Kuburan digital bernama Facebook

Sumber gambar, Getty
Suatu saat jumlah pengguna Facebook yang meninggal dunia akan lebih banyak dibandingkan yang masih hidup. Bagi yang masih hidup, kondisi ini akan membuat mereka merasakan perbedaan dalam memaknai kematian orang-orang terdekatnya.
Sehari setelah bibi saya meninggal dunia, saya menemukan tulisannya di halaman depan buku kumpulan karya Shakespeare yang pernah dia hadiahkan kepada saya. "Bibi tahu kamu sangat suka sastra," tutur tulisan itu, "Karena itulah Bibi pilih untuk memberi kamu buku ini."
Saya sangat tersentuh. Saya pun membuka laptop dan menelusuri laman Facebook bibi Jackie, ingin kembali mengingatnya lewat foto-foto dan unggahannya yang kerap lucu, sembari membayangkannya berbicara dengan aksen Baltimore yang kental.
Di bagian atas laman Facebooknya terdapat video dua ekor gajah sedang bermain air, yang diunggah sepupu saya. Bibi Jackie memang sangat suka gajah. Di bawahnya ada ucapan duka dari mantan murid-muridnya, disusul ucapan bela sungkawa yang diunggah adik iparnya.
- <link type="page"><caption> Kisah orang-orang yang namanya membuat komputer bingung</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/vert_fut/2016/04/160415_vert_fut_nama_komputer" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kenyataan di balik robot seks</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2016/03/160322_vert_fut_robot_seks" platform="highweb"/></link>
Saya kembali ke bagian paling atas laman tersebut. Berdasarkan informasi di sana, bibi saya adalah lulusan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Frostburg, mantan Kepala Departemen Bahasa Inggris SMA Baltimore, dan sekarang tinggal di Baltimore, Maryland.
Tinggal di Baltimore? Saya tiba-tiba tercenung.
Bibi Jackie sekarang tidak tinggal di manapun. Dia sudah tiada.
Namun, jika Anda tidak mengenal bibi Jackie dan tanpa sengaja membuka profil Facebook-nya tanpa melihat tulisan bela sungkawa di bagian bawah, Anda mungkin tidak tahu dia sudah meninggal.
Dia akan terus 'hidup' di Facebook.

Sumber gambar, Getty
Absurd rasanya membayangkan bibi Jackie yang telah dikubur, tetapi ada teknologi yang membuat pemikiran, kenangan dan jalinan-jalinan pertemannya tetap hidup.
Meskipun jelas, orang tidak mungkin meninggalkan tubuhnya dan merasuk ke dalam teknologi digital, tetapi mereka, di satu sisi, tetap 'ada'.
Bagaimana penggunaan media sosial mengubah persepsi kita soal kematian? Bagaimana pula ini mengubah cara-cara orang di sekeliling kita berduka ketika kita telah tiada?
Banyak yang tidak melapor
Jumlah pengguna Facebook yang telah meninggal dunia bertambah dengan pesat. Pada 2012, delapan tahun sejak platform ini diluncurkan, setidaknya 30 juta pengguna Facebook telah meninggal. Angka tersebut terus meningkat. Beberapa pihak mengklaim lebih dari 8.000 pengguna Facebook meninggal setiap harinya.
Pada suatu waktu, akan ada masanya di mana jumlah pengguna Facebook yang meninggal dunia, lebih banyak daripada yang masih hidup. Facebook kian menjadi kuburan digital yang tidak terhentikan.

