Bagaimana kasus pemerkosaan Gisèle Pelicot membuka pertanyaan soal hasrat pria hingga persetujuan perempuan

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Louise Chunn
- Peranan, Pendiri platform pencarian layanan psikoterapi Welldoing
- Waktu membaca: 12 menit
Peringatan: Artikel ini memuat deskripsi kekerasan seksual yang bisa membuat Anda tidak nyaman.
Hampir setiap perempuan yang saya kenal begitu tertarik dengan sidang kasus pemerkosaan Gisèle Pelicot yang belum lama berakhir.
Sejak sidang pertama kasus ini di Avignon, Prancis, saya senantiasa mengikuti setiap detail yang mengerikan, lalu mendiskusikannya dengan teman-teman perempuan, anak perempuan saya, rekan kerja, dan bahkan para perempuan di klub buku saya.
Bersama-sama, kami mencoba mencerna apa yang terjadi.
Selama hampir satu dekade, Dominique Pelicot diam-diam kerap membius Gisèle dan mengundang pria-pria yang ditemuinya via internet untuk berhubungan seks dengan Gisèle di ranjang mereka.
Dengan telaten, Dominique merekam segalanya.
Dengan rentang usia 22-70 tahun, para pria asing ini memiliki latar belakang beragam. Ada yang bekerja sebagai pemadam kebakaran, perawat, wartawan, sipir penjara, dan tentara.
Patuh pada instruksi Dominique, mereka memerkosa Gisèle, sosok nenek pensiunan yang bagai boneka tak berdaya karena pengaruh pil tidur berdosis tinggi.
Selain Dominique, 50 pria lain ikut diadili dalam kasus ini.
Semuanya tinggal dalam radius 50 kilometer dari Mazan, kota kecil di wilayah selatan Prancis yang jadi tempat tinggal keluarga Pelicot. Dan, mereka tampak sama seperti "pria-pria lainnya".

Sumber gambar, Reuters
Seorang perempuan berusia 30-an berkata kepada saya, "Ketika pertama kali membaca tentang hal ini, saya tidak ingin berada di dekat pria setidaknya selama seminggu, bahkan tunangan saya."
"Itu benar-benar membuat saya ngeri."
Perempuan lain berusia akhir 60-an, yang usianya tak jauh dari Gisèle, tidak bisa berhenti memikirkan tentang apa yang mungkin ada di pikiran para pria, termasuk suami dan anak-anaknya.

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.
Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

Ia bertanya-tanya, "Apakah ini cuma puncak gunung es?"
Stella Duffy, seorang penulis dan praktisi psikoterapi berusia 61 tahun, ikut bersuara melalui akun Instagram-nya di hari putusan pengadilan dibacakan.
"Saya berharap dan mencoba untuk percaya #tidaksemuapria [seperti itu], tetapi saya membayangkan para istri, pacar, sahabat, anak perempuan, dan ibu di desa tempat Gisèle Pelicot tinggal juga berpikir seperti itu. Dan, sekarang mereka tahu kenyataannya berbeda," kata Stella.

Sumber gambar, Reuters
"Setiap perempuan yang saya ajak bicara mengatakan kasus ini telah mengubah cara pandangnya terhadap pria. Saya harap ini juga mengubah cara pandang pria terhadap pria lainnya."
Kini, setelah persidangan usai, kita dapat melihat kasus mengerikan ini lebih jauh dan bertanya: dari mana datangnya perilaku kejam dan kasar para pria ini?
Tidak bisakah mereka paham bahwa seks tanpa persetujuan adalah pemerkosaan?
Selain itu, fakta bahwa ada begitu banyak pria di daerah relatif kecil yang berfantasi tentang dominasi ekstrem terhadap perempuan juga memunculkan pertanyaan lain: bagaimana sebenarnya sifat dasar hasrat pria?
Bagaimana internet mengubah norma?
Sulit untuk membayangkan skala pemerkosaan dan serangan seksual yang direncanakan terhadap Gisèle Pelicot tanpa kehadiran internet.
Platform tempat Dominique Pelicot merekrut pria-pria untuk memperkosa istrinya adalah sebuah situs web Prancis yang tidak dimoderasi—situs ini kini telah ditutup.
Ini membuat orang-orang yang memiliki minat seksual sama dapat berkumpul tanpa batasan-batasan tertentu dengan jauh lebih mudah dibandingkan sebelum internet ada.
Salah satu pengacara Gisèle menyamakan situs tersebut dengan "senjata pembunuh", dan mengatakan kepada pengadilan bahwa, tanpanya, skala kasus tidak akan mencapai sebesar ini.

