'Anak-anak berteriak ketakutan saat kami melarikan diri dari serangan udara' - Kisah wartawan BBC mengevakuasi keluarganya dari gempuran Israel di Gaza

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Rushdi Abu Alouf
- Peranan, BBC News, Kota Gaza
Satu-satunya pembangkit listrik di Gaza telah kehabisan bahan bakar, dan pasokan medis serta makanan semakin menipis, satu malam setelah ratusan orang turun ke jalan untuk menghindari serangan udara yang tiada henti.
Pada hari Rabu (11/10) pukul 02.00, seorang tetangga menggedor pintu dan menyuruh saya pergi sekarang karena apartemen saya menjadi sasaran.
Serangan udara dari pesawat tempur Israel terus berlanjut hingga hari kelima sejak kelompok milisi Hamas melakukan serangan terhadap Israel pada Sabtu (07/10).
Situasi bagi 2,3 juta penduduk di Gaza semakin genting, tidak ada jalan keluar dari wilayah kecil namun padat penduduk tersebut.
Satu-satunya pembangkit listrik di Gaza berhenti beroperasi sepenuhnya pada hari Rabu (11/10) pukul 14.00 waktu setempat, kata pihak berwenang.
Israel menghentikan pasokan kebutuhan pokok, termasuk bahan bakar, ke wilayah Gaza yang dikepung sejak Senin (09/10) sebagai balasan atas serangan Hamas.
Minimnya pasokan listrik membuat warga Gaza harus bergantung pada generator untuk mendapatkan listrik. Namun tidak ada cara untuk mengimpor bahan bakar untuk generator.

Sumber gambar, Getty Images
Kini hanya ada sedikit harapan untuk meninggalkan wilayah tersebut, setelah pos perbatasan Israel ditutup dan Mesir terpaksa menutup satu-satunya pos perbatasan dengan Gaza karena serangan udara di dekatnya.
Saya mencoba mengevakuasi keluarga saya, karena tidak jelas apa yang mungkin terjadi di sini di masa depan – tetapi itu tidak mungkin.
Pada Selasa (10/10) dini hari, saya membangunkan ketiga anak saya, kami mengambil perlengkapan darurat kami dan menuju ke rumah sakit.

Sumber gambar, Getty Images
Namun sesampainya di sana, ratusan orang memblokir pintu masuk - mereka pun mencari tempat untuk berteduh semalaman.
Anak-anak yang setengah tertidur berteriak ketika mereka tersandung di jalanan dengan roket beterbangan di atasnya.
Pada Rabu pagi, Hamas mengatakan 30 orang tewas dalam serangan semalam. Secara total, lebih dari 1.000 warga Gaza tewas akibat serangan udara Israel
Baca juga:
Militer Israel mengatakan mereka telah mencapai 450 sasaran di Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir.
Serangan udara dimulai setelah militan Hamas melintasi perbatasan Israel dan melancarkan gelombang serangan terhadap warga di wilayah selatan negara itu, menewaskan sedikitnya 1.200 warga Israel. Diperkirakan 150 orang telah disandera oleh Hamas.
Israel mengumumkan “pengepungan total” di Gaza pada hari Senin, menyatakan listrik, makanan, bahan bakar dan air akan diputus. Dampak dari pengepungan tersebut kini terlihat dengan jelas.

Sumber gambar, Getty Images
Pada hari Selasa, saya bertemu dengan seorang perempuan di supermarket yang sedang menjelajahi rak-rak toko, mencari susu untuk bayinya. Dia hanya punya setengah botol tersisa, tapi supermarket itu kosong.
Sekitar 80% orang di Gaza bergantung pada bantuan kemanusiaan bahkan sebelum perang terbaru dimulai – dan badan PBB untuk pengungsi Palestina mengatakan setidaknya satu juta orang tidak bisa mendapatkan jatah makanan mereka sejak hari Sabtu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyerukan agar koridor kemanusiaan dibuka di wilayah tersebut. Namun di sini, warga sipil tidak bisa berharap banyak hal itu akan terjadi.

Sumber gambar, Getty Images
Seorang dokter terkemuka keturunan Inggris-Palestina, Dr Ghassan Abu-Sittah, mengatakan kepada BBC bahwa sistem kesehatan di Gaza akan kolaps dalam waktu sepekan kecuali bantuan diizinkan masuk.
“Semua tempat tidur [di rumah sakit] penuh. Pasien yang memerlukan operasi tidak dapat menjalani operasi karena ruang operasi beroperasi pada kapasitas maksimum,” katanya.
Menurutnya, apa yang terjadi saat ini adalah
serangan paling berdarah yang pernah dia lihat sejak dia mulai bekerja di Gaza sejak 40 tahun silam.

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
"Karena orang-orang terluka di rumah mereka, sekitar 30-40% yang terluka adalah anak-anak. Seluruh keluarga yang dibawa mereka dalam kondisi terluka...
"Dalam perang, Anda mencoba untuk memulangkan pasien lebih awal sehingga Anda dapat mengosongkan tempat tidur, namun pasien-pasien ini semua berasal dari rumah-rumah yang telah hancur sehingga Anda tidak dapat mengirim mereka kembali ke jalan,” katanya.
Pemimpin Hamas mengatakan dia tidak akan menegosiasikan pertukaran tahanan untuk mendapatkan makanan dan obat-obatan, dan dia tidak akan bernegosiasi dengan Israel ketika wilayahnya diserang.
Baca juga:
Kepala hak asasi manusia PBB mengatakan pengepungan adalah tindakan ilegal menurut hukum internasional.
Badan-badan PBB juga mengutuk pembunuhan massal yang dilakukan Hamas dan meminta mereka untuk melepaskan sandera yang mereka sandera.
Meskipun Israel bersikeras bahwa mereka tidak menargetkan penduduk sipil di Gaza, masyarakat di sini merasa keputusan untuk memotong pasokan air, makanan, medis dan listrik kepada 2,3 juta orang adalah hukuman kolektif.
Masyarakat di Gaza tahu seperti apa itu perang, tapi perang kali ini terasa berbeda.









