Kapal wisata tenggelam di Labuan Bajo – Jenazah warga Spanyol ditemukan, satu orang masih dicari

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Gecio Viana
- Penulis, Silvano Hajid
- Peranan, Wartawan BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 12 menit
Tim SAR gabungan kembali menemukan satu jenazah warga negara Spanyol yang menjadi korban tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Labuan Bajo, NTT, Selasa (06/01) siang.
Dengan demikian, tinggal satu orang warga negara Spanyol yang masih dalam pencarian.
Sampai berita ini dinaikkan, belum dapat dipastikan identitas jenazah tersebut. Otoritas terkait masih melakukan identifikasi.
Tim SAR gabungan mengaku, sekitar pukul 14.30 Wita, menerima informasi dari nelayan setempat bahwa mereka menemukan bangkai kapal KM Putri Sakinah di perairan Labuan Bajo.
"Yang didalamnya terdapat satu orang korban dalam keadaan meninggal dunia," kata Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, kepada wartawan, Selasa (06/01) sore.
Sebelumnya, Tim SAR telah menemukan satu jenazah warga negara Spanyol, yaitu Fernando Martin Carreras, Minggu (04/01) pagi.
Fernando adalah pelatih tim B sepak bola perempuan Valencia CF.
Kapal wisata KM. Putri Sakina tenggelam di perairan Pulau Padar di Labuan Bajo, NTT, Jumat (26/12) malam.

Sumber gambar, Basarnas
Kapal ini mengangkut 11 penumpang, yang terdiri empat ABK dan tujuh penumpang.
Dari tujuh penumpang ada enam warga negara Spanyol dan satu pemandu wisata WNI.
Insiden ini menelan tiga korban jiwa, dan satu masih dalam pencarian.
Jenazah pelatih klub sepak bola Valencia ditemukan
Sebelumnya, kepolisian mengkonfirmasi satu jenazah korban tenggelamnya kapal wisata KM. Putri Sakinah yang ditemukan pada Minggu pagi (04/01) adalah pelatih tim B sepak bola perempuan Valencia CF, Fernando Martin Carreras.
"Iya benar, berdasarkan hasil identifikasi dan keterangan dari Kapolres Manggarai Barat, korban yang ditemukan Minggu pagi adalah FMC," kata Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Henry Novika Chandra.
Dia menambahkan proses identifikasi dilakukan tim gabungan dari Biddokkes Polda NTT dan RSUD Komodo Labuan Bajo.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere, Fathur Rahman menjelaskan korban ditemukan sekitar 1,13 mil laut atau dua kilometer dari titik duga kapal tenggelam.
"[Ditemukan] 1,13 nautical mile dari lokasi titik duga kapal itu tenggelam," katanya.

Sumber gambar, Dok. Basarnas
Dari temuan satu jenazah korban tersebut maka proses pencarian akan terus dilakukan terhadap dua korban yang masih dinyatakan hilang.
"Rencana [diperpanjang operasi SAR] begitu ada tanda-tanda ini ditemukan operasi SAR kita perpanjang kembali," kata Fatur Rahman. Pencarian diperpanjang tujuh hari ke depan.
Jejak sinyal ponsel
Kecelakaan kapal pinisi KM Putri Sakinah di perairan Labuan Bajo, NTT, disebut keluarga korban sebagai "duka yang tak terlukiskan". Pencarian hingga kini terus dilakukan.
Kabar terbaru, sinyal ponsel milik salah seorang korban ditemukan pada 26 dan 28 Desember 2025.
Informasi terkait penemuan sinyal ini dikatakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Usaha Wisata Tirta Dan Bahari Indonesia (Gahawisri), Budi Widjaja.
Budi berkata, tim pencari mengunakan teknologi sonar karena sinyal ponsel milik pelatih klub sepak bola putri Valencia B bernama Fernando Martin itu "berpindah-pindah".

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Gecio Viana
Menurut Budi, sinyal itu bergerak di sekitar utara dan selatan Pulau Padar, Batu Tiga, Taka Makasar dan sampai mendekati Nusa Kode.
“Tadi malam informasi dari Interpol, pihak kerabat keluarga itu ada yang mengirimkan pesan SMS atau semacam WhatsApp ke handphone korban di hari setelah kejadian," ujar Budi seperti dilaporkan Arnold Wellianto, wartawan di NTT.
Bagaimana perkembangan pencarian korban?
Pencarian masih terus dilakukan satu pekan setelah Kapal Motor Putri Sakinah tenggelam, 26 Desember lalu. Fernando Martin dan dua anaknya, yang menumpang kapal itu, hilang setelah insiden tersebut.
Wakil Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Fernando Burgos Sainz, bersama perwakilan keluarga turut mencari ketiganya di Labuan Bajo, Jumat (02/01).
Selain Burgos Sainz, sejumlah pejabat dari kepolisian, kesyahbandaran, termasuk Budi Widjaja dari Gahawisri turut mengikuti operasi pencarian itu.