Sumber gambar, Getty Images
Di sisi lain, internet juga berperan mengubah secara bertahap sikap orang-orang terhadap seks konsensual tanpa kekerasan. Hal ini perlahan dinormalkan, meski dulu banyak orang mungkin menganggapnya berlebihan.
Batasan pornografi telah meluas signifikan seiring dengan peralihan media sebarannya, dari majalah jadul dan film biru yang mesti dibeli secara fisik, misalnya di toko seks temaram di Soho, London, ke situs-situs web modern seperti PornHub, yang dikunjungi 11,4 miliar kali dari perangkat seluler pada Januari 2024 saja.
Aktivitas seks yang semakin lama semakin ekstrem dengan kategori kian spesifik bisa jadi membuat hubungan seks biasa terasa membosankan.
Menurut hasil survei terhadap pengguna internet berusia 25-49 tahun di Inggris pada Januari 2024, nyaris satu dari 10 responden menonton film porno hampir setiap hari, dan sebagian besar di antaranya adalah laki-laki.
Daisy, sarjana berusia 24 tahun, mengatakan kepada saya bahwa sebagian besar orang yang dikenalnya rutin menonton film porno. Ia pun begitu.
Ia memilih mengunjungi situs porno yang lebih ramah perempuan, di mana ia bisa mencari konten dengan kata kunci seperti "bergairah", "sensual", dan "kasar".
Namun, beberapa teman laki-laki Daisy bilang mereka tidak lagi menonton film porno.

Sumber gambar, Getty Images
Alasannya, menurut Daisy, mereka tidak lagi bisa menikmati hubungan seks "karena terlalu banyak menonton film porno saat masih kecil".
Studi pada 2023 yang dilakukan Kantor Komisioner Anak-anak Inggris menemukan bahwa seperempat dari anak muda berusia 16-21 tahun di sana pertama kali melihat konten porno di internet saat masih di sekolah dasar.
"Konten dewasa yang mungkin diakses para orang tua di masa muda mereka dapat dianggap 'kuno' jika dibandingkan dengan dunia pornografi daring saat ini," kata Rachel de Souza, Komisioner Anak-anak Inggris, mengomentari temuan itu.
Apakah pornografi benar-benar membentuk perilaku?
Anak-anak yang rutin mengonsumsi pornografi di ponselnya sebelum pubertas pasti tumbuh dengan ekspektasi seksual berbeda dibandingkan dengan mereka yang besar bersama majalah Playboy di abad ke-20.
Meskipun tidak ada hubungan sebab-akibat langsung yang telah ditemukan, ada bukti substansial yang menunjukkan hubungan antara konsumsi pornografi dan sikap serta perilaku seksual yang merugikan perempuan.
Merujuk studi pemerintah Inggris yang dirilis pada Februari 2020, konsumsi pornografi berkaitan dengan kemungkinan lebih besar untuk "terlibat dalam tindakan seksual yang disaksikan dalam pornografi" dan untuk "percaya bahwa perempuan ingin terlibat dalam tindakan-tindakan tersebut."
Tindakan seksual yang dimaksud bisa mencakup perilaku agresif dan mendominasi seperti menampar wajah, mencekik, menyumpal mulut, dan meludah.

Sumber gambar, Getty Images
Daisy pun mengatakan kepada saya, "Mencekik [saat berhubungan seks] telah menjadi hal yang normal, rutin, dan diharapkan terjadi, seperti mencium leher saja."
Maka, terakhir kali Daisy jalan dengan seorang pria, ia langsung menyampaikan preferensinya.
"Saya bilang ke dia sejak awal kalau saya tidak suka dicekik, dan dia bisa menerima itu."
Namun, Daisy menilai tidak semua perempuan akan berbicara langsung seperti itu.
"Menurut pengalaman saya, kebanyakan pria tidak ingin perempuan dominan di ranjang. Di situlah mereka ingin memiliki kekuasaan."

