Jenazah Juliana Marins diautopsi lagi di Brasil – Apa yang sejauh ini diketahui?

Sumber gambar, Reproduksi | Instagram
Juliana Marins, perempuan Brasil berusia 26 tahun yang tewas setelah jatuh di Gunung Rinjani, kemungkinan masih hidup selama sekitar 32 jam setelah jatuh pertama, menurut perkiraan para ahli Brasil setelah melakukan autopsi kedua, pada Jumat (11/07).
Tim ahli menghitung bahwa Juliana jatuh pada pukul 04.00 pagi tanggal 21 Juni dan meninggal pada siang hari tanggal 22 Juni — namun waktu kematian yang lebih tepat tidak disebutkan.
Menurut ahli forensik, Reginaldo Franklin Pereira, keberadaan larva di kulit kepala membantu memperkirakan waktu meninggalnya Juliana.
"Tanggal 22 (Juli), tengah hari, ditambah 15 menit: itulah waktu kematian Juliana Marins. Dia bertahan sekitar 32 jam setelah jatuh pertama," ujar Pereira.
Pereira dan asisten forensik, Nelson Massini, mengatakan Juliana Marins meninggal akibat cedera beragam.
Mereka mengatakan perempuan itu mengalami pendarahan, termasuk di kepalanya, dan gangguan pernapasan.
"Cedera yang menyebabkan kematian Juliana muda disebabkan oleh benturan energi kinetik yang tinggi," kata Pereira.
"Itu adalah kematian yang sangat menyakitkan," tambah Massini.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Berdasarkan analisis tim, Juliana diduga terjatuh hingga 220 meter pada insiden pertama.
Selanjutnya, ia kembali terpeleset sejauh 60 meter dan jatuh untuk kali kedua, sebelum akhirnya ditemukan di kedalaman 650 meter.
Mariana, saudara kandung Juliana, mengungkap foto terakhir Juliana saat masih hidup diambil menggunakan drone pada 21 Juni pukul 06.59 Wita.
Sekitar pukul 07.51 Wita, seorang turis asal Spanyol kali terakhir melihat Juliana, yang sempat berteriak meminta pertolongan.
"Basarnas baru bisa turun 150 meter dari tebing, sedangkan Juliana berada di kedalaman 220 meter. Meski posisinya masih di tempat semula, mereka tidak akan bisa menjangkaunya karena keterbatasan alat," ujar Mariana.
Dokumen autopsi juga menyebutkan, Juliana sempat bertahan hidup sekitar 10–15 menit setelah benturan terakhir, tetapi dalam kondisi tak mampu bergerak.
Proses pembalseman jenazah yang sudah dilakukan sebelumnya turut menyulitkan analisis detail, seperti perkiraan waktu kematian yang lebih presisi.
Angka ini berbeda dengan perkiraan yang dibuat oleh autopsi pertama yang dilakukan di Indonesia, yang memperkirakan kematian terjadi pada 25 Juni, antara pukul 01.00 dan 13.00 (waktu setempat), dan 20 menit setelah terjatuh terakhir kali.
Pereira dan Massini, yang menandatangani laporan dari Institut Medis Hukum Afrânio Peixoto (IML) di Rio de Janeiro, berpartisipasi dalam konferensi pers bersama saudara perempuan Juliana, Mariana Marins.

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Autopsi pertama terhadap jenazah Juliana Marins dilakukan di RSUD Bali Mandara Provinsi Bali.
Dokter forensik, Ida Bagus Alit, memastikan penyebab kematian Marins karena luka, terutama di bagian rongga dada dan punggung.
Pada jasad Marins tidak ada tanda-tanda hipotermia atau penurunan suhu tubuh secara drastis. Hal itu diketahui karena tidak ada kehitaman/kebiruan di ujung-ujung jarinya.
"Korban mengalami luka akibat kekerasan dan patah tulang di beberapa bagian. Penyebab kematian terbesar karena luka di bagian rongga dada dan punggung," ujar dokter Ida Bagus Alit di lobi RSUD Bali Mandara Provinsi Bali, Jumat (27/06).
Dari hasil autopsi ini, dokter memperkirakan waktu kematian Juliana adalah sekitar 20 menit setelah mengalami luka-luka tersebut.
Ketika ditanya lebih lanjut soal perkiraan kematian Juliana, dokter Ida Bagus Alit menjawab:
"Data perhitungan saya, korban meninggal Rabu 25 Juni di rentang pukul 01.00 Wita hingga 13.00 Wita."
