Agar Anda bisa berhenti mengatakan 'ummm'

Sumber gambar, Getty
Kata-kata yang Anda sampaikan secara tidak sadar dan bisa membuat Anda dinilai kurang meyakinkan sebenarnya bisa dihilangkan.
Anda sudah meriset topik, mempersiapkan presentasi dan tampil rapi. Tapi ketika tiba saatnya untuk berbicara di depan banyak orang, mereka tahu Anda tak meyakinkan. Mungkinkah masalahnya adalah kata-kata atau ungkapan pengisi jeda?
Frasa seperti ‘umm’, ‘kayak’, dan ‘begitu’ terdengar canggung dan tak meyakinkan. Dan efeknya lebih buruk lagi, mereka yang sering menggunakannya akan dinilai tidak pandai berbicara dan dilihat kurang kompeten.
“Saat Anda menggunakan (kata-kata pengisi) secara berulang dan berlebihan, maka muncul persepsi bahwa Anda tak siap,” kata Paula Statman, pelatih kemampuan berbicara dari Oakland, California, yang sering bekerja dengan klien perusahaan setelah promosi. Tapi sebagian besar orang tak menyadari kecenderungan mereka untuk berbicara dengan kata-kata pengisi dan bahwa itu mengurangi nilai komunikasi mereka, katanya.
Tapi jangan khawatir. para pakar mengatakan ada cara-cara untuk menghilangkan kata-kata tak perlu seperti itu dari percakapan sehari-hari Anda dan meningkatkan kejelasan verbal.
Diagnosis masalah
Jangan harap ada solusi mudah. Proses mengurangi penggunaan kata-kata pengisi seperti itu bisa berjalan berbulan-bulan.
Pertama, banyak orang tak mengenali bahwa kata-kata yang mereka gunakan adalah pengisi dan harus dihilangkan dari kalimat. Meski banyak orang sudah cukup tahu untuk tidak mengatakan “umm”, hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa mengatakan “benar nggak” atau “iya kan” di akhir kalimat juga sebenarnya tidak perlu.
- <link type="page"><caption> Mereka yang hampir tidak punya baju di lemari pakaian</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/08/160802_vert_cap_pakaian_33" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Bagaimana bos yang lebih muda bisa membantu Anda lebih maju</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/08/160811_vert_cap_bos_muda" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Benarkah kerja 40 jam seminggu berdampak buruk buat otak?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/08/160812_vert_cap_kerja_40jam" platform="highweb"/></link>
Menambahkan kata-kata dalam kalimat sering terjadi jika Anda sedang berpikir keras, maka kata-kata pengisi tersebut tak mudah dikenali dalam penyampaian kita, kata pakar berbicara di depan umum.
Jika Anda tak yakin bahwa Anda melakukan hal ini, ada cara untuk membantu mendiagnosis masalahnya. Mintalah pada kolega atau teman untuk menepukkan tangan saat Anda menggunakan kata-kata pengisi.
Metode tepukan tangan ini, yang awalnya mungkin terasa aneh, adalah cara mudah untuk menyadari seberapa sering kita menggunakan kata-kata atau ungkapan pengisi saat berbicara.

Sumber gambar, Getty
Jika dilakukan di suasana yang tidak terlalu formal, latihan ini bisa memperlihatkan bagaimana Anda menggunakan kata-kata atau ungkapan pengisi tersebut dan menyadari masa-masa Anda harus menghilangkannya, contohnya, dalam sebuah diskusi yang formal.
“Kita sangat nyaman dengan kecenderungan cara kita berbicara sehingga kita tak menyadari kata-kata tersebut,” kata Steven Cohen, asisten profesor komunikasi di University of Baltimore di Amerika Serikat.
Trik lain yang lebih tak kentara adalah merekam diri sendiri dengan kamera smartphone untuk membantu Anda menganalisis jika, kapan dan seberapa sering Anda menggunakan kata-kata atau ungkapan pengisi saat berbicara.
Tonton rekaman itu untuk mengidentifikasi frasa-frasa yang Anda gunakan dan amati perubahan ekspresi saat Anda mengatakannya.
Saat Anda mengutarakan kata-kata tersebut, Anda terlihat bingung atau terdengar kurang percaya diri dibandingkan dengan bagian-bagian lain dalam pidato Anda, kata John Bates, seorang pelatih komunikasi kepemimpinan di Los Angeles yang klien korporatnya termasuk NASA dan Accenture.
Jeda penuh makna
Sebagian besar orang menggunakan kata-kata atau ungkapan pengisi untuk memberi waktu yang memungkinkan kata-kata di mulut mereka bisa mengejar kecepatan berpikir di otak.
Maka, sesekali, berikanlah diri Anda ‘jeda bermakna’ sekitar satu atau dua detik dalam kalimat, yang bisa memberi hasil yang sama.
Daripada Anda terus berbicara dengan kata-kata pengisi sambil memproses apa yang akan Anda sampaikan, lebih efektif untuk berhenti berbicara selama beberapa detik sementara Anda berpikir.

Sumber gambar, Getty
“Ini soal melatih diri untuk memberi toleransi pada jeda-jeda panjang dan meyakinkan diri sendiri bahwa Anda tak akan kehilangan perhatian atau rasa hormat orang lain,” kata Statman.
Bagi pendengar Anda, berhenti satu atau dua detik juga bisa membantu karena sebagian besar orang memproses informasi lebih lambat daripada penyampaian pembicara, tambahnya.
Bahkan saat Anda belajar mengambil jeda, dengan “sepenuhnya hadir” pada percakapan dan menghindari distraksi bisa memudahkan Anda untuk berbicara lebih jelas, karena Anda lebih fokus menggunakan kata-kata yang tepat, kata Bates.
Artinya Anda menghindari gangguan seperti getaran smartphone atau menggunakan internet. Tetap bertahanlah dengan kata-kata Anda.
Cemas berbicara di depan umum
Mengurangi kecemasan juga bisa membantu. Akui bahwa Anda merasa gugup sebelum rapat atau sebelum wawancara yang akan mencegah Anda mengurangi kata-kata pengