Mengapa Pakistan dan Iran saling serang dan apakah situasi akan bereskalasi?

warga pakistan

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Warga Pakistan memantau perkembangan yang terjadi antara Pakistan dan Iran melalui televisi.

Roohan Ahmed

Wartawan BBC World Service, melaporkan dari Islamabad

Pakistan melancarkan serangan balasan ke Iran, menewaskan sedikitnya sembilan orang, usai Iran melakukan serangan terhadap Pakistan dengan menembakkan rudal dan drone pada Selasa (17/01).

Pakistan mengatakan serangannya menargetkan "tempat persembunyian teroris" di provinsi Sistan-Baluchestan di Iran.

Iran mengutuk serangan tersebut, yang disebut telah menewaskan tiga perempuan, dua laki-laki dan empat anak.

Serangan balasan itu terjadi di tengah memanasnya tensi di Timur Tengah seiring dengan krisis yang bertautan.

Israel sedang bertikai dengan kelompok Hamas di Gaza dan berbalas serangan dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.

Sementara kelompok yang didukung Irak dan Suriah menyerang pasukan AS. Adapun AS dan Inggris menggempur kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Sebelumnya, setelah menyerang Irak dan Suriah, Iran mengakui telah menembakkan rudal dan drone ke wilayah Pakistan bagian barat, Selasa (16/01).

Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, mengatakan operasi tersebut menargetkan kelompok militan Jaish al-Adli, yang dia sebut sebagai "kelompok teroris Iran" di Pakistan.

Iran, rudal

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Para pengunjuk rasa dan anggota pasukan paramiliter Iran berbaris di samping rudal balistik Khorramshahr generasi keempat yang ditampilkan selama unjuk rasa anti-Israel sebagai solidaritas terhadap Palestina, di Teheran, 24 November 2023.

Akibatnya pemerintah Pakistan menarik duta besarnya untuk Iran dan menghalangi utusan Teheran untuk kembali.

Serangan Balochistan terjadi setelah Iran menyerang sasaran di Irak dan Suriah awal pekan ini.

Islamabad mengatakan serangan itu “ilegal” dan memperingatkan adanya “konsekuensi serius”.

Peta

Namun Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian, saat berbicara di Davos, menegaskan bahwa tidak ada warga negara Pakistan yang menjadi sasaran, hanya anggota Jaish al-Adl.

“Kami hanya menargetkan teroris Iran di wilayah Pakistan,” kata Amir-Abdollahian.

Dia menambahkan bahwa dia telah berbicara dengan rekannya dari Pakistan dan "meyakinkan dia bahwa kami menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Pakistan dan Irak".

Apa yang kita ketahui tentang serangan Pakistan?

Angkatan Darat Pakistan mengatakan bahwa, berdasarkan informasi intelijen, mereka telah menargetkan pangkalan Tentara Pembebasan Balochistan (BLA) dan Front Pembebasan Balochistan (BLF) di Iran - kelompok yang dituduh melakukan kegiatan teroris di Pakistan.

Militer Pakistan mengatakan drone, roket, rudal dan senjata lainnya digunakan dalam operasi ini, dan tindakan sangat hati-hati dilakukan untuk menghindari 'kerusakan tambahan'.

Angkatan Darat Pakistan menyebutkan terdapat sejumlah “teroris” yang menguasai pangkalan tersebut. Militer juga mengatakan selalu siap untuk menjamin keamanan negara.

Wakil Gubernur Keamanan Provinsi Sistan-Baluchestan di Iran, Ali Raza Marhmati, mengatakan kepada TV Iran bahwa serangan dilakukan pada pukul 04:05 waktu setempat.

Serangan disebut menargetkan sebuah desa dekat kKta Saravan di Iran, yang dekat dengan perbatasan Pakistan dan berjarak sekitar 1.800km arah tenggara ibu kota Iran, Teheran.

Bagaimana kronologi serangan Iran?

Iran, rudal

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Rudal milik Iran - seperti saat ditembakkan dalam sebuah latihan - telah ditembakkan ke Pakistan, Irak dan Suriah dalam beberapa hari terakhir.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Serangan di Pakistan, pada Selasa (16/01), menghantam Desa Sabz Koh di Provinsi Balochistan, sekitar 45km dari perbatasan Iran dan 90km dari kota terdekat Panjgur.

Para pejabat setempat menggambarkan wilayah tersebut sebagai daerah berpenduduk jarang yang merupakan rumah bagi suku Baloch yang merupakan pemilik ternak, tempat aktivitas penyelundupan barang, obat-obatan, serta senjata.