Sumber gambar, Basarnas Maumere
Budi berkata, pihak keluarga Fernando Martin meminta untuk ikut tim SAR sejak hari pertama pencarian. Namun Gahawisri tidak menyanggupi permintaan itu karena faktor psikis keluarga.
Baru Jumat ini, kata Budi, pihak keluarga dipersilakan naik ke kapal pencari, bersama perwakilan Kedutaan Besar Spanyol.
Dalam pencarian Jumat ini, tim SAR memberi penjelasan terkait strategi pencarian kepada perwakilan keluarga korban dan Kedutaan Besar Spanyol.
Salah satu siasat itu, kata Budi, adalah penggunaan teknologi tiga Sonar pada pencarian hari ke-8 ini. Multi Beam-sonar yang digunakan diklaim Budi menembus kedalaman hingga 180 meter.
"Kami juga memberikan kesempatan kepada keluarga untuk pertama kalinya di base camp pencarian yang ada di Padar Utara," kata Budi.
Sinyal ponsel disebut sempat terdeteksi
Rombongan keluarga dan Kedutaan Besar Spanyol, Jumat tadi, sempat menghampiri sejumlah kapal yang menggunakan sonar.
Budi berkata, penggunaan teknologi sonar ini diterapkan karena sinyal ponsel milik pelatih Valencia, Fernando Martin, sempat terdeteksi meski titiknya berpindah-pindah.
Budi mengklaim mendapat informasi terkait sinyal ponsel ini dari keluarga yang berupaya menghubungi korban dan juga dari keterangan Interpol.
"Karena itu handphone dari luar negeri, jadi kami minta bantuan Interpol dan kami tadi malam mendapatkan data titik koordinat di mana sinyal handphone itu setelah kejadian," ujar Budi.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Gecio Viana
Setelah mendapati sinyal ponsel milik Fernando, keluarga kemudian berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi Digital (Komdigi) melalui Kementerian Luar Negeri.
"Nah, dari Komdigi tadi malam juga mengirim koordinatnya di mana sinyal itu ditemukan di tanggal 26 dan 28. Tapi sinyal itu bukan sinyal yang presisi dalam artian ada di kisaran," tutur Budi.
Ia menuturkan pencarian diarahkan kepada dua titik pencarian saat ini berdasarkan dari pinpoint di mana ada menara telepon yang terdekat.
“Sonar multi-beam yang bisa mencapai dengan 180 meter baru kami kerahkan. Untuk yang di utara, sementara masih menggunakan satu sonar," kata Budi.
Apa yang diketahui sebelumnya?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Pegiat pariwisata Labuan Bajo menyebut insiden kapal tenggelam ini menandakan "benang kusut ekosistem industri". Tanpa perbaikan sistem, salah satu destinasi prioritas pariwisata Indonesia itu dapat terpuruk.
KM Putri Sakinah tenggelam di perairan Pulau Padar pada Jumat malam (26/12).
Kapal itu mengangkut 11 orang, lima di antaranya merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang terdiri dari kapten kapal, pemandu wisata dan anak buah kapal.
Enam penumpang lainnya warga negara Spanyol: Fernando Martin Carreras bersama istri dan empat anaknya. Fernando adalah pelatih Tim B Putri klub Liga Spanyol Valencia.
Istri dan satu anaknya selamat, tetapi Fernando dan tiga anak mereka yang lain dinyatakan hilang.
Namun, Senin pagi (29/12) tim SAR gabungan menemukan satu jenazah perempuan di perairan utara pulau Serai, Labuan Bajo, berdasarkan laporan nelayan setempat.
Pihak keluarga korban telah mengonfirmasi kematian salah satu dari tiga anggota keluarga lainnya yang masih hilang.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Gecio Viana
Koordinator pendamping keluarga korban, Budi Widjaja mengatakan, kondisi psikis keluarga korban dikatakan "naik turun".
"Tadi pagi sempat 'turun' ketika jasad putrinya ditemukan, tak lama [kondisi psikisnya] mulai stabil, terlihat bisa menerima, dan berharap untuk bisa segera menemukan tiga keluarga lain yang belum ditemukan," kata Budi yang juga ketua DPC Gabungan Wisata Bahari dan Tirta Indonesia (Gahawisri).
Dalam pernyataan tertulisnya, keluarga korban menyatakan:
"Di saat duka yang tak terlukiskan ini, kami meminta Anda untuk menghormati privasi keluarga kami. Kami bersyukur atas semua dukungan yang kami terima, baik di Spanyol maupun Indonesia, dan kami percaya bahwa pencarian akan terus berlanjut."
Terlebih, pada hari keempat pencarian, polisi mengungkap telah mendatangkan drone bawah air sebagai upaya lanjutan agar korban bisa cepat ditemukan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Gecio Viana
Kabar itu pun sampai ke keluarga korban. "Pada saat saya dapat informasi itu dan sudah terkonfirmasi, saya segera memberi tahu keluarga korban, mereka antusias dan semangat bisa menemukan keluarganya yang hilang."
Dalam pernyataan tertulisnya, keluarga korban juga berkata, "Kami tidak akan kembali ke Spanyol tanpa mereka berempat bersama-sama."
"Ini bukan soal pencarian saja. Pihak keluarga membutuhkan closure, atau penutupan dari cerita ini," kata Budi, yang setidaknya kerap mendampingi keluarga korban dalam insiden perahu karam dalam 30 tahun terakhir.
Sebanyak 79 petugas dari Basarnas, lima penyelam, belum lagi polisi dan satuan lainnya, ikut berperan dalam pencarian korban.
Pada Minggu (28/12), Kapal Negara (KN) SAR Puntadewa 250 datang. Kapal itu memiliki kemampuan melakukan pencarian di laut terbuka.
Baca juga:
Dalam operasi pencarian, Tim SAR Gabungan menghadapi tantangan karakter perairan di sekitar Pulau Padar yang dikenal memiliki arus laut kuat dan berubah-ubah.
"Arus sangat kuat sehingga menyulitkan tim melakukan pencarian di bawah laut, sementara di atas permukaan ada anomali perubahan cuaca," kata Kepala Kantor SAR Maumere sekaligus koordinator misi pencarian, Fathur Rahman.
Perairan ini merupakan jalur pertemuan arus dari Laut Flores dan Selat Sape, sehingga pergerakan arus dapat membawa objek terapung menjauh dari lokasi awal kejadian.
Karakter perairan tersebut membuat area pencarian terus diperluas. Tidak hanya di sekitar titik tenggelamnya KM Putri Sakinah, tetapi juga mengikuti pola arus permukaan yang berpotensi membawa korban ke arah utara dan barat perairan Labuan Bajo.
Selain arus, kontur perairan yang terbuka serta banyaknya pulau kecil di kawasan Taman Nasional Komodo turut memengaruhi pola pencarian.
Meski demikian, operasi pencarian korban warga negara Spanyol itu masih berlanjut.

