Siapa Zohran Mamdani, wali kota Muslim pertama di New York?

Zohran Mamdani merayakan kemenangannya dalam pemilihan wali kota New York di Brooklyn Paramount Theater, pada 4 November 2025.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Zohran Mamdani merayakan kemenangannya dalam pemilihan wali kota New York di Brooklyn Paramount Theater, pada 4 November 2025.
    • Penulis, Nada Tawfik dan Rachel Hagan
    • Peranan, BBC News
    • Melaporkan dari, New York City & London
  • Waktu membaca: 7 menit

Zohran Mamdani telah mengukir sejarah dengan menjadi wali kota Muslim pertama di Kota New York, sekaligus yang termuda dalam lebih dari satu abad.

Pemilihan tahun ini menarik lebih banyak perhatian dari biasanya. Anggota parlemen Negara Bagian New York berusia 34 tahun ini memulai tahun sebagai kandidat yang kurang dikenal, tetapi telah melesat ke puncak jajak pendapat.

Keunggulannya dalam perolehan suara pemilihan wali kota New York menandai momen penting bagi kaum progresif, menandakan pergeseran pusat gravitasi politik kota tersebut.

Sebelum pemilihan berlangsung, Presiden AS Donald Trump mendesak para pemilih untuk tidak memilih Mamdani. Trump justru mengajak warga mendukung sosok yang kerap mengritiknya, yaitu mantan Gubernur Andrew Cuomo.

Cuomo mencalonkan diri sebagai kandidat independen setelah kalah dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat.

"Entah Anda secara pribadi menyukai Andrew Cuomo atau tidak, Anda benar-benar tidak punya pilihan. Anda harus memilihnya, dan berharap dia melakukan pekerjaan yang fantastis," tulis Trump di Truth Social pada Senin malam. "Dia mampu melakukannya, Mamdani tidak!"

Cuomo, yang pernah menjadi tokoh dominan dalam politik Negara Bagian New York, menanggapi dukungan Trump kepadanya: "Dia tidak mendukung saya. Dia menentang Mamdani."

Trump juga menolak mendukung kandidat dari Partai Republik, Curtis Sliwa, yang tertinggal di posisi ketiga dalam perolehan suara. Trump mengatakan, "Suara untuk Curtis Sliwa ... adalah suara untuk Mamdani."

Dari Uganda ke Queens

Zohran Mamdani melambaikan tangan di acara hasil pemilihan internal Demokrat di New York.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Zohran Mamdani menjadi wali kota Muslim pertama di New York.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Mamdani dilahirkan di Kampala, Uganda. Pada usia tujuh tahun, dia dan keluarganya pindah ke New York.

Dia menempuh pendidikan di Bronx High School of Science sebelum meraih gelar di bidang Kajian Afrika dari Bowdoin College. Di kampusnya, Mamdani mendirikan cabang Students for Justicein Palestine (Solidaritas Mahasiswa untuk Palestina).

Dalam kampanyenya sebagai bakal calon wali kota New York, Mamdani mengedepankan latar belakangnya yang beragam.

Politikus milenial ini sempat mengunggah video kampanye yang seluruhnya berbahasa Urdu, diselingi klip film Bollywood. Di video lain, Mamdani juga berbicara dalam bahasa Spanyol.

Istri Mamdani, Rama Duwaji, adalah seniman asal Suriah berusia 27 tahun dan tinggal di Brooklyn. Mereka awalnya bertemu melalui aplikasi kencan Hinge.

Ibu Mamdani, Mira Nair, adalah sutradara film ternama dan ayahnya, Profesor Mahmood Mamdani, mengajar di Columbia University.

Kedua orang tuanya adalah alumni Harvard.

Zohran Mamdani di samping orang tuanya, Mahmood Mamdani dan Mira Nair, serta istrinya Rama Duwaji

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Zohran Mamdani bersama orang tuanya, Mahmood Mamdani (kanan) dan Mira Nair (kiri), serta istrinya Rama Duwaji (tengah).

Mamdani menampilkan citra sebagai kandidat dari rakyat dan seorang organisator.

"Perubahan jalan hidup adalah hal yang tak terhindarkan," demikian penggalan dari profil Mamdani di situs parlemen.

