Mengapa di Prancis muncul kritik terhadap gerakan antikekerasan perempuan #MeToo?

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Henri Astier
- Peranan, BBC News
Beberapa bulan usai dugaan pelecehan seksual yang dilakukan pembuat film kenamaan Harvey Weinstein muncul ke publik, sejumlah bintang Hollywood bergantian menceritakan pengalaman kelam mereka dan memberi dukungan moral kepada para korban serangan seksual.
Respons yang nyaris serupa pun menyeruak. Pada perhelatan Golden Globe, Minggu (07/01), sederet bintang film mengenakan pakaian serba hitam sebagai solidaritas untuk para korban kekerasan seksual.
Pekan lalu, aktris kawakan asal Prancis, Catherine Deneuve, mengutarakan pandangan berbeda. Dalam sebuah surat terbuka yang juga ditandatangani 100 perempuan terkemuka Prancis, dia menyatakan bahwa kampanye melawan pelecehan seksual telah berlangsung terlalu jauh.
Dalam surat itu, Deneuve dan sejumlah figur lainnya berpendapat pria harus "bebas untuk mendekati" perempuan.
Namun, pendapat tersebut memicu reaksi balik kaum feminis. Sejumlah aktivis mengatakan surat tersebut meremehkan kekerasan seksual.
Belakangan Deneuve menyatakan permintaan maafnya kepada para korban serangan seksual atas pernyataan itu. Kepada publik, Deneuve mengatakan menyesal jika telah menyinggung para korban "perbuatan mengerikan" itu.
"Saya dalam persaudaraan yang mendalam, menyatakan hormat kepada semua korban tindakan mengerikan yang mungkin merasa diserang oleh surat yang diterbitkan di Le Monde."
"Kepada mereka dan hanya kepada mereka, saya menyampaikan permintaan maaf saya," tulis Denueve dalam sebuah surat yang diterbitkan pada hari Minggu di laman harian Prancis, Liberation.
Deneuve juga mengatakan bahwa tidak ada "apa pun dalam surat" kepada Le Monde itu yang mengatakan "hal yang baik tentang pelecehan. Jika tidak begitu, saya tidak akan menandatanganinya".
Surat berisi kritik terhadap gerakan #MeToo ditandatangani oleh para penulis perempuan, artis dan akademisi Prancis. Isinya kemudian diterbitkan oleh surat kabar Le Monde pada Selasa lalu.
Dikatakan bahwa meskipun sah dan perlu bersuara menentang penyalahgunaan kekuasaan secara seksual oleh beberapa orang, gerakan #MeToo telah lepas kendali.
----------------------------

Sumber gambar, Getty Images
Deneuve merupakan figur paling penting dari 100 perempuan Prancis yang meneken surat terbuka berisi kritik terhadap gerakan #MeToo yang bergulir di media sosial.
Deneuve juga menghubungkan gerakan serupa untuk mengekspos kekerasan seksual yang terjadi di Prancis dan negara-negara lain.
Gerakan tersebut, kata 100 perempuan itu, telah secara berlebihan menelanjangi pelaku pelecehan seksual dan melancarkan gelombang kebencian terhadap laki-laki dan seks.
"Puritanisme -paham tentang hidup saleh yang menganggap hal di luar itu sebagai dosa- merajalela seperti masa kejayaan ilmu hitam," kata mereka.
Para perempuan penandatangan surat terbuka itu juga menyebut kebebasan laki-laki merayu perempuan merupakan dasar kebebasan seksual.
Di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat, kecaman terlontar diikuti beragam respons. Adapun di Prancis, reaksi pro dan kontra juga muncul, tapi isu itu tidak terpampang di halaman depan koran dan pembicaraan di Twitter pun tidak begitu masif.
Reaksi yang berlainan itu menunjukkan pergulatan feminis yang berbeda di Prancis dan AS.
"Sulit membayangkan bintang film AS tidak diserang habis-habisan setelah menandatangani petisi semacam itu," kata Emily Yoffe, editor lepas di majalah The Atlantic.
Aktor asal AS, Matt Damon, misalnya, mendapat kecaman karena menunjukkan ketidaksetujuan yang lebih lembut terhadap gerakan #MeToo.

Sumber gambar, Getty Images
Merujuk Lionel Shriver, novelis terkemuka di AS, kesepakatan yang berlaku di Hollywood didasarkan pada risiko perbuatan atau perkataan seseorang, dan menjadi refleksi sikap seluruh pegiat film di industri itu.
"Watak gerakan sosial yang berkembang pada era ini, jika Anda tidak sependapat dengan mereka, tutuplah mulut Anda," kata Shriver.
Di era media sosial, kata Shiver, "Anda dapat memiliki satu prinsip yang dapat diterima setiap orang. Jika pendapat Anda berlawanan dengan orang kebanyakan, Anda akan dihakimi secara massal."
Namun hal itu tidak membuat Shriver gentar. Dia mendukung penuh sikap Deneuve dan menganggap gerakan #MeToo sudah mengarah pada 'pemburuan tukang sihir'.
"Kita kehilangan batas untuk membedakan serangan seksual atau pemerkosaan dengan 'ajakan untuk berhubungan lebih intim'," kata Shriver.
"Seolah-olah jika ada orang menganggap diri Anda menarik, itu sudah merupakan sebuah pelecehan."
"Saya mendorong orang lain untuk berpikir berbeda: Saya akan tersanjung apabila seseorang tertarik kepada saya. Pertanyaannya, apakah saya dapat berkata tidak kepadanya?" kata Shiver.