Sumber gambar, Arnold Wellianto
Bagaimana cuaca Labuan Bajo di hari petaka?
Pada Jumat pagi (26/12), menurut Budi Widjaja, kondisi cuaca bagus. Sekitar 188 kapal melintas dari Pelabuhan Labuan Bajo.
Namun, sebelumnya sudah ada peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang potensi badai di selatan yang bisa terjadi.
Hingga sore harinya, sekitar pukul 15.30 WITA, seorang pegiat lingkungan lokal, Stefan Rafael, melihat ke arah Taman Nasional Komodo dari dek rumahnya di sebuah kapung nelayan, Labuan Bajo.
"Sekitar kawasan Taman Nasional Komodo gelap, awan tebal kelabu terlihat dari kejauhan di bagian selatan Komodo," ungkap Rafael.
Meski demikian, menurut Budi Widjaja, cuaca yang terlihat di Labuan Bajo tak dapat menggambarkan cuaca di lokasi kejadian, pun dengan perbedaan jam pasang surut.
Stefan yang juga kerap melaut untuk mencari ikan, menggambarkan fenomena kala-kala yang mungkin terjadi.
"Ketika badai besar datang, bisa terjadi saat musim angin tenggara (Juli dan Agustus) juga pada musim angin barat (Desember dan Januari) setiap tahun. Arus dan gelombang deras pada kedua musim angin itu dapat menimbulkan kala-kala atau badai di laut dan selat yang sempit dan dangkal," jelas Stefan.
Setidaknya dalam dua tahun terakhir, terdapat delapan kecelakaan kapal di sejumlah lokasi di sekitar Labuan Bajo.
Menurut otoritas setempat, pada kecelakaan terakhir 26 Desember lalu, KM Putri Sakinah yang membawa 11 orang berangkat dari Pelabuhan Labuan Bajo sekitar pukul 12.00 WITA.
"Kapal dinyatakan layak melaut dan cuaca cerah berawan. Rilis BMKG pun menyatakan cuaca cerah berawan, hanya anomali cuaca yang berlangsung singkat," kata Stephanus Risdiyanto, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo.
Otoritas setepat mengklaim, kapal sempat singgah di Pulau Kalong dan meninggalkan pulau itu pada 20.30 WITA, menuju Pulau Padar.
Saat itu ada dua gelombang tinggi datang menghantam.
"Anomali cuaca yang berlangsung dalam periode yang singkat itu membuat kapal tenggelam."

