Bagaimana perubahan iklim berdampak pada makanan Anda?

Apakah sejumlah makanan dapat punah, atau apakah ancamannya dilebih-lebihkan? BBC Future menelusuri mitos dan realitas.
Awal tahun ini pakar sains memperingatkan bahwa satu dari enam spesies hewan dapat punah akibat perubahan iklim. Dapatkah kondisi serupa terjadi terhadap tanaman dan bahan makanan, juga? Jelas para petani di banyak tempat di belahan dunia lebih banyak menghadapi kesulitan dalam dekade mendatang.
Pekan lalu, BBC Future mengeksplorasi salah satu upaya ahli sains untuk membantu mengatasi hasil panen dengan kemungkinan kekeringan yang meningkat. Dengan menggunakan gen dari “tanaman kebangkitan”, Jill Farrant dari Universitas Cape Town mengeksplorasi apakah dia dapat merancang tanaman agar dapat dapat bertahan dalam periode yang lebih lama tanpa air.
Tetapi jika kita tak dapat menemukan cara untuk melindungi bahan pangan lain, apakah mereka akan bertahan dalam perubahan iklim? Sayang sekali, tidak ada berita yang bagus dalam sektor ini.
Kendati pokok pemberitaan yang menggelisahkan mengenai “bahan pangan yang akan punah,” tidak ada bukti bahwa bahan pangan utama seperti kacang-kacangan, coklat, anggur, jagung atau gandum akan lenyap.
“Tanaman itu juga, tidak, itu tidak akan punah,” kata Andrew Jarvis, pemimpin dalam Program Riset mengenai Perubahan Iklim, Pertanian dan Keamanan Pangan CGIAR “Di suatu tempat di dunia, itu akan tumbuh.”
Makanan tidak mungkin akan punah dalam perubahan iklim, tapi itu bukan berarti kabar baik bagi bahan pangan di masa depan.
Kita mungkin harus mengubah tempat menanam tanaman tertentu seiring dengan kondisi cuaca yang semakin panas di sejumlah wilayah. Sisi buruknya, tentu saja, adalah petani lokal akan menderita dalam skenario ini.
Dan sejumlah orang mungkin akan berebut untuk mendapatkan akses terhadap tanaman pangan tertentu. “Bahkan jika secara keseluruhan produksi makanan mungkin tidak akan terpengaruh, keamanan pangan tetap dapat terkena dampaknya,” jelas Margaret Walsh, ekologis di Kantor Program Perubahan Iklim Departemen Pertanian AS.
Dengan kata lain, meski suatu makanan tertentu dapat tumbuh di sejumlah tempat di Bumi, tak berarti bahwa setiap orang akan memiliki kesempatan yang sama untuk dapat mengaksesnya seperti hari ini.
Secara keseluruhan, hasil dari banyak makanan, dari bahan pokok sampai ke bahan tambahan seperti kopi dan coklat, mungkin akan mengalami dampak perubahan iklim juga.
Bagaimana penurunan itu dapat dirasakan akan tergantung pada tingkat pemanasan dan tanaman yang bersangkutan, tetapi secara umum,"segala sesuatu yang melebihi 30 derajat Celcius akan sangat buruk untuk tanaman," kata Wolfram Schlenker, seorang profesor hubungan internasional dan hubungan masyarakat Universitas Colombia.
Sebagai contoh, studi statistik yang dia dan rekannya kembangkan mengenai produksi jagung dan kedelai di AS, menunjukkan sebuah penurunan yang tajam setelah melewati temperatur permulaan 30 derajat Celsius.

Sumber gambar, Getty
Di AS - produsen terbesar jagung dan kedelai - pertanian dapat berpindah ke bagian utara ke tingkat tertentu, jelas Schlenker. Tetapi, pada akhirnya hasilnya akan buruk karena penurunan kualitas tanah di Iowa - akibat dari ekspansi sungai es.
Studi yang lain, termasuk gandum di India dan jagung di Afrika, juga ditemukan bahwa ada ambang batas atas yang hasilnya menurun tajam: tanaman dapat beradaptasi dan berpindah, tetapi hanya ke satu titik.
"Apa yang umum dari seluruh penelitian adalah penemuan bahwa pemanasan yang ekstrem merusak pertumbuhan tanaman, meskipun pengurangan sebenarnya pada tanaman bervariasi," jelas Schlenker.
"Jika prediksi untuk akhir abad itu benar, walaupun, saya pikir banyak lahan pertanian di AS akan mengalami dampak yang signifikan."
Dalam kondisi saat ini, sekitar 4% dari lahan pangan di dunia mengalami kekeringan setiap tahun, tetapi di akhir abad kondisi itu diperkirakan akan melonjak hingga 18% per tahun.
Sejumlah studi mengindikasikan bahwa tanaman holtikultura - semuanya kecuali bahan pokok - mungkin akan terkena dampak yang parah, terutama karena cenderung dibatasi di wilayah geografis yang lebih kecil.
Jarvis dan rekannya menemukan bahwa 80% dari zona yang subur untuk tanaman kopi di Amerika dan Brasil tidak akan cocok lagi pada 2050 mendatang, sebagai contoh, ketika perubahan iklim akan mungkin "berdampak besar" pada produksi coklat di Afrika Barat.
"Coklat berkualitas tinggi akan berkurang di masa mendatang dan jika Anda menginginkannya, Anda harus membayar banyak untuk itu," jelas Jarvis.