Sumber gambar, Getty Images
Suzanne Noble, yang 40 tahun lebih tua dari Daisy, sempat menulis petualangan seksualnya dan sekarang memiliki situs web dan siniar yang disebut "Sex Advice for Seniors".
Menurutnya, kehadiran film porno yang menggambarkan fantasi pemerkosaan telah menormalkan tindakan-tindakan yang berakar pada kekerasan.
Konten porno semacam itu disebut menunjukkan seakan pemerkosaan adalah sesuatu yang diinginkan perempuan.
"Tidak ada cukup edukasi untuk menjelaskan perbedaan antara memainkan adegan fantasi yang melibatkan pemerkosaan semu dan versi yang sama sekali tidak konsensual," kata Suzanne.
Dari iklan kecil ke kehidupan nyata
Internet tidak hanya membawa pornografi keluar dari toko-toko di gang kecil ke kamar tidur kita, tapi juga membuka akses lebih mudah ke berbagai kegiatan di dunia nyata.
Di masa lalu, para penyuka sadomasokisme atau S&M, misalnya, bisa saling terhubung melalui iklan-iklan kecil yang dipasang di belakang majalah, yang dikirim ke kotak pos alih-alih langsung ke rumah mereka.
Itu adalah cara yang sangat sulit dan memakan waktu untuk berhubungan seks.
Sekarang, jauh lebih mudah untuk terhubung daring dengan komunitas semacam itu daripada mengatur pertemuan luring.
Di Inggris, kini lumrah untuk menjalin hubungan atau mencari cinta lewat aplikasi kencan.
Dan, kita pun bisa lebih mudah terkoneksi dengan mereka yang punya perilaku seksual tak biasa, misalnya melalui aplikasi seperti Feeld, yang diklaim sengaja dirancang bagi orang-orang untuk mengeksplorasi hasrat seksualnya "di luar cetak biru yang telah ada".
Feeld bahkan punya glosarium daring yang mencatat 31 jenis hasrat berbeda, termasuk poliamori (berhubungan dengan lebih dari satu orang), bondage (bermain peran dengan salah satu pihak menjadi budak), dan submisi (saat salah satu pihak tunduk atau pasrah diperlakukan seperti apa pun).
Albertina Fisher, praktisi psikoterapi seksual, mengatakan "tak ada yang salah" dari memiliki berbagai fantasi seksual.
"Bedanya adalah jika fantasi telah menjadi perilaku non-konsensual," kata Albertina, yang dengan kliennya kerap membahas fantasi seksual mereka.

Sumber gambar, Getty Images
Ia bilang fantasi laki-laki dan perempuan berbeda, meski keduanya kerap melibatkan praktik dominasi dan submisi, yang termasuk dalam BDSM.
BDSM adalah aktivitas seksual yang mencakup bondage, disiplin atau dominasi, sadisme, dan masokisme.
"Kunci dari preferensi seksual seperti BDSM adalah ia harus aman, waras, dan atas dasar suka sama suka," kata Albertina.
Apa pun yang ingin dilakukan dua orang secara bersama-sama sebenarnya wajar saja, katanya, asalkan keduanya saling setuju.
Semua itu tentu saja beda dengan apa yang terjadi di kasus Gisèle Pelicot, yang menurut Albertina adalah bentuk kekerasan seksual.
"Sangat menyedihkan melihat hal ini bisa terjadi dalam hubungan yang dari luar tampak penuh kasih sayang," ujar Albertina.
"Mewujudkan fantasi tanpa persetujuan adalah bentuk ekstrem narsisme."
Saat salah satu pihak tak berdaya, imbuhnya, kebutuhan bersama jadi diabaikan.
"Jadi, ada fantasi soal perempuan yang tak perlu pusing-pusing untuk dipuaskan [karena ia tak sadar]."
Berbagai pertanyaan soal hasrat
Aspek utama dan bermasalah dari seluruh pertanyaan tentang fantasi adalah hasrat.
Di era pasca-Freud, pernyataan bahwa hasrat tidak boleh ditekan seakan telah menjadi kebenaran yang tak bisa disanggah.
Dan, sebagian besar teori liberasi dari 1960-an pun menekankan aktualisasi diri melalui perwujudan hasrat seksual.
Namun, konsep soal hasrat pria terus menjadi bahan perdebatan, setidaknya karena ada berbagai pertanyaan soal kuasa dan dominasi yang kerap muncul di sana.
Para pria yang diadili dalam kasus Gisèle Pelicot tampak sulit melihat diri mereka sebagai pelaku.

