'Kami semua merasa itu adalah tempat paling aman bagi anak-anak’ - Kesaksian orang tua yang kehilangan dua putra imbas ledakan RS Al-Ahli

Nour menangis saat melihat foto keluarganya
Keterangan gambar, Abu Assi dan Nour menunggu delapan tahun hingga bisa memiliki anak pertama mereka, Mazen
    • Penulis, Ethar Shalaby
    • Peranan, BBC World Service

"Anak-anak bersama paman dan sepupu mereka pergi ke rumah sakit untuk berlindung. Mereka baru tiba di sana ketika terjadi ledakan," kata Abu Assi Arafat.

"Kami semua merasa itu adalah tempat paling aman bagi anak-anak."

Warga Palestina itu kehilangan dua putranya, seorang saudara laki-laki, dan dua keponakan dalam ledakan mematikan di Rumah Sakit Al-Ahli di Gaza pada Selasa (17/10).

Insiden itu menewaskan 500 korban jiwa, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Abu Assi bersama istrinya, Nour, dan putra bungsu mereka, Farag yang berusia sembilan tahun, berada di rumah tetangga terdekat pada hari ledakan.

Ketiga putra mereka lahir melalui program bayi tabung, atau in vitro fertilization (IVF). Anak pertama mereka lahir setelah Nour "mencoba mengandung selama delapan tahun".

Abu Assi Arafat melihat foto-foto di rumahnya
Keterangan gambar, Abu Assi Arafat kehilangan dua putranya dan seorang saudara laki-laki dalam ledakan rumah sakit

Abu Assi dan keluarganya memiliki banyak alasan yang membuat mereka berpikir bahwa rumah sakit adalah tempat terbaik dan paling aman.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

RS Al-Ahli sepenuhnya didanai oleh Gereja Anglikan, yang mengeklaim fasilitas itu independen dari faksi politik di Gaza.

RS Al-Ahli merupakan salah satu rumah sakit terbesar di Jalur Gaza, dan dikenal memiliki halaman yang luas, dengan beberapa ruang digunakan sebagai taman bermain anak-anak.

Canon Richard Sewell, dekan St George's College di Yerusalem, mengatakan kepada BBC bahwa sekitar 1.000 orang berlindung di halaman rumah sakit saat ledakan terjadi.

Sementara di dalam gedung rumah sakit, ada sekitar 600 pasien dan staf.

Sewell mengatakan secara keseluruhan sebanyak 6.000 orang berlindung di rumah sakit itu pada suatu waktu, tetapi sebagian besar sudah pergi setelah serangan udara Israel pertama menyebabkan kerusakan dan melukai empat orang pada Sabtu (14/10).

Baca juga:

Abu Assi mengatakan bahwa dia dan istrinya sangat terkejut sampai mereka tak mampu menguburkan kedua putra mereka: Ahmed, 13 tahun, dan Mazen, 17 tahun, ataupun adik laki-laki Abu Assi, Abdul Karim, yang berusia 16 tahun.

Abu Assi mengatakan dia tidak ingin "tubuh mereka yang mati dan cacat menjadi kenangan terakhir tentang anak-anaknya".

Dia kemudian meminta saudara iparnya untuk menguburkan mereka, bersama dengan keponakannya.

Foto-foto yang muncul dari rumah sakit Al-Ahli pada Selasa (17/10) malam menunjukkan suasana kekacauan. Para korban berlumuran darah dan terluka dibawa dengan tandu dalam kegelapan.

Jenazah dan kendaraan yang rusak terlihat tergeletak di jalan yang penuh puing-puing berserakan di luar.

Suasana kompleks rumah sakit Al-Ahli sebelum ledakan

Sumber gambar, Refat Ismail Dughaich

Keterangan gambar, Suasana kompleks rumah sakit Al-Ahli sebelum ledakan

Pihak Palestina mengatakan ledakan itu disebabkan oleh serangan udara Israel.

Namun Israel mengatakan mereka tidak menargetkan rumah sakit, dan ledakan itu adalah hasil dari peluncuran roket yang gagal oleh Jihad Islam Palestina – tuduhan yang dibantah oleh kelompok milisi tersebut.