Sumber gambar, Getty
Ini artinya, bagi mereka yang mampu, sejumlah makanan akan menguras uang mereka di masa depan. Tetapi bagi orang miskin, kenaikan harga pangan yang tinggi mungkin akan menyebabkan sejumlah makanan hilang dari menu mereka.
"Semakin banyak Anda mengurangi, semakin sedikit pasokan, dan semakin tinggi lonjakan harga," jelas Schlenker.
Perubahan iklim juga akan menimbulkan hambatan atas ketergantungan kita terhadap tanaman komoditi - gandum, kedelai, jagung dan beras - yang saat ini menyediakan 75% kalori bagi manusia, baik secara langsung ataupun tidak langsung melalui hewan yang kita pelihara.
Jarvis dan rekannya juga menemukan bahwa, lebih dari lima dekade, dunia telah meyaksikan peningkatan standarisasi makanan; bahan pangan yang kita makan secara global hari ini merupakan 36% lebih mirip dengan makanan pada 1961.
Ketika ini merupakan kabar baik bagi orang-orang yang termiskin di dunia yang sekarang lebih banyak mengonsumsi kalori, protein dan lemak dibandingkan pada masa lalu, homogenitas dan ketergantungan yang berlebihan pada bahan pokok membuat kita rentan terhadap ancaman kekeringan, penyakit menular dan hama - semua kondisi itu diperkirakan akan memburuk di banyak tempat di dunia akibat perubahan iklim.

Sumber gambar, Thinkstock
Bagaimanapun, banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi serangan terhadap pasokan makanan global.
Seperti karya Farrant dengan tanaman kebangkitan, sejumlah perusahaan, organisasi dan peneliti, termasuk Gates Foundation dan Monsanto, bertujuan untuk menciptakan kekeringan - dan temperatur - yang berlawanan dengan tanaman melalui rekayasa genetik dan pengembangbiakan konvensional. Untuk saat ini, para juri masih belum mengetahui bagaimana kesuksesan upaya ini di masa mendatang.
"Orang-orang di Monsanto yang saya ajak bicara terlalu optimists bahwa mereka dapat membuat tanaman yang bisa menoleransi pemanasan," jelas Schlenker.
"Di sisi lain, para ahli sains di USDA yang pernah saya ajak bicara justru lebih berhati-hati."
“Rekayasa genetik merupakan salah satu solusi yang harus kita kembangkan, tetapi tidak semestinya merupakan obat mujarab untuk menyelesaikan semuanya," tambah Jarvis.
"Bukti-bukti dikumpulkan selama lebih dari 10 tahun dan belum secara total mengubah pertanian."

Sumber gambar, Getty
Sampai rekayasa genetik sampai menghasilkan, strategi lain mungkin juga membantu di sejumlah tempat, termasuk memberikan lebih banyak pupuk, menerapkan irigasi yang lebih baik, penggunaan mesin untuk panen yang lebih cepat atau memasang fasilitas penyimpanan untuk mencegah pembusukan.
'Banyak tempat yang mendapatkan manfaat yang besar dengan penggunaan teknologi yang sudah ada," jelas Walsh. “Manajemen pertanian yang umum dapat berjalan bersama dengan untuk meringankan perubahan."
Akhirnya, membuat variasi dalam menukita dari yang sensitif terhadap pans gandum, jagung, beras, dan tanaman lain dapat juga membantu.
"Kami telah menyaksikan perubahan yang besar dalam beberapa dekade terakhir dari apa yang kita makan sebagai sebuah upaya dari perdagangan intrenasional dan saya pikir tren ke depan yaitu diversifikasi pangan akan berlanjut," jelas Jarvis.
"Bergantung pada lebih banyak spesies tanaman akan lebih menciptakan ketangguhan, mengurangi risiko makanan - dan menyediakan kebutuhan nutrisi yang lebih luas."
<italic>Anda bisa membaca artikel <link type="page"><caption> Here's how climate change will affect what you eat</caption><url href="http://www.bbc.com/future/story/20151228-heres-how-climate-change-will-affect-what-you-eat" platform="highweb"/></link> atau artikel lain dalam <link type="page"><caption> BBC Future</caption><url href="http://www.bbc.com/future" platform="highweb"/></link>.</italic>









