Dukungan dan bantuan korban perang di Gaza dari Indonesia, ‘sebaiknya bukan atas nama agama tapi kemanusiaan’

Sumber gambar, SAID KHATIB/AFP via Getty Images
Penggalangan dukungan dan bantuan kemanusiaan untuk korban perang Hamas-Israel mulai digulirkan di Indonesia. Sejumlah kalangan mengingatkan agar upaya itu dilakukan bukan atas nama agama, tetapi murni dilatari motif kemanusiaan.
Duta besar Palestina di Indonesia, Zuhair Al Shun, melakukan sejumlah pertemuan untuk menggalang dukungan dan bantuan menyusul perang Hamas-Israel.
Namun, upaya penggalangan bantuan disebut akan sulit, tanpa adanya perubahan sikap dari pihak yang bertikai.
Seorang analis timur tengah mendorong agar bantuan yang digalang tidak berlandaskan pada kacamata agama, tapi pada kemanusiaan.
Dalam laporan terakhir PBB, sedikitnya 187.000 warga Palestina telah mengungsi.
Sejauh ini belum ada perhitungan kerugian atas perang ini, tapi Palestina juga akan menanggung biaya yang besar atas kerusakan infrastruktur.
Israel juga dilaporkan melakukan “pengepungan total” dengan menghentikan pasokan listrik, makanan, dan bahan bakar ke Gaza, hal yang disebut “membuat situasi makin mengerikan dan menyedihkan”.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha
Duta Besar Palestina di Indonesia melakukan sejumlah kunjungan dan pertemuan dengan perwakilan negara-negara Arab, termasuk perwakilan DPR-RI untuk menggalang dukungan atas perang antara militan Hamas dan pasukan Israel.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Dalam pertemuan di kantornya dengan sejumlah duta besar Arab Saudi, Dubes Palestina Zuhair Al-Shun percaya akan memperoleh bantuan dan dukungan menghadapi serangan Israel.
"Saya meyakini bahwa negara-negara Arab, dan bangsa Arab bersatu untuk membantu Palestina, dan mendukung Palestina," kata Zuhair dalam acara terbuka yang disorot media, sebagaimana dilaporkan Kompas.
Baca Juga:
- Cerita WNI di Gaza bertahan di tengah saling serang Hamas-Israel: ‘Menakutkan, sangat mencekam, di luar sana masih dihujani rudal'
- Apakah Iran berada di balik serangan milisi Hamas terhadap Israel?
- Israel-Palestina: Militer Israel klaim 'mengendalikan penuh' perbatasan Gaza, ratusan ribu orang mengungsi
Zuhair juga mengaku Indonesia selalu membantu Palestina, "dan mereka khawatir tentang Palestina."
"Sebelumnya, saya baru kedatangan dubes dari Iran, mereka menyatakan, bahwa bantuan Indonesia untuk Palestina begitu besar," katanya.
Zuhair juga berkunjung ke gedung parlemen dan menemui Ketua Badan Kerjas Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR-RI, Fadli Zon.
Dalam pernyataannya, Fadli Zon mengatakan Indonesia tetap berkomitmen menghapuskan penjajahan di atas dunia. Ia yakin Indonesia konsisten membela Palestina.
“Saya kira ini adalah perintah konstitusi kita dan Indonesia konsisten di dalam membela Palestina," katanya seperti dikutip dari Detik.

Sumber gambar, ANTARAFOTO
Rangkaian pertemuan ini dilakukan Zuhair di tengah eskalasi pertempuran antara militan Hamas dan Tentara Israel.
Dalam laporan terakhir, perang antara Hamas dan tentara Israel sejak Sabtu kemarin merenggut sekitar 1.750 nyawa dari kedua belah pihak. Kebanyakan korban adalah warga sipil: anak-anak dan perempuan, termasuk yang meregang nyawa.
Sekitar 3.900 korban luka, dan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melaporkan 187.000 orang di Gaza mengungsi, jumlahnya diperkirakan terus bertambah.
Indonesia dorong Koridor Kemanusiaan
Pemerintah Indonesia dalam pernyataannya mengatakan saat ini fokus mendorong upaya menghentikan eskalasi kekerasan dan menghindari lebih banyak korban sipil.
Pada Senin (09/10), Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi telah membahas hal ini dengan Menteri Luar Negeri Brasil sekaligus Presiden Dewan Keamanan PBB, Mauro Viera. Dalam pertemuan itu Menteri Retno menyampaikan perlunya upaya menghentikan kekerasan, dan menyepakati Koridor Kemanusiaan.