Sumber gambar, Getty Images
Beberapa bilang mereka berasumsi Gisèle telah setuju, atau bahwa mereka ikut serta dalam permainan seks yang bebas.
Sederhananya, seperti yang sebagian dari mereka katakan, mereka hanya berusaha mengejar hasrat mereka.
Ada garis batas gelap yang, bila dilalui, hasrat pria heteroseksual yang sangat mendasar untuk berhubungan seks dengan perempuan (atau banyak perempuan) bisa tumbuh menjadi upaya bersama, menciptakan semangat kolektif yang tidak memedulikan pengalaman perempuan.
Ini mungkin menjelaskan mengapa para pria mengantre panjang untuk berhubungan seks dengan Lily Phillips, model OnlyFans yang pada Oktober lalu menjalani tantangan untuk tidur dengan 101 pria dalam sehari.
Dalam beberapa kasus, kecenderungan untuk mengobjektifikasi perempuan juga dapat berkembang menjadi keinginan untuk meniadakan pembahasan soal hasrat perempuan, yang juga mengesampingkan agensi atau kemampuan perempuan membuat pilihan.
Ada berbagai bentuk hasrat pria dan, secara tradisional, ia dikekang oleh batasan-batasan budaya.
Namun, kini batasan-batasan itu telah bergeser, termasuk di Inggris dan negara-negara lainnya di Barat.
Hal ini, ditambah keyakinan bahwa perwujudan hasrat adalah upaya pembebasan diri, kemudian menjadi kombinasi kuat yang terkadang meresahkan.

Sumber gambar, Reuters
Daya tarik Andrew Tate
Andre de Trichateau, praktisi psikoterapi di South Kensington, London, menjelaskan daya tarik para influencer berperspektif maskulin seperti Andrew Tate, yang menyebut dirinya sendiri "misoginis" dan memiliki 10,4 juta pengikut di X.
Andre bilang ia pernah menemui sejumlah pria yang merasa perkembangan feminisme telah merendahkan dan menyingkirkan mereka.
"Beberapa pria tak tahu harus menjadi seperti apa," kata Andre.
"Pria didorong untuk menjadi dominan, tapi juga diharapkan dapat mengenali emosinya sendiri dan mampu menunjukkan kerentanan."
Ini disebut menciptakan kebingungan di antara pria, yang bisa berubah jadi kemarahan pada gerakan feminis.
Imbasnya, orang-orang semacam ini dapat mengidolakan sosok seperti Andrew Tate.

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Berdasarkan pengamatan Andre, yang 60% kliennya adalah pria, ia menilai pria dapat dibentuk untuk melihat kekuasaan dan dominasi sebagai bagian dari identitasnya.
"Ini bukan untuk membenarkan hal-hal semacam kasus Pelicot," katanya.
"Tapi, secara objektif saya dapat melihat bahwa perilaku seperti itu merupakan pelarian dari ketidakberdayaan dan ketidakmampuan. Itu menggoda dan terlarang."
"Kasus ini menggelisahkan karena ia menunjukkan hal-hal ekstrem yang bakal orang-orang lakukan."
Menurut Andre, grup atau forum daring seperti yang digunakan Dominique Pelicot bisa menyebarkan pengaruh sangat besar.
"Dalam grup, Anda diterima. Berbagai ide divalidasi. Saat satu orang mengatakan oke, yang lainnya akan mengikuti," katanya.
Sepanjang dan setelah persidangan kasus Pelicot, diskusi yang muncul kerap fokus pada cara membedakan antara seks konsensual dan non-konsensual, dan apakah hal ini harus didefinisikan dengan lebih baik dalam hukum.

Sumber gambar, Getty Images
Masalahnya, rumit pula untuk merumuskan apa yang dimaksud sebagai persetujuan.
Seperti yang dikatakan Daisy, sarjana berusia 24 tahun, beberapa perempuan seusianya cenderung mengikuti preferensi seksual pria tanpa memedulikan perasaan mereka sendiri.
"Mereka menganggap satu hal seksi jika pasangan mereka menganggapnya seksi," kata Daisy.
Jadi, jika benar para pria semakin mengandalkan pornografi sebagai pedoman aktivitas seksualnya, ini memicu pertanyaan-pertanyaan lanjutan soal perubahan bentuk hasrat mereka.
Di sisi lain, jika para perempuan muda merasa harus mengikuti hasrat pria—seberapapun ekstremnya—demi mendapatkan keintiman, bisa dikatakan persetujuan bukanlah hal yang dapat dilihat secara hitam dan putih.
Sebagian orang mungkin lega kasus Gisèle Pelicot telah usai dan para pelakunya telah dihukum.
Namun, kasus ini juga memunculkan begitu banyak pertanyaan.
Dan, mengikuti semangat dan ketangguhan Gisèle yang luar biasa, pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin lebih baik didiskusikan secara terbuka.








