Apa sajakah 10 film Natal terbaik?

Sumber gambar, Buena Vista Pictures
Tidak sedikit film seputar Natal yang telah diputar di layar lebar. Tetapi, menurut wakil editor budaya BBC, Christian Blauvelt, sejauh ini ada sepuluh film Natal yang terbaik. Berikut ke-10 film tersebut:
The Muppet Christmas Carol (1992)
Ada berbagai kisah yang tak terhitung jumlahnya tentang cerita Natal, termasuk versi yang dibintangi Mickey Mouse, The Jetsons dan Mr Magoo. Tetapi ada yang lebih terkenal dari semua itu yaitu The Muppet Christmas Carol. Dengan daya kreasinya, Jim Henson membuat film itu dengan mengangkat elemen fantastik dari narasi ala Dickens -ini adalah cerita tentang hantu-hantu, sihir dan perjalanan waktu.
Tetapi penampilan Michael Caine yang justru menghidupkannya, dan dia mampu bermain jauh lebih baik ketimbang penampilan boneka Muppets -jika mereka bernyawa, misalnya.
Penampilannya yang menawan dalam film ini mampu mengaduk-aduk emosi penonton, sebuah tafsir mendalam karya Dickens, lebih dari sekedar parodi –memperlihatkan bahwa cara tercerdas untuk memperbaharui sebuah karya klasik tidak selalu dengan sebuah ironi, tetapi kejujuran.

Sumber gambar, Rex Features
The Snowman (1982)
Durasinya hanya 26 menit, tetapi film animasi karya sutradara Dianne Jackson yang diadaptasi dari buku anak-anak karya Raymond Brigg, The Snowman berkisah layaknya sebuah musik visual.
Benar-benar minus kata-kata, cerita tentang seorang anak laki-laki di pedesaan Inggris yang membuat sosok manusia salju, kemudian terbang bersamanya ke Kutub Utara, penuh dengan gambar-gambar menarik: kuda-kuda liar memenuhi lapangan, bersenang-senang di atas kapal pesiar, cahaya utara berkilauan di atas kutub. Jackson membuat filmnya seperti gambar krayon yang dapat bergerak, diliputi dengan kekaguman dan melankoli –hasilnya mampu membangkitkan imajinasi anak-anak yang menjadi pemeran inti film ini.

Sumber gambar, Rex Features
Meet Me In St Louis (1944)
Menggambarkan sebuah dunia yang dipenuhi aneka rumah berbentuk runcing, pagar-pagar kayu, saus buatan rumahan, dan kisah roman dengan 'bocah lelaki tetangga', film berwarna karya Vincente Minneli (1944) ini mampu menyuguhkan sesuatu yang luar biasa ketimbang semata menjelaskan cerita biasa yang selama ini disuguhkan oleh film-film Amerika.
Sebuah cuplikan kehidupan sebuah keluarga menjelang perayaan World fair di Kota Missouri pada tahun 1904, Meet Me In St Louis juga menggambarkan apa yang mungkin menjadi versi asli dari 'blue Christmas': merasa putus asa karena merasa akan menghabiskan sisa hidupnya di rumah keluarganya, Judy Garland menyanyikan lagu Have Yourself a Merry Little Christmas, sebuah lagu yang dilantunkan dengan penuh pengharapan. Masa depan yang penuh ketidakpastian tergantung dengan nyaman di masa kini dalam Meet Me in St Louis, dan perasaan bosan membuat film bagus ini menjadi luar biasa.

Sumber gambar, movie poster image art.jpg
White Christmas (1954)
Layaknya penganan Natal permen tongkat, White Christmas adalah tontonan menyenangkan untuk masa liburan. Ini adalah film yang benar-benar memperhitungkan segala detilnya: lagu-lagu Irving Berlin yang digarap serius, suara bariton Bing Crosby yang tiada duanya, lawakan gila-gilaan Danny Kaye dan tarian ala Vera-Ellen. Cerita ini juga menarik: sejumlah lagu-dan-tarian para pria yang ingin menyampaikan penghormatan kepada mantan komandannya di Angkatan Darat AS. Tetapi berbagai keputusan di balik persiapan pertunjukan yang diwarnai pertanyaan-pertanyaan menantang seputar selera yang dicap sebagai selera rendah.

Sumber gambar, Warner Bros
A Star in the Night (1945)
Sebelum menyutradarai film konspirasi dan kriminal seperti Invasion of the Body Snatchers, Dirty Harry dan The Shootist, sutradara Don Siegel membuat fim pendek menyenangkan yang menyajikan kisah kontemporer tentang kelahiran kembali Yesus.
Di suatu tempat di Amerika, tiga orang koboi mengendarai kuda mengikuti bintang bercahaya di langit – ini bukanlah obyek Tuhan atau langit, tetapi sebuah tanda jalan untuk sebuah motel kecil di jalan raya. Di sana, Mary dan Joseph mencari tempat menginap untuk semalam –dan Mary dan Joseph membayangkan kembali buruh-buruh migran Meksiko yang sangat miskin. Siegel memasukkan kembali nilai-nilai politik dalam cerita Natal dengan memperbaharui kelahiran Yesus dalam latar baru, dan terasa lebih akrab.