“Masyarakat di kedua sisi perbatasan menganggap diri mereka kekurangan kebutuhan dasar, menghadapi diskriminasi dan menuntut bagian yang lebih besar dari sumber daya mereka sendiri,” kata pengamat keamanan, Zaigham Khan kepada BBC.

Baca juga:

Sehari sebelumnya, pada Senin (15/01), Iran menembakkan rudal balistik ke Suriah dan Irak utara yang dikuasai Kurdi.

Iran mengatakan pihaknya menargetkan kelompok ISIS dan agen mata-mata Israel Mossad, yang keduanya dikatakan terlibat dalam pemboman Kerman.

Serangan di Irak menghantam sebuah bangunan di kota utara Irbil.

Empat warga sipil tewas dan enam lainnya luka-luka dalam serangan itu, kata pemerintah setempat. AS mengutuk serangan tersebut.

Iran kemudian menyerang Provinsi Idlib di barat laut Suriah, yang merupakan benteng oposisi terakhir yang tersisa di negara tersebut dan menampung 2,9 juta pengungsi.

Siapa Tentara Pembebasan Baloch (BLA), Front Pembebasan Baloch (BLF), dan Jaish al-Adl?

Sejumlah organisasi separatis Baloch telah aktif di Provinsi Balochistan Pakistan selama beberapa dekade, dan organisasi-organisasi ini mengaku bertanggung jawab atas berbagai serangan mematikan terhadap pasukan keamanan, polisi, dan lokasi-lokasi penting Pakistan.

Dua kelompok terbesar adalah Front Pembebasan Baloch (BLF) yang dipimpin oleh Dr Allah Nazar Baloch, dan Tentara Pembebasan Baloch (BLA) yang dipimpin oleh Bashir Zeb.

Pihak berwenang Pakistan telah mengeklaim selama beberapa tahun terakhir bahwa militan yang terkait dengan organisasi separatis ini telah berlindung di Iran.

Setelah serangan udara Pakistan, BLF mengeluarkan pernyataan yang menyangkal bahwa kelompok tersebut memiliki pangkalan di Iran atau bahwa ada anggotanya yang terluka.

BLF diketahui aktif di dalam dan sekitar wilayah Makran di Balochistan dan telah menyatakan bertanggung jawab atas beberapa serangan terhadap pasukan keamanan Pakistan dalam beberapa waktu terakhir.

Pada Januari 2022, organisasi terlarang ini menyerang pos pemeriksaan tentara Pakistan di Kota Gwadar, Balochistan, yang menewaskan 10 tentara Pakistan.

Selain itu, BLF juga dituduh melakukan penyerangan terhadap pekerja migran dan warga di provinsi tersebut.

BLA muncul pada awal tahun 1970-an ketika pemberontakan bersenjata melawan negara Pakistan pecah di Balochistan selama masa jabatan pertama pemerintahan mantan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto.

Setelah kudeta yang dipimpin oleh diktator militer Zia ul-Haq, negosiasi dengan para pemimpin nasionalis Baloch mengakhiri pemberontakan bersenjata untuk sementara dan aktivitas BLA berkurang.

Akan tetapi, konflik muncul kembali di bawah pemerintahan mantan Presiden Pervez Musharraf, setelah seorang pemimpin nasionalis Baloch, Nawab Khair Bakhsh Murri, ditangkap karena pembunuhan seorang hakim Pengadilan Tinggi.

Dr Allah Nazar Baloch (kiri) dan Bashir Zeb (kanan).

Sumber gambar, BLF/BLA

Keterangan gambar, Dr Allah Nazar Baloch (kiri) dan Bashir Zeb (kanan).

Setelah serangkaian serangan terhadap fasilitas pemerintah dan pasukan keamanan di berbagai wilayah Balochistan berlangsung sekitar tahun 2000, kekerasan kemudian meningkat dan menyebar ke berbagai wilayah Balochistan.

Sebagian besar serangan ini terus diklaim oleh BLA. Pemerintah Pakistan lantas memasukkan BLA ke dalam daftar organisasi terlarang pada tahun 2006.

Organisasi ini juga menentang proyek Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan dan telah menyerang berbagai lokasi kepentingan China di Pakistan dengan serangan bunuh diri dalam operasinya baru-baru ini.

Serangan pertama yang diklaim oleh BLA pada bulan Agustus 2018 dilakukan di dekat kota Dalbandin. Targetnya sebuah bus yang membawa pekerja Tiongkok di tambang emas dan tembaga Saindak. Hanya pelaku bom yang tewas dalam serangan tersebut.

BLA yang dilarang kemudian mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap Konsulat China di Karachi pada November 2018. Serangan yang dilakukan oleh tiga pria bersenjata dan pelaku bom bunuh diri itu menewaskan sedikitnya empat orang lainnya.

