Dua perempuan meninggal dalam pendakian Carstensz – Kenangan terakhir rekan-rekan, kronologi, hingga kesaksian penyanyi Fiersa Besari

Sumber gambar, Humas Polda Papua
Setelah sempat disemayamkan di rumah duka di Bandung, jenazah Lilie Wijayanti— salah-seorang pendaki yang meninggal dunia di puncak Carstensz di Kabupaten Mimika, Papua Tengah—rencananya akan dimakamkan pada Rabu (05/03). Orang-orang dekatnya mengaku merasa kehilangan sosok yang disebut 'kuat' itu.
Di rumah duka Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) di Jalan Nana Rohana, Bandung, jenazah Lilie Wijayati Poegiono disemayamkan, Selasa (04/03).
Selain suami dan anak-anaknya, hadir pula kerabat, rekan kerja, serta sesama pendaki gunung.
Sebelumnya, jasadnya diberangkatkan dari Bandara Timika, Papua Tengah, ke Jakarta dan tiba di rumah duka pukul 20.30 WIB, Senin (03/03).
Keluarga berencana memakamkan Lilie—dijuluki 'mamak pendaki'— di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Rabu (05/03).
Suami mendiang Lilie, Frigard Harjono serta kedua anaknya, Kevin Samuel Joviano dan Ivan Daniel Devino, terlihat menerima ucapan bela sungkawa dari para tamu.
'Lilie itu sosok ibu yang kuat'
Di antara para pelayat di rumah duka, terlihat sejumlah karyawan mendiang.
Mereka bekerja di butik milik Lilie dengan jenama Labelle Femma. Salah-seorang di antaranya, Rian Suryana.
"Melihat sosok ibu, orangnya kuat. Di umur segitu kuat muncak sampai keliling Indonesia, sampai keluar negeri juga. Sosoknya sangat kuat," kenang Yana—panggilannya— saat ditemui wartawan Yulia Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (04/03).

Sumber gambar, Dokumen pribadi Rian Suryana
Yana lalu teringat momen terakhir pertemuannya dengan Lilie pada Jumat, 21 Februari 2025. Saat itu mendiang hendak berangkat ke Cartensz.
"Enggak sempat komunikasi. Cuma yang terakhir itu, ngasih sarapan ke semua karyawan... Itu mah, kalau kata orang Sunda, tara tara ti sasari (tidak seperti biasanya atau di luar kebiasaan)," ungkapnya.
Waktu mendengar kabar Lilie wafat di Cartensz, Yana mengaku tidak percaya. Ia merasa itu hanya mimpi.
"Saya seakan-akan terasa mimpi. Saya gak percaya pas hari Sabtu ada kabar meninggal. 'Ah itu bohong, saya gak percaya,' tapi pas bapak (suami Lilie, Frigard Harjono) ngasih tahu sama karyawan, saya baru percaya."
"Tapi sekarang sedih banget, masih enggak percaya," ungkap Yana yang hampir 10 tahun menjadi anak buah Lilie.
'Dia sudah maksimal melakukan latihan'
Kesedihan juga dirasakan Nadya Gianifa, rekan dan pelatih panjat tebing almarhumah.
Saat mendengar kabar kematian Lilie, Nadya mengaku terkejut. Namun setelah mendengar kronologinya, dia mengaku memahami bahwa kondisi alam yang tidak bisa diprediksi dengan segala risikonya.
"Risiko selalu ada. Manusia cuma bisa meminimalisasi risikonya. Menurutku, mamak (panggilan Lilie) sendiri sudah upaya semaksimal mungkin buat persiapan dan lain-lain. Cuma kalau alam berkata lain, kita bisa apa," kata perempuan 25 tahun itu.

