Shin Tae-yong layak dipecat atau dipertahankan? – 'Laga lawan Australia bakal jadi penentu nasib STY'

Shin Tae-yong, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.

Sumber gambar, PSSI

Keterangan gambar, Shin Tae-yong, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.
    • Penulis, Viriya Singgih
    • Peranan, BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 12 menit

Kegagalan tim nasional sepak bola Indonesia lolos ke semifinal Piala ASEAN 2024 memicu kritikan keras pada pelatih Shin Tae-yong (STY) dan seruan untuk mencari penggantinya. PSSI bilang akan mengevaluasi kinerja STY, tapi pengamat mengatakan ujian sesungguhnya ada di kualifikasi Piala Dunia 2026.

Setelah Indonesia kalah dari Filipina dan gagal lolos ke semifinal Piala ASEAN (dulu disebut Piala AFF) 2024, tagar #STYOut dan #STYTanpaDiasporaNol membanjiri media sosial X.

Salah satu yang menjadi sorotan publik adalah program naturalisasi pemain diaspora, yang gencar dilakukan pemerintah dan PSSI sejak STY mulai melatih timnas pada akhir 2019, tapi dianggap belum memberikan hasil konkret.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengatakan akan mengevaluasi kinerja STY, terutama karena Indonesia dianggap bisa berbuat lebih di Piala ASEAN 2024.

Menurut pengamat sepak bola Ronny Pangemanan, penentuan nasib STY ada di laga Indonesia melawan Australia di lanjutan putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 pada 20 Maret mendatang.

"Lawan Australia, penentuannya di situ. Kalau memang kita dapat hasil positif, imbang, apalagi kita menang, ya STY terus saja. Tapi kalau kita kalah, PSSI harus mengevaluasi lagi dan menentukan sikap," kata Ronny.

Di sisi lain, Unggul Indra, presiden perkumpulan suporter timnas La Grande Indonesia, mengatakan kegagalan timnas lolos ke semifinal Piala ASEAN 2024 seakan membuat sejumlah pihak lupa akan berbagai prestasi STY lima tahun terakhir.

"Kalau dari La Grande sih sikapnya, 'Jangan ganggu Shin Tae-yong. Jangan ganggu timnas kami.' Karena kami masih percaya, masih kasih kesempatan ke pelatih," kata Unggul.

Shin Tae-yong, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.

Sumber gambar, PSSI

Keterangan gambar, Shin Tae-yong, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.

Awal kemunculan tagar #STYTanpaDiasporaNol

Perbincangan tentang timnas Indonesia dan hal-hal terkaitnya, termasuk soal performa Tim Garuda di Piala ASEAN 2024, nasib pelatih Shin Tae-yong (STY), serta kekecewaan terhadap PSSI dan ketua umumnya, Erick Thohir, membanjiri media sosial dalam beberapa hari terakhir.

Lembaga analisis media sosial Drone Emprit mencatat ada 728,4 juta interaksi di X, YouTube, TikTok, Instagram, dan Facebook yang membahas hal-hal tersebut sejak Sabtu (21/12) pukul 18.00 WIB hingga Senin (23/12) pukul 12.00 WIB.

Dari total jumlah interaksi itu, 710,7 juta atau 97,6% di antaranya terjadi di X.

Secara lebih spesifik, ada lima kata kunci yang digunakan dalam ratusan juta interaksi itu: "PSSI", "Timnas Day", "STY Out", "STY Tanpa Diaspora Nol", dan "Erick Out".

Analisis Drone Emprit.

Sumber gambar, Drone Emprit

Keterangan gambar, Drone Emprit mencatat ada 728,4 juta interaksi di X, YouTube, TikTok, Instagram, dan Facebook yang menggunakan kata kunci "PSSI", "Timnas Day", "STY Out", "STY Tanpa Diaspora Nol", dan "Erick Out" pada periode 21-23 Desember 2024.

Tagar #STYOut disebut muncul di X tak lama setelah laga Indonesia-Filipina usai pada Sabtu (21/12) pukul 22.15 WIB.

Ini dipicu kekecewaan publik atas kekalahan Indonesia di pertandingan itu, yang membuat Indonesia gagal melaju ke semifinal Piala ASEAN 2024 sesuai target minimum yang dicanangkan PSSI, kata Rizal Nova Mujahid, kepala analis Drone Emprit.