Lalu siapa kelompok Jaish al-Adl, atau "tentara keadilan" ?

Mereka adalah sebuah kelompok Muslim Sunni etnis Baloch yang telah melakukan serangan di Iran dan juga terhadap pasukan pemerintah Pakistan.

Pada Desember lalu, Jaish al-Adl menyerang kantor polisi di Rask, sebuah kota di dekat perbatasan dengan Pakistan.

Di Iran, minoritas Muslim Sunni Baloch mengeluhkan diskriminasi di negara mayoritas Muslim Syiah, sementara kelompok separatis Baloch melanjutkan gerakan pemberontakan melawan pemerintah Pakistan.

iran-pakistan

Sumber gambar, Getty Images

Jaish al-Adl adalah kelompok militan Sunni “paling aktif dan berpengaruh” yang beroperasi di Sistan-Baluchestan, menurut National Counterterrorism Center, AS.

Kelompok ini telah ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Washington dan Teheran.

Pada 2009, Iran menangkap Abdolmalek Rigi, pemimpin kelompok militan tersebut, atas tuduhan mengebom pasukan keamanan Iran dan menjadi agen Inggris dan AS. Dia dieksekusi dengan cara digantung pada 2010.

Mohammad Abbasi, mantan diplomat Pakistan yang saat itu bertugas di Iran, mengatakan bahwa Pakistan berperan penting dalam penangkapan Rigi.

Pemerhati masalah keamanan di Pakistan, Aamir Rana, mengatakan kepada BBC bahwa krisis diplomatik "akan memakan waktu cukup lama untuk mereda, namun hal ini juga merupakan sesuatu yang tidak ingin diperparah oleh Pakistan".

Dia mengatakan di masa lalu Pakistan tidak bereaksi terhadap tindakan Iran di sepanjang perbatasan – “tetapi sekarang keputusan ada di tangan Iran, apakah Iran ingin melakukan tindakan yang benar”.

Bagaimana reaksi berbagai negara?

Serangan Iran terhadap Pakistan yang memiliki senjata nuklir merupakan peningkatan yang dramatis.

Pakistan menyatakan kemarahannya, dengan mengatakan serangan itu terjadi “meskipun ada beberapa saluran komunikasi” antar negara.

Pada Rabu (17/01), Islamabad mengatakan pihaknya telah memanggil kembali duta besarnya untuk Iran dan duta besar Iran tidak akan diizinkan kembali ke negara itu untuk sementara waktu.

Pakistan dan Iran memiliki hubungan yang bersahabat. Serangan ini terjadi pada hari yang sama ketika perdana menteri Pakistan dan menteri luar negeri Iran bertemu di Davos dan ketika angkatan laut Iran dan Pakistan mengadakan latihan militer bersama di Teluk.

Baca juga:

Namun keduanya saling menuduh satu sama lain menyembunyikan kelompok militan yang melakukan serangan terhadap satu sama lain di wilayah perbatasan mereka selama bertahun-tahun.

Keamanan di kedua sisi perbatasan bersama, yang membentang sekitar 900km , telah menjadi kekhawatiran jangka panjang bagi kedua pemerintah.

China pada hari Rabu mendesak Pakistan dan Iran agar “menahan diri” dan “menghindari tindakan yang dapat menyebabkan peningkatan ketegangan”.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menambahkan bahwa Beijing memandang negara-negara tersebut sebagai “tetangga dekat”.

Apa yang melatari rangkaian serangan Iran?

Serangan udara terbaru ini terjadi saat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, akibat perang antara Israel dan kelompok Palestina Hamas di Gaza.

Teheran menyatakan tidak ingin terlibat dalam konflik yang lebih luas.

Namun kelompok-kelompok yang disebut “Poros Perlawanan”, yang mencakup militan Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan berbagai kelompok di Suriah dan Irak, telah melakukan serangan terhadap Israel dan sekutunya untuk menunjukkan solidaritas terhadap Palestina.

AS dan Inggris telah melancarkan serangan udara terhadap Houthi setelah mereka menyerang kapal-kapal komersial.

Iran, rudal

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Dua personel militer bersenjata Garda Pengawal Revolusi Islam (IRGC) memantau suatu area sambil berjaga di samping sistem rudal anti-pesawat selama parade militer di Teheran, Iran.

Serangan Iran juga berlangsung dua pekan setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersumpah akan memberikan "tanggapan keras" terhadap ledakan bom di Kota Kerman, Iran selatan, pada 3 Januari lalu, yang menewaskan 84 orang dan melukai lebih banyak lagi.

Ribuan massa ketika itu berkumpul di Kota Kerman guna memperingati kematin Jenderal Qasem Soleimani, yang dibunuh di Irak oleh drone Amerika Serikat pada 3 Januari 2020.