Sumber gambar, Yulia Saputra
Nadya tahu persis bagaimana persiapan Lilie menjelang pendakian ke Puncak Cartensz. Almarhumah disebutnya sudah berlatih keras sejak setahun silam.
"Persiapannya, menurutku, lebih dibandingkan orang-orang sih. Mamak itu orangnya well prepared banget," ungkap Nadya.
Dia lalu memberikan contoh seperti apa pola latihan mendiang Lilie.
"Saya saja yang biasanya dua kali [latihan panjat tebing], ini mamak 10 kali ada, kayaknya lebih," katanya.
Belum lagi latihan mendaki gunung.

Sumber gambar, Yulia Saputra
"Rutin banget bisa hampir sebulan berapa kali [mendaki] ke gunung. Tiap hari aktif nge-gym. Persiapannya luar biasa sih. Itu dari fisiknya.
Dia juga mengetahui bahwa Lilie pun sudah menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan selama pendakian.
Nadya menyaksikan almarhumah sudah menyiapkan semuanya beberapa bulan sebelumnya.
Dia lantas bercerita bahwa pendakian ke Puncak Cartensz atau Carstensz Pyramid adalah cita-cita Lilie yang ingin dicapai kala usianya menginjak 60 tahun.
Tekad dan semangat Lilie itu menginspirasi dirinya.
"Semangatnya luar biasa banget. Salut sih. Kami sama-sama perempuan, terus melihat Mamak yang sudah umur sekian semangat banget, di sini tuh kayak wow," paparnya.
'Mendiang berpengalaman melakukan pendakian'
Sosok Lilie yang disebut kuat juga diakui oleh Tedi Ixdiana, Komandan Vertical Rescue Indonesia, yang tampak hadir melayat ke rumah duka.
Menurut Tedi, Lilie adalah salah satu pendaki perempuan yang disebutnya "eksis, konsisten, mempunyai pengalaman yang luar biasa".
"Saya hanya mendengar dan melihat beliau berlatih di Citatah (Padalarang, Kabupaten Bandung Barat) untuk persiapan ke Cartenz beberapa waktu sebelumnya dan setelah itu saya mendengar kabar duka," tutur Tedi, usai melayat mendiang Lilie, Selasa.
Tedi mengenal Lilie sebagai pendaki gunung yang fokus dan penuh totalitas dalam mewujudkan tujuannya menyelesaikan pendakian ke tujuh puncak dunia di usia 60 tahun.

Sumber gambar, Yulia Saputra
Menurut Tedi, keinginan itu bukan hal yang mustahil diwujudkan perempuan seumur Lilie.
"Kalau dilihat dari perjalanan, riwayat, dan pengalamannya, ya saya kira sangat memungkinkan karena memang banyak pendaki-pendaki seusia Bu Lilie menyelesaikan tujuh puncak dunia," kata Tedi.
Tedi lalu menjelaskan, Puncak Cartensz itu memiliki karakter yang spesifik dibanding gunung-gunung lain.
Untuk menuju puncak yang memiliki ketinggian 4884 mdpl, lanjut Tedi, pendaki harus menempuh perlintasan tebing yang cukup panjang.
"Cartenz itu salah satu dari tujuh puncak dunia. Tapi gunung yang bertebing dari tujuh puncak dunia, hanya Cartenz yang tebingnya terpanjang. Ketinggiannya tidak setinggi Mount Everest atau gunung-gunung lain, tapi medannya sangat-sangat curam dan dibutuhkan kemampuan bergerak di tebing dengan baik," jelasnya.