Sumber gambar, ANTARAFOTO
“Indonesia juga sudah melakukan komunikasi dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengenai hal tersebut,” kata juru bicara Kemenlu, Lalu Muhammad Iqbal dalam keterangan tertulis yang diterima BBC News Indonesia, Selasa (10/10).
Selain itu, Indonesia sudah melakukan komunikasi dengan Palang Merah Internasional (ICRC) untuk mengupayakan evakuasi WNI yang berada di Jalur Gaza.
“KBRI Amman, KBRI Beirut dan KBRI Kairo disiagakan penuh untuk memantau perkembangan situasi di wilayah konflik dan memastikan perlindungan bagi WNI yang terdampak,” tambah Iqbal.
Dalam keterangan terpisah, Kemenlu Indonesia mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya agar meninggalkan wilayah Palestina dan Israel. “Dan bagi yang sudah merencanakan perjalanan ke kedua wilayah tersebut untuk membatalkan rencananya, hingga ada pemberitahuan lebih lanjut dari pemerintah.”
Galang dukungan di media sosial
Di tengah situasi ini, media sosial di Indonesia juga dibanjiri unggahan-unggahan yang menyinggung ajakan agar Muslim sedunia mendukung militan Hamas yang disebut sedang membela Palestina.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan
Salah satunya, video yang dibagikan akun @fakhrifadzli dalam platform X. Video ini disebut disuarakan pemimpin Brigade Al-Qassam – organisasi sayap Hamas, Muhammad Al-Deif.
Dalam pesannya, ia mengajak negara-negara Islam, termasuk Indonesia dalam apa yang disebut “jihad dalam pembebasan Masjidil Aqsa”. Namun, video tersebut belum bisa diverifikasi.
Menurut pengamat intelijen dan terorisme dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib, ini merupakan seruan "wajar dan itu satu hal yang rutin" dari kelompok Hamas untuk meminta bantuan kemanusiaan, seperti makanan dan bantuan medis.

Sumber gambar, Photo by Leonhard Simon/Getty Images
"Tidak sekadar pada serangan yang terakhir, tapi juga pada perang-perang sebelumnya. Mereka juga secara terang-terangan meminta bantuan itu ke jejaringnya di seluruh dunia," kata Ridwan.
Disebut biasa saja, karena kelompok Hamas dirintis Ikhwanul Muslimin - gerakan yang menekankan rasa persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah), diinisiasi Hasan al-Bana di Mesir pada 1928. Jaringannya tersebar di seluruh dunia, khususnya di negara-negara Arab, termasuk Indonesia.
Penggalangan bantuan ini, tambah Ridwan, tak perlu dirisaukan. Hamas, kata dia, melakukan operasi militer untuk pembebasan Palestina, dan menargetkan Israel. “Sehingga, tidak ada operasi Hamas menargetkan pengeboman di luar Palestina,” katanya.

Sumber gambar, AFP
"Jadi bukan dalam konteks meminta agar, misalnya di Indonesia melakukan serangan. Bukan seperti itu. Ini berbeda dengan ISIS," kata Ridwan.
Bantuan perlu berdiri atas nama kemanusiaan
Muhamad Syauqilla, Ketua Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI (SKSG) mengingatkan agar bantuan dan dukungan kepada Palestina berdiri atas nama kemanusiaan, bukan dari kacamata agama.
"Karena penduduk Palestina itu bukan cuma Muslim, dan penduduk Israel bukan hanya Yahudi. Sebaiknya, ya membantu karena alasan kemanusiaan, tanpa sekat-sekat identitas atas dasar apapun," katanya.
Dalam satu pernyataan Nahdlatul Ulama - salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia juga menyerukan "agar identitas dan seruan-seruan keagamaan tidak digunakan untuk memupuk dan menyuburkan permusuhan dan kebencian, termasuk dalam kaitan dengan konflik dan kekerasan Israel-Palestina."

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fauzan
"Menyerukan agar inspirasi agama tentang Rahmah, persaudaraan dan keadilan universal harus dikedepankan demi mengupayakan resolusi konflik di semua tingkatan, baik di tingkat struktur politik maupun di tingkat komunitas," kata Ketua Umum Pengurus Besar NU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Bantuan lembaga kemanusiaan Indonesia
Kesediaan bantuan medis untuk Palestina sejauh ini dilakukan lembaga kemanusiaan MER-C Indonesia. Sejumlah relawannya masih berada di salah satu RS Indonesia yang berdiri di Palestina, khususnya Jalur Gaza bagian utara.
“Sampai dengan Senin siang, RS Indonesia yang berkapasitas 230 tempat tidur tidak dapat menampung korban jiwa akibat serangan Israel. Kamar mayat penuh dan jasad-jasad yang terus berdatangan harus diletakkan di bagian luar bangunan rumah sakit,” kata Ketua Presidium MER-C, dokter Sarbini Abdul Murad dalam keterangan kepada pers.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Reno Esnir
Lembaga ini juga menyiapkan pengiriman tim dan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza kepada korban perang yang disebut sebagai “Emergency Response”.
“Tim sedikitnya akan berjumlah 5 (lima) orang yang akan terdiri dari Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Dokter Spesialis Anestesi, Relawan Medis dan Insinyur. Tim akan dipimpin oleh Ir. Faried Thalib, relawan yang sudah berpengalaman di Jalur Gaza sejak 2009,” tambah dokter Sarbini.

