadul.

Lini masa konflik GAM-Indonesia hingga perdamaian

Muhammad Hasan Tiro dan sejumlah intelektual Aceh mendirikan sebuah ‘negara’ bernama "Negara Aceh, Sumatra".

Pendiri GAM, Hasan Tiro, diabadikan saat bergerilya di pedalaman Aceh di tahun 1970-an.
Pendiri GAM, Hasan Tiro, diabadikan saat bergerilya di pedalaman Aceh di tahun 1970-an. Dokumen GAM

Simpatisan Aceh Merdeka mulai mengibarkan bendera di Banda Aceh dan Aceh Timur. Mereka juga menyebarkan brosur propaganda.

Rapat-rapat gelap simpatisan Aceh Merdeka dicium aparat keamanan Indonesia. Mereka melarikan diri ke hutan-hutan. Inilah awal meletusnya pemberontakan.

Kelompok Aceh Merdeka menarik pajak dari pengusaha lokal dan asing untuk dana pemberontakan. Insiden penyerangan dan penyergapan bos-bos perusahaan bermunculan.

Jelang Pemilu 1977, Gubernur Aceh Muzakkir Walad dan Panglima Kodam Iskandar Muda Brigjen RA Saleh menyerukan agar masyarakat tidak terbujuk kelompok Aceh Merdeka.

Buku Hasan Tiro Jalan Panjang Menuju Damai Aceh
Buku Hasan Tiro Jalan Panjang Menuju Damai Aceh BBC

Pendukung Aceh Merdeka membangun radio pemancar di kamp Alue Seupot, pedalaman Tiro, Aceh.

Hasan Tiro meninggalkan Aceh menuju Singapura. Sebelumnya, dia membuat dekrit kepemimpinan kepada bawahannya. Dia kemudian mendapat suaka politik di Swedia.

ABRI (kini disebut TNI) menggempur lokasi persembunyian sejumlah pimpinan Aceh Merdeka. Beberapa dari mereka meninggal dunia.

Sejumlah pimpinan Aceh Merdeka, seperti Zaini Abdullah, mengikuti langkah Hasan Tiro menetap di Swedia. Sebagian lainnya memilih Malaysia.

Hasan Tiro menjadikan Libia sebagai tempat pelatihan calon pasukan komando. Kelak mereka dikirim ke Aceh untuk melanjutkan perjuangan bersenjata.

Satuan bersenjata Aceh Merdeka eks pelatihan di Libia menyusup ke Aceh. Aksi serangan pos TNI dan perebutan senjata TNI dimulai.

Aceh ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Pemerintah Indonesia menambah 5.000 prajurit sehingga ada 12.000 pasukan TNI di Aceh.

Muncul suara-suara dari kampus agar status DOM dicabut, salah-satu di antaranya disuarakan Rektor Universitas Syiah Kuala, Dayan Dawod.

Presiden BJ Habibie mencabut status DOM Aceh. Di Lhokseumawe, Pangab Jenderal Wiranto meminta maaf atas pelanggaran TNI.

Komnas HAM menyebut terjadi pelanggaran HAM selama Aceh dijadikan DOM. Ada 781 orang meninggal akibat kekerasan, 163 orang hilang, 368 orang dianiaya, serta 102 diperkosa.

Rumoh Geudong dibakar masa pada 1998.
Rumoh Geudong dibakar masa pada 1998. Amnesty International

Presiden BJ Habibie berusaha mendinginkan tensi politik di Aceh dan berjanji mengakomodir tuntutan autonomi Aceh. Sabang ditetapkan sebagai kawasan pengembangan ekonomi terpadu.

Kunjungan BJ Habibie ke Aceh pada 26 Maret 1999 mendapat penolakan dari warga.
Kunjungan BJ Habibie ke Aceh pada 26 Maret 1999 mendapat penolakan dari warga. attribution: AFP via Getty Images

Satu juta orang di Aceh yang dihadirkan Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) menuntut referendum.