"Ada kekecewaan pada prestasi STY yang selama lebih dari lima tahun, dengan berbagai macam dukungan dan sokongan dari banyak pihak, ternyata hasilnya tidak selalu menggembirakan," kata Rizal pada BBC News Indonesia, Senin (23/12).

"Mereka [warganet] tidak mengatakan STY tidak berprestasi, tapi prestasinya harusnya bisa lebih baik."

Garis.

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.

Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

Garis.

Perbincangan dengan sentimen negatif disebut terus berlanjut hingga menyentuh topik naturalisasi pemain diaspora yang gencar dilakukan sejak STY mulai melatih timnas Indonesia pada akhir 2019.

Ini kemudian memicu lahirnya tagar #STYTanpaDiasporaNol. Ia tercatat pertama muncul pada Minggu (22/12) pukul 9.19 WIB, dan dalam waktu kurang dari satu jam telah menduduki peringkat satu trending topic Indonesia di X.

Tagar ini, kata Rizal, mulanya hadir secara organik. Orang-orang yang selama ini kerap mengkritisi kebijakan naturalisasi PSSI disebut menggunakannya untuk mengekspresikan kekecewaan mereka.

Analisis Drone Emprit.

Sumber gambar, Drone Emprit

Keterangan gambar, Drone Emprit mencatat 50% interaksi soal timnas di X, YouTube, TikTok, Instagram, dan Facebook pada periode 21-23 Desember 2024 bersentimen negatif.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Namun, di Minggu sore menuju malam, Rizal bilang mulai muncul akun-akun yang mendomplengi tagar #STYTanpaDiasporaNol untuk menyerang PSSI dan orang-orang di dalamnya, termasuk ketua umum Erick.

Dari sana, lahirlah tagar #ErickOut di hari yang sama pada pukul 23.29 WIB. Tak butuh waktu lama sebelum ia jadi peringkat satu trending topic Indonesia.

"#STYTanpaDiasporaNol pada awalnya adalah suara organik dari insan sepak bola Indonesia yang mengkritisi prestasi STY," kata Rizal.

"Tapi kemudian tagar ini dimanfaatkan oleh aktor-aktor tertentu pada sore hari untuk membicarakan PSSI, kepemimpinan Erick Thohir, dan evaluasi-evaluasi yang harus dilakukan terkait sepak bola di Indonesia."

Berdasarkan pantauan BBC News Indonesia, pada Minggu malam pun beredar di X hasil tangkapan layar percakapan WhatsApp yang seolah menunjukkan bahwa narasi negatif terhadap STY dan tagar #STYTanpaDiasporaNol adalah hasil pesanan pihak tertentu dengan bayaran Rp700.000 per unggahan.

Tangkapan layar percakapan WhatsApp.

Sumber gambar, Akun X @FaichiFaichi23

Keterangan gambar, Tangkapan layar percakapan WhatsApp yang seolah menunjukkan bahwa narasi negatif terhadap STY dan tagar #STYTanpaDiasporaNol adalah hasil pesanan pihak tertentu.

Sejumlah warganet menyebar narasi negatif itu dengan menambahkan potongan video pengamat sepak bola Justinus Lhaksana ketika tengah mengkritisi STY dan penampilan timnas di Piala ASEAN 2024.

Justinus sebelumnya kerap mendukung STY, tapi belakangan ia bilang keyakinannya menurun, terutama setelah pelatih asal Korea Selatan itu dianggap tidak menurunkan pemain-pemain terbaik timnas Indonesia saat kalah dari China di laga kualifikasi Piala Dunia 2026 pada pertengahan Oktober lalu.

Perubahan sikap Justinus, plus tagar #STYTanpaDiasporaNol yang disebar dengan potongan videonya, membuat sejumlah warganet menudingnya seakan ia adalah salah satu buzzer yang dibayar untuk menjatuhkan STY.

Justinus membantah hal ini.

"Gue enggak tersinggung dibilang buzzer, karena memang gue bukan buzzer," kata Justinus melalui akun X-nya pada Minggu (22/12) malam.