Sumber gambar, Paramount Pictures
Going My Way (1944)
Leo McCarey adalah sutradara hebat dalam blantikan sinema Hollywood yang acap tidak dihargai. Karyanya, Going My Way, yang meraih penghargaan gambar terbaik (best picture) dalam Academy Award 1944, mengungkapkan narasi tentang ritme hidup keseharian di sebuah paroki Katolik Roma di New York, yang diwarnai keprihatinan akan perjuangan kelas, etnik dan persoalan keyakinan. Barangkali tidak akan pernah ada sebuah film Natal yang lebih menekankan pada momen-momen kecil –film ini terlihat unik karena diwarnai gerakan halus alami yang mampu menangkap melankoli ketika waktu terus berlalu.

Sumber gambar, Rex Features
A Christmas Carol (1938)
Karya klasik Dicken yang diproduksi MGM terlihat semakin bagus setiap tahunnya, dan sebenarnya dapat menjadi versi sederhana dari semua cerita yang sudah difilmkan. Dibuat di dalam studio, film beranggaran rendah ini lebih menitikberatkan pada kemampuan akting para pemainnya: Reginald Owens sebagai Scrooge dan Gene Lockhart sebagai Bob Cratchit –dengan keluarga Lockhart memerankan Mrs Cratchit dan anak-anaknya.
Film ini memberi porsi besar pada momen-momen kecil, seperti Bob Cratchit bermain dengan anak-anak di salju, tetapi sebaliknya menonjolkan sebuah drama kolosal: dalam versi ini, Bob sebenarnya kehilangan pekerjaannya saat malam Natal. Sutradara Edwin L Marin dan penulis naskah Hugo Butler memasukkan pula narasi baru ke dalam film tersebut –misalnya, ternyata anak-anak Cratchit takut pada keponakan Scrooge yang sebenarnya tidak mengancam karena mereka sendiri kikir, hanya karena dia merupakan saudara Scrooge.

Sumber gambar, Rex Features
A Christmas Story (1983)
Suatu potret perjalanan waktu dari Amerika Serikat pada tahun 1940 yang juga merupakan gambaran nostalgia yang kuat dari masa kanak-kanak. A Christmas Story menemukan keberagaman di dalam hal yang hiper spesifik.
Young Ralphie, sebuah avatar bagi penulis dan narator film, Jean Shepherd, menghabiskan masa kanak-kanaknya yang miskin di Indiana dengan mendengarkan radio, bermain dengan cincin-cincin dekoder rahasia, berjemur di bawah cahaya listrik dari lampu berbentuk kaki yang mengerikan dan diancam oleh Santa Claus yang benar-benar mengerikan. A Christmas Story tidak hanya menangkap kesenangan masa kecil tetapi juga ketakutannya, dan memperlihatkan bahwa sedikit ketakutan di masa kecil dapat menjadi pengalaman yang kaya.

Sumber gambar, Samuel Goldwyn Company
The Bishop’s Wife (1947)
Film karya imigran Jerman, Henry Koster mengambil premis yang sama dengan It's a Wonderful Life – seorang pria yang dikepung masalah keuangan (David Niven) mendapatkan inspirasi dari seorang malaikat (Cary Grant) – dan menyalakannya di benak kepalanya. Niven memerankan seorang uskup yang lebih peduli pada penampilan fisik gedung katedralnya ketimbang kesejahteraan jemaahnya.
Supaya sang uskup lebih memikirkan hal yang lebih penting, malaikat Grant akhirnya menyerah terhadap keberadaan organisasi agama. Bahkan tampaknya dia lebih sering bersama seorang profesor ateis yang pemarah (Monty Wooley). Mungkin terlihat subversif, The Bishop’s Wife juga merupakan momen di mana Cary Grant sang aktor, menjadi Cary Grant sang mitos –dari titik ini dalam karirnya lebih mengandalkan pesona bintangnya ketimbang merentangkan dirinya sebagai pemain.

Sumber gambar, Moviepix
The Shop Around the Corner (1940)
Cerita komedi karya Ernst Lubitsch, yang berlatar kota Budapest yang porak-poranda usai Perang Dunia Kedua, adalah sebuah mahakarya nan elegan tentang seorang pegawai toko yang dirundung putus asa.
Jimmy Stewart dan Margaret Sullivan merupakan dua sosok yang saling membenci –yang tidak mereka ketahui adalah mereka merupakan pasangan anonim sahabat pena yang saling menyayangi. Diperankan dengan sangat baik, The Shop Around the Corner mengangkat kebangkitan spiritual paling menyenangkan dari sisi kisah A Christmas Carol.
Anda bisa membaca artikel <link type="page"><caption> 10 Greatest Chistmas Movie</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20141222-the-10-greatest-christmas-movies" platform="highweb"/></link> atau artikel lain dalam <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link>.