Presiden Abdurrahman Wahid mengutus Sekretaris Negara, Bondan Gunawan, menemui Panglima GAM Teungku Abdullah Syafii guna membicarakan penyelesaian konflik.

Panglima GAM Tengku Abdullah Syafii dalam jumpa pers di rumahnya di Gampong Lungputu, Pidie, Aceh, 9 November 1999.
Panglima GAM Tengku Abdullah Syafii dalam jumpa pers di rumahnya di Gampong Lungputu, Pidie, Aceh, 9 November 1999. Oka Budhi/AFP via Getty Images

Perjanjian damai pertama antara Indonesia dan GAM difasilitasi Henry Dunant Center for Humanitarian Dialogue (HDC).

Jumpa pers pimpinan LSM Henry Dunant Center, Henry Dunant (baju gelap), perwakilan GAM Sofyan Ibrahim Tiba (kiri) dan Safzen Nurdien, wakil pemerintah Indonesia, 2 Desember 2002 di Aceh.
Jumpa pers pimpinan LSM Henry Dunant Center, Henry Dunant (baju gelap), perwakilan GAM Sofyan Ibrahim Tiba (kiri) dan Safzen Nurdien, wakil pemerintah Indonesia, 2 Desember 2002 di Aceh. Hotli Simanjuntak/AFP

‘Jeda Kemanusiaan’ di Aceh

Moratorium on Violence dan setelahnya Damai Melalui Dialog.

Damai Melalui Dialog dan tercapainya kesepakatan Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) di Jenewa.

Presiden Megawati Soekarnoputri memberlakukan Darurat Militer (DM) usai CoHA alami kebuntuan dalam perundingan lanjutan di Tokyo, Jepang.

Gempa dan tsunami di Aceh mengakibatkan sekitar 150.000-170.000 orang meninggal dunia. Konflik bersenjata terhenti. Tsunami Aceh memicu upaya perdamaian GAM dan pemerintah Indonesia.

Pemerintah Indonesia dan GAM menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki, menyudahi kekerasan di Aceh.

Menteri Hukum dan HAM Indonesia Hamid Awaludin (kiri) dan Ketua Delegasi Perunding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Malik Mahmud (kanan) dan Ketua Dewan Inisiatif Manajemen Krisis Finlandia Martti Ahtisaari di Helsinki, 15 Agustus 2005.
Menteri Hukum dan HAM Indonesia Hamid Awaludin (kiri) dan Ketua Delegasi Perunding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Malik Mahmud (kanan) dan Ketua Dewan Inisiatif Manajemen Krisis Finlandia Martti Ahtisaari di Helsinki, 15 Agustus 2005. OLIVIER MORIN/AFP via Getty Images

Kemiskinan dan hubungan Aceh-Jakarta

Orang yang bisa disebut bersikap optimistis adalah Shaummil Hadi, peneliti dan staf pengajar di Fisip Universitas Almuslim di Kota Bireuen, Aceh.

Bagi Shaummil, kedekatan personal antara Presiden Prabowo dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf, merupakan berkah yang harus dirawat.

"Kedekatan itu membantu sekali," kata pria kelahiran 1981 ini saat saya temui di Banda Aceh, 28 Juli lalu.

Selama ini, menurutnya, Jakarta terkesan ragu dalam melihat Aceh.

Ini bisa terjadi lantaran pemerintah pusat disebutnya kekurangan informasi.

"Mengapa ini terjadi? Karena selama ini keterhubungan itu kurang kuat."

Muzakir Manaf, Aceh, Prabowo Subianto, GAM, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, Dokumen Partai Aceh

Keterangan gambar, Presiden Prabowo Subianto menerima Muzakir Manaf di Istana Negara, 9 Desember 2024, setelah dia terpilih sebagai Gubernur Aceh.

Akibat hubungan yang selama ini kurang kuat, sambungnya, Jakarta tidak percaya kepada Aceh.

Keputusan kontroversial Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian tentang status empat pulau adalah buktinya—walaupun kemudian diralat oleh Presiden Prabowo setelah muncul kemarahan massal di Aceh.