"Tapi yang bikin gue tersinggung yah bayaran Rp700.000. Yah kali gue mau dibayar Rp700.000. Kalau Rp700 juta yah sudah gue jadi buzzer."

Naturalisasi pemain diaspora di era STY

Laga Indonesia melawan Bahrain di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia pada 10 Oktober silam begitu berbekas, terutama karena banyak yang merasa Indonesia dicurangi wasit sehingga gagal menang.

Saat itu, laga yang seharusnya berakhir di menit ke-96 diperpanjang wasit Ahmed Al Kaf asal Oman hingga Bahrain berhasil menyamakan kedudukan jadi 2-2 di menit ke-99. Sesaat setelah gol tercipta, barulah ia meniup peluit panjang.

Namun, selain itu, ada catatan menarik lainnya: 10 dari 11 pemain timnas Indonesia yang memulai laga adalah hasil naturalisasi.

Hanya Malik Risaldi, sayap kanan asal Persebaya, yang bukan pemain naturalisasi di sana.

Sebanyak 10 dari 11 pemain timnas Indonesia yang memulai laga melawan Bahrain pada 10 Oktober 2024 adalah hasil naturalisasi.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/HO-PSSI

Keterangan gambar, Sebanyak 10 dari 11 pemain timnas Indonesia yang memulai laga melawan Bahrain pada 10 Oktober 2024 adalah hasil naturalisasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan PSSI memang gencar mencari, mendekati, dan menaturalisasi pemain diaspora untuk membantu meningkatkan kualitas dan prestasi timnas sepak bola.

Pada Februari 2024, Kementerian Pemuda dan Olahraga bahkan mengatakan telah memegang data 400 diaspora di berbagai negara yang bergerak di bidang sepak bola, baik yang keturunan Indonesia ataupun yang masih memiliki paspor Indonesia.

"Ini adalah salah satu ikhtiar untuk membantu timnas lebih kompetitif. Tidak ada salahnya memanfaatkan potensi diaspora itu," ujar Hamdan Hamedan, tenaga ahli Menteri Pemuda dan Olahraga bidang diaspora dan kepemudaan, saat itu.

Baca juga:

Menurut aturan badan sepak bola dunia FIFA, seorang pemain bisa menjalani naturalisasi untuk mewakili timnas negara lain asalkan memenuhi salah satu syarat berikut:

  • Ia lahir di negara terkait.
  • Ia memiliki ayah atau ibu kandung yang lahir di negara terkait.
  • Ia memiliki kakek atau nenek kandung yang lahir di negara terkait.
  • Ia telah tinggal di negara terkait selama lima tahun berturut-turut setelah menginjak usia 18 tahun.

Pemerintah dan PSSI memanfaatkan aturan ini, utamanya untuk merekrut pemain diaspora yang memiliki orang tua, kakek, atau nenek kandung asal Indonesia.

Rafael Struick dan Ivar Jenner mengambil sumpah kewarganegaraan.

Sumber gambar, PSSI

Keterangan gambar, Rafael Struick dan Ivar Jenner mengambil sumpah kewarganegaraan dan merampungkan proses naturalisasi menjadi warga negara Indonesia di Jakarta pada 22 Mei 2023.

Secara umum, orang asing bisa menjalani naturalisasi bila memenuhi sejumlah syarat seperti yang diatur dalam Undang-Undang No. 12/2006 tentang kewarganegaraan Republik Indonesia.

Syarat itu termasuk telah berusia 18 tahun, telah tinggal di Indonesia lima tahun berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut, bisa berbahasa Indonesia, dapat mengakui dasar negara Pancasila dan UUD 1945, dan bersedia hanya memiliki kewarganegaraan Indonesia (tidak ganda).

Orang asing pun bisa mendapat KTP Indonesia bila menikah dengan warga negara Indonesia.

Opsi lainnya, seperti diatur di pasal 20 UU tersebut, presiden dapat memberikan kewarganegaraan Indonesia kepada orang asing yang dianggap telah berjasa atau atas dasar "kepentingan negara" setelah memperoleh pertimbangan DPR.

Pasal ini yang kemudian digunakan pemerintah untuk menaturalisasi para pemain diaspora beberapa tahun belakangan.