Sumber gambar, Getty/iStock
"Jadi setelah berjalan menuju ke basecamp Lembah Kuning itu, pendaki atau tim yang akan ke Cartenz harus meniti tali sepanjang hampir 1.000 meter dan ketika turun harus meniti tali lagi dalam kondisi basah dan dingin," tambah Tedi.
Suhu udara di Cartenz, imbuh Tedi, memang sangat dingin, meski saat cuaca normal.
Dalam kondisi badai atau cuaca buruk, kata Tedi, suhu udara bisa di bawah 0 derajat.
Angin pun bertiup sangat kencang, terlebih saat badai yang bisa memicu pendaki mengalami hipotermia, seperti penyebab Lilie dan sahabatnya, Elsa Laksono meninggal.
Jembatan Carstensz dan hipotermia
Tedi Ixdiana merupakan salah seorang pembuat jembatan Cartensz.
Jembatan itu dibuat pada 2015 yang salah satu tujuannya untuk mencegah pendaki mengalami hipotermia.
Sebelum jembatan itu dibangun, kata Tedi, pendaki harus melintasi tali untuk menuju puncak di ketinggian 4800 mdpl.
Terkadang, tidak ada tali terpasang untuk melintas, sehingga pendaki terpaksa menuruni jurang yang memerlukan waktu lama.
"Setelah itu ada pendaki yang memasang tali. Tapi tetap saja, pendaki yang ke Cartensz itu antri untuk melintasi tali, baik ketika turun ataupun naik.

Sumber gambar, iStock/Getty
"Ketika kondisi mengantri itu, pendaki berpotensi terkena hipotermia karena menunggu antrian dalam kondisi tidak bergerak," jelas Tedi.
Pada 2015, Tedi bersama 10 pendaki sipil dan 30 pendaki dari TNI Angkatan Darat Kodam Cendrawasih Brigif 20 membuat jembatan tersebut.
Tujuannya agar pendaki lebih mudah menuju ke Puncak Cartensz atau yang hendak kembali ke basecamp.
Ekspedisi membangun jembatan tersebut tuntas dalam waktu 10 hari, katanya.
"Jadi yang awalnya butuh waktu, ada yang setengah jam, ada yang satu jam, untuk melintas, setelah ada jembatan tali baja itu, waktu tempuh hanya satu atau setengah menit.
"Ini upaya kita untuk menekan risiko kegagalan menuju puncak dan kembali ke basecamp," ujar Tedi.
Jenazah Lilie dan Elsa diterbangkan ke Jakarta
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Pada Senin (03/03), jenazah dua pendaki perempuan yang meninggal dunia dalam pendakian puncak Carstensz di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, diterbangkan ke Jakarta.
Mereka adalah Lilie Wijayanti Poegiono (59) dan Elsa Laksono (59).
Jenazah mereka diterbangkan menggunakan maskapai Lion Air.
Pesawat menuju Jakarta, via Makassar, kata Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Ignasius Benny Ady Prabowo.
Sebelumnya keduanya dievakuasi menggunakan helikopter dari base camp di Lembah Kuning, Carstensz, menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika.
Benny sempat menyatakan dugaan sementara penyebab meninggalnya dua pendaki tersebut adalah akibat hipotermia, seperti diberitakan Detik.com. Benny juga menyebut kedua pendaki juga diduga mengalami acute mountain sickness (AMS).
Rombongan pendaki sempat dihantam cuaca buruk, seperti hujan salju, angin kencang, juga hujan deras saat proses menuruni gunung.
Kombes Ignasius Benny Ady Prabowo, menjelaskan bahwa keduanya merupakan bagian dari tim pendakian yang terdiri dari 20 orang, termasuk penyanyi Fiersa Besari.