"Ini semacam ketidakpedulian Jakarta terhadap konteks Aceh. Itu seperti mengulangi masalah di tahun 1950-an dan model tahun 1970-an," katanya.

Sikap seperti itu bisa muncul, demikian analisanya, lantaran sebagian elite di Jakarta seolah melihat Aceh masih disibukkan soal 'self-determination'.

Untuk itulah, Shaummil menyarankan narasi seperti itu sudah saatnya dikesampingkan.

Dia lalu menyarankan Jakarta lebih peka pada situasi Aceh kontemporer saat ini.

aceh, 20 tahun MOU Helsinki, perdamaian di aceh, kemiskinan di aceh

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Sejumlah warga mengantre untuk membeli beras pada operasi pasar komoditi beras premium di kawasan komplek pasar bina usaha Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Rabu (30/07).

"Mungkin juga [Jakarta] tidak melihat struktur penduduk di Aceh yang dominan Generazi Z. Mungkin juga mereka tidak melihat persoalan ekonomi di Aceh."

Fakta bahwa Aceh merupakan daerah termiskin di pulau Sumatra pun dia garisbawahi.

Dia menganggap, pemerintah pusat mesti memahami bahwa kemiskinan di Aceh tidak terlepas dari faktor geografi.

"Aceh itu wilayahnya seperti terkunci, makanya tergantung wilayah lainnya di Sumatra," ungkapnya.

kemiskinan di aceh, aceh, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Seorang warga mengambil ember di depan rumahnya di Desa Padang Seurahet, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (26/07).

Bicara soal posisi geografi Aceh yang seperti terkunci dan masalah kemiskinan di Aceh, Teuku Kamaruzzaman, eks anggota tim juru runding GAM semasa konflik, menaruh harapan pada revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA).

Proses revisi itu digagas DPR Aceh dan saat ini sedang digodok DPR pusat.

Saat ini Kamaruzzaman dipercaya sebagai juru bicara pemerintah Aceh. Dia juga terlibat intensif dalam revisi UUPA.

Seperti diketahui, DPR Aceh telah merevisi beberapa pasal dalam UUPA yang intinya agar Aceh diberi wewenang lebih besar.

Ini ditekankan para elit di Aceh lantaran seperti itulah tafsir mereka atas pasal-pasal dari Kesepakatan Helsinki 2005.

aceh, MOU Helsinki, damai

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ampelsa

Keterangan gambar, Pengunjung menyaksikan sejumlah foto peristiwa bersejarah pada masa Kesultanan Aceh Darussalam abad ke-18 dan ke-19 yang dipamerkan pada Pameran Foto Sejarah di Museum Aceh, Banda Aceh, Kamis (24/07).

Setidaknya ada sembilan pasal yang ingin direvisi oleh DPR Aceh.

Mulai soal zakat dan pajak, dana otonomi khusus agar dibuat permanen, hingga soal Aceh berhak mendapat keuntungan 70% dari pembagian keuntungan gas dan minyak di perairan Aceh.

Ampon Man, panggilan akrab Kamaruzzaman, bilang revisi UUPA ini sangat penting bagi Aceh, karena dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat Aceh.

Dia kemudian memberi contoh, jika Aceh diberi wewenang lebih besar dalam ekspor impor, keuntungannya bisa berdampak langsung bagi pendapatan wilayah itu.

Hal ini ditekankan Kamaruzzaman saat berdebat dengan Jusuf Kalla, mantan wakil presiden dan sosok penting di balik perjanjian damai di Helsinki.

Perdebatan keduanya muncul ketika UUPA baru disahkan DPR.

Kamaruzzaman memprotes aturan ekspor-impor yang disebutnya tidak sesuai semangat pasal-pasal Kesepakatan Helsinki.

"Kami sudah ketemu Pak JK. Kami tolak itu," ungkapnya.

Batu bara, aceh, aceh barat, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Sejumlah alat berat memindahkan batu bara ke truk pengangkut di salah satu perusahaan pertambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Selasa (29/07).

