Iran serang 'markas mata-mata Israel' di Irak, AS keluarkan kecaman - Apa yang melatari serangan di Irbil?

Sumber gambar, Getty
Amerika Serikat mengecam Iran atas serangan rudal di dekat kota Irbil di Irak utara, dan menyebutnya sebagai “serangkaian serangan yang ceroboh dan tidak tepat”.
“Kami akan terus menilai situasi, namun indikasi awal menunjukkan bahwa ini adalah serangkaian serangan yang ceroboh dan tidak tepat,” kata Adrienne Watson, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, dalam sebuah pernyataan.
“Amerika Serikat mendukung kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Irak,” katanya, seraya menambahkan bahwa tidak ada personel atau fasilitas AS yang menjadi sasaran.
Sebelumnya, Garda Revolusi Iran mengatakan mereka menyerang apa yang mereka klaim sebagai “markas mata-mata” Israel di Irak utara dengan rudal balistik.
Empat orang tewas dan enam lainnya terluka dalam serangan pada hari Senin itu, menurut Dewan Keamanan Kurdistan Irak.
Irak juga menarik duta besarnya dari Teheran, dan mengutuk serangan tersebut sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap kedaulatan wilayahnya.
Sejauh ini belum ada komentar dari Israel.
Garda Revolusi Iran juga mengatakan mereka melakukan serangan rudal terhadap “pangkalan teroris” di Suriah sebagai respons terhadap bom bunuh diri baru-baru ini di Iran yang diklaim dilakukan oleh kelompok Negara Islam (ISIS).

Sumber gambar, Getty
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Dalam perkembangan terpisah pada Selasa pagi, pasukan kontra-terorisme Kurdi mengatakan mereka telah menembak tiga drone bersenjata yang terbang di atas bandara Irbil, tempat pasukan AS dan internasional ditempatkan, demikian laporan Kantor berita Reuters.
Belum ada klaim langsung tentang hal ini, namun kelompok milisi yang didukung Iran - yang dikenal sebagai Perlawanan Islam di Irak - mengatakan mereka berada di balik serangan serupa.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan itu sejak pecahnya perang Israel-Hamas pada 7 Oktober.
Konflik semakin meluas hingga melibatkan milisi yang bersekutu dengan Iran yang beroperasi di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman.
Iran telah menyatakan bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam konflik yang lebih luas, namun kelompok-kelompok yang disebut “Poros Perlawanan” telah melakukan serangan terhadap Israel dan sekutunya untuk menunjukkan solidaritas terhadap Palestina.
Gerakan Hizbullah Lebanon telah terlibat baku tembak lintas perbatasan dengan pasukan Israel; Milisi Syiah telah meluncurkan drone dan rudal ke pasukan AS di Irak dan Suriah; dan pemberontak Houthi Yaman telah menyerang kapal-kapal di Laut Merah.
Adapun Israel dilaporkan telah melancarkan serangan yang menewaskan seorang pemimpin Hamas di Lebanon dan seorang komandan Garda Revolusi di Suriah.
Sementara, AS telah membunuh seorang pemimpin milisi Irak dalam serangan udara di Irak dan membom sasaran-sasaran kelompok Houthi di Yaman.
Baca juga:

