Kenapa sekarang bukan zamannya lagi 'go online'

Go online

Jika saya sedang mengemudi mobil sambil mendengarkan petunjuk arah GPS dari Google Maps, apakah saya sedang online atau offline?

Bagaimana kalau saya sedang duduk-duduk di rumah sambil streaming film?

Mari melompat ke masa depan: saat saya ketiduran di dalam mobil tanpa supir sementara ponsel pintar saya memilah pesan dan panggilan telepon, apakah kata-kata seperti “offline” dan “online” ada maknanya?

Menanyakan itu di masa depan, saya pikir, sama seperti menanyakan di masa kini apakah saya baru-baru ini pernah hidup tanpa listrik.

Listrik telah menjadi bagian besar dalam hidup kita sehingga masuk akal bila ditanya bagaimana kita menggunakannya – tapi tidak lagi jika atau kapan. Itu hal lumrah.

Pertama kali saya ‘go online’, pada tahun 1990, rasanya seperti memulai perjalanan. Saya sambungkan PC ke sebuah kotak bernama modem, sambungkan modem saya ke kabel telepon, dan dengan hati-hati memanggil ke Penyedia Layanan Internet (ISP) yang akan menghubungkan saya dengan World Wide Web. Setelah beberapa kali mendengar bunyi “tut, tut, tut”, saya online. Sungguh ajaib teknologi modern!

Atau lebih tepatnya, komputer saya yang online – satu-satunya benda di rumah saya, dan mungkin dalam radius 10km, yang punya koneksi internet.

Kita nyaris tidak pernah 'log on' seperti dahulu.

Sumber gambar, iStock

Keterangan gambar, Kita nyaris tidak pernah 'log on' seperti dahulu.

Dua dekade kemudian, dunia yang hilang ini terdengar seperti lelucon; suatu masa primitif yang penuh dengan penantian dan keterasingan. Anda tidak perlu menunggu untuk online di tahun 2016. Online yang menunggu Anda. Online adalah kondisi asali kantor Anda, rumah Anda, kendaraan Anda, perjalanan Anda ke toko. Kita telah dijanjikan “Internet of Things” begitu lama, sekarang, kita melupakan maknanya: dunia yang di dalamnya mayoritas percakapan digital tidak melibatkan kita sama sekali, tetapi perangkat yang terhubung internet berkomunikasi satu sama lain. Setetes demi setetes, samudera data telah terakumulasi di seluruh bagian hidup kita.

Di tengah petabyte data-data yang terus berganti, fokus kepada status offline/online seperti terus-terusan mengecek apakah lampu di rumah menyala atau tidak. Keduanya nyata tapi tidak relevan: pengalihan dari persoalan yang lebih besar tentang apa yang Anda lakukan dengan internet – dan apa yang dilakukan internet kepada Anda.

Apakah Anda mengecek email 20 kali sejam atau mematikan ponsel dan menyimpannya dalam lemari, eksistensi Anda terdaftar dan tercatat. Benda yang Anda beli, pakai, makan, minum – semua hal ini mengembangkan bayangan digitalnya masing-masing. Sistem yang mengatur waktu kerja dan waktu luang Anda, yang menjadi perantara kesempatan Anda: ini adalah lingkungan informasi yang mengikat kehidupan di abad 21.

Kata-kata usang tidak dapat menggambarkannya. Mereka malah memperdaya kita bahwa tidak ikut serta adalah pilihan – dan kesalahpahaman itu ada harganya.

Internet kini tak kasat mata dan di mana-mana.

Sumber gambar, iStock

Keterangan gambar, Internet kini tak kasat mata dan di mana-mana.

Lihatlah hal-hal sederhana seperti peringkat kredit. Sadar atau tidak, Anda punya peringkat kredit: skor yang membantu menentukan apakah Anda bisa dapat cicilan rumah, menyewa kamar, atau membuat kartu kredit. Orang yang memahami cara kerja peringkat kredit menikmati keuntungan besar dibanding orang yang tidak tahu keberadaannya, atau cara kerjanya. Kekurangan informasi membatasi kebebasan Anda dengan menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.

Di dalam masyarakat yang terhubung dalam jaringan, semakin banyak sistem seperti ini di sekitar kita. Sungguh ironis bagi mereka yang terobsesi dengan keuntungan psikologis dari ‘puasa’ teknologi, mematikan ponsel dan membuat diri Anda tidak dapat dihubungi menuntut lebih banyak status dan kontrol. Sekadar menganjurkan waktu “offline” tidak menyelesaikan persoalan: apa yang mendefinisikan kebebasan Anda adalah hubungan Anda dengan dan melalui teknologi, serta sejauh mana Anda bisa membuat pilihan berdasarkan informasi dan memanfaatkan sistem.

Untuk hidup dengan baik di zaman sekarang, tak bisa sekadar mematikan internet.

Sumber gambar, iStock

Keterangan gambar, Untuk hidup dengan baik di zaman sekarang, tak bisa sekadar mematikan internet.

Yang penting, dengan kata lain, adalah hanya dengan memikirkan ulang apa artinya selalu online maka kita dapat mengendalikan hidup kita – dan menangani persoalan yang lebih penting tentang bagaimana kita dapat mengatur waktu dan atensi dengan baik di zaman ketika keduanya ‘diserang’ algoritme. Menjauh dari komputer, ponsel, dan tablet adalah ide bagus – jika dan hanya jika Anda dapat fokus pada hal yang lebih berarti daripada sekadar istirahat sebentar untuk kemudian mengulangi rutinitas yang sama.

Jangan terobsesi dengan mematikan gawai Anda. Lihatlah jaringan di balik perangkat Anda, dan praktik sosial yang membentuk penggunaannya: bagaimana mereka menghubungkan Anda, dan bagaimana memanfaatkannya untuk hidup yang lebih kaya.

Ponsel kita mungkin tak selalu menyala, tapi mereka bagian dari dunia informasi yang tak pernah tidur – dan terus-menerus berkembang.

Anda bisa baca artikel ini dalam versi aslinya, <link type="page"><caption> It has fast become antiquated to say that you go 'online'</caption><url href="http://www.bbc.com/future/story/20160327-it-has-fast-become-antiquated-to-say-that-you-go-online" platform="highweb"/></link>, dan artikel sejenis di <link type="page"><caption> BBC Future</caption><url href="http://www.bbc.com/future" platform="highweb"/></link>.