Pasalnya, draf yang dibuat oleh tim Aceh ditolak dengan alasan bertentangan dengan hukum nasional.

"Diikat semua dan di bawah ketentuan hukum nasional," ujar Kamaruzzaman.

Padahal, jika Aceh diberi wewenang lebih besar soal ekspor-impor itu, bakal menguntungkan finansial Aceh.

Mirip yang dikatakan Shaummil itu tadi, geografi Aceh di titik paling ujung Sumatra. Dan satu-satunya pintu keluar-masuk adalah ke Sumatra Utara dan seterusnya.

Jika saja wewenang ekspor-impor itu diperbesar, Aceh diuntungkan karena 'di atas' Aceh itu ada India, Timur Tengah, dan akses ke China melalui Myanmar.

"Di atas kita ada tiga milyar lebih manusia, bahkan Aceh paling dekat ke Timur Tengah, Singapura atau Malaysia," kata Kamaruzzaman.

20 tahun MOU Helsinki, GAM, TNI, Aceh Utara

Sumber gambar, OMAR / AFP

Keterangan gambar, Menyusul hilangnya seorang perwira intelijen ABRI (kini TNI) di Aceh Utara, sekitar 1.200 orang warga setempat di Kecamatan Tipin Raya, Aceh Utara, mengungsi ke sebuah masjid, 20 Mei 1999.

Impian 'bebas berdagang' seperti ini sudah dibayangkan oleh salah-seorang juru runding GAM, Malik Mahmud saat perundingan di Helsinki.

"Tapi akhirnya kandas, itu enggak bisa, karena berbenturan dengan Konstitusi Indonesia," kata Kamaruzzaman kepada saya di Banda Aceh, Jumat, 1 Agustus 2025.

Ketika dihadapkan tembok seperti itu, Kamaruzzaman berpikir bahwa Konstitusi Indonesia itu cocok untuk masyarakat homogen, dan tidak bisa bagi masyarakat heterogen.

"Dari sisi Konstitusi, enggak ada itu Bhinneka Tunggal Ika, itu cuma simbol belaka," ujar alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Aceh, dan kini berprofesi sebagai advokat ini.

Malik Machmud, GAM, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, SOILE KALLIO/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Para pimpinan GAM, antara lain Malik Mahmud (tengah). dalam jumpa pers di sela-sela perundingan damai di Helsinki, Finlandia, 23 Februari 2005.

Bagaimanapun, dalam momen 20 tahun perdamaian Helsinki, dia berharap Presiden Prabowo Subianto memainkan perannya dalam revisi UUPA.

"Karena dengan revisi itu, dua-duanya [Aceh dan pemerintah pusat] akan dapat keuntungan besar," katanya.

Apalagi Prabowo disebutnya memiliki hubungan personal yang baik dengan Muzakir Manaf.

"Dia memahami konteks Aceh," katanya.

Kamaruzzaman, seperti halnya Shaummil, jelas bersikap optimis. Tetapi tidak semua sependapat dengan cara pandang seperti itu.

Wajah Munawar Liza, eks anggota tim juru runding GAM di Helsinki dan mantan Wali kota Sabang (2007-2012) terlihat mengeras, ketika saya tanyakan apa yang di benaknya melihat kedekatan hubungan Presiden Prabowo dan Muzakir Manaf.

"Ada baiknya, ada buruknya," kata Munawar, kelahiran 1973.

Sisi baiknya, menurutnya, Aceh selalu ada dalam pikiran Prabowo. Dia merasa bahwa Aceh ada dalam mindset-nya.

"Tapi terkait dengan kebijakannya menyangkut keuntungan Aceh, saya masih pesimis," kata Munawar yang dulu pernah bergabung dengan Partai Nanggroe Aceh (PNA)—sebagian elite partai ini dulu adalah anggota GAM, termasuk eks Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

Hashim Djojohadikusumo, Muzakir Manaf, aceh

Sumber gambar, Dokumen Humas Pemprov Aceh/Kompas.com

Keterangan gambar, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf saat bertemu pengusaha Hashim Djojohadikusumo yang juga adik Presiden Prabowo Subianto di Aula Arsari Group, Jakarta Pusat, Jumat, 11 April 2025.