Sumber gambar, AFP
Namun jika menuduh gerakan #MeToo memunculkan ekses sosial yang berlebihan merupakan hal tabu, mengapa selebritas sekaliber Cathrine Deneuve justru mendukung pandangan itu dan ia tidak memicu kehebohan di negaranya?
Salah satu alasannya, kata pemerhati politik sekaligus pengajar di Sciences Po di Paris, Anastasia Colosimo, adalah pengaruh berkelanjutan yang dipancarkan oleh feminis era 1960-an, yang mempopulerkan gaya hidup bebas zaman itu.
"Kunci dari pergulatan di era 1960-an adalah keinginan menghapus rasa bersalah apapun yang dilekatkan dengan seksualitas perempuan," kata Shriver.
"Perempuan secara terbuka menyatakan mereka memiliki hasrat seksual yang sama dengan laki-laki," tambahnya.
Salah satu penandatangan petisi Le Monde, surat terbuka yang diteken Catherine Deneuve, adalah Catherine Millet, perempuan berusia 69 tahun yang dikenal setelah pada 2002 mempublikasikan memoar berisi kehidupan seksualnya secara visual.
Peneken petisi lainnya adalah Catherine Robbe-Grillet, pembuat tulisan bercorak sadomasokis dan Brigitte Lahaie, bintang film biru era 1970-an yang beralih profesi menjadi pembawa acara perbincangan di televisi.

Sumber gambar, AFP
Para feminis kawakan itu melihat perlawanan terhadap kekerasan seksual, yang mendapatkan dukungan besar di AS pada 1990-an, mengarah pada ancaman terhadap revolusi seksualitas yang diperjuangkan generasinya.
Mereka mengatakan memahami esensi perlawanan terhadap pemerkosaan dan pelecehan seksual di tempat kerja.
Namun dalam pandangan para peneken petisi itu, kata Colosimo, para feminis yang meletakkan bahaya dalam episentrum perjuangan feminis modern justru mempromosikan perempuan sebagai korban dan individu tak berdaya di hadapan laki-laki.
Colosimo berkata, perempuan tidak lagi menjadi manusia merdeka.
Mereka mewaspadai gerakan untuk mengkriminalisasikan hubungan antara dua individu yang kerap kali rumit.
Tahun 2017, aktris kawakan Prancis lainnya, Fanny Ardant -lahir tahun 1949- bahkan mengeluarkan pernyataan yang lebih keras, bahwa gerakan melawan hubungan seksual adalah ciri-ciri fasisme.
'Akibat ledakan kelahiran'
Tentu saja, feminis kawakan di AS juga angkat bicara soal persoalan ini. Namun di negara yang budaya kaum mudanya begitu dominan, aktivis kekinian lebih aktif berbicara.
Bagi para aktivis muda itu, revolusi seksual tidak perlu dipertanyakan: kunci perlawanan saat ini adalah perlakuan tidak etis yang dihadapi perempuan.

Sumber gambar, AFP
Menteri Prancis yang membidangi kesetaraan gender, Marlène Schiappa--berumur 35 tahun--tidak mendukung para penandatangan petisi.
Seratus peneken petisi itu, kata Schiappa, membuat kekerasan terhadap perempuan menjadi tidak penting dengan hal-hal yang lebih tidak sopan dan keliru.
Para selebritas yang memenangkan perjuangan feminis setengah abad lalu mungkin harus kembali beradaptasi. Di Prancis, negara di mana regenerasi berjalan lambat, para legenda dari generasi lama masih terus menikmati status dan ketenaran mereka.
Para feminis muda juga melontarkan pandangan mereka ke publik Prancis.
Sebuah kelompok menuduh Deneuve dan para peneken petisi lain menutup mata atas beragam kekerasan seksual terhadap perempuan dan tidak menghormati para korban.
Perdebatan ini tidak berlangsung dari satu sisi karena masing-masing pihak mengeluarkan argumen mereka.
Lebih dari keseimbangan kekuatan antargenerasi di Prancis, Colosimo menuturkan, faktor sejarah sebenarnya menjelaskan bahwa feminisme kontemporer di negara itu menghadapi resistensi yang lebih besar dibandingkan di negara lainnya.
Selama berabad-abad, kata Colosimo, hubungan antargender telah diatur secara informal untuk menjaga 'galanterie française' atau kesopan-santunan khas Prancis, istilah yang diciptakan sejarawan Claude Habib dalam karyanya yang berpengaruh, terbitan tahun 2006.

Sumber gambar, Getty Images
Merujuk pandangan itu, ekspresi hasrat laki-laki dapat dibenarkan dan bahkan dapat dilihat sebagai upaya menghargai hak-hak perempuan, terutama untuk berkata tidak.
Colosimo menyebut kebiasaan orang Prancis menggoda lawan jenis merupakan gabungan antara cara khas Mediterania menyampaikan kebanggaan atas maskulinitas -bahwa perempuan yang berada di ruang merupakan objek eksploitasi- dan puritanisme bagi orang-orang di kawasan utara, terutama negara Anglo Saxon.
Cara pandang seperti itu mungkin dianggap merendahkan derajat perempuan oleh banyak orang dan feminis kekinian akan menolak tuduhan puritanisme itu sebagai cercaan yang tidak substantif.
Namun mereka menyerang pemahaman awam di negara yang menilai melawan godaan, seperti yang disebut Colosimo, bukan bagian dari DNA mereka.
Kritik terhadap gerakan #MeToo, kata Colosimo, hanya dapat muncul di Prancis.