Sumber gambar, Stefan Rafael
Dalam perjalanan menuju lokasi kecelakaan, tim penyelamat juga sempat dihantam gelombang tinggi sebanyak empat kali.
Menurut Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, jelang sore hingga malam cuaca laut cenderung ekstrem.
"Angin bertiup lebih kencang daripada siang hari, juga ada bangkitan gelombang tinggi," tambah Eko.
Pihak BMKG telah memberikan peringatan dini, soal potensi cuaca ekstrem pada 25 Desember.
Sebelumnya, menurut KSOP Labuan Bajo sudah ada Notice to Mariner dari 22 - 28 Desember, berupa imbauan agar lebih waspada dan menghindari area-area yang berbahaya untuk berlayar.
Namun, usai peristiwa kecelakaan itu, pada 26 Desember, terbitlah Notice to Mariner baru, yang menutup sementara pelayaran ke Pulau Padar dan Pulau Komodo sampai batas waktu yang tak ditentukan.
"Terutama pada saat pencarian korban," ungkap Stephanus.

Sumber gambar, KSOP Labuan Bajo
Sementara itu, menurut Budi, peringatan dini itu sudah diketahui oleh para pelaut.
"Kami sebagai pelaut ketika diberi peringatan itu, berarti harus lebih waspada dan harus berlindung ketika cuaca memburuk, tetapi cuaca juga selalu berubah-ubah." ungkapnya.
Dia menambahkan, tak ada jaminan saat melaut akan ada potensi badai yang diprediksi BMKG akan terjadi di suatu wilayah.
"Kenapa? Karena sensor BMKG tidak detil, untuk sensor pasang surut saja di wilayah perairan Komodo hanya ada dua titik, sensor untuk mengukur kekuatan arus tidak ada," jelas Budi.
Termasuk untuk melihat area-area berbahaya yang memiliki fenomena alam seperti kala-kala.
Jika saja sensornya banyak, menurut Budi, data-data seperti kala-kala itu bisa lebih akurat diketahui para pelaut.
"Jika tidak berlayar, tidak ada pemasukan, ekonomi berhenti. Ini ibaratnya sebagai benang kusut ekosistem pariwisata," ungkap Budi.
Mengapa disebut 'benang kusut' ekosistem pariwisata?
Benang kusut itu seolah melilit semua pihak yang bersentuhan dengan pariwisata di Labuan Bajo.
Budi Widjaja menggambarkan, sebuah pelabuhan di Kupang dengan sekitar 100 kapal yang melintas setiap harinya memiliki setidaknya lebih dari 80 petugas untuk memeriksa kelengkapan standar keamanan dan keselamatan kapal hingga izin untuk berlayar.
Namun, di Labuan Bajo, kondisinya berbeda.
"Tahun lalu saya teriak-teriak minta penambahan petugas, memang ditambah, dari 40 menjadi sekitar 60 petugas, untuk melayani sekitar 300 kapal yang berlayar setiap hari," jelas Budi.
"Oleh karena itu, untuk memverifikasi unsur keselamatan ini, maka ada semacam inisiatif untuk semua pihak yang terlibat dalam pelayaran saling menjaga dan memeriksa."
Di sisi lain, KSOP Labuan Bajo mengklaim telah memperketat pemeriksaan keselamatan kapal termasuk penerbitan sertifikat kelaikan kapal.
"Setiap tiga bulan kami lakukan pemeriksaan," tambah Stephanus.
Kemudian, jelas Stephanus, patroli juga kerap dilakukan secara acak bersama TNI dan Polisi yang punya kewenangan penegakan hukum di bidang pelayaran.
Menurut pemerhati pariwisata Labuan Bajo, Marta Muslin, bisnis pariwisata itu mahal, termasuk melengkapi unsur keselamatan perjalanan.
"Itu merupakan konsekuensi dari menjalankan bisnis dengan risiko tinggi," kata Marta.
Namun, dia melanjutkan, "memang banyak kejadian tidak ada pemeriksaan petugas, hanya sebagai formalitas saja."
Perjalanan kapal dari Pelabuhan Labuan Bajo erat kaitannya dengan kegiatan turisme di tempat itu.