Dia menilai, pendekatan Prabowo ke Aceh lebih dilatari kepentingan oligarki, pribadi, serta bisnisnya.

Munawar kemudian memberikan contoh saat adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, datang ke Aceh untuk meresmikan pabrik miliknya di Aceh Barat, awal Juli 2025.

"Adiknya presiden [Hashim Djojohadikusumo] itu bukan presiden, tapi ketika dia datang seolah-olah terasosiasi dengan Prabowo.

"Dia kan non-struktural, bukan menteri. Mestinya hubungan dengan Aceh itu struktural, misalnya, Prabowo membawa menteri keuangan, menteri investasi, datang ke Aceh, misalnya, menyelesaikan persoalan Aceh, membantu Aceh untuk keluar dari kemiskinan. Itu yang saya harap," jelasnya.

Temuan ladang gas di perairan Aceh, berkah atau kutukan?

Semenjak perusahaan energi asal Uni Emirat Arab, Mubadala Energy, mengumumkan temuan gas berskala besar di lepas Pantai Aceh Utara dan Lhokseumawe, muncul semacam euforia: Inilah berkah, inilah obat mujarab guna mengatasi kemiskinan di Aceh.

Mulai Presiden Prabowo, Gubernur Aceh Muzakir Manaf hingga warga Aceh seperti Muzakir ikut berkomentar tentang temuan ladang gas di perairan Aceh tersebut.

"Hasilnya harus untuk Aceh, jangan dibawah ke tempat lain," Muzakir berharap.

Muzakir, tentu saja, setia mengikuti perkembangan soal temuan cadangan gas di perairan Aceh ini.

Arun, PT Arun, Lhokseumawe, Aceh, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, OKA BUDHI/AFP

Keterangan gambar, Tiga bocah tengah mempersiapkan jaring ikan di Ujung Blang, Lhokseumawe, 15 November 1999, dengan latar belakang tangki-tangki gas alam cair milik Pertamina.

Dan dia berpikir sederhana saja, bagaimana caranya keberadaannya kelak dapat membuka lapangan kerja sebesar-besarnya.

"Itu harapan untuk kesejahteraan anak-anak Aceh yang banyak menganggur," katanya. "Utamakan anak-anak Aceh."

Bukan hanya Muzakir yang berpikir seperti itu. Kepala Badan Pengelola Minyak dan Gas Aceh (BPMA), Nasri Djalal pun memiliki harapan sama.

"Saya pikir temuan ini suatu berkah," kata Nasri Djalal kepada saya dan videografer Dwiki Marta, 1 Agustus lalu, di kantornya di Banda Aceh.

"Tinggal bagaimana mengelolanya, sehingga dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat Aceh," tambahnya.

Arun, PT Arun, Lhokseumawe, Aceh, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, IAN TIMBERLAKE /AFP

Keterangan gambar, Seorang perempuan sedang bekerja di ladang di Desa Ujong Blang, Lhokseumawe, Aceh, di depan tangki penampungan di fasilitas gas alam cair PT Arun milik ExxonMobil. Foto diabadikan 18 Februari 2001.

Perusahaan energi asal Uni Emirat Arab, Mubadala akan menjadi operator di Blok Andaman 1, sementara perusahaan energi asal Inggris, Harbour Energy, akan menjadi operator di Blok Andaman 2.

Temuan ini di Blok Andaman 1 memiliki potensi mencapai 6 triliun kaki kubik (TCF). Adapun temuan di Blok 2 disebut berpotensi mencapai sekitar 5,5 triliun kaki kubik.

"Secara total di Blok Andaman itu di bawah ladang gas alam Arun [di Lhokseumawe]. Arun dulu di tahun 1970-an sekitar 16 triliun kaki kubik. Dan Blok Andaman total 10 triliun kaki kubik," ungkap Nasri.