Perkiraan ini bertentangan dengan keterangan Basarnas bahwa Juliana ditemukan pada Selasa (24/06) malam, "dipastikan dalam kondisi meninggal dunia".
Dokter Ida Bagus Alit mengatakan kepada wartawan Christine Nababan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia:
"Memang berbeda dengan pernyataan Basarnas. Ada selisih sekitar enam jam dari waktu yang disebutkan Basarnas. Ini berdasarkan data perhitungan dokter ya."
Dia menambahkan: "Perlu diingat, faktor lingkungan seperti suhu dan kelembaban, mempengaruhi perubahan setelah kematian. Bisa saja ada selisih."
Jenazah Juliana Marins tiba di RSUD Bali Mandara, Kamis (26/06), sekitar pukul 21.35 Wita.
Jenazah Juliana Marins dibawa menggunakan ambulans milik Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda NTB di Mataram.
Jenazah diantar dalam peti kayu berwarna cokelat dan langsung masuk ke ruang forensik. Tidak terlihat pihak keluarga atau perwakilan dari Juliana Marins, kecuali polisi yang mengawal jenazah, sebagaimana dilaporkan wartawan Christine Nababan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Sumber gambar, Dokumen keluarga
Juliana Marins jatuh dari tebing Gunung Rinjani pada Sabtu (21/06).
Tim SAR berhasil menjangkau perempuan tersebut pada kedalaman 600 meter pada Selasa (24/06) malam. Saat itu, menurut tim SAR, Juliana "dipastikan dalam kondisi meninggal dunia".
Jasad Juliana kemudian dievakuasi pada Rabu (25/06) sekitar pukul 13.50 Wita.
Aparat lantas membawa jenazah ke Rumah Sakit Bhayangkara Mataram. Mereka tiba pada Rabu (25/06) pukul 22.47 Wita.
Saat itu, Dr. Mike Wijayanti Johar, PLT Kepala RS Bhayangkara Polda NTB, mengatakan pihak RS Bhayangkara sedang tidak ada dokter ahli forensik.
"Karena kami punya dokter ahli forensik satu-satunya di NTB sedang ada tugas di Sumatra." kata Mike, seperti dilaporkan wartawan di Mataram, Abdul Latif kepada BBC News Indonesia, Kamis (26/06).
Berkas-berkas berikut barang-barang yang melekat ditubuh korban sudah di serahkan ke pihak Kedutaan Brasil untuk Indonesia.
"Karena keluarga sudah tidak tega lagi melihat jenazahnya." tambah Mike.
Terkait hasil pemeriksaan luar jenazah, Mika tidak bersedia membeberkannya.
"Hasilnya nanti kami serahkan ke penyidik Polres Lombok Timur, karena TKP-nya ada di Lombok Timur." kata Mike
Dari pantauan BBC, sejumlah keluarga korban bersama pihak Kedutaan Brasil sempat mendatangi RS Bhayangkara Polda NTB.
Mereka meninggalkan RS Bhayangkara lebih awal, beberapa menit sebelum jenazah Juliana dibawa ke Bali.
Evakuasi pendaki asal Brasil di Gunung Rinjani telah dituntaskan
Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Mohammad Syafii, mengatakan proses evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins, dari Gunung Rinjani telah dituntaskan pada Rabu (25/06).
Menurutnya, jenazah korban berhasil diangkat dari kedalaman 600 meter sekitar pukul 13.50 WITA. Proses evakuasi dilakukan melalui jalur darat "dengan tandu".
Syafii mengklaim rencana awal proses evakuasi akan menggunakan helikopter, akan tetapi "kondisi cuaca tidak memungkinkan".
Proses evakuasi korban menggunakan rute Pelawangan menuju Sembalun berjarak sekitar 10 km dengan waktu sekitar enam jam. Umumnya, rute turun gunung ini ditempuh pendaki antara 4-7 jam tergantung kecepatan dan kondisi fisik. Jalurnya juga terjal.

Sumber gambar, Basarnas
Selain itu, ia juga mengatakan telah berkoordinasi dengan pihak keluarga Juliana Marins, dan menyampaikan situasi lingkungan, medan, perencanaan, dan skenario-skenario penyelamatan.