Sumber gambar, Getty
Banyak profil Facebook yang memberi tahu bahwa pemilik akunnya telah meninggal dunia. Ini setelah teman-teman pemilik akun melaporkan kematian tersebut ke Facebook. Di dekat nama di profilnya tertulis "remembering" - "mengenang". Akun tersebut tidak akan lagi muncul di daftar "Orang yang mungkin Anda kenal". Pengingat ulang tahunnya pun juga dihapuskan.
Namun, tidak semua pengguna Facebook yang telah wafat, dilaporkan.
Kerry, salah satu teman satu kamar saya di kampus, tewas bunuh diri beberapa tahun lalu. Istri, keluarga dan teman-temannya hingga saat ini masih terus mengunggah berbagai update ke laman Facebook-nya. Jika ini terjadi, maka profile Kerry akan muncul di laman Facebook saya.
Kematian Kerry dan bibi Jackie tidak dilaporkan ke Facebook. Identitas digital mereka terus ada.
Facebook sebagai warisan
Media sosial telah mengajarkan kita tentang kekuatan momen, di mana kita bisa secara langsung, saat itu juga, berkomunikasi dengan orang di berbagai penjuru dunia tentang program televisi, pertandingan sepak bola, isu-isu HAM dan lain sebagainya. Namun, mungkin sekarang kira harus melihat media sosial dari sisi berbeda : ia bisa menjadi warisan yang akan dilihat anak-cucu kita kelak, setelah kita meninggal dunia.
Berdasarkan penelitian terkini, setiap minggunya orang-orang bisa menghabiskan lebih 12 jam untuk menulis atau mengunggah informasi tentang siapa dia.
Seperti yang saya pernah sampaikan ke Ibu saya, nantinya cucu-cucu saya akan bisa mengenal dia lewat laman Facebook-nya. Mereka tidak hanya bisa mencari tahu apa peristiwa penting yang pernah terjadi di hidup ibu saya, tetapi juga hal-hal kecil sehari-hari, misalnya meme yang membuatnya tertawa, foto viral yang diunggahnya, restoran apa yang sering didatanginya bersama ayah, dan lain sebagainya. Dan tentu, ini dilengkapi banyak foto. Melalui media sosial, cucu saya akan bisa mengenal moyangnya.
Rekaman media sosial kita seakan bisa menjadi 'jiwa' digital kita. Mereka yang menelusuri laman Facebook saya akan mengetahui apa agama saya, cara pandang politik saya, hubungan romantis saya dengan kekasih, selera buku saya, apapun. Jika saya mati besok, jiwa digital saya tetap hidup.

Sumber gambar, Getty
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan teknologi semakin menggencarkan penelitian terkait jiwa digital ini. Eterni.me, pada 2014, bahkan berjanji akan membuat versi digital Anda yang hidup setelah Anda meninggal dunia. Menurut situs tersebut, "Mati adalah sebuah kepastian, namun bagaimana jika Anda bisa hidup selamnya sebagai avatar digital? Dan orang di masa depan benar-benar dapat berinteraksi dengan kenangan, cerita dan ide Anda, hampir seperti bicara langsung dengan Anda".
Jika program seperti Eterni.me berhasil, cucu saya tidak hanya bisa mempelajari siapa moyangnya. Mereka bahkan bisa bertanya langsung dengan avatarnya, mencari jawaban yang mungkin saja akan disampaikan ibu saya jika dia masih hidup.
Konsep ini bahkan bisa digarap lebih jauh lagi, seperti yang diprediksi sejumlah peneliti. Misalnya robot Bina 48 yang dipelopori Martine Rothblatt. Robot ini sangat mirip dengan istrinya, serta menyimpan data-data perkataan dan ingatan sang istri.
Rothblatt, penulis buku Virtually Human, dan juga merupakan CEO dari United Therapeutics memiliki moto hidup : "Mati itu pilihan". Ia sedang mengembangkan proyek masa depan di mana orang mati dapat 'dicipta' ulang dalam bentuk animasi atau avatar. 'Otak' avatar ini adalah hasil kloningan dari orang yang telah meninggal, sehingga avatar dapat berpikir dan bertindak seperti orang yang otaknya telah dikloning.
Ketika ditanya seberapa realistis avatar ini menyerupai orang yang ditirunya, Rothblatt mengklaim avatar ini bahkan bisa menjadi versi 'lebih realistis' dari kita.
Lalu, jika orang yang kita sayangi membuat avatar ini dan kemudian meninggal dunia, apakah ini akan mengubah cara kita berkabung menghadapi kematiannya?
Selalu ingat bisa menjadi kutukan
Salah satu buku yang membahas perkabungan adalah "On Death and Dying" karya Elisabeth Kubler-Ross. Pada buku tersebut disebutkan, ketika berkabung, seseorang akan melalui lima proses : penolakan, kemarahan, kebimbangan, depresi dan penerimaan. Sejak buku tersebut diterbitkan pada 1969, peneliti-peneliti moderm ramai mempertanyakan dan mengkritik klaim bahwa orang yang sukses melewati masa berkabung adalah mereka yang pada akhirnya mengikhlaskan kepergian orang yang dicintai dan kemudian terus melanjutkan hidup.
Saat ini banyak penasehat perkabungan yang membantu orang yang tengah berduka, dengan menyadarkan mereka bahwa orang yang disayangi sebenarnya tetap berada bersama mereka, meskipun dalam wujud yang berbeda.
Meskipun begitu, salah satu bagian penting dari masa berkabung adalah untuk kembali melanjutkan hidup. Bukan berarti kita melupakan keberadaan orang terkasih yang telah meninggal dunia, tetapi melupakan bahwa mereka masih di dunia yang sama dengan tempat kita berada saat ini.
Itulah yang menjadi 'pengalaman' baru di dunia digital kita saat ini : kita tidak dibiarkan untuk lupa.