Lantaran lokasi temuan di Blok Andaman itu di atas 12 mil laut, sesuai regulasi, maka menjadi wewenang Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

"Kewenangan BPMA hanya sebatas wilayah darat sampai dengan 12 mil laut," kata Nasri.

Namun saat ini pihaknya tetap bekerja sama dengan SKK Migas untuk pengelolaan di atas 12 mil laut.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf telah menyurati Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral agar dilibatkan dalam proyek ini.

Dengan demikian, seperti apa pembagian keuntungannya?

"Kalau di luar wilayah kewenangan BPMA, Aceh mendapatkan 30%, sementara pemerintah pusat 70%."

Arun, PT Arun, Lhokseumawe, Aceh, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ladang Gas Arun di Aceh utara pernah disebut petinggi ExxonMobil sebagai "permata di mahkota perusahaan".

Masalah besaran bagi hasil ini dan sejauh mana Aceh mendapatkan keuntungan, menurut Nasri Djalal, merupakan hal penting.

Dia menekankan hal itu agar masalah ketidakadilan yang pernah muncul di tahun 1970-an tidak terulang.

Di sini Nasri menyinggung apa yang terjadi pada PT Arun di Lhokseumawe, Aceh Utara.

PT Arun, atau PT Arun Natural Gas Liquefaction, adalah bekas perusahaan pengolahan gas alam yang berlokasi di Blang Lancang, Lhokseumawe.

Dulu, kilang Arun merupakan salah satu produsen LNG terbesar di dunia.

Namun, operasinya dihentikan pada akhir 2015 karena cadangan gas alamnya menipis.

Arun, PT Arun, Exxonmobil Lhokseumawe, Aceh, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, Terry Collingsworth

Keterangan gambar, Salah seorang penggugat, John Doe I, yang meninggal tahun 2003, dua tahun setelah gugatan terhadap ExxonMobil diajukan di Pengadilan Washington DC, AS.

ExxonMobil pernah beroperasi di Aceh melalui anak perusahaannya, Mobil Oil Indonesia, yang mengelola ladang gas Arun.

Selama beroperasi, mereka dituduh melakukan tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil – yang melibatkan TNI.

Baca juga:

Kemunculan GAM yang dideklarasikan Hasan Tiro pada 1976 tidak terlepas dari keberadaan PT Arun dan ExxonMobil.

"Secara historis kami dapat membaca bahwa pergolakan itu terjadi karena tidak adanya keadilan. Di mana pada saat itu belum ada undang-undang yang mengatur perimbangan keuangan pusat dan daerah," jelasnya.

Hasan Tiro, GAM, ExxonMobil, Arun, Aceh

Sumber gambar, DOKUMEN GAM

Keterangan gambar, Pendiri GAM, Hasan Tiro, diabadikan saat bergerilya di pedalaman Aceh di tahun 1970-an. Dia memprotes proyek gas dan minyak di Aceh Utara yang disebutnya keuntungannya tidak dinikmati masyarakat Aceh.

Saat itu, lanjutnya, seluruh hasil keuntungan semuanya dibawa ke Jakarta.

"Dengan pembagian yang relatif sangat sedikit untuk Aceh," kata Nasri.

Dilatari persoalan seperti inilah, DPR Aceh merevisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh.

Tujuan untuk memberikan kewenangan lebih besar kepada Aceh dalam pengelolaan migas, di antaranya akses ke wilayah laut yang lebih luas dan potensi bagi hasil yang lebih adil.

"Kami membuat lagi komposisi yang lebih adil. Logikanya begini, ketika ada sumber daya alam yang menguntungkan suatu daerah, maka daerah itu harus makmur dulu," kata Teuku Kamaruzzaman, eks juru runding GAM. Dia dilibatkan dalam revisi UUPA.

Arun, PT Arun, Exxonmobil Lhokseumawe, Aceh, 20 tahun MOU Helsinki

Sumber gambar, AFP/Oka Budhi

Keterangan gambar, Sejumlah nelayan lewat di depan tangki minyak milik Pertamina di Ujung Blang, Lhokseumawe 15 November 1999.

