Penjual buku di kota Paris yang makin menghilang

Sumber gambar, Nick Kozak

Para penjual buku sudah merupakan bagian dari budaya masyarakat Paris sejak berabad-abad silam. Inilah tempat di mana kita bisa mendapatkan buku-buku langka – tetapi keberadaan mereka kini terancam.

Kerjaan dengan pemandangan indah

Salah satu panorama kota Paris yang tersohor adalah deretan bouquinistes -lapak penjual buku. Mereka menjual barang dagangannya dari hari ke hari di sepanjang sungai Seine. Sebagian besar buku bekas.

Dalam aktivitas yang sudah ada sejak tahun 1400-an, lapak-lapak berbentuk kotak ini terkenal sebagai tempat rujukan mencari buku-buku yang sudah tidak dicetak lagi atau buku-buku langka.

Warga lokal dan turis akan membanjiri tempat ini untuk mendapatkan judul-judul buku seperti La Vagabonde, karena semangat dan kontroversi penulis Colette, atau edisi perdana buku komik Prancis, L’espiègle Lili, yang diterbitkan pada awal tahun 1900-an dan tidak pernah diterbitkan lagi.

Bermula dari sekitar 20-an penjual pada sekitar abad ke 17, saat ini ada sekitar 240 penjual buku di tepi-tepi Seine di Paris. Kotak hijau kayu tradisional mereka menandai kedua sisi sungai Seine, mulai dari Musee d'Orsay hingga Institut de Monde Arabe, dengan konsentrasi terbesar terletak di pintu masuk Latin Quarter, tempat Universitas Sorbonne yang terkenal itu.

Sumber gambar, Nick Kozak

Tantangan para pelancong

Tetapi bahkan dengan 240 penjual yang berjajar di sepanjang sungai, persaingan acapkali tidak datang dari lapak terdekat.

Tantangan terbesar para penjual buku selama 20 tahun terakhir ini adalah pesatnya pertumbuhan buku elektronik dan akses internet, yang mengurangi penjualan buku dan membuat buku-buku langka mudah didapatkan.

Untuk mengimbangi penurunan penjualan itu, beberapa penjual buku telah berusaha menambah pemasukan mereka dengan menjual barang-barang cenderamata bagi para turis - yang secara teknis diizinkan oleh peraturan kota yang membolehkan penjualan barang-barang komersial di satu dari empat lapak hijau.

Tetapi tidak semua bouquinistes menyambutnya. Muncul perdebatan di antara penjual tentang apa yang dapat dan tidak dapat mereka jual -dan apakah hal itu akan mengubah tradisi yang pernah menjadi daya tarik budaya masyarakat Paris.

Sumber gambar, Nick Kozak

Sepenuhnya mencintai buku

Di akhir tahun 1980an, Jean-Pierre Mathias mengganti profesinya dari dosen filsafat menjadi penjual buku.

“Ketika saya memperoleh lapak, saya mulai menjual buku-buku tua milik saya... Saya menyukai ide untuk meneruskan tradisi berfilsafat di sini tanpa harus menjadi profesor,” katanya.

Mathias hanya menjual buku-buku dan ukiran tua; dia menolak untuk meningkatkan pemasukan dari turis asing dengan menjual barang-barang cenderamata.

“Bagi saya, sebuah buku akan selalu menjadi sebuah buku, dan orang yang mencintai buku akan terus membelinya. Teater tidak menghilang dengan adanya bioskop,” katanya sambil tersenyum lebar.

Sumber gambar, Nick Kozak

Dari komik ke gantungan kunci

Francis Robert sudah menjual buku-buku komik di lapaknya lebih dari 35 tahun. Awalnya, orang-orang akan mendatanginya jika mereka mencari buku komik tertentu, katanya.

Jika dia tidak memilikinya, barulah orang-orang itu akan mencari di internet. Sekarang kebalikannya; mereka hanya akan mendatanginya, jika tidak dapat menemukannya di internet.

Untuk mengimbanginya, Robert menjual cenderamata –termasuk miniatur menara Eiffel yang kodian itu– dan usahanya tumbuh besar dalam beberapa tahun terakhir.

Warga lokal masih mendatanginya untuk membeli satu atau dua buah buku. Namun menurutnya, kebanyakan pembelinya berasal dari luar negeri dan lebih cenderung membeli cenderamata ketimbang buku-buku komik yang sebagian besar berbahasa Prancis.

Sumber gambar, Nick Kozak

Pekerjaan yang mengasyikan

Setiap pedagang buku harus mengelola lapak-lapaknya. Namun di luar itu, pekerjaan tersebut menawarkan banyak kebebasan.

Penjual dapat menentukan sendiri jam bukanya dan lapak akan tutup begitu matahari terbenam; memilih bahan bacaan yang ingin mereka jual; dan menghabiskan hari di salah satu pemandangan terindah di Paris.

Kendati demikian, banyak pedagang buku merasa bahwa kota ini seharusnya lebih mendukung tradisi penjualan buku yang sedang mengalami penurunan penjualan itu.

Salah satu usulnya adalah memasang sambungan listrik agar para bouquinistes dapat terus berjualan di malam hari.

Sumber gambar, Nick Kozak

Mengenal baik isi buku

Bernard Carver berkecimpung di bisnis buku langka sejak 20 tahun lalu, setelah tiba dari Libanon dengan kantung tipis.

Dia segera menjalani hidup di jalanan, jelasnya, dan memilih menikmati kenyamanannya pada buku-buku ketimbang minum-minum. Dari minatnya itu, dia kemudian berteman dengan para pedagang buku.

Untuk menjual barang dagangan, katanya, kita harus mengenal baik barang-barang itu. Ia bercerita dengan bangag bahwa dia sudah membaca semua yang dijual di rak bukunya.

Meski demikian, tetap saja penjualan mengalami penurunan, dan dia mengungkapkan kemarahannya pada makin banyaknya pernak pernik yang dijual.

banyak penjual sejauh ini sudah menambahkan meja lipat di depan lapaknya untuk memperbanyak dagangan cendera mata – suatu taktik yang sebetulnya tak diizinkan oleh peraturan kota Paris.

Sumber gambar, Nick Kozak

Jalan keluar kreatif

Banyak pedagang buku yang menjual pernak-pernik buatan Cina, seperti gantungan kunci Menara Eiffel dan mug J'aime Paris.

Namun salah satu pedagang termuda, Roman George, memilih untuk menjual reproduksi iklan-iklan lama yang dibuatnya bersama ayahnya, juga lukisan-lukisan mahasiswa dari Ecole des Beaux-Arts yang prestisius yang berdiri persis di belakang kiosnya.

Dengan cara ini, jelasnya, dia dapat menjual suvenir yang semuanya buatan Prancis dan terkait budaya setempat. Tampaknya ini jalan keluar terbaik baik dari segi kebutuhan mendapat pembeli tanpa harus mengorbankan tradisi khas itu, maupun dari kebutuhan pelancong akan suvenir.

<italic>Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris, dengan judul <link type="page"><caption> Paris' dissapearing booksellers</caption><url href="http://www.bbc.com/travel/story/20150520-paris-disappearing-booksellers" platform="highweb"/></link> dan berbagai artikel sejenis di <link type="page"><caption> BBC Travel</caption><url href="http://www.bbc.com/travel" platform="highweb"/></link>.</italic>