Sumber gambar, Humas Polda Papua
Melalui akun Instagram-nya, Senin (3/3), Fiersa menyatakan dirinya sudah sampai di Timika. Ia juga menyebut sempat tertahan di base camp Yellow Valley atau Lembah Kuning, yang disebabkan "cuaca buruk yang berdampak pada lalu lintas helikopter".
Ia menyebut helikopter merupakan mode transportasi satu-satunya akses resmi ke Yellow Valley.
Berikut sejumlah hal yang diketahui mengenai pendakian di Carstensz.
Bagaimana kronologi kejadian?
Rombongan pendaki ini terdiri dari 20 orang.
Seorang pendaki dalam rombongan, Indira Alaika mengatakan kepada Tempo bahwa 20 orang tersebut mencakup tujuh pendaki, lima pemandu, enam pendaki asing, dan dua orang tim Taman Nasional Lorentz.
Pada 27 Februari, atau sehari sebelum kejadian, rombongan melakukan aklimatisasi serta latihan naik (ascending) dan turun menggunakan tali (descending).
Pada 28 Februari, rombongan bergerak ke puncak.
"Pukul 14.00 WIT pendaki terakhir mencapai puncak Carstensz. Karena HT (handy talky) low sehingga tidak ada komunikasi," kata Ketua Umum Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Rahman Mukhlis, seperti dikutip dari Tempo.
Indira bercerita bahwa saat kembali dari puncak, pada Jumat (28/02), rombongan menghadapi cuaca buruk
Mereka dihantam hujan salju, hujan deras, serta angin kencang.
Indira bersama pendaki lain yang terkena hiportemia bertahan di Area Summit Ridge dekat puncak.
Lalu, sekitar pukul 20.45 WIB salah satu guide bernama Nurhuda tiba di basecamp seorang diri dengan gejala hipotermia.
Nurhuda mengatakan kepada rombongan bahwa sejumlah pendaki lain terjebak. Ia kemudian meminta bantuan kepada tim basecamp.
Menurut Indira, seorang pemandu, Yustinus Sondegau berupaya menyelamatkan para pendaki yang terjebak. Yustinus membawa fly sheet, air panas, radio, dan sleeping bag.
"Tetapi upaya tersebut terhenti di Teras Besar karena cuaca semakin memburuk," kata Indira.

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Yustinus yang tak berhasil mencapai para pendaki yang terjebak, kembali ke base camp, dan bertemu dengan pendaki Luddy di perjalanan. Luddy pun dituntun Yustinus mencapai base camp.
Seorang pemandu asal Nepal, Dawa Gyalje, mencoba membantu penyelamatan.
Dalam perjalanan, Dawa sampai di Teras II, dan menemukan Elsa dan Lilie yang sudah tidak bernapas.
Rombongan berinisiatif membentuk dua tim regu. Satu tim regu berisi pemandu asing menyelamatkan tiga orang yang terjebak di Summit Ridge, yakni Indira, Alvin, Saroni.
Sementara tim kedua, yang berisi dokter Adnan dan Meidi pergi mengevakuasi Lilie dan Elsa di Teras II.
Rombongan pendaki dievakuasi ke Timika.
Apa penyebab kematian kedua pendaki?
Dua pendaki yang meninggal saat proses menuruni Carstensz adalah Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono.
Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Ignasius Benny Ady Prabowo, menyatakan sejauh ini penyebab meninggal kedua orang tersebut adalah hipotermia, seperti diberitakan Detik.com. Benny juga menyebut keduanya juga mengalami Acute Mountain Sickness (AMS).