Baca juga:

RS Al-Ahli terletak di antara tiga permukiman padat penduduk: Zeitoun, Al Daraj dan Shuja'iyya.

Pada 17 Oktober, penduduk setempat dari distrik-distrik itu menerima peringatan bahwa daerah mereka akan mendapat serangan, kata Abu Assi, sehingga ribuan orang melarikan diri ke rumah sakit untuk berlindung malam itu.

Dr Ashraf Al Qudra, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan kepada BBC bahwa banyak keluarga – dia tidak tahu berapa banyak – telah kehilangan kerabatnya.

Saksi mata mengatakan kepada BBC tentang satu orang yang kehilangan 31 anggota keluarganya dalam ledakan itu.

'Saya harus memutuskan dengan cepat siapa yang memiliki kesempatan hidup lebih baik’

Dr Fadel Naim sedang mengoperasi pasien

Sumber gambar, Dr Fadel Naim

Keterangan gambar, Ahli bedah ortopedi Dr Fadel Naim (kanan) bekerja di rumah sakit pada malam ledakan dan menyaksikan dampaknya secara langsung.

Beberapa menit sebelum ledakan terjadi, Dr Fadel Naim, seorang ahli bedah ortopedi di RS Al-Ahli, bersiap-siap mengoperasi orang dengan luka parah yang berbaring di ruang operasi.

"Kami tiba-tiba mendengar ledakan besar dan bagian dari langit-langit ruang operasi mulai jatuh di atas kepala kami," kata Dr Naim, yang menderita cedera kepala ringan.

Ia segera bergegas keluar dan menemukan taman dan halaman rumah sakit dipenuhi "mayat, bagian tubuh, banyak yang terluka, dan orang-orang berteriak minta tolong".

"Itu pertama kalinya dalam hidup saya di mana saya harus memutuskan dengan cepat siapa yang memiliki kesempatan hidup yang lebih baik, dan siapa yang harus ditinggalkan dan mempertimbangkan kasus tanpa harapan," kata dokter.

Baca juga:

Dr Naim, yang telah merawat banyak orang yang terluka dari konflik di Gaza, mengatakan ledakan itu telah mengakibatkan luka-luka sangat parah, berupa luka sayatan yang dalam dan bagian tubuh yang terputus.

Ia menilai luka-luka dari ledakan terkhir lebih parah daripada yang dia tangani dalam ledakan sebelumnya.

Dr Naim mengatakan kepada BBC bahwa pada 15 Oktober – dua hari sebelum ledakan terjadi – seorang pejabat rumah sakit telah menerima telepon dari militer Israel yang menanyakan mengapa rumah sakit belum dievakuasi, meskipun ada peringatan Israel untuk melakukannya.

'Anak-anak di bawah lima tahun mencakup 60% dari yang terluka'

Dr Adnan Al Bursh adalah konsultan ortopedi yang merawat mereka yang terluka dalam ledakan Al-Ahli di rumah sakit lain, Al Shifa.

Ia mengatakan mayoritas yang terluka dan dirawat di rumah sakitnya berada dalam kondisi "sangat kritis, memiliki luka bakar tingkat tiga dan membutuhkan perawatan dokter dari empat spesialisasi berbeda".

Dr Adnan Al Bursh mengenakan gaun teater berlumuran darah

Sumber gambar, Dr Adnan Al Bursh

Keterangan gambar, Dr Adnan Al Bursh, seorang konsultan ortopedi, telah merawat warga yang terluka akibat ledakan itu.

Sang dokter mengatakan rumah sakit Al Shifa hanya memiliki 700 tempat tidur, sehingga tidak mampu menampung lebih dari 2.000 pasien yang berasal dari ledakan rumah sakit Al-Ahli.

Banyak yang tiba "meninggal tak lama setelah itu", ungkapnya. Ia memperkirakan 60% dari mereka yang terluka adalah anak-anak balita.

Dr Al Bursh setuju dengan Dr Naim terkait tingkat keparahan luka.

"Sebagai seorang dokter, saya mengamati bahwa luka-luka ini lebih fatal daripada cedera lain yang pernah saya lihat dalam perang ini. Ini adalah jenis luka yang sangat tidak biasa."