Sumber gambar, Dokumentasi MER-C Indonesia
Namun, untuk akses ke Palestina tidak mudah, karena akses wilayah ini sebagaian besar dikendalikan Israel. Oleh karena itu, lembaga ini menyerukan agar pemerintah Indonesia memfasilitasi keberangkatan tim dan bantuan ke Jalur Gaza sebagai “diplomasi kemanusiaan”.
Siapa saja kunci dari jalur bantuan ke Palestina?
Seperti diketahui - Israel berkuasa atas ruang udara di langit Gaza dan garis pantainya, serta memiliki otoritas atas keluar dan masuknya orang dan barang melalui perbatasannya.
Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengatakan bahwa ia telah memerintahkan "pengepungan total" di Jalur Gaza. Israel telah menghentikan pasokan listrik, air, makanan dan bahan bakar ke Gaza.
Baca Juga:
Selama ini, segala pasokan kebutuhan pokok warga Palestina sangat bergantung dari perizinan Israel, termasuk bantuan luar negeri.
“Sebelum perang pun keadaan di Palestina sudah mengerikan… Jadi sekarang yang dilakukan Israel membuat situasi makin mengerikan dan menyedihkan,” kata peneliti politik Timur Tengah BRIN, Nostalgiawan Wahyudhi.
Saat ini koridor bantuan internasional, salah satunya hanya bisa dilakukan Mesir yang juga memiliki otoritas keluar masuk orang dan barang dari perbatasannya ke Jalur Gaza.

“Kita melihat paling dekat, Lebanon ataupun Mesir mau membuka sementara sirkulasi pasokan makanan, itu akan lebih baik. Bisa sangat menolong. Tapi saya tidak yakin Israel akan membiarkan begitu saja,” kata Nostalgiawan.
Sejauh ini, Mesir telah melakukan pendekatan dengan Israel dan Hamas, agar keduanya bisa menurunkan eskalasi. Negeri piramida ini meminta Hamas memastikan keselamatan sandera warga sipil Israel, dan mendesak Tel Aviv menahan diri, seperti dilaporkan kantor berita Reuters.
Sementara itu, tekanan dari Indonesia dianggap lemah untuk mengubah pendirian Israel, ataupun meminta kedua belah pihak melakukan gencatan senjata.

Sumber gambar, REUTERS
“Dengan Hamas secara spesifik Indonesia belum punya hubungan diplomatik yang sedemikian kuat,” lanjut Nostalgiawan.
Indonesia – sama seperti negara Islam lain yang tak memiliki hubungan diplomasi yang kuat dengan Hamas-Israel – bisa melakukan tekanan ke Dewan Keamanan PBB agar mengadakan rapat darurat, kata Nostalgiawan.
“Dewan Keamanan PBB bisa akses lebih cepat. Desakan itu perlu dilakukan negara-negara Muslim, yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi seperti Indonesia ke Israel,” katanya.

Sumber gambar, EPA
Selain itu, negara yang menjadi kunci lain dalam menurunkan eskalasi Hamas-Israel adalah Saudi Arabia. Sejauh ini, terjadi penjajakan normalisasi antara negeri itu dengan Israel. Dengan hubungan ini, justru memudahkan pembicaraan kedua negara.
“Jadi hal-hal diplomatis, Saudi mendorong Israel melakuan gencatan senjata, dan membicarakan pertukaran tahanan, mengembalikan normalisasi stok listrik dan air terhadap Palestina bisa dilakukan,” kata Nostalgiawan.
Sebelumnya, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman telah berdiskusi melalui sambungan telepon dengan Presiden Palestina, Mahmoud Abbas.
Dalam pembicaraannya, pangeran Saudi itu mengaku telah mengerahkan semua upaya untuk menghentikan eskalasi yang sedang berlangsung, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Arab Saudi, SPA.
Kekhawatiran kemunculan ‘lone-wolf’ di Indonesia
Di luar upaya bantuan kemanusiaan dan diplomasi meredakan eskalasi Hamas-Israel, muncul kekhawatiran peristiwa ini bisa memicu ‘lone-wolf terorism’ – istilah teroris yang bergerak secara individu – di Indonesia.
Pengamat intelijen dan terorisme dari UI, Ridwan Habib menilai perang dilakukan kelompok militan Hamas dapat menginspirasi individu radikal yang ingin melakukan ‘jihad’.
Keberadaan individu ini bahkan sulit terpantau intelijen karena tak memiliki pemimpin dan jaringan.
“Ini yang berbahaya, karena kita tidak bisa tahu di mana dia. Siapa dia, dan mau apa,” katanya.