"Jadi menurut Anda, temuan cadangan gas di perairan Aceh itu berkah atau kutukan?" saya bertanya lagi kepadanya.

"Saya kira berkah. Tapi berkahnya untuk siapa? Seharusnya berkahnya untuk masyarakat Aceh. Makanya harus diubah pasal dalam UUPA," kata Kamaruzzaman.

Selesai? Belum.

Peneliti dan staf pengajar di sebuah perguruan tinggi di Kota Biereun, Shaummil Hadi mengatakan, karena perusahaan migas itu padat modal yang membutuhkan "tenaga terampil", Aceh harus mempersiapkan sumber dayanya.

"Kewajiban investor migas itu sendiri untuk mendidik sumber daya lokal di Aceh," kata Shaummil.

penambangan ilegal, aceh

Sumber gambar, Khalis Surry/Anadolu Agency/Getty Images

Keterangan gambar, Semburan gas dari sumur minyak ilegal di Peureulak, Aceh Timur, Kamis, 26 April 2018. Ledakan sumur minyak ilegal tersebut mengakibatkan 21 orang tewas dan 40 orang mengalami luka bakar.

BPMA sendiri sudah mengajak sejumlah kampus di Aceh untuk mempersiapkan anak didiknya untuk kelak berkecimpung di industri hulu migas.

Baginya, keberadaan perusahaan migas ini bakal menjadi daya tarik bagi investor untuk berduyun-duyun masuk ke Aceh.

"Kalau investor migas sudah masuk, saya yakin investor lain juga akan masuk. Jadi trust (kepercayaan) yang mau kita bangun," paparnya.

Dengan kata lain, solusi masalah pengangguran dan kemiskinan di Aceh itu bukan pada industri migasnya.

"Tapi dari investasi dari industri lainnya yang timbul nantinya. Misalnya industri pengolahan. Di sini tugas pemerintah Aceh untuk mengembangkannya."

Bagaimana dengan produksi gasnya, apakah bakal ada yang memanfaatkan dan membelinya?

Menurut Kepala BPMA, Nasri Djalal, pihaknya membutuhkan investor untuk berinvestasi di Aceh, utamanya yang membutuhkan gas.

Masalah tata kelola dan ongkos perdamaian

Bukan rahasia lagi, isu kemiskinan dan kesejahteraan ekonomi, adalah salah-satu narasi yang paling menyedot perhatian masyarakat Aceh, di sela-sela peringatan 20 tahun perdamaian di Aceh.

Di media sosial, di ruangan seminar yang melibatkan para pakar, hingga obrolan ringan tapi tajam di warung-warung kopi, dua masalah itu menjadi topik yang seolah-olah tidak ada habisnya.

Biasanya, mereka kemudian membandingkan isu itu dengan gelontoran uang dana otonomi khusus (otsus) dari pemerintah pusat.

Semestinya keberadaan dana itu berjalan seiring bagi pengentasan kemiskinan di Aceh, begitulah narasi yang berkembang.

Dan ketika diskusi menukik kepada siapa yang harus bertanggungjawab, munculnya anggapan bahwa ini bisa terjadi karena sebagian pejabat di Aceh tidak mampu mengelolanya.

korupsi, aceh, MOU Helsinki

Sumber gambar, ANTARA/HO-Penkum Humas Kejati Aceh.

Keterangan gambar, Tiga tersangka dugaan tindak pidana korupsi pengadaan sapi di Kantor Kejati Aceh, Banda Aceh, Oktober 2023.

Syaiful Mahdi, peneliti dan staf pengajar di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, tidak memungkiri ada persoalan tata kelola birokrasi.

Hanya saja, Syaiful Mahdi melihat Jakarta seperti menutup mata terhadap persoalan ini. Argumen yang mendasarinya, menurutnya, pemerintah pusat seperti menganggap bahwa Aceh saat ini masih dalam masa transisi.

"Sehingga seolah-olah perilaku KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) tidak begitu menjadi perhatian, atau dibiarkan, dengan alasan Aceh sedang dalam masa transisi," kata Syaiful Mahdi saat saya temui di Banda Aceh, 21 Juli lalu.