Sumber gambar, Humas Polda Papua
AMS terjadi sebagai efek dari reaksi tubuh terhadap berkurangnya kondisi oksigen, utamanya di wilayah seperti di gunung. Gejala umum AMS adalah sakit kepala, mual, juga rasa letih berlebih.
Elsa Laksono dievakuasi terlebih dahulu pada Minggu (02/03) menggunakan helikopter untuk dibawa ke RSUD Mimika, seperti diberitakan kantor berita Antara.
Sementara, Lilie Wijayanti dievakuasi pada Senin pagi (03/03).
"Evakuasi kedua jenazah berjalan dengan lancar meski terkendala cuaca buruk," kata Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman, seperti dikutip dari Antara.
Dua jenazah diterbangkan ke Jakarta dari Timika menggunakan maskapai Lion Air, Senin (3/3), dengan transit via Makassar.
Siapa Lilie dan Elsa?
Lilie dan Elsa adalah teman akrab sejak SMA di Malang, Jawa Timur, seperti diberitakan Kompas.com. Mereka dikenal kerap melakukan pendakian bersama.
Pada usia 18 tahun, mereka berdua mendaki Gunung Bromo.
Lilie, kelahiran 2 Oktober 1965 adalah seorang perancang busana. Ia dikenal di media sosial, yakni Instagram dengan akun @mamakpendaki.
Lilie mendirikan bisnis busana La Belle Femme (LBF).
Selain Carstensz, Lilie diketahui telah mendaki puluhan gunung, di antaranya Slamet, Manglayang, Burangrang, Kerinci, dan Latimojong.
Adapun Elsa adalah seorang dokter gigi, kelahiran 24 Juli 1965, yang juga dikenal dengan Mamak Gigi.
Elsa bersama Lilie pernah mendaki Gunung Everest, Nepal pada 2019.
Melalui sebuah unggahan di akun Instagram @mamakpendaki, 8 November 2024 lalu, Lilie menggambarkan betapa bermaknanya alam bagi dirinya dan Elsa.
"Alam adalah playground kami. Entah mengapa kalau di alam kami bisa bergembira seperti menari-nari di trek, lupa semua masalah," tulis Lilie yang menampilkan video-video mereka mendaki Gunung Slamet, Jawa Tengah.
"Dan itulah kami, kami ga bisa menari, menarinya jelek karena bukan Dancing Queen tapi kami adalah Hiking Queen. Gunung adalah kerajaan kami……" tambahnya.
Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati Instagram pesan, 1
Kesaksian penyanyi Fiersa Besari di Carstensz
Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati Instagram pesan, 2
Penyanyi Fiersa Besari menuliskan ceritanya di Carstensz melalui akun Instagramnya @fiersabesari, Senin (3/3).
Ia menyatakan sudah sampai di Timika dan "kondisi Alhamdulillah stabil". Adapun penyelamatan sempat mengalami kendala disebabkan "cuaca buruk yang berdampak pada lalu lintas helikopter".
Melalui unggahannya, Fiersa menyampaikan belasungkawa terhadap dua pendaki yang meninggal.
Ia juga menjelaskan, meski dalam rombongan yang sama dengan dua pendaki yang meninggal, namun rombongan sebenarnya terdiri atas sejumlah grup dengan operator pendakian berbeda.
Ia menyatakan tidak bersama grup yang terdiri atas Lilie dan Elsa, karena operator yang digunakan Fiersa berbeda.
"Kaget dan sedih, tapi bersama-sama orang-orang di YV [Yellow Valley], mengontak korban yang terjebak dengan menggunakan HT [handy talky] agar tetap merespons, sampai akhirnya mereka dijemput oleh para relawan—baik lokal maupun internasional—pada tanggal 1 Maret 2025", kata Fiersa.
Lewat unggahannya itu, penyanyi yang pernah tergabung dalam Ekspedisi Atap Negeri—proyek dokumenter pendakian 33 gunung di 33 provinsi di Indonesia— menjelaskan mengenai karakteristik pendakian di Carstensz.
"Mungkin yang tidak diketahui kawan-kawan yang kurang familier dengan dunia pendakian, Carstensz Pyramid berbeda dengan gunung di Indonesia umumnya. Meda tebing curam dengan ketinggian 600-an meter [basecamp YV 4200-an MDPL - Puncak Jaya 4884 MDPL] mewajibkan kita lancar untuk menggunakan alat-alat tali untuk naik dan turun," kata Fiersa.
MDPL dalah satuan ketinggian tempat, yakni meter di atas permukaan laut.
Fiersa juga meminta publik "menahan jempolnya untuk mengeluarkan asumsi, teori, apalagi komentar nirempati".

Pengalaman wartawan BBC News Indonesia mendaki Carstensz Pyramid – 'Hujan tak henti, tebing berbatu, dan dingin menusuk tulang'

Sumber gambar, BBC News Indonesia
Anindita Pradana, jurnalis BBC News Indonesia
Pada Oktober 2017, saya mendapat kesempatan untuk mendaki Carstensz Pyramid, Papua Tengah.
Bukan karena diselimuti ambisi 'menaklukan' satu dari tujuh puncak gunung tertinggi di dunia. Namun, saat itu saya bertugas sebagai jurnalis video yang meliput kegiatan pendakian.
Butuh waktu berhari-hari bagi saya dan rombongan untuk tiba di gunung yang memiliki ketinggian mencapai lebih dari 4.800 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.
Pertama, saya tiba di Timika, Papua Tengah. Saya beristirahat selama dua malam sambil mempersiapkan segala kebutuhan logistik.
Kemudian saya menuju ke Tembagapura, tempat tambang emas Grasberg berada, yang menjadi salah satu terbesar di dunia.
Saya tinggal selama dua malam untuk cek kesehatan di Freeport, melakukan aklimatisasi tubuh atas udara dingin dan juga koordinasi.

