Israel ‘mengincar staf bantuan kemanusiaan’, berapa banyak bantuan masuk ke Gaza dan bagaimana caranya?

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Jemma Crew
- Peranan, BBC News
Cara tercepat dan paling efektif untuk menyalurkan bantuan ke Gaza adalah melalui jalur darat. Namun kedatangan truk melalui dua pintu perbatasan di selatan Gaza sejauh ini belum dapat memenuhi kebutuhan pangan warga di wilayah tersebut.
Warga Gaza menghadapi kekurangan pangan yang parah. Pada saat yang sama PBB mengatakan bahwa anak-anak di Gaza utara nyaris mati kelaparan dan bencana kelaparan akan segera terjadi.
Baru-baru ini serangan udara Israel yang mematikan dituduh mengincar salah satu lembaga bantuan pangan, yaitu World Central Kitchen. Akibatnya, lembaga tersebut beserta sejumlah badan bantuan lainnya berhenti beroperasi.
Pendiri World Central Kitchen, Jose Andres, menuding pasukan Israel di Gaza sengaja menargetkan relawan bantuan kemanusiaan "secara sistematis, mobil demi mobil".
Cogat, lembaga Israel yang mengoordinasikan bantuan kemanusiaan ke Gaza, menyebut pada 1 April lalu bahwa rata-rata terdapat 140 truk yang membawa makanan ke Gaza setiap hari. Menurut mereka, sebelum eskalasi serangan Israel meningkat, biasanya terdapat 70 truk berisi makanan memasuki Gaza.
Namun operasi militer dan rusaknya tatanan sosial di Gaza kini sangat menghambat distribusi bantuan. Pada saat yang sama, tak ada lagi produksi pangan di Gaza: lahan pertanian, toko roti, dan pabrik hancur atau tidak dapat diakses.
Israel juga melarang badan pengungsi Palestina, UNRWA, memberikan bantuan ke Gaza utara. Alasannya, mereka menuduh beberapa staf UNRWA ikut serta dalam serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023 ke Israel.
Cogat menyatakan, Israel akan bekerja sama dengan organisasi yang mereka anggap "tidak terlibat dalam teror".
Semua wilayah Gaza sekarang berada dalam pemeriksaan keamanan ketat Israel. Prosedur ini diklaim Israel untuk mencegah logistik apa pun yang dapat digunakan oleh Hamas.
Namun lembaga bantuan kemanusiaan mengatakan kebijakan Israel itu rumit, sewenang-wenang dan memicu penundaan pengiriman secara masif.
Karena jalur darat tak mampu menyediakan akses bantuan pangan, banyak negara mencoba jalur alternatif yaitu melalui jalur udara dan laut. Namun jalur ini juga dilanda masalah.
Udara
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Amerika Serikat, Yordania, Mesir, Prancis, Belanda dan Belgia termasuk di antara negara-negara yang telah memberikan bantuan ke Gaza ketika kekhawatiran terjadinya kelaparan meningkat.
Pada akhir Februari, empat ton obat-obatan, bahan bakar, dan makanan untuk pasien dan staf di Rumah Sakit Tal al-Hawa di Gaza dijatuhkan dari udara. Bantuan tersebut didanai oleh Inggris dan dijatuhkan melalui udara oleh Angkatan Udara Yordania.
Bantuan pertama yang diberikan oleh AS pada 3 Maret lalu – yang disalurkan secara bersama-sama dengan Yordania – diklaim berisi sekitar 38.000 porsi makanan.
Baca juga:
Pada 2 April lalu, Komando Pusat AS (Centcom), membuat klaim telah mengirimkan lebih dari 50.000 makanan ke Gaza utara. Mereka berkata, bantuan itu "memungkinkan warga mengakses bantuan penting".
Namun setidaknya 20 warga Palestina dilaporkan tewas dalam proses penyaluran bantuan itu. Lima korban tewas karena tertimpa peti bantuan yang gagal mendarat karena kerusakan parasut.
Korban lainnya kehilangan nyawa setelah secara putus asa berupaya mengambil peti bantuan yang jatuh di laut. Mereka tenggelam dan tak tertolong.

Sumber gambar, EPA
Sementara itu, sejumlah lembaga bantuan kemanusiaan menyebut bantuan udara tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan 2,3 juta warga Gaza.
Lembaga Program Pangan Dunia (WFP) sebelumnya menyebut distribusi udara sebagai “upaya terakhir” yang tidak akan mencegah bencana kelaparan di Gaza. Sulit untuk memastikan paket bantuan itu diterima oleh pihak yang paling membutuhkan.