Sejak Shin Tae-yong (STY) menjadi pelatih timnas Indonesia pada 28 Desember 2019, pemerintah telah menaturalisasi total 17 pemain. Semuanya melalui jalur "naturalisasi istimewa" atas dasar "kepentingan negara" setelah mendapat persetujuan DPR.

Sebanyak 16 di antaranya adalah orang asing yang memang memiliki darah Indonesia, entah dari orang tua, kakek, nenek, atau bahkan kakek buyutnya.

Hanya kiper Maarten Paes yang dinaturalisasi meski bukan keturunan orang Indonesia. Namun, sesuai aturan FIFA, ia tetap bisa mewakili Indonesia karena neneknya adalah orang Belanda yang lahir di Kediri, Jawa Timur.

Sebagai catatan, meski memiliki kakek buyut yang lahir di Indonesia, gelandang Marc Klok baru bisa bermain di timnas sejak April 2022 walaupun telah resmi menjadi warga negara Indonesia pada November 2020.

Ini karena FIFA hanya mengizinkan naturalisasi untuk pemain dengan garis keturunan hingga kakek atau nenek, tidak sampai buyut. Mudahnya, garis keturunan Indonesia-nya dianggap terlalu jauh.

Maka, Marc baru bisa mewakili timnas sejak April 2022 setelah ia tinggal selama lima tahun berturut-turut di Indonesia.

Marc Klok menyelesaikan proses naturalisasi menjadi warga negara Indonesia pada 12 November 2020.

Sumber gambar, Persija

Keterangan gambar, Marc Klok menyelesaikan proses naturalisasi menjadi warga negara Indonesia pada 12 November 2020.

Sebanyak 16 dari 17 pemain naturalisasi yang ada sebelumnya berkewarganegaraan Belanda. Ini wajar mengingat banyak keturunan Indonesia di Negara Kincir Angin.

Hanya bek Jordi Amat yang tidak berasal dari Belanda. Sebelumnya, ia adalah warga negara Spanyol.

Tak semua setuju dengan program naturalisasi ini.

Peter Gontha, mantan duta besar Indonesia untuk Polandia, sempat secara terbuka mempertanyakan hal ini.

Melalui unggahan di akun Instagram-nya pada September lalu, Peter mengatakan merasa "malu" melihat banyaknya pemain naturalisasi di timnas sepak bola.

Menurutnya, naturalisasi para pemain tersebut hanya bersifat sementara, dan mereka akan "membuang status WNI" setelah tak lagi bermain untuk Indonesia.

Karena itu, ia bilang lebih baik membina pemain asli Indonesia sejak muda daripada mengandalkan pemain naturalisasi.

Sebelumnya, Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo menegaskan kehadiran pemain naturalisasi tidak membuat pemerintah lupa membina pemain lokal.

Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo.

Sumber gambar, Sekretariat Kabinet

Keterangan gambar, Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo.

"Yang pasti pembinaan lokal kami fokus, tidak akan hilang, memang kami padukan dengan potensi diaspora," kata Dito di sebuah diskusi di Jakarta pada Desember 2023.

"Jadi, prinsipnya secara garis besar komitmen kami bukan kami ingin mematikan pembinaan lokal. Itu sama sekali tidak benar."

Ujian sesungguhnya di kualifikasi Piala Dunia

Sejak jauh hari, Ketua Umum PSSI Erick Thohir telah mengatakan ia berniat menjadikan Piala ASEAN 2024 (dulu disebut Piala AFF) sebagai ajang pembibitan, utamanya demi mempersiapkan pemain muda Indonesia untuk SEA Games 2025 di Thailand.

"Memang SEA Games menjadi target juga buat kita. [Kita mencoba] membentuk tim jangka panjang melalui beberapa event kompetisi, salah satunya AFF," kata Erick pada Juni lalu.

"Kalau ditanya, 'Bagaimana, Pak, kalau nanti negara-negara lain di AFF mengeluarkan tim senior?' Ya tidak apa-apa. Toh selama ini tim senior kita pun mayoritas generasinya di bawah 25 tahun."

Hingga kini, belum keluar aturan resmi soal batas usia pemain sepak bola yang bisa berlaga di SEA Games 2025.