Sumber gambar, BBC News Indonesia
Setelah semuanya dipersiapkan, saya dan rombongan menuju Zebra Wall, sebuah tebing cadas curam yang berada pada ketinggian 3.500 mdpl Carstensz. Ini adalah titik terakhir kami menggunakan kendaraan.
Dari sini, saya berjalan kaki sepanjang pagi hingga sore menuju lokasi bernama Lembah Danau-Danau. Hujan air dan es yang beberapa kali mengguyur membuat badan saya basah sehingga udara yang sudah dingin terasa menjadi semakin dingin. Kami pun beristirahat semalam di sini.
Saya mengenakan pakaian empat lapis. Pakaian dalam panjang (long john) dan pakaian berbahan polar yang menjaga suhu tubuh menjadi dua lapis pertama.
Kemudian, saya menggunakan jaket pelindung (hardshell) dan jas hujan untuk menahan suhu dingin dari luar masuk ke tubuh. Tidak lupa, saya mengenakan sepatu dan sarung tangan yang anti-air.
Keesokan harinya, saya dan rombongan kembali berjalan kaki beberapa jam menuju Lembah Kuning.

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Sumber gambar, BBC News Indonesia
Lembah Kuning adalah titik awal untuk memanjat tebing (jummaring) Carstensz Pyramid yang memiliki ketinggian sekitar 600 meter.
Hujan air yang turun sepanjang waktu, kerikil bebatuan yang kerap jatuh, badan yang lelah, dan dingin yang menusuk tulang membuat proses pemanjatan menjadi begitu berat untuk saya.
Ditambah lagi, saya harus mengoperasikan kamera untuk mengambil video dan gambar, sambil bersandar ke seutas tali panjat yang bergoyang.
Sedemikian beratnya proses ini, dari 10 orang dalam tim saya, tiga orang memutuskan mundur di tengah pemanjatan karena mengaku mengalami kedinginan. Mental saya sempat jatuh dan ingin rasa untuk mundur bersama mereka. Namun, saya menyadari bahwa tubuh saya masih kuat.
Melewati beberapa titik pemberhentian di tebing dan menyeberangi jurang dengan tali, saya menghabiskan sekitar 10 jam untuk dapat tiba di puncak.
Sesampai di puncak, kabut gelap menyelimuti. Saya tidak bisa lihat apa-apa. Sekitar setengah jam di puncak, saya pun turun dan tiba ke Lembah Danau-Danau pada malam hari.
Selang beberapa hari kemudian, setelah saya di Jakarta, saya membaca berita bahwa seorang pendaki meninggal dunia karena kekurangan oksigen saat mencoba mendaki Carstensz Pyramid.
Ini adalah salah satu pengalaman terberat dalam hidup saya yang mengajarkan bahwa persiapan—fisik yang prima, alat-alat yang lengkap, mental yang kuat, wawasan dan pengalaman pendakian, serta mengetahui batas diri—menjadi kunci penting seseorang untuk melakukan perjalanan di alam terbuka.