Mamdani sempat menjajaki dunia film, rap, dan menulis. Namun, sesuai profilnya, dia menekankan bahwa kemampuannya mengelola adalah yang paling nyata.

"Kegiatan mengorganisasi, memastikan bahwa peristiwa-peristiwa di dunia tidak membawanya pada keputusasaan, melainkan pada tindakan," tulis profilnya.

Sebelum terjun ke dunia politik, Mamdani bekerja sebagai konselor perumahan. Sepanjang kariernya ini, dia membantu pemilik rumah berpenghasilan rendah di Queens melawan penggusuran.

Kampanye Mamdani mengedepankan identitasnya sebagai Muslim. Dia secara rutin mengunjungi masjid-masjid sekaligus merilis video berbahasa Urdu tentang krisis biaya hidup di kota New York.

"Kita tahu bahwa tampil sebagai Muslim di muka umum sama saja mengorbankan keamanan yang kadang ditemukan dalam bayangan," ujarnya dalam rapat umum pada musim semi silam.

"Selain Zohran, tidak ada lagi calon yang mewakili isu-isu yang benar-benar saya pedulikan," tutur Jagpreet Singh, direktur politik organisasi keadilan sosial DRUM, kepada BBC.

Keinginan Mamdani untuk membuat New York lebih terjangkau

Mamdani menyebut para pemilih di New York—kota termahal di AS—ingin agar Demokrat fokus pada keterjangkauan harga.

"Di kota ini, satu dari empat penduduk hidup dalam kemiskinan. Selain itu, 500.000 anak di New York tidur dalam keadaan lapar setiap malamnya," ujarnya kepada BBC baru-baru ini.

"Kota New York terancam kehilangan hal yang membuatnya begitu istimewa."

Berikut proposal Mamdani:

  • Layanan bus gratis di seluruh kota;
  • Pembekuan sewa dan akuntabilitas lebih ketat bagi tuan tanah yang lalai;
  • Jaringan toko kelontong milik kota yang berfokus pada keterjangkauan harga;
  • Layanan penitipan anak untuk usia enam minggu hingga lima tahun;
  • Peningkatan tiga kali lipat produksi perumahan dengan stabilisasi sewa yang dibangun serikat pekerja.

Rencana Mamdani juga mencakup "perombakan total" gedung wali kota untuk meminta pertanggungjawaban pemilik properti. Jika terpilih, dia juga akan secara besar-besaran memperluas perumahan yang terjangkau dan permanen .

Dalam kampanyenya, Mamdani mengaitkan paket kebijakan ini dengan gestur visual yang menarik perhatian dan menjadi viral.

Dia menceburkan diri ke Samudra Atlantik untuk mendramatisasi isu pembekuan sewa. Mamdani juga berbuka puasa Ramadan dengan burito di kereta bawah tanah demi menyoroti masalah ketahanan pangan.

Beberapa hari sebelum konvensi Demokrat, Mamdani berjalan kaki menyusuri seluruh Manhattan. Di sela-sela perjalanannya, dia sempat berhenti untuk berswafoto dengan para pemilih.

Meskipun Mamdani bersikeras dirinya mampu membuat New York lebih terjangkau, para kritikus meragukan janji-janji ambisius tersebut.

The New York Times tidak mendukung kandidat mana pun dalam pemilihan pendahuluan wali kota. Secara umum, surat kabar itu justru mengkritik para kandidat.

Dewan redaksi New York Times mengatakan agenda Mamdani "sangat tidak sesuai dengan tantangan kota" dan "mengabaikan pertukaran yang tak terhindarkan dalam tata kelola pemerintahan."

Pembekuan sewa rumah yang diusulkan Mamdani akan membatasi pasokan perumahan, imbuh mereka.

Pengalaman Mamdani

Cuomo dan pihak lainnya menilai sosok Mamdani belum berpengalaman dan terlalu radikal.

Menurut mereka, keinginan Mamdani tidak cocok untuk kota dengan anggaran US$115 miliar (sekitar Rp 1.860,677 triliun) dan lebih dari 300.000 pekerja kota.

Cuomo didukung para donatur besar dan dukungan kelompok sentris—termasuk Bill Clinton. Dia bersikeras bahwa pengalaman sangatlah menentukan dalam memimpin kota New York.

"Pengalaman, kompetensi, dan tahu cara menjalankan pekerjaan adalah hal paling mendasar," ujarnya.

"Ini termasuk tahu bagaimana berurusan dengan Trump, Washington, serta legislatif negara bagian. Saya mendukung gagasan untuk belajar sembari bekerja, tetapi bukan untuk posisi wali kota New York."

Sembilan kandidat berdiri di atas panggung, masing-masing di belakang podium kaca.

Sumber gambar, Shutterstock

Keterangan gambar, Sembilan kandidat bersaing untuk menjadi calon dari Partai Demokrat—mereka tampil dalam debat wali kota di New York City pada 4 Juni.

Akan tetapi, Trip Yang, seorang pakar strategi politik, justru menilai "pengalaman" tidak selalu menjadi penentu di era politik saat ini.

Terlepas dari menang atau tidaknya Mamdani, ahli itu percaya bahwa kampanye Mamdani telah mencapai "hal yang tak terpikirkan."

"Zohran didukung puluhan ribu sukarelawan dan ratusan ribu donatur individu. Sangat jarang ada kampanye konvensi Demokrat lokal di New York yang melibatkan begitu banyak sukarelawan dan antusiasme akar rumput," ujarnya.

"Zohran memahami kami. Dia milik kami. Dia berasal dari komunitas kami, komunitas imigran," tambah Lokmani Rai, salah seorang pendukung Mamdani.

Palestina dan Israel

Mamdani baru-baru ini berkampanye di taman Jackson Heights, salah satu komunitas paling beragam di AS. Di sana, anak-anak berlarian dan bermain ayunan. Sementara pedagang makanan Latin terlihat menjajakan es krim dan kudapan.

Pemandangan tersebut secara sempurna menangkap keberagaman kota New York—yang dianggap banyak politikus Demokrat sebagai aset terbesar mereka.

Namun, kota ini juga tidak luput dari ketegangan ras dan politik.

Mamdani mengeklaim dirinya menerima ancaman Islamofobia setiap hari. Beberapa di antaranya bahkan menargetkan keluarganya. Menurut polisi, penyelidikan kejahatan kebencian atas ancaman tersebut sedang berlangsung.

Kepada BBC, Mamdani menuturkan bahwa rasisme adalah indikasi keretakan dalam politik AS.

Dia juga mengkritik Partai Demokrat "yang membiarkan Donald Trump terpilih kembali" dan gagal membela para pekerja "tidak peduli siapa mereka atau dari mana asalnya."

Sikap para kandidat terhadap konflik Israel-Gaza kemungkinan besar juga menjadi perhatian para pemilih.

Dukungan kuat Mamdani terhadap Palestina dan kritiknya terhadap Israel membuatnya berbeda pandangan dengan sebagian besar petinggi Demokrat.

Mamdani bahkan sempat mengajukan rancangan undang-undang untuk mengakhiri status bebas pajak bagi lembaga amal di New York yang memiliki hubungan dengan permukiman Israel, yang melanggar hukum hak asasi manusia internasional.

Dia juga menyatakan keyakinannya bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu harus ditangkap.

Dalam berbagai kesempatan, Mamdani berkali-kali didesak pers untuk menyatakan apakah dia mendukung hak Israel untuk eksis sebagai negara Yahudi.

"Saya tidak merasa nyaman mendukung negara mana pun yang memiliki hierarki kewarganegaraan berdasarkan agama atau hal lainnya. Saya rasa kesetaraan harus diabadikan di setiap negara di dunia sebagaimana yang kita punya di negara kita. Itu keyakinan saya," ujarnya suatu kali.

Mamdani juga menegaskan tidak ada tempat untuk antisemitisme di kota New York. Dia menambahkan akan meningkatkan pendanaan untuk memerangi kejahatan kebencian, jika terpilih.

Di sisi lain, Cuomo menggambarkan dirinya sebagai "pendukung Israel yang sangat antusias dan bangga akan hal itu."

Dalam banyak hal, isu-isu yang dihadapi politikus Demokrat New York sama dengan isu yang akan dihadapi partai tersebut dalam pemilihan mendatang.

Konvensi Demokrat di kota New York kemungkinan akan dianalisis secara nasional untuk melihat implikasinya terhadap partai—dan bagaimana seharusnya mereka menghadapi Trump.