‘Tidak ada yang akan mengunjungi kami Idulfitri kali ini’ – Lebaran tanpa kebahagiaan bagi anak-anak yatim piatu di Gaza

- Penulis, Alaa Ragaie
- Peranan, BBC News Arabic
“Idulfitri kali ini tak seperti Idulfitri lainnya, karena adanya perang. Kami kehilangan keluarga kami," tutur Layan, bocah perempuan berusia 11 tahun yang kini tinggal di Rafah, Gaza.
Saat umat Islam di penjuru dunia bersiap merayakan Idulfitri, anak-anak di Gaza menuturkan bahwa kebahagaiaan Idulfitri telah dirampas dari mereka.
Anak-anak yang kini menjadi yatim piatu atau terpaksa hidup tanpa orang dewasa yang merawat mereka berjumlah sekitar 1% dari total populasi pengungsi di Gaza, menurut organisasi PBB yang mengurusi masalah anak, Unicef.
Saat ini di Gaza tak ada kamp pengungsi tanpa anak-anak yang kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya.
Layan dan adik perempuannya, Siwar, yang baru berusia 18 bulan, adalah satu-satunya yang selamat di keluarga mereka. Anggota keluarga lainnya tewas kala Rumah Sakit Al-Ahli di Kota Gaza—tempat mereka mencari perlindungan demi menghindari pengeboman di Jalu Gaza—diserang pada Oktober 2023 silam.
Layan kehilangan 35 anggota keluarganya malam itu, termasuk kedua orang tuanya dan lima saudara kandungnya.
"Saat itu baru setengah jam keluarga kami berada di rumah sakit saat dua misil menghantam kami. Saya terbangun, dan semua keluarga saya telah hancur berkeping-keping."
Ratusan orang tewas terbunuh akibat serangan terhadap rumah sakit di Kota Gaza yang dipadati oleh pengungsi dan korban luka. Kelompok milisi Palestina, Jihad Islam, dan Israel saling tuduh atas serangan tersebut.
Layan dan adiknya kini hidup bersama bibi dan kakak sepupunya, Ali, di sebuah tenda di kamp pengungsi Rafah, Gaza selatan.

Sebelum perang merampas semuanya, Layan biasanya membeli baju baru bersama orang tuanya untuk mereka kenakan saat Idulfitri, mereka akan membuat kudapan Idulfitri—dikenal sebagai "maamol" oleh masyarakat setempat—dan menikmati acara kumpul keluarga.
Sayangnya, tak akan ada acara kumpul keluarga tahun ini: "Tak akan ada yang mengunjungi kami Idulfitri kali ini, tuturnya.
Kendati kondisi keuangan terbatas karena perang yang terus berkecamuk telah membuat ribuan orang kehilangan pekerjaan mereka, Ali—yang saat ini berusia 24 tahun dan kini mengayomi Layan dan adiknya—memutuskan untuk membelikan mereka pakaian dan mainan yang dia mampu beli.
Sepupu-sepupu Layan biasanya tinggal bersama 43 anggota keluarga di sebuah gedung di kawasan Zeitun di Kota Gaza. Kini, mereka yang selamat tinggal di sebuah tenda di Gaza bagian selatan.

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Seperti Layan, sepupunya, Mahmoud—yang berusia 14 tahun—kini menjadi yatim piatu akibat perang.
Dia kehilangan kedua orang tuanya dan sebagian besar saudara kandungnya dalam insiden yang sama di Rumah Sakit Al-Ahli.
Saat serangan terjadi, Mahmoud sedang berada di luar mencari air untuk kebutuhan pasokan air keluarganya.
"Saat saya kembali. Saya temukan semua orang meninggal dunia. Saya syok dengan apa yang saya saksikan."
Baca juga:
Sebelum perang, Mahmoud bercita-cita menjadi juara binaraga dan bersiap turut serta dalam kompetisi internasional di Mesir. Kini dia hanya bermimpi untuk kembali ke rumah di utara Jalur Gaza.
“Tidak akan ada kegembiraan di Idulfitri kali ini. Dulu kami menghiasi jalanan dengan lampu, namun saat ini, kami mungkin hanya menggantungkan tali sebagai hiasan di tenda.”
Sulit untuk mendapat data yang akurat, tapi Unicef memperkirakan sedikitnya 17.000 anak-anak di Jalur Gaza hidup sendiri atau terpisah dari orang tuanya akibat perang.
Memanggang bersama

Idulfitri pada umumnya adalah acara kumpul keluarga dan makanan spesial biasanya dimasak pada kesempatan itu. Namun karena ketiadaan acara kumpul keluarga dan makanan spesial, anaka-anak hanya bisa mengenang keriaan Idulfitri.
Beragam hidangan biasa disajikan meja warga Gaza saat Idulfitri termasuk sumakia (sup daging) dan fasikh (ikan asin). Kue Idulfiitri menjadi hidangan penutup utama pada acara tersebut.
Di sebuah kamp pengungsi di Rafah bagian selatan, sekitar 10 perempuan berkumpul untuk membuat kue Idulfitri di tenda milik seorang pria Palestina, Majd Nassar, dan keluarganya.
Baca juga:
Majd, yang berusia 20 tahun dan mengungsi dari Gaza bagian utara, berinisiatif "mengembalikan cita rasa Idulfitri kepada anak-anak di kamp [pengungsi] dan keluarga mereka".
Dia mengundang tetangganya yang tinggal di tenda terdekat untuk membuat kue bersama.
"Harga bahan untuk membuat maamoul tiga hingga empat kali lebih mahal dibanding tahun-tahun sebelumnya," kata Majd.
Pria muda ini membagikan kue berbentuk bulat dengan lubang di bagian tengah kepada sekitar 60 keluarga di kamp.
Sekitar 1,7 juta pengungsi Gaza kini tinggal dalam kondisi yang sulut di seluruh wilayah Jalur Gaza dan menggantungkan hidupnya pada bantuan karena pasokan makanan dan air yang langka.
Sirkus berharap dapat memberikan keriaan kecil kepada anak-anak
Terlepas dari kondisi yang terjadi di Gaza saat ini, Ahmed Mushtaha dan timnya berharap dapat membawa kegembiraan bagi sebanyak mungkin anak yatim piatu dengan sirkus mereka yang berencana untuk mengunjungi kamp-kamp pengungsi di Gaza utara selama Idulfitri.
Diperkirakan ada 300.000 orang yang menghadapi ancaman kelaparan di wilayah tersebut.
"Kami ingin menampilkan kegembiraan pada wajah anak-anak sehingga mereka bisa merayakan Idulfitri," ujar Mushtaha, pendiri sirkus tersebut.

Sirkus itu didirikan pada 2011 silam, dan biasanya mengajarkan seni sirkus kepada anak-anak sebelum gedung tempat mereka beroperasi di Kota Gaza dihantam bom selama perang yang masih berlangsung.
Sebelum perang, Mushtaha dan timnya yang terdiri dari 10 pemain biasa tampil di taman untuk anak-anak dan anak yatim piatu.
Kamp-kamp pengungsi dan reruntuhan wilayah tersebut kini menjadi latar pertunjukan mereka, mulai dari akrobat dan menambul (juggling) hingga sketsa badut lucu, yang membuat anak-anak tertawa.
“Kami menghadapi risiko besar setiap kali kami pindah," ujar Musthaha.
"Kami secara ajaib selamat beberapa kali, dan kami terluka, namun yang kami pedulikan hanyalah memberikan dukungan psikologis kepada anak-anak untuk melupakan kesengsaraan perang,” ujarnya kemudian.