Sumber gambar, Silvano Hajid/BBC News Indonesia
Labuan Bajo telah ditetapkan menjadi salah satu destinasi wisata prioritas Indonesia. Namun, status prioritas daerah pariwisata itu juga menjadi batu sandungan bagi Labuan Bajo.
Budi memberi gambaran, banyak nelayan yang kemudian beralih profesi menjadi pemandu wisata.
Hal ini, kata dia, karena penghasilannya sebagai nelayan sudah tidak mampu lagi menutupi kebutuhan sehari-hari. Musababnya, harga pasaran mengikuti arus turis yang masuk ke Labuan Bajo.
"Maka mereka membangun kapal-kapal wisatanya secara tradisional. Jika ditetapkan standar internasional yang menggunakan bahan-bahan seperti besi dan fiber, biaya akan membengkak," jelas Budi.
Sementara, peralatan keselamatan hingga penunjang kapal yang dibutuhkan, kebanyakan masih impor dan tidak diproduksi di Indonesia.
Bagi Budi dan banyak pegiat pariwisata di Labuan Bajo, kecelakaan pinisi 26 Desember ini bukan ajang saling menyalahkan, melainkan mengurai benang kusut yang ia utarakan sebelumnya. Utamanya, faktor keselamatan.
"Itu merupakan tanggung jawab semua orang, baik dari sisi tamunya [wisatawan] sampai sisi regulatornya," tambah Budi.
Semua pihak, baginya punya peran, juga kekurangan, "keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama".
Apa yang bisa dilakukan 'semua pihak' untuk mengurangi risiko setelah 26 Desember?
- Wisatawan
Jika Anda membaca bagian ini dan berencana berlibur ke suatu tempat, Anda juga punya peran signifikan dalam keselamatan perjalanan.
Menurut Budi, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang destinasi wisata yang akan dikunjungi termasuk mendaftar segala risiko yang bisa terjadi. Mulai dari musim-musim terbaik untuk berkunjung, termasuk rute perjalanan kapal, "apakah melewati area-area pusaran [berbahaya]?"
Zaman sudah berubah, tak seperti 20 tahun lalu, ketika ingin berwisata harus membuka buku Lonely Planet usang tentang suatu tempat. "Ini zamannya AI dan internet, semua ada di sana," tambah Budi.
Gunakan teknologi masa kini, untuk mencari tahu agen-agen perjalanan atau kapal-kapal yang bisa mempresentasikan aturan keselamatan. " Jangan hanya lihat foto-foto indah dan harganya yang murah."
- Kementerian Pariwisata
Kementerian Pariwisata bisa berperan mengkampanyekan keselamatan dalam berwisata. Namun menurut Budi, Kementerian Pariwisata merupakan lembaga tingkat tiga yang tidak memiliki struktur sektoral yang terpisah di daerah.
"Jadi ketika program itu turun dari pusat ke daerah, Dinas Pariwisata di bawah pemerintah daerah, apakah mereka punya anggaran dan kapasitas sumber daya manusianya?"
Di sisi lain, sebagai respons insiden pinisi 26 Desember, Kementerian Pariwisata mengklaim berkomitmen mengutamakan keselamatan wisatawan, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta memastikan penanganan kejadian ini dilakukan secara transparan, humanis dan bertanggung jawab.
- Perketat aturan dan percepat informasi kedaruratan
Ketika aturan diperketat, menurut Budi, tidak ada lagi alasan untuk tidak memenuhi standar prosedur keselamatan, termasuk alur sistem dalam mempercepat informasi kedaruratan hingga keakuratan cuaca. Dengan demikian, peringatan dini BMKG benar-benar menjadi acuan, bukan imbauan.
- Memperkuat tim di lapangan
Menurut pandangan Budi, mengurangi risiko kecelakaan bisa dimulai dengan memperkuat petugas pemeriksa keselamatan kapal, hingga tim yang ditugaskan untuk penyelamatan.
Jika tidak, menurut Marta, reputasi destinasi wisata prioritas itu bisa hancur.
"Semua teman-teman pegiat pariwisata Labuan Bajo khawatir, kepercayaan orang terhadap kualitas kapal di Labuan Bajo serta sumber daya manusianya juga akan sangat terdampak," tutup Marta.
Wartawan Arnold Welianto dan Eliazar Robert di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, berkontribusi dalam liputan ini.