Centcom mengatakan belum menyelisik korban warga sipil atau kerusakan infrastruktur akibat distribusi bantuan melalui udara. Namun mereka membuat klaim tengah memantau situasi di lapangan.

Laut
Dari dua skema pengiriman makanan dan bantuan lainnya ke Gaza melalui laut, hanya satu jalur yang mulai digunakan. Namun jalur itu pun sekarang dihentikan karena militer Israel menyerang lembaga bantuan yang sedang menurunkan dan mendistribusikan bantuan.
Maret lalu, kapal pengangkut bantuan pertama yang mencapai Gaza berdasarkan skema tersebut berasal dari Uni Eropa, Inggris, AS dan Uni Emirat Arab.
Kapal-kapal itu tiba dari Siprus – negara Uni Eropa yang terdekat dengan Gaza. Kapal tersebut membawa sekitar 200 ton makanan yang disediakan oleh badan amal yang berbasis AS, World Central Kitchen (WCK).
Menurut WCK, pengiriman bantuan berisi beras, tepung, lentil, kacang-kacangan, tuna kaleng, daging sapi, dan ayam berisi makanan terdiri dari hampir setengah juta porsi makanan.
Pada akhir Maret, pimpinan WCK, Jose Andres, mengatakan bahwa 67 dapur WCK beroperasi di Gaza dan dapat memberi makan untuk sekitar 350 ribu orang setiap hari.
Namun WCK dan lembaga lain yang berbasis di AS, Anera, telah menghentikan operasi mereka. Bantuan lewat laut yang sedang dalam perjalanan dari Siprus telah kembali ke pelabuhan awal mereka.
Sementara itu, militer AS membuat klaim tengah menyiapkan operasi bantuan melalui kapal angkatan laut AS. Kapal yang membawa material untuk membangun dermaga terapung itu sedang dalam perjalanan.
Proyek membangun dermaga itu dilakukan untuk memudahkan kapal kargo besar berisi bantuan untuk bersandar.
Baca juga:

Sumber gambar, Getty Images
Menurut Kementerian Pertahanan AS, hal ini berarti dua juta makanan sehari bisa masuk ke Gaza, lebih banyak dibandingkan yang bisa dilakukan saat ini melalui perbatasan Rafah dengan Mesir atau melalui pengiriman udara.
Namun pembangunan dermaga itu diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Rabu lalu, Gedung Putih mengatakan masih membahas upaya maritim untuk mengirimkan bantuan ke Gaza.
Maret lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Matthew Miller, mengatakan opsi penyaluran bantuan melalui laut sedang mereka jajaki karena opsi lain tidak memungkinkan. Namun dia mengatakan jalur darat sebenarnya tidak bisa tergantikan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Inggris, David Cameron, mendesak Israel membuka pelabuhan perairan dalam di Ashdod, 40 kilometer dari Gaza utara.
Pelabuhan ini adalah lokasi yang selama ini menampung bantuan yang dikirim dari Siprus, sebelum disalurkan ke Gaza.
Jalur darat
Israel mendapat tekanan dari negara sekutu mereka untuk memperluas pengiriman bantuan melalui jalan darat, memfasilitasi lebih banyak rute dan membuka penyeberangan tambahan.
Maret lalu, Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menyebut terdapat persediaan makanan dalam jumlah besar yang menunggu untuk dikirim ke Gaza.
Namun Wong berkata, tidak ada cara untuk memindahkannya melintasi perbatasan ke Gaza atau mengirimkannya dalam skala besar tanpa kerja sama Israel.
"Kami mohon Israel mengizinkan pengiriman lebih banyak bantuan ke Gaza sekarang," kata Wong saat itu.
Israel membantah menghalangi masuknya bantuan ke Gaza dan menuduh organisasi kemanusiaan gagal mendistribusikannya.
Baca juga:
Konvoi bantuan pertama ke Gaza yang terdiri dari 20 truk berisi bantuan dari PBB dan Bulan Sabit Merah Mesir masuk pada 21 Oktober lalu melalui pintu perbatasan Rafah di perbatasan dengan Mesir.
Itu adalah dua pekan setelah Hamas menyerang Israel selatan, yang selalu diklaim Israel memicu operasi militer besar-besaran mereka.
Tiga dari 20 truk itu yang membawa 60 ton makanan seperti tuna kalengan, tepung terigu, pasta, kacang kalengan, dan pasta tomat kalengan.
Pada November, Organisasi Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan hanya 10% pasokan makanan yang dibutuhkan warga yang masuk ke Gaza sejak dimulainya operasi militer Israel.