Sumber gambar, Getty
Pada bukunya yang terbit pada 2009, "The Virtue of Forgetting in the Digital Age", Viktor Mayer-Schonberger dengan meyakinkan menyebut bahwa hal inti yang membuat manusia seperti manusia saat ini adalah kemampuan untuk melupakan. Sehingga "kita bisa bertindak di setiap waktunya". Dengan melupakan, menurutnya, membuat kita "hidup 'di saat itu juga' dan memutuskan sesuatu dengan lebih tegas".
Mayer-Schonberger mengambil contoh sebuah cerita pendek, "Funes, The Memorius" karya Jorge Luis Borges, di mana karakter utamanya, Funes, kehilangan kemampuan untuk lupa setelah sebuah kecelakaan yang menimpanya. Funes bisa mengingat detail semua buku yang pernah dia baca, dan seluruh hal yang dialaminya setiap hari.
Namun, kemampuan ini menjadi 'kutukan' baginya. Funes jadi sulit beraktivitas setiap saatnya, karena pada dasarnya "berpikir adalah mengacuhkan (atau melupakan) berbagai hal". Intinya, menurut Mayer-Schonberger, "bisa mengingat dengan sempurna... akan membuat kita terjebak dalam berbagai kenangan, tidak mampu meninggalkan masa lalu".
Teknologi digital memaksa kita untuk terus mengingat orang yang telah mati, yang menurut sosiolog Jean Baudrillard, akan terus menghantui setiap orang.
Hidup dengan melupakan
Di masa lalu, mengingat orang yang telah meninggal dunia 'membutuhkan usaha fisik'. Kita harus pergi ke suatu tempat : makam, gereja, dan sebagainya. Atau, kita harus mengambil album foto dan membuka halaman-halamannya. Kita harus meluangkan waktu kita saat itu, untuk mengenang masa lampau.
Namun, di Facebook, semuanya seakan berlangsung saat itu juga. bibi Jackie ada di Facebook, ada di medium yang sama dengan saya. Seakan-akan dia selalu ada di manapun saya berada di Facebook. Lebih luas lagi, kita tak akan bisa 'move-on' - melanjutkan hidup - jika jutaan pengguna Facebook yang telah meninggal, tetap ada di dunia maya.
Salah satu kisah paling aneh yang pernah saya dengar terkait ini, berasal dari seorang badut sirkus bernama Dooby. Beberapa saat sebelum pertunjukan, dia mendengarkan rekaman voicemail dari kakeknya yang sedang sekarat. Kakeknya berujar dia sangat mencintai Dooby dan akan menelponnya usai pertunjukan. Saat Dooby mendengarkan rekaman itu, kakeknya sebenarnya telah wafat.
Seorang badut mendengarkan suara orang yang sudah meninggal dunia - mungkin inilah yang paling tepat mendeskripsikan perasaan yang melintas saat saya membuka laman Facebook bibi Jackie. Absurd. Saya masih bisa mendengarkan suaranya, melihat kehadirannya di dunia maya, tapi di saat yang bersamaan, dia telah tiada.

Sumber gambar, iStock
Ada satu kata yang menggambarkan perasaan kita bahwa hal buruk akan terjadi : premonition - pertanda - yang berasal dari sebuah bahasa kuno yang berarti "peringatan". Ada perasaan seperti itu yang muncul ketika kita melihat laman Facebook orang-orang yang telah meninggal dunia. Namun, dalam hal ini kita juga ingat bahwa hal buruk pernah akan terjadi pada orang tersebut, pada perasaan kita sebelum orang tersebut meninggal. Mungkin kita bisa menyebut ini sebagai re-monition - pertanda ulangan - yang mengingatkan kita bahwa kita pernah merasakan pertanda tersebut.
Namun, hingga saat ini belum ada solusi terhadap data-data pengguna Facebook dan teknologi dunia maya lainnya yang telah mati. Satu-satunya harapan adalah bahwa akan hilangnya memori internet secara perlahan-lahan di masa yang akan datang.
"Karena faktanya", ungkap Borges, "kita semua hidup dengan melupakan".
--------------
Silakan menyimak artikel ini dalam versi aslinya, <link type="page"><caption> Facebook is a growing and unstoppable digital graveyard</caption><url href="http://www.bbc.com/future/story/20160313-the-unstoppable-rise-of-the-facebook-dead" platform="highweb"/></link>, dan artikel sejenis di <link type="page"><caption> BBC Future</caption><url href="http://www.bbc.com/future" platform="highweb"/></link>.