Namun, pada SEA Games 2023 di Kamboja, hanya pemain berusia 22 tahun ke bawah yang bisa ikut serta. Tidak ada kuota pemain senior seperti yang pernah diberikan di sejumlah perhelatan sebelumnya.

Timnas U-22 Indonesia berhasil mendapatkan medali emas pada SEA Games 2023 di Kamboja.

Sumber gambar, PSSI

Keterangan gambar, Timnas U-22 Indonesia berhasil mendapatkan medali emas pada SEA Games 2023 di Kamboja.

Karena itu, dari 24 pemain yang dibawa ke Piala ASEAN 2024, hanya dua yang berusia di atas 21 tahun. Mereka adalah Asnawi Mangkualam dan Pratama Arhan, yang kini masing-masing berumur 25 dan 23 tahun.

Sejumlah pemain langganan timnas senior pun ditinggalkan. Ini termasuk Justin Hubner dan Ivar Jenner, yang tak dilepas klubnya masing-masing karena Piala ASEAN tidak masuk kalender resmi FIFA.

"Kami datang ke sini [Piala ASEAN] juga sebagai persiapan untuk SEA Games dan kualifikasi Piala Asia U-23 tahun depan," kata pelatih Shin Tae-yong (STY) jelang laga pertama Indonesia di Piala ASEAN melawan Myanmar pada Senin (9/12).

"Harapannya, para pemain yang kami bawa bisa mendapatkan banyak pengalaman."

Meski timnas didominasi pemain muda, PSSI menargetkan Indonesia bisa setidaknya lolos ke semifinal Piala ASEAN 2024. Dan, saat itu tak tercapai, kinerja STY jadi sorotan hingga muncul tagar #STYOut dan #STYTanpaDiasporaNol di media sosial X.

Erick sebagai ketua umum PSSI pun mengatakan bakal mengevaluasi posisi STY.

"Kan sejak awal saya sudah bilang di AFF ini kita targetnya berikan yang terbaik," kata Erick setelah kekalahan Indonesia dari Filipina pada Sabtu (21/12).

"Kalau bicara berikan yang terbaik, harusnya dengan pelatih dan pemain ini kita harusnya bisa minimal lolos semifinal Piala AFF. Jadi, di sisi ini tentu PSSI akan lakukan evaluasi."

Ketua umum PSSI Erick Thohir.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ketua umum PSSI Erick Thohir.

Pengamat sepak bola Kesit B. Handoyo menyebut wajar saja bila PSSI melakukan evaluasi setelah timnas gagal mencapai target di Piala ASEAN 2024.

Ia bilang posisi STY masih relatif aman, apalagi mengingat sejak awal PSSI melihat turnamen tersebut sebagai ajang regenerasi dan tidak mematok target tinggi.

Namun, kata Kesit, jadi ada tekanan lebih bagi timnas untuk tampil baik di kualifikasi Piala Dunia 2026, yang disebutnya bakal menjadi ujian sesungguhnya bagi STY.

"Misalnya nanti dia babak belur di kualifikasi Piala Dunia, itu mungkin lebih pas untuk mengevaluasi STY," ujar Kesit.

Ronny Pangemanan, pengamat sepak bola lainnya, menyampaikan hal senada.

Menurutnya, penentuan nasib STY ada di laga Indonesia melawan Australia di lanjutan putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 pada 20 Maret mendatang.

"Lawan Australia, penentuannya di situ. Kalau memang kita dapat hasil positif, imbang, apalagi kita menang, ya STY terus saja. Tapi kalau kita kalah, PSSI harus mengevaluasi lagi dan menentukan sikap," kata Ronny.

Shin Tae-yong, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.

Sumber gambar, PSSI

Keterangan gambar, Shin Tae-yong, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.

Setelah lima tahun STY menjadi pelatih, Ronny menilai pertumbuhan timnas belakangan mulai stagnan. Karena itu, ia bilang bisa jadi Indonesia membutuhkan pelatih baru yang bisa membawa timnas ke level selanjutnya.

Namun, bila ingin merekrut pelatih baru, Indonesia disebut mesti mencari sosok yang secara reputasi dan kemampuan memang jauh lebih baik dari STY, bukan yang kurang lebih setara.