Sumber gambar, Getty Images
Sekitar 750 ton bantuan pangan tiba pada 20 Desember tahun lalu, melalui jalur darat dari Yordania, melintasi Israel dan penyeberangan Kerem Shalom sebelum masuk ke Gaza selatan untuk pertama kalinya.
Konvoi WFP terdiri dari 46 truk. Pengiriman kedua sebanyak 315 ton dilakukan pada Januari 2024.
Secara total pada bulan Januari, WFP mengatakan mereka hanya berhasil mengirimkan empat konvoi truk bantuan ke Gaza. Sekitar 35 truk berisi makanan itu diklaim cukup untuk hampir 130 ribu orang.
Bulan lalu PBB mengatakan jalur darat baru telah digunakan untuk mengirimkan makanan ke Gaza utara untuk pertama kalinya dalam periode tiga minggu terakhir.
Militer Israel mengatakan, enam truk dari Organisasi Program Pangan Dunia menyeberang melalui gerbang di pagar perbatasan Gaza. Pengiriman tersebut merupakan “bagian dari upaya untuk mencegah Hamas mengambil alih bantuan tersebut”, tuduh Israel.
Konvoi itu membawa makanan yang cukup untuk 25 ribu orang, berupa 88 ton paket makanan dan tepung terigu dalam enam truk. Ini adalah pengiriman pertama PBB ke wilayah Gaza dalam tiga minggu, setelah WFP menghentikan pengiriman “sampai kondisi tersedia yang memungkinkan distribusi yang aman”.
Beberapa konvoi lainnya telah mencapai Gaza utara, tapi kedatangan mereka diwarnai kekerasan yang mematikan.
Baca juga:
Pada tanggal 29 Februari lalu, lebih dari 100 orang dilaporkan tewas ketika konvoi tiba di Jalan al-Rashid di Kota Gaza. Warga Palestina menuduh Israel menembak mati orang-orang di konvoi tersebut.
Israel awalnya membuat klaim bahwa sebagian besar korban tewas karena terinjak atau tertabrak konvoi. Belakangan dikatakan bahwa tentara telah menembaki apa yang mereka sebut sebagai “tersangka”, yang mereka anggap sebagai ancaman.
Ada juga laporan rutin mengenai penembakan terhadap warga Palestina yang menunggu bantuan tiba di titik distribusi lain yang diketahui, yaitu bundaran Kuwait di jalan Salah al-Din di Kota Gaza.
Pada pertengahan Maret lalu, Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mengatakan Israel telah membunuh 20 orang yang tengah menunggu bantuan. Israel membantah terlibat dan menuduh warga Palestina bersenjata menembaki massa.
Persediaan lain selain bantuan makanan juga dikirim ke wilayah tersebut. Inggris telah mengirimkan bantuan ke Mesir untuk Gaza termasuk 74 ton paket perawatan luka, tenda, selimut dan peralatan pengiriman bantuan seperti truk, 87 ton selimut termal, paket penampungan dan pasokan medis, serta 17 ton tenda ukuran keluarga.
Namun hal ini juga dipengaruhi oleh pemeriksaan keamanan Israel yang ketat, menurut sejumlah organisasi internasional.
Pada bulan Januari, WFP mengatakan “generator, kruk, perlengkapan rumah sakit lapangan, tangki air tiup, kotak kayu berisi mainan anak-anak dan, mungkin yang paling menyedihkan, 600 tangki oksigen” semuanya telah ditolak untuk masuk ke Gaza oleh otoritas Israel.
Israel tuduh incar relawan WCK 'mobil demi mobil'
Pendiri World Central Kitchen (WCK), Jose Andres, menuduh pasukan Israel di Gaza sengaja mengincar relawan bantuan kemanusiaan "secara sistematis, mobil demi mobil".
Serangan pada Senin lalu yang menewaskan tujuh anggota stafnya bukanlah sebuah kesalahan, katanya, seraya mengulangi bahwa pasukan Israel telah diberitahu tentang gerakan mereka.
Pekerja WCK dari Australia, Kanada, Polandia, Inggris, dan AS, serta rekan-rekan mereka dari Palestina, tewas.
Israel mengatakan serangan itu adalah "kesalahan besar" dan telah meminta maaf.
Mereka juga menjanjikan penyelidikan independen.
Menurut badan amal tersebut, konvoi bantuan tersebut diserang ketika meninggalkan gudang Deir al-Balah. Di situ lah tempat tim tersebut menurunkan lebih dari 100 ton bantuan makanan kemanusiaan yang dibawa ke Gaza melalui jalur maritim.