Sumber gambar, Getty
Apa dampak serangan Iran di Irbil?
Dewan Keamanan Wilayah Kurdistan mengatakan beberapa rudal balistik yang diluncurkan oleh Garda Revolusi telah menghantam kawasan berpenduduk sipil di Irbil, sekitar pukul 23:30 waktu setempat, Senin.
Media berita Rudaw melaporkan bahwa ledakan keras mengguncang kota dan beberapa bangunan rumah, yang terletak di jalan antara Irbil dan pinggiran timur laut Pirmam, mengalami rusak berat.
Peshraw Dizayee, seorang pengusaha real estate, tewas ketika sebuah rudal menghantam rumahnya, ujar Partai Demokrat Kurdistan yang berkuasa.
Seorang bayi berusia 11 bulan juga termasuk di antara korban tewas, menurut laporan Rudaw.
Sebelumnya, Garda Revolusi Iran mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan rudal tersebut merupakan "tanggapan terhadap tindakan jahat rezim Zionis yang baru-baru ini membunuh [Garda Revolusi] dan komandan perlawanan".
Rudal tersebut “menghancurkan salah satu markas utama agen mata-mata Israel Mossad di Wilayah Kurdistan Irak”, yang telah digunakan untuk “mengembangkan operasi spionase dan merencanakan aksi terorisme”, klaim mereka.
Namun, Dewan Keamanan Wilayah Kurdistan mengatakan mereka dengan tegas menolak "dalih tidak berdasar ini".
Mereka menuduh Garda Revolusi sering menggunakan "dalih tak berdasar untuk menyerang Irbil", padahal mereka tidak menimbulkan ancaman.
Perdana Menteri Wilayah Kurdistan, Masrour Barzani, mengutuk "serangan pengecut" tersebut dan mendesak pemerintah federal di Bagdad agar "mengambil posisi prinsip terhadap pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan Irak dan Wilayah Kurdistan".
Kementerian Luar Negeri Irak mengatakan pemerintahnya “mengecam keras agresi Iran di Irbil” dan akan “mengambil semua tindakan hukum terhadapnya”, termasuk melaporkannya ke Dewan Keamanan PBB.
Mereka juga mengumumkan pembentukan komite investigasi untuk “membuktikan kepalsuan” klaim Iran.
Kemudian, kementerian tersebut memanggil duta besar Irak dari Teheran untuk berkonsultasi dan memanggil kuasa usaha Iran di Bagdad untuk menyampaikan protes.
Sementara, Misi PBB di Irak mengatakan: "Serangan, oleh pihak mana pun, yang melanggar kedaulatan dan integritas wilayah Irak harus dihentikan. Masalah keamanan harus diatasi melalui dialog, bukan serangan."

Sumber gambar, Getty
Apa dasar Iran melakukan serangan?
Kementerian luar negeri Iran mengatakan pihaknya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah negara lain, tetapi mereka menyatakan menggunakan “hak untuk mencegah ancaman keamanan nasional”.
Pada 2022, Garda Revolusi Iran melakukan serangan rudal serupa terhadap apa yang mereka klaim sebagai "pusat strategis" Israel di Irbil menyusul serangan udara di Suriah yang menewaskan dua perwira senior Iran.
Pada akhir tahun itu, mereka menyerang apa yang mereka katakan sebagai basis kelompok oposisi Kurdi Iran di wilayah tersebut.
Garda Revolusi juga mengatakan mereka telah menargetkan posisi ISIS dan “kelompok teroris” lainnya di provinsi Idlib yang dikuasai oposisi Suriah pada Senin malam.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah kelompok pemantau yang berbasis di Inggris, mengatakan tidak jelas di mana rudal tersebut mendarat.
Empat ledakan terdengar di tenggara kota Aleppo, di wilayah yang dikuasai milisi dukungan Iran, dan satu ledakan terdengar di dekat kota Idlib, tambahnya.
Garda Revolusi Iran mengatakan serangan di Suriah merupakan pembalasan atas bom bunuh diri bulan ini yang menargetkan massa yang tengah memperingati empat tahun pembunuhan seorang perwira tinggi militer Iran Qasem Soleimani oleh AS.
Serangan di Kerman di Iran selatan menewaskan sedikitnya 94 orang.
Iran telah melakukan serangan di wilayah Kurdistan Irak sebelumnya, mengklaim wilayah tersebut digunakan oleh kelompok separatis Iran dan agen Israel.
Dalam pernyataan dari kantornya, Perdana Menteri (PM) Kurdi Irak Masrour Barzani mengutuk serangan terhadap Irbil sebagai “kejahatan terhadap rakyat Kurdi”.
Seorang pengusaha terkemuka, Peshraw Dizayee, termasuk di antara empat warga sipil yang tewas, kata Partai Demokrat Kurdistan.
Garda Revolusi Iran juga mengatakan mereka telah menargetkan posisi kelompok Negara Islam (ISIS) di Suriah.
Ledakan terdengar di Aleppo dan daerah sekitarnya, di mana "setidaknya empat rudal yang datang dari arah Laut Mediterania" dijatuhkan, ujar Syrian Observatory for Human Rights war monitor.
Garda Revolusi mengatakan serangan di Suriah merupakan pembalasan atas bom bunuh diri bulan ini yang menargetkan massa yang memperingati empat tahun pembunuhan seorang perwira militer Iran Qasem Soleimani oleh AS.
Serangan di Kerman di Iran selatan telah menewaskan sedikitnya 94 orang dan melukai lebih banyak warga sipil.