"Standar pelatih baru jangan di bawah STY," kata Ronny.

Salah satu opsinya, kata Ronny, adalah mencari pelatih asal Belanda dengan pemahaman taktik lebih mumpuni serta kemampuan berbahasa Belanda dan Inggris yang baik.

Ini disebut bakal memudahkan komunikasi pelatih dengan skuad timnas, yang kini banyak diisi pemain naturalisasi asal Belanda.

Selama ini, kata Ronny, STY kerap terkendala masalah komunikasi karena tidak fasih berbahasa Inggris dan, meski telah melatih timnas Indonesia lima tahun, tak kunjung menguasai bahasa Indonesia.

Shin Tae-yong, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.

Sumber gambar, PSSI

Keterangan gambar, Shin Tae-yong, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.

Selain itu, Ronny dan Kesit sama-sama mengkritisi kebiasaan STY yang terlalu sering bongkar pasang susunan pemain timnas dari satu laga ke laga lainnya.

Menurut Kesit, perlu ada kerangka tim yang pasti agar para pemain bisa membangun chemistry dan rasa percaya diri dengan baik.

"Kalau hasilnya positif oke ya, tapi kan lebih banyak negatifnya daripada positifnya ketika perombakan itu dilakukan dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya. Ini yang menurut saya jadi kebiasaan buruk Shin Tae-yong," kata Kesit.

Kesit bilang terlalu berisiko bila hal tersebut terus dilakukan, apalagi di kualifikasi Piala Dunia.

Saat ini, Indonesia disebut memiliki momentum untuk maju ke Piala Dunia 2026, apalagi setelah keberhasilan mengalahkan Arab Saudi 2-0 pada November lalu.

Namun, hasil buruk di laga-laga kualifikasi berikutnya bisa membawa tekanan besar bagi STY, apalagi mengingat ekspektasi tinggi para pendukung timnas.

'Jangan ganggu Shin Tae-yong'

Unggul Indra, presiden perkumpulan suporter timnas La Grande Indonesia, masih menaruh harapan besar pada pelatih Shin Tae-yong (STY).

"Kalau dari La Grande sih sikapnya, 'Jangan ganggu Shin Tae-yong. Jangan ganggu timnas kami.' Karena kami masih percaya, masih kasih kesempatan ke pelatih," kata Unggul.

Menurutnya, kegagalan timnas lolos ke semifinal Piala ASEAN 2024 seakan membuat sejumlah pihak lupa akan berbagai prestasi STY lima tahun terakhir.

Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia berhasil menjadi runner-up di Piala AFF 2020 dan Piala AFF U-23 2023, meraih medali perunggu di SEA Games 2021, masuk babak 16 besar Piala Asia 2023 dan putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 (pertama dalam sejarah), serta nyaris lolos ke Olimpiade Paris 2024.

Unggul bilang wajar bila banyak orang punya ekspektasi tinggi terhadap timnas, tapi ia mengingatkan bahwa proses butuh waktu dan Indonesia bisa mencapai titik ini sekarang pun berkat STY.

Shin Tae-yong, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.

Sumber gambar, PSSI

Keterangan gambar, Shin Tae-yong, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.

"Ekspektasi sih wajar-wajar saja. Semua orang juga inginnya langsung juara. Tapi, kembali lagi, problemnya ini butuh waktu yang lama," kata Unggul.

"Sampai skuad ini ngeklik dan punya kedalaman materi yang baik, butuh tiga sampai lima tahun lah baru kelihatan."

Karena itu, Unggul mengatakan publik mesti bersabar dan menjaga ekspektasi, tidak mudah bereaksi negatif saat ada satu hasil buruk.

Saat ini, menurutnya, alih-alih mengkritisi STY, publik justru harus mendorong PSSI untuk bergerak lebih jauh mengembangkan sepak bola Indonesia, tak sekadar gencar merekrut pemain diaspora yang disebut hanya solusi jangka pendek.

"Tinggal kita tuntut untuk program jangka panjangnya, seperti perbaikan liga, liga perempuan, pembinaan usia dini, dan segala macamnya. Itu sih yang harusnya lebih kita tuntut lagi ke federasi," kata Unggul.