"Dari pihak keluarga bisa sangat menerima, situasi dan kondisi yang dihadapi," kata Syafii.
Baca juga:
Dalam keterangan yang dimuat akun resmi Instagram Balai Taman Nasional (TN) Gunung Rinjani, proses evakuasi turis asal Brasil, Juliana Marins, "telah berlangsung intensif dan berhasil dituntaskan dengan penuh kehati-hatian".
"[Pukul 20.40 WITA] jenazah korban telah tiba di Resort Sembalun, dan akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Nusa Tenggara Barat," tulis akun tersebut.

Sumber gambar, Basarnas
Sebelumnya, Tim SAR mengatakan pendaki Brasil yang jatuh dari tebing Gunung Rinjani pada Sabtu (21/06) "dipastikan dalam kondisi meninggal dunia" saat menjangkau perempuan tersebut pada kedalaman 600 meter pada Selasa (24/06) malam.
Hingga Selasa (24/06) malam, tim SAR gabungan masih mengupayakan evakuasi Juliana, warga negara Brasil yang terperosok ke jurang di ketinggian Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Juliana Marins, 26 tahun, terperosok ketika mendaki gunung Rinjani pada Sabtu (21/06).
Merujuk keterangan resmi Basarnas, pada Selasa (24/06) pukul 18.00 Wita, salah satu anggota tim SAR berhasil menjangkau korban pada kedalaman 600 meter. Namun, saat dilakukan pemeriksaan terhadap korban "tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan".
Beberapa menit sesudahnya, tiga anggota SAR gabungan menyusul turun mendekati korban.

"Setelah dikonfirmasi, dipastikan korban dalam kondisi meninggal dunia, selanjutnya korban dilakukan wrapping survivor," tulis Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, Mohammad Syafii, dalam keterangan tertulis yang diterima BBC News Indonesia pada Selasa (24/06) malam.
Dia melanjutkan, setelah mendapatkan informasi tentang kondisi korban, tim SAR gabungan yang berada di posisi terakhir Juliana, menyiapkan sistem evakuasi.
Pada pukul 19.00 Wita, disebabkan oleh cuaca yang tidak memungkinkan, kata Mohammad dalam keterangan tertulisnya, diputuskan evakuasi korban akan dilakukan pada Rabu (25/06) pagi dengan metode lifting (korban diangkat ke atas).
Kemudian, evakuasi dilanjutkan dengan menyusuri rute pendakian menuju Posko Sembalun dengan cara ditandu.
"Selanjutnya, dari Posko Sembalun, akan dievakuasi menggunakan helikopter ke RS Bhayangkara Polda NTB," kata Mohammad.
Sebelumnya, tim SAR telah menemukan posisi Juliana pada Senin (23/06) pada kedalaman 500 meter dari posisi semula. Kendati begitu kondisinya belum bisa dipastikan.
"Kami sudah menemukan titik di mana survivor ini ditemukan berada. [Lewat] pemantauan drone. Kami tidak melihat bahwa survivor bergerak. Kami belum bisa memastikan," kata kepala Kepala Kantor SAR Mataram, Muhammad Hariyadi, pada Selasa (24/06).
Ini bukan kali pertama pendaki jatuh dari tebing di gunung tertinggi kedua di Indonesia.
Kendala dan rencana evakuasi
Di sekitar lokasi penyelamatan, sekitar 50 orang anggota tim gabungan, yang terdiri dari tim SAR, TNI, Polisi, relawan, tour guide, dan porter masih bersiap untuk melakukan aksi penyelamatan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, pada Selasa (24/06).
Kepala Kantor SAR Mataram, Muhammad Hariyadi, cuaca yang tak menentu ini menjadi tantangan dalam operasi yang sudah berlangsung hampir empat hari terakhir.
"Kendala yang paling utama di sini kan medan yang sangat terjal. Di samping itu juga sewaktu-waktu kabut di lokasi yang sangat tebal dan tidak dimungkinkan untuk melakukan pencarian pada saat kondisi berkabut," kata Hariyadi.

Sumber gambar, BASARNAS
Hingga Selasa (24/06) siang, Hariyadi masih belum bisa memastikan metode yang paling tepat untuk evakuasi, karena masih menunggu penilaian baik dari tim di lapangan atau pun pantauan dari helikopter yang saat ini sedang dilakukan.
Opsi mengevakuasi korban menggunakan helikopter juga pilihan yang terbuka. Tapi, kata Hariyadi, semuanya bergantung kondisi cuaca.