Konvoi tersebut terdiri dari tiga kendaraan, termasuk dua kendaraan lapis baja, yang dengan jelas menampilkan logo badan amal tersebut. Ketiganya terkena serangan udara Israel.
Kepada kantor berita Reuters, Jose Andres, seorang koki keturunan Spanyol-Amerika, menyebut peristiwa tersebut bukanlah "situasi naas di mana Israel menjatuhkan bom di tempat yang salah".
Dalam wawancara terpisah dengan media Israel Channel 12, Andres mengatakan kejadian itu benar-benar serangan langsung terhadap kendaraan yang diberi tanda jelas, yang pergerakannya diketahui oleh semua orang di Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Sumber gambar, WCK
Jenazah enam pekerja WCK yang tewas telah dibawa dari Gaza ke Mesir untuk dipulangkan.
Adapun, satu pekerja lain asal Palestina dimakamkan di kampung halamannya di Rafah, Gaza selatan, pada hari Selasa (03/04) lalu.
Bantuan kemanusiaan pada hari-hari mendatang ke Jalur Gaza diprediksi tidak akan dikirimkan karena WCK, sebagai penyedia utama bantuan ke wilayah tersebut, berhenti beroperasi.
PBB mengumumkan pihaknya menghentikan pergerakan pada malam hari setidaknya selama 48 jam untuk mengevaluasi situasi keamanan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, membuat klaim bahwa serangan itu tidak disengaja.
“Hal ini terjadi dalam perang, kami memeriksanya sampai akhir, kami berhubungan dengan pemerintah, dan kami akan melakukan segalanya agar hal ini tidak terjadi lagi,” kata Netanyahu.
Kepala Staf Umum IDF, Herzi Halevi, menyebut insiden itu sebagai kesalahan besar dan hal itu seharusnya tidak terjadi. Dia membuat klaim serangan tersebut terjadi karena kesalahan identifikasi.
Presiden AS Joe Biden mengutuk serangan tersebut dan menuduh Israel tidak berbuat cukup untuk melindungi pekerja bantuan.
“AS telah berulang kali mendesak Israel untuk meredakan konflik operasi militer mereka melawan Hamas dengan operasi kemanusiaan, untuk menghindari korban sipil,” kata Biden.

Sumber gambar, EPA
Tiga dari pekerja bantuan yang terbunuh adalah warga negara Inggris. Seorang warga negara Polandia, seorang Australia, seorang Palestina dan seorang warga negara ganda AS-Kanada juga tewas.
Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak berbicara dengan Netanyahu pada hari Selasa. Dalam panggilan telepon tersebut, ia menggambarkan situasi di Gaza semakin tidak dapat ditoleransi.
Sunak disebut menuntut penyelidikan independen yang menyeluruh dan transparan atas pembunuhan para pekerja bantuan tersebut.
Sunak disebut juga meminta Israel mengakhiri pembatasan bantuan kemanusiaan dan melindungi warga sipil.
Reaksi global lain terhadap pembunuhan pekerja WCK
- Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan dia telah "mengungkapkan kemarahan dan kekhawatiran Australia" dalam percakapan telepon yang panjang dengan Netanyahu. Dia mengharapkan "penjelasan yang lengkap dan tepat mengenai bagaimana hal ini bisa terjadi".
- Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski mengatakan telah menuntut penyelidikan independen dari Israel Katz, mitranya dari Israel.
- Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan “akuntabilitas penuh” diperlukan, dan menambahkan bahwa “sangat tidak dapat diterima jika pekerja bantuan dibunuh” oleh IDF.
Empat hari yang lalu, WCK mengatakan bahwa mereka telah mendistribusikan 42 juta makanan di Jalur Gaza – mengirimkan lebih dari 1.700 truk makanan dan juga mengirimkan hampir 435.000 makanan melalui laut.
Menurut Cogat, badan kementerian pertahanan Israel yang bertanggung jawab atas kebijakan sipil di Palestina, WCK mendistribusikan 60% bantuan non-pemerintah yang masuk ke wilayah tersebut.
Badan amal kedua, American Near East Refugee Aid (Anera), yang bekerja sama dengan WCK, mengatakan kepada BBC bahwa mereka juga membekukan operasinya di Gaza.
Lebih dari 196 pekerja bantuan telah terbunuh di Gaza sejak Oktober lalu, menurut Database Keamanan Pekerja Bantuan yang didanai AS. Lembaga itu mencatat insiden kekerasan besar terhadap petugas bantuan. Tidak semua terbunuh saat menjalankan tugas.












