Peta terbaru ungkap detail menakjubkan lanskap tersembunyi di bawah lapisan es Antarktika

    • Penulis, Mark Poynting
    • Peranan, Climate researcher
    • Penulis, Erwan Rivault
    • Peranan, Senior data designer
  • Waktu membaca: 5 menit

Sebuah peta terbaru menunjukkan rupa daratan yang tersembunyi di bawah lapisan es Antarktika, terletak di selatan Bumi, dengan detail yang belum pernah terungkap sebelumnya.

Para ilmuwan menyatakan bahwa temuan ini dapat meningkatkan pemahaman kita secara signifikan mengenai benua putih yang membeku itu.

Dalam proses pembuatan peta itu, tim peneliti menggunakan data satelit dan menerapkan prinsip-prinsip fisika terkait pergerakan gletser Antarktika untuk memodelkan lanskap permukaan benua, jika lapisan es tersebut dihilangkan.

Para peneliti menemukan bukti keberadaan ribuan bukit dan punggungan yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Mereka juga menyatakan bahwa peta rangkaian pegunungan tersembunyi di Antarktika kini terlihat jauh lebih jelas dibandingkan hasil pemetaan sebelumnya.

Meskipun peta ini masih memiliki celah ketidakpastian, para peneliti meyakini bahwa detail-detail terbaru ini dapat memberikan titik terang mengenai bagaimana Antarktika akan merespons perubahan iklim.

Selain itu, data ini juga krusial untuk memprediksi dampak perubahan itu terhadap kenaikan permukaan laut di masa depan.

"Ini ibarat sebelumnya Anda hanya memiliki kamera film dengan piksel yang buram, dan sekarang Anda memiliki citra digital dengan perbesaran yang tepat tentang apa yang sebenarnya terjadi," ujar Helen Ockenden, penulis utama penelitian sekaligus peneliti di University of Grenoble-Alpes.

Selama ini, berkat bantuan satelit, para ilmuwan telah memiliki pemahaman yang baik tentang permukaan es Antarktika. Namun, apa yang tersembunyi di bawahnya masih menjadi misteri.

Faktanya, pengetahuan mengenai permukaan beberapa planet di Tata Surya kita jauh lebih banyak dibandingkan tentang "bagian bawah" Antarktika—topografi yang berada tepat di bawah lapisan es.

Namun, para peneliti kini menngaku telah memiliki apa yang mereka yakini sebagai peta paling lengkap dan detail yang pernah dibuat mengenai lanskap bawah es Antarktika.

"Saya sangat bersemangat melihatnya dan menyaksikan seluruh dasar daratan Antarktika secara sekaligus," kata Profesor Robert Bingham, ahli glasiologi dari University of Edinburgh yang juga salah satu penulis studi tersebut.

"Menurut saya, ini sangat luar biasa," ujarnya.

Mungkin Anda juga tertarik:

Selama ini, pengukuran tradisional dari darat maupun udara menggunakan radar untuk "melihat" ke bawah lapisan es, yang di beberapa titik tebalnya mencapai 4,8 kilometer.

Pemindaian itu juga seringkali hanya dilakukan sepanjang garis survei atau lintasan tertentu.

Lintasan-lintasan ini bisa terpisah sejauh puluhan kilometer, sehingga para ilmuwan terpaksa mengisi celah-celah kosong tersebut dengan perkiraan.

"Bayangkan jika Dataran Tinggi Skotlandia atau Pegunungan Alpen di Eropa tertutup es, dan satu-satunya cara untuk memahami bentuknya adalah melalui penerbangan sesekali yang berjarak hanya beberapa kilometer. Tidak mungkin Anda bisa melihat semua gunung dan lembah tajam yang kita tahu ada di sana," ujar Robert Bingham.

Oleh karena itu, para peneliti menggunakan pendekatan baru dengan menggabungkan pengetahuan tentang permukaan es dari satelit dan pemahaman fisika mengenai cara es bergerak, kemudian mencocokkannya dengan lintasan survei terdahulu.

"Ini sedikit mirip seperti saat Anda bermain kayak di sungai; jika ada batu di bawah air, terkadang muncul pusaran di permukaan yang memberi tahu Anda tentang keberadaan batu tersebut," kata Helen Ockenden.

"Es jelas mengalir dengan cara yang sangat berbeda dari air, tetapi tetap saja, ketika es mengalir di atas punggungan atau bukit di dasar batuan [...] hal itu bermanifestasi pada topografi permukaan serta pada kecepatannya."

Meski rangkaian pegunungan utama di Antarktika sudah diketahui sebelumnya, pendekatan baru ini telah mengungkap puluhan ribu bukit dan punggungan yang belum pernah ditemukan, serta detail yang lebih tajam di sekitar pegunungan dan ngarai yang terkubur di bawah es tersebut.

"Saya pikir sangat menarik untuk melihat semua lanskap baru ini dan mengetahui apa yang ada di sana," ujar Ockenden.

"Ini seperti saat Anda melihat peta topografi Mars untuk pertama kalinya, dan Anda akan merasa, 'wah, ini sangat menarik, ini terlihat sedikit seperti Skotlandia,' atau 'ini tidak mirip dengan apa pun yang pernah saya lihat sebelumnya'."

Salah satu penemuan yang menarik adalah sebuah saluran dalam yang terukir di dasar daratan Antarktika, di area yang disebut Cekungan Subglasial Maud.

Saluran tersebut memiliki kedalaman rata-rata 50 meter, lebar enam kilometer, dan membentang sepanjang hampir 400 kilometer.

Peta baru hasil pengembangan para peneliti ini kemungkinan besar bukan merupakan versi final.

Pemetaannya mengacu pada asumsi-asumsi mengenai bagaimana es mengalir yang, sebagaimana metode lainnya, memiliki faktor ketidakpastian.

Selain itu, masih banyak hal yang belum ditemukan mengenai batuan dan sedimen yang terletak di bawah lapisan es tersebut.

Kendati demikian, para peneliti lain sepakat bahwa peta-peta ini merupakan langkah maju yang berharga jika dikombinasikan dengan survei lanjutan dari darat, udara, dan ruang angkasa.

"Ini adalah produk yang sangat berguna," ujar Peter Fretwell, ilmuwan senior di British Antarctic Survey di Cambridge, yang tidak terlibat dalam studi baru ini tetapi telah berkontribusi banyak dalam pemetaan sebelumnya.

"Hal ini memberi kita kesempatan untuk mengisi celah di antara survei-survei tersebut," ujarnya.

Para peneliti menyatakan bahwa pemahaman yang lebih rinci mengenai seluruh punggungan, bukit, pegunungan, dan saluran tersebut dapat menyempurnakan model komputer tentang bagaimana Antarktika mungkin berubah di masa depan.

Hal ini dikarenakan bentang alam dan fitur-fitur tersebut pada akhirnya membentuk seberapa cepat gletser di atasnya bergerak, serta seberapa cepat gletser tersebut dapat menyusut dalam iklim yang memanas.

Hal ini dianggap penting karena kecepatan pencairan es di Antarktika di masa depan diakui secara luas sebagai salah satu ketidakpastian terbesar dalam sains iklim.

"Studi ini memberikan gambaran yang lebih baik tentang apa yang akan terjadi di masa depan dan seberapa cepat es di Antarktika akan berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut global," ujar Fretwell.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal akademik, Science.