Dikutip dari kantor berita Antara, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Iqbal, menyatakan akan menjalin komunikasi dengan PT Amman Mineral Nusa Tenggara yang memiliki helikopter khusus untuk operasi di medan ekstrem.
"Lakukan kemampuan terbaik kita, termasuk kemungkinan rescue melalui airlifting menggunakan helikopter dengan pilot spesifikasi airlifter supaya tidak kehilangan golden time penyelamatan," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa hingga saat ini pihaknya belum bisa memastikan hingga kapan evakuasi ini akan dilakukan.
"Kami menyesuaikan dengan situasi kondisi di lapangan saja. Mohon doanya. Semoga lebih cepat, lebih baik."
Bagaimana kronologi kejadian?
Jumat (20/06) Kementerian Kehutananan, yang turut mengoordinasikan upaya penyelamatan ini, menyebutkan Juliana memulai pendakian melalui pintu Sembalun pada Jumat 20 Juni bersama 12 rekan lainnya.
Dua anggota kelompok Juliana menggambarkan pendakian itu sulit. Sementara salah satunya mengatakan pendakian itu "sangat sulit" dan "sangat dingin, benar-benar sangat berat", seperti dikutip dari jaringan TV Brasil Globo.
Salah satu anggota kelompok itu mengatakan pada saat kecelakaan terjadi, Juliana berada di belakang kelompok yang mendaki bersama pemandu mereka.
"Saat itu masih sangat pagi, sebelum matahari terbit, dalam kondisi jarak pandang yang buruk dengan hanya lentera sederhana untuk menerangi medan yang sulit dan licin," katanya.
Sabtu (21/06) Korban dilaporkan terjatuh ke arah Danau Segara Anak dengan perkiraan kedalaman150-200 meter. Kejadian berlangsung sekitar pukul 06.30 Wita, tepatnya di titik Cemara Nunggal yang merupakan jalur menuju puncak Rinjani.
Otoritas Taman Gunung Rinjani mengatakan dalam unggahan media sosial bahwa tim penyelamat pada hari Sabtu telah mendengar teriakan minta tolong Juliana.
Rekaman drone dan klip lain yang direkam oleh pendaki yang telah beredar online dan disiarkan oleh media Brasil juga menunjukkan bahwa dia masih hidup pada hari Sabtu.
Dia terlihat duduk dan bergerak di tanah abu-abu, jauh di bawah jalur pendakian.
Namun pada hari itu juga, tim penyelamat tidak dapat menemukannya ketika mereka turun 300 meter ke lokasi yang mereka yakini sebagai tempatnya berada. Dia juga tidak menanggapi ketika mereka memanggilnya.
Minggu (22/06) Rekaman drone menunjukkan bahwa Juliana tidak lagi berada di lokasinya. Kabut tebal telah menghambat upaya penyelamatan dan memengaruhi penggunaan drone termal.
Senin (23/06) Tim penyelamat dapat menemukan Juliana kembali, yang tampaknya telah jatuh lebih jauh, tetapi harus menghentikan pekerjaan karena cuaca buruk.
Rabu (23/06) Jenazah Juliana telah dievakuasi.

Sumber gambar, BASARNAS
Bagaimana kasus ini bergulir di media sosial?
Insiden ini cukup menyita perhatian warganet di media sosial.
Di platform Instagram, akun @resgatejulianamarins diklaim diciptakan pihak keluarga dengan 1,2 juta pengikut hingga artikel ini diterbitkan.
Beberapa unggahan di akun ini mengabarkan perkembangan terbaru evakuasi, bersama dengan desakan-desakan agar pemerintah Indonesia serius mengevakuasi.
Warganet Brasil juga terlihat memberi banyak komentar di akun Instagram Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa hari terakhir.
Mereka mendesak pemerintah Indonesia untuk segera menyelamatkan Juliana.

Sumber gambar, BASARNAS
Salah satu komentar itu juga mendesak pemerintah Indonesia untuk menerima dukungan teknis dari negara tetangga dan komunitas internasional sembari mengingatkan bahwa mata internasional mengawasi upaya evakuasi ini.
Sementara itu Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyatakan pemerintah Indonesia serius dalam menangani dan melakukan evakuasi.
Sebagai bagian dari upaya penyelamatan, empat helikopter katanya juga sudah dipersiapkan.