Apa yang membedakan pendakian Carstensz Pyramid dengan puncak lainnya?
Pegiat alam bebas, Galih Donikara, telah dua kali mendaki Carstensz Pyramid. Berdasarkan pengalamannya, dia memandang bahwa pendakian ke puncak Carstensz memiliki tingkat kesulitan dan keunikan yang khusus.
"Dari tujuh world summit, Carstensz menjadi catatan sendiri, bahkan bagi pendaki kaliber dunia, karena medan dan cuacanya yang basah serta dingin," kata Galih.
Pertama, katanya, dibutuhkan kemampuan teknik yang memadai, yaitu pengetahuan tentang teknis pemanjatan (naik-turun) dan alat-alat panjat tebing.
Selanjutnya adalah kondisi cuaca di Carstensz yang merupakan kombinasi antara hujan air tropis dan salju.
"Kadang kita fokus mengandalkan alat-alat kehangatannya, tapi lupa untuk perlengkapan kehujanannya… Hujan basah itu menyebabkan kelembaban yang mempersulit melakukan pernapasan di area tinggi yang minim oksigen," kata Galih.
Udara dingin dan hujan basah menjadi pengaruh penting dalam meningkatkan potensi terjadinya hipotermia, yaitu kondisi ketika suhu tubuh turun drastis.
"Jika pakaian basah, dan dingin sampai ke kulit badan kita, itu akan mempercepat proses kehilangan panas tubuh [hipotermia]. Lalu bisa menyebabkan halusinasi hingga pingsan. Pingsan yang tak tertangani bisa menyebabkan kematian," katanya.
Pengabaian di tingkat regulator

Sumber gambar, KOMPAS.com/RENI SUSANTI
Hal selanjutnya, kata Galih, adalah dibutuhkannya analisis cuaca sebelum pendakian karena wilayah Carstensz memiliki cuaca yang kerap berubah-ubah.
"Kadang kita juga suka mengabaikan cuaca buruk karena alasan waktu yang tinggal sedikit lagi, tanggung lah. Harus ada yang bisa berkata stop sampai sini, kita turun. Lanjut besok bila cuaca bagus. Jika ini diabaikan akan ada risiko-risiko tambahan," katanya yang merupakan anggota senior Wanadri, organisasi kegiatan alam bebas.
Galih menyoroti pengabaian cuaca ini kerap terjadi di tingkat regulator, yaitu pihak yang memiliki otoritas di kawasan. Menurutnya, regulator harus "berani untuk mengeluarkan instruksi stop pendakian" di tengah cuaca ekstem saat ini.
"Jangan dilanjutkan apabila cuaca ekstrem. Kadang-kadang si pemangku kawasan itu juga belum pernah ke sana [puncak] dan tidak tahu kondisi di sana, tapi mengeluarkan izin di saat orang lain belum mengeluarkan izin, masih memberi kesempatan recovery kawasannya."
Galih menambahkan "biasanya Januari sampai Maret itu [pendakian] tutup, baru buka lagi April. Ini sekarang sudah dibuka kawasannya. Kan kita tahu sendiri di Carstensz itu sudah lama ditutup sejak Covid," kata Galih.
Untuk itu, kata Galih, pemangku kawasan harus mengetahui kondisi gunungnya apakah aman atau membahayakan.
Ditambah, ujarnya, mereka juga harus melakukan seleksi ketat bagi para pendaki yang ingin naik gunung, mulai dari pemeriksaan medis, alat-alat, jumlah porter dan skenario operasi penyelamatan jika hal buruk terjadi.
Apa itu hipotermia?
Hipotermia adalah kondisi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat dari kemampuannya untuk memproduksi panas.
Hal ini menyebabkan temperatur tubuh menjadi rendah, di bawah 35 derajat celsius (suhu normal tubuh adalah 37 derajat celcius).
Tanda pertama ketika seseorang mengalami hipotermia adalah tubuh yang bergetar, sebagai respons tubuh untuk menghangatkan diri melawan penurunan suhu.
Gejala lainnya adalah sulit berbicara, pernapasan yang melambat, denyut jantung melambat, pergerakan tubuh berkurang, rasa kantuk, hingga kehilangan kesadaran.
Beberapa penyebab terjadi hipotermia adalah berada di tempat dingin terlalu lama, tercebur ke dalam air yang dingin, dan menggunakan pakaian yang basah di cuaca atau tempat yang dingin.