Baca juga:

Semasa hidupnya, Jenderal Soleimani memimpin pasukan elite Quds yang melakukan operasi rahasia di luar negeri bagi Garda Revolusi dan melapor langsung ke pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Sejumlah analis menduga Iran membalas dendam kepada pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas ledakan bom pada 3 Januari 2024.

Pada saat ketegangan regional meningkat, Iran juga dinilai ingin menunjukkan kekuatan dan menunjukkan kepada masyarakatnya bahwa tindakan kekerasan tidak akan dibiarkan begitu saja.

Apa yang terjadi saat ini?

Syed Mohammad Ali selaku analis mengatakan kepada BBC bahwa saat ini Iran berada di bawah tekanan – baik secara internal maupun dari sekutunya Hamas, Hizbullah, dan Houthi – untuk melakukan operasi.

Menurutnya, Iran melakukan serangan di Irak, Suriah, dan kemudian Pakistan untuk mengalihkan perhatian dari masalah internal dan situasi di Timur Tengah.

Menurut analis, pada malam serangan tersebut dilakukan, terjadi pertemuan antara pejabat Pakistan dan Iran, namun Pakistan diserang oleh Iran tanpa provokasi, yang berujung pada pembalasan.

Dr Kamran Bukhari dari New Lines Institute for Strategy and Policy di Washington mengatakan bahwa "Pakistan mungkin memutuskan untuk membalas karena mereka tidak ingin membiarkan Iran berperilaku terhadap Pakistan seperti yang sering dilakukan Iran terhadap Irak."

Iran, rudal

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Disaksikan oleh warga Teheran, para pengunjuk rasa dan anggota pasukan paramiliter Iran berbaris di samping rudal balistik Khorramshahr generasi keempat yang ditampilkan selama unjuk rasa anti-Israel sebagai solidaritas terhadap Palestina, di Teheran, 24 November 2023.

Profesor Qandeel Abbas dari Departemen Hubungan Internasional di Universitas Quaid-e-Azam mengatakan kepada BBC bahwa terdapat wilayah di kedua sisi perbatasan Iran-Pakistan di mana kelompok separatis dan militan merupakan tantangan bersama bagi kedua negara.

Menurut Prof Abbas, baik Iran dan Pakistan telah mengambil tindakan terhadap militan lintas perbatasan dengan persetujuan negara tetangga, meskipun pihak berwenang kedua negara tidak mengonfirmasi atau menyangkal laporan mengenai tindakan tersebut.

Dia mencatat bahwa tidak ada tentara yang dikerahkan di sepanjang perbatasan sepanjang 1.000 km antara Iran dan Pakistan hingga tahun 2013, meskipun terjadi kekerasan militan, perdagangan manusia, dan penyelundupan narkoba.

Menurut Prof Abbas, baik Pakistan maupun Iran menganggap kelompok militant Jaish al-Adl yang menjadi sasaran Iran sebagai ancaman, dan saat ini sedang mempertimbangkan untuk mengeksploitasi situasi saat ini demi keuntungan mereka.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Para pengamat yang memantau secara dekat Iran dan Pakistan percaya bahwa ketegangan yang terjadi baru-baru ini antara kedua negara akan berdampak negatif pada seluruh kawasan.

Analis yang bermarkas di Washington, Dr Bukhari, mengatakan kepada BBC bahwa “ronde pertama antara kedua negara telah berakhir dan kini keputusan kembali berada di tangan Iran: bagaimana reaksi mereka terhadap tindakan Pakistan masih harus dilihat.” Namun ia memperkirakan akan ada jeda serangan.

Dia mengatakan bahwa keputusan Pakistan untuk menargetkan kelompok militan anti-Pakistan di wilayah Iran (ketimbang pemerintah Iran yang melakukannya) mungkin membuat Pakistan tampak bereaksi atas serangan Iran ke Pakistan tanpa memicu eskalasi lebih lanjut, namun dia tidak mengesampingkan bentrokan lebih lanjut.

Namun, Baqir Sajjad, jurnalis dan analis asal Pakistan, meyakini ketegangan kedua negara bisa semakin meningkat di masa depan.

Dia mengatakan kepada BBC bahwa "kelihatannya tidak mungkin ketegangan antara kedua negara akan tiba-tiba mereda setelah serangan balik Pakistan yang menargetkan militan yang berbasis di Iran."

“Gerakan garis keras di Iran akan bersikeras melakukan pembalasan terhadap Pakistan. Meningkatnya ketidakpercayaan antara kedua negara dapat memicu gelombang militansi baru antara Iran dan Pakistan di kawasan Balochistan, yang semakin memperumit situasi keamanan yang sudah rumit di kawasan tersebut.”