"Pemerintah semua serius untuk menangani kasus ini, jam 7 pagi tadi teman-teman dari balai dan semua sudah ke TKP lagi, bahkan Pak Basarnas mengatakan bahwa satu pesawat helikopter sudah standby, Pak Gubernur juga sudah men-standby-kan tiga jenis helikopter yang memungkinkan untuk turun," kata Raja Antoni.
Siapa Juliana Marins?
Media Brasil dan keluarga perempuan tersebut mengidentifikasinya sebagai Juliana Marins, berusia 26 tahun.
Beberapa unggahan di akun yang diklaim diinisiasi oleh pihak keluarga menyebut Juliana adalah pengembara yang berani.
Salah seorang rekannya juga menyebut Juliana sudah menabung dan mempersiapkan sejak liburan 'backpacking' pekerja keras yang menabung dengan rajin untuk mempersiapkan pengembaraannya.
Menurut rekannya tersebut, Juliana telah mengunjungi beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand, Filipina, Vietnam, dan Indonesia.
Jalur pendakian ditutup sementara
Jalur pendakian dari Pelawangan 4 Sembalun ke puncak Gunung Rinjani ditutup sementara. Penutupan dilakukan hingga proses evakuasi pendaki asal Brasil tersebut selesai dilakukan.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Yarman Wasur mengatakan aktivitas pendakian dari Pelawangan 4 jalur wisata Pendakian Sembalun menuju puncak gunung rinjani ditutup sementara mulai 24 Juni 2025 sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan atau sampai dengan proses evakuasi korban selesai dilakukan.
Yarman mengatakan penutupan sementara ini dilakukan untuk mempercepat proses evakuasi hingga mempertimbangkan aspek keselamatan pengunjung dan tim evakuasi.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, mengatakan kepada BBC News Indonesia pada hari Senin (23/06) bahwa jalur tersebut tidak ditutup karena itu "tidak akan mengganggu proses evakuasi".
Hanya saja, kata Satyawan, pendaki diperingatkan dan diarahkan untuk tidak mendekati lokasi evakuasi.
Dia juga menambahkan bahwa beberapa pendaki telah melakukan pemesanan online dan menempuh perjalanan jauh untuk sampai ke Gunung Rinjani.
"Menutup pendakian berpotensi menyebabkan kekacauan bagi para pendaki itu," katanya.
Insiden berulang
Dengan ketinggian lebih dari 3.700 meter, Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dan tempat pendakian populer bagi wisatawan, termasuk Juliana. Tapi insiden yang menimpanya bukanlah kali yang pertama.
Desember 2021, seorang pendaki asal Surabaya berusia 26 juga tewas ketika terjatuh ke dalam jurang sedalam 100 meter saat melakukan pendakian di Gunung Rinjani melalui jalur Senaru, Lombok Utara.
Agustus 2022, seorang pendaki asal Portugal meninggal dunia setelah terjatuh dari tebing di puncak Gunung Rinjani. Korban berusia 37 terjatuh saat sedang mengambil swafoto di tepi jurang.
Insiden ini terjadi pada Jumat, 19 Agustus 2022, dan jenazahnya berhasil dievakuasi pada 22 Agustus.
September 2024, seorang pendaki asal Jakarta tersebut dilaporkan hilang setelah diduga jatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani pada 28 September.
Jasad korban berhasil dideteksi oleh drone thermal di kedalaman ratusan meter dari lokasi kejadian dan dievakuasi sepekan setelahnya.
Oktober 2024, seorang pendaki asal Irlandia terjatuh ke jurang sedalam 200 meter saat mendaki ke puncak Gunung Rinjani pada 9 Oktober. Korban berhasil diselamatkan tim SAR dan hanya mengalami luka ringan.
Mei 2025, seorang pendaki asal Malaysia meninggal dunia setelah terjatuh saat menuruni Gunung Rinjani melalui jalur Torean, Lombok, Indonesia.
Korban, yang bernama Rennie Bin Abdul Ghani (57), terjatuh ke jurang sedalam sekitar 80-100 meter di jalur Banyu Urip, saat rombongan turun setelah mencapai puncak.
Juni 2024, seorang perempuan warga negara Swiss tewas setelah terjatuh di jalur pendakian Bukit Anak Dara, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, NTB. Bule perempuan itu nekat mendaki lewat jalur ilegal.












