Mendirikan museum, merawat perdamaian di Aceh

Sejumlah ruangan kecil milik kantor pemerintah di kota Banda Aceh, disulap menjadi museum. Berbagai benda terkait konflik panjang di wilayah itu --yang berujung perdamaian 10 tahun silam-- pun dipajang.

aceh gam soldier
Keterangan gambar, Diresmikan pada pekan kedua Agustus 2015, museum ini memuat berbagai foto terkait konflik dan fase damai setelahnya. Salah-satunya foto berukuran besar yang menggambarkan tentara Gerakan Aceh Merdeka, GAM, tengah berlindung di semak-semak. “Koleksi kami masih sedikit. Saya berharap masyarakat dapat menyumbangkan berbagai benda terkait konflik, misalnya seragam GAM atau TNI, atau sepatu lars,” kata Kepala Kesbangpol dan Linmas Aceh Nasir Zalba, pemilik gagasan museum mini ini.
aceh independence leader
Keterangan gambar, Di belakang foto pendiri Gerakan Aceh Merdeka, GAM, Hasan Tiro, Kepala Kesbangpol dan Linmas Aceh Nasir Zalba tengah menerima tamu. Dia mengharapkan museum ini bisa menjadi tempat edukasi perdamaian. “Dari sekarang perdamaian itu mesti kita tanamkan. Jangan hal kecil menjadi tumpah darah, apalagi di aceh,” kata Nasir.
aceh gam weapon
Keterangan gambar, Di depan pintu masuk museum, benda-benda seperti senjata api dan granat milik tentara GAM dipamerkan. Ribuan senjata ini diserahkan oleh GAM kepada tim pemantau internasional sebagai bagian dari proses perdamaian, 10 tahun silam.
Di depan poster berukuran besar berisi perjalanan konflik dan perdamaian di Aceh, Rahmatan, perempuan yang dulu aktif dalam misi kemanusiaan, dan agak bersimpati dengan GAM, mengaku bersyukur dengan adanya perdamaian. “Tapi saya menilai ada korban konflik yang tidak memperoleh hak-haknya,” katanya. “Misalnya, sebagian Inong Bale (pejuang perempuan GAM), belum memperoleh hak-haknya,” katanya.
Keterangan gambar, Di depan poster berukuran besar berisi perjalanan konflik dan perdamaian di Aceh, Rahmatan, perempuan yang dulu aktif dalam misi kemanusiaan, dan agak bersimpati dengan GAM, mengaku bersyukur dengan adanya perdamaian. “Tapi saya menilai ada korban konflik yang tidak memperoleh hak-haknya,” katanya. “Misalnya, sebagian Inong Bale (pejuang perempuan GAM), belum memperoleh hak-haknya,” katanya.
aceh peace school
Keterangan gambar, Para siswa dari sejumlah sekolah menengah atas di Banda Aceh di depan poster perjalanan konflik dan perdamaian di Aceh. Pengelola museum ini mengharapkan anak-anak muda ini dapat memahami perjalanan konflik di Aceh sekaligus belajar banyak proses perdamaian yang mengakhiri konflik tersebut.
aceh peace museum
Keterangan gambar, Pintu masuk ke museum perdamaian Aceh, yang dulunya merupakan bagian dari Kantor Badan Kesbangpol dan Linmas Aceh. “Ada dua peristiwa besar di Aceh, konflik 30 tahun dan tsunami,” kata Kepala Kesbangpol dan Linmas Aceh Nasir Zalba. Dan, “Museum tsunami sudah ada, tapi konflik yang berlangsung 30 tahun, nah ini dokumennya masih berserakan,” katanya, mengungkap kegelisahannya yang akhirnya bermuara pada pendirian museum mini ini.
Pengelola museum mendatangkan foto-foto berukuran besar ini antara lain dari wartawan yang meliput konflik Aceh. “Tapi kami masih ingin melengkapi koleksi kami, diantaranya mendapatkan artefak bersejarah yaitu KTP merah-putih yang dulu diwajibkan dimiliki warga Aceh. Banyak cerita di baliknya,” kata kurator museum ini, Wiratmadinata.
Keterangan gambar, Pengelola museum mendatangkan foto-foto berukuran besar ini antara lain dari wartawan yang meliput konflik Aceh. “Tapi kami masih ingin melengkapi koleksi kami, diantaranya mendapatkan artefak bersejarah yaitu KTP merah-putih yang dulu diwajibkan dimiliki warga Aceh. Banyak cerita di baliknya,” kata kurator museum ini, Wiratmadinata.
Seorang petugas menunjuk materi dan foto puncak kesepakatan damai di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2015. Menurut kurator museum ini, Wiratmadinata, pihaknya mengharapkan museum ini dapat menjadi pusat studi untuk perdebatan tentang sejarah seputar konflik antara pemerintah pusat dan Aceh. “Jadi tidak ada deterministik. Itu cita-citanya… Ke depan, misalnya, bagaimana kita menghindari tafsir tunggal atas sejarah,” kata Wiratmadinata.
Keterangan gambar, Seorang petugas menunjuk materi dan foto puncak kesepakatan damai di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2015. Menurut kurator museum ini, Wiratmadinata, pihaknya mengharapkan museum ini dapat menjadi pusat studi untuk perdebatan tentang sejarah seputar konflik antara pemerintah pusat dan Aceh. “Jadi tidak ada deterministik. Itu cita-citanya… Ke depan, misalnya, bagaimana kita menghindari tafsir tunggal atas sejarah,” kata Wiratmadinata.