Dia menduga, sikap Jakarta yang seolah-olah menutup mata terhadap masalah tata kelola di Aceh, sebagai "ongkos atau biaya perdamaian".

"Atau sebagian yang lain mengatakan, dalam Bahasa yang lebih positif, yaitu peace dividend sehingga semua orang kebagian," kata Saiful Mahdi.

korupsi, aceh

Sumber gambar, ANTARA/HO-Kejari Aceh Timur

Keterangan gambar, Petugas Kejaksaan Aceh Timur mengawal tersangka korupsi pembangunan gudang arsip di Aceh Timur, April 2025.

Bisa saja, dia melanjutkan, orang-orang yang dulu mungkin berjuang untuk melawan ketidakadilan di Aceh, dan sekarang menjadi pemimpin, justru "tidak bisa bersikap adil".

"Dulu sebagian mereka yang hidup susah, begitu mendapatkan kesempatan, sehingga memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya."

Dan, lagi-lagi Saiful Mahdi menekankan, masalah seperti ini terkesan dibiarkan terjadi begitu saja.

"Bahwa Aceh masih bisa damai sampai 20 tahun, sebagian orang mengatakan itu ongkos kecil lah dibandingkan dengan level korupsi yang lebih besar di tempat lain," ungkapnya.

"Tapi," Saiful Mahdi menekankan, "saya ingin memberi catatan setelah 20 tahun damai, seharusnya masa transisi jangan lagi menjadi alasan."

Walaupun dengan tekanan agak berbeda, sejumlah orang di Aceh yang saya hubungi mengakui masalah tata kelola oleh para pejabat terkait ikut menyumbang masalah kesejahteraan di Aceh.

korupsi, aceh

Sumber gambar, Kontras Aceh

Keterangan gambar, Seluruh aparatur sipil di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh menandatangi pakta integritas bebas korupsi, 15 Maret 2021.

Teuku Kamaruzzaman, eks juru runding GAM di masa konflik, dan dikenal pula sebagai juru bicara pemerintah Aceh, mengaku "ada masalah di tata kelola".

"Ada persoalan birokrasi. Ketika ada kewenangan, seperti diatur dalam UUPA, birokrasi boleh membesarkan dirinya, sehingga dana banyak terserap pada belanja aparatur. dan bukan belanja modal atau melayani publik. Itu sebuah persoalan," Kamaruzzaman menjelaskan.

Shaummil Hadi, staf pengajar di sebuah perguruan tinggi di Bireuen, Aceh, juga tidak menutup mata terhadap masalah tata kelola birokrasi Aceh.

"Penggelontoran dana otsus yang penting itu, harus dikunci juga dengan tata kelola yang baik," kata Shaummil. "Kalau tidak, [program pembangunan] tidak berimbas ke masyarakat.

Namun bagi Munawar Liza, eks anggota tim juru runding GAM di Helsinki, masalah tata kelola itu bukanlah khas Aceh semata.

korupsi, aceh

Sumber gambar, Tribunnews/MAULIDI ALFATA

Keterangan gambar, Kelompok FORKAB lakukan aksi unjuk rasa di depan Kejari Aceh Timur, pada awal Juli 2024.

Hampir masalah yang sama juga terjadi di wilayah lain di Indonesia, katanya.

"Bukan murni di Aceh saja. Tapi semua wilayah di Indonesia, terkait proyek-proyek pembangunan, itu sama masalahnya. Apa yang terjadi di IKN, Hambalang, itu kan sama," ujarnya.

Dia kemudian memberikan contoh kasus-kasus terkait tata kelola di dunia birokrasi.

"Coba kalau aparat tidak menjadi kontraktor, atau tidak mem-backingi kontraktor, mungkin akan lebih bagus," kata Munawar.

Di ujung wawancara. Munawar akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa "negara kita memang sedang sakit."

---

Ini adalah seri pertama dari dua seri liputan khusus peringatan 20 tahun perdamaian Aceh.