Paus Fransiskus 'kritis' dan mengalami masalah ginjal, kata Vatikan

Sumber gambar, AFP
- Penulis, Giulia Granchi
- Peranan, BBC News Brasil
- Waktu membaca: 6 menit
Paus Fransiskus masih dalam kondisi "kritis", tetapi "tidak menunjukkan gejala gangguan pernapasan lebih lanjut", kata Vatikan dalam sebuah pernyataan pada Minggu (23/02).
Paus masih menerima terapi oksigen aliran tinggi dan telah menjalani transfusi darah. Tes darah juga menunjukkan bahwa ia mengalami "penurunan fungsi ginjal ringan"—masalah ginjal—yang "saat ini terkendali", kata pernyataan tersebut.
Vatikan mengatakan bahwa ia "tetap sadar dan berorientasi dengan baik".
Pada Sabtu (22/02), Paus Fransiskus mengalami "krisis pernapasan seperti asma yang berkepanjangan", kata Vatikan.
Paus dirawat di Rumah Sakit Gemelli di Roma karena mengidap pneumonia di kedua paru-parunya.
Transfusi darah dianggap perlu karena jumlah trombosit Paus tergolong rendah. Kondisi ini berhubungan dengan anemia, kata Vatikan pada Sabtu (22/02)
"Kondisi Bapa Suci masih kritis," sebut pernyataan Vatikan. "Paus belum lepas dari bahaya."
"Bapa Suci tetap waspada dan menghabiskan hari di kursi meskipun ia lebih menderita daripada kemarin," tambah pernyataan itu.
Paus telah meminta kondisi kesehatannya dibuka untuk umum sehingga Vatikan merilis pernyataan harian. Nada dan panjang isi pengumuman Vatikan cenderung bervariasi, terkadang membuat publik mencoba membaca yang tersirat.
Meski demikian, sejauh ini pemaparan mengenai kondisi kesehatan Paus adalah yang paling tajam dan sangat terperinci. Vatikan menolak untuk memberikan prognosis apa pun.

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.
Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

Pernyataan tentang kondisi kritis Paus mengemuka sehari setelah para dokter yang merawat Paus mengatakan untuk pertama kalinya bahwa ia merespons pengobatan, meskipun mereka secara gamblang mengatakan bahwa kondisinya rumit.
Pada Jumat (21/02), mereka mengatakan bahwa perubahan keadaan sekecil apa pun akan mengganggu situasi yang mereka sebut "keseimbangan yang rapuh".
"Ia adalah Paus," seperti yang dikatakan salah satu dari para dokter. "Tetapi ia juga seorang manusia."
Paus pertama kali dirawat di rumah sakit pada 14 Februari setelah mengalami kesulitan bernapas selama beberapa hari.
Ia sangat rentan terhadap infeksi paru-paru karena mengalami peradangan di sekitar paru-paru saat dewasa dan pernah menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-paru pada usia 21 tahun.

Sumber gambar, AFP
Pada Selasa (18/02), Vatikan mengumumkan Paus Fransiskus dalam kondisi yang "kompleks" karena pneumonia bilateral pada kedua paru-paru yang dideritanya.
"Tes CT Scan yang dilalui oleh Bapa Suci menunjukkan pneumonia di kedua paru-paru, yang memerlukan terapi pengobatan tambahan," kata Vatikan pada Selasa (18/02).
Vatikan menambahkan hasil tes laboratorium dan tes rontgen di bagian dada Paus "menunjukkan kondisi yang kompleks".
Vatikan menyebut bahwa Paus Fransiskus akan dirawat di rumah sakit selama diperlukan.
"Hasil pengujian yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir, termasuk hari ini, menunjukkan adanya infeksi polimikroba pada saluran pernapasan, yang menyebabkan perubahan baru dalam pengobatan," demikian laporan Vatikan yang dikutip BBC News Brasil.
"Semua pengujian yang dilakukan hingga saat ini menunjukkan gambaran klinis yang kompleks, yang akan memerlukan perawatan di rumah sakit yang tepat."

Sumber gambar, Getty Images
Sebelum dirawat di rumah sakit, Paus mengalami gejala bronkitis selama beberapa hari dan tidak dapat membaca pidato di salah satu acaranya.
Juru bicara Vatikan, Matteo Bruni, mengatakan kepada wartawan bahwa Paus Fransiskus dalam suasana hati yang baik, terlepas dari kondisi yang dialami.
Paus menghabiskan waktu dengan "membaca, rehat dan berdoa".
Apa itu infeksi saluran pernapasan polimikroba?
Istilah polimikroba yang digunakan untuk diagnosis ini menunjukkan bahwa infeksi tersebut disebabkan oleh lebih dari satu agen mikroba, seperti virus, jamur atau bakteri.
"Infeksi polimikroba dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, termasuk saluran pernapasan," jelas Renato Kfouri, wakil presiden Masyarakat Imunisasi Brasil.
"Ini adalah koinfeksi, yaitu adanya beberapa mikroorganisme yang menyebabkan infeksi," tambahnya.
Dalam kasus Paus, tidak diungkapkan agen mana yang menyebabkan kondisi tersebut.
Diagnosis bronkitis sebelumnya, meskipun tidak memberikan rincian spesifik tentang asal-usul kondisi tersebut, dapat berkontribusi terhadap memburuknya kekebalan secara umum, seperti yang dijelaskan oleh Ricardo de Amorim Corrêa, presiden Masyarakat Pulmonologi dan Tisiologi Brasil (SBPT).
"Hal ini karena, setelah timbulnya peradangan [bronkitis], lingkungan di bronkus menjadi kondusif bagi invasi kuman, terutama ketika kerusakan yang disebabkan oleh virus mendukung pertumbuhan bakteri," ujar Corrêa.
"Oleh karena itu, bronkitis akut dapat disebabkan oleh mikroba dan faktor non-infeksi, dan infeksi bakteri dapat muncul sebagai komplikasi."

Sumber gambar, Getty Images
Menurut Corrêa, orang lanjut usia jauh lebih rentan terhadap kondisi tersebut karena adanya penurunan alami respons imun, baik pada sistem imun umum maupun respons lokal pada bronkus.
Paus berisiko mengalami infeksi paru-paru karena mengalami kondisi pleuritis, peradangan pada selaput pembungkus paru-paru atau pleura, dan sebagian dari salah satu paru-parunya diangkat.
Fakta bahwa Paus Fransiskus pernah mengalami komplikasi paru-paru di masa mudanya membuat kondisi kesehatan yang dialami saat ini menjadi lebih rumit.
"Hal ini dapat menyebabkan kesulitan bernapas, karena peradangan pada bronkus [saluran yang membawa udara ke paru-paru] dapat mengurangi aliran udara ke paru-paru," kata Corrêa.
Pasien, lanjutnya, perlu memiliki cadangan ventilasi yang baik, yaitu kemampuan bernapas dengan cukup untuk mengatasi peningkatan permintaan dan keterbatasan yang disebabkan oleh peradangan.
"Jika pasien sudah mengalami gangguan pada sebagian bronkusnya, masalahnya mungkin lebih serius," tegas Corrêa.
Corrêa mencontohkan, pasien mungkin mengalami kesulitan menyerap oksigen dengan baik karena peradangan dan dalam tertentu, mungkin perlu menggunakan oksigen tambahan.
"Jika kondisinya memburuk, mungkin perlu menggunakan ventilasi mekanis", jelas Corrêa.
Bagaimana metode diagnosis infeksi polimikroba?
Untuk mendiagnosis infeksi polimikroba, beberapa metode dapat digunakan.
Metode yang paling umum adalah dengan mengumpulkan sampel dahak, karena peradangan pada bronkus meningkatkan sekresi lendir—yang berfungsi membuang agen penyebab.
"Sekresi ini umumnya mengandung sel-sel inflamasi, yang membuatnya berwarna kekuningan atau kehijauan."
"Dengan membudidayakan sekresi ini, kita dapat mengidentifikasi agen yang bertanggung jawab atas infeksi," jelas Corrêa.

Sumber gambar, Getty Images
Namun, mengidentifikasi virus cenderung rumit, kata ahli.
"Itulah sebabnya metode PCR digunakan [seperti yang dilakukan untuk Covid-19 dan influenza] yang memungkinkan identifikasi materi genetik dari virus."
"Namun, kultur virus sangat lambat dan sarana untuk melakukannya terbatas."
Perawatannya, kata spesialis, bervariasi tergantung pada jenis bakteri yang terlibat dan sensitivitasnya terhadap antibiotik.
Pada infeksi yang disebabkan oleh satu bakteri, antibiotik spesifik dapat digunakan.
Namun, bila terdapat banyak kuman, maka perlu menggunakan antibiotik berspektrum luas, yang mampu melawan berbagai jenis bakteri.
Jika ada virus, pengobatan mungkin mencakup antivirus di samping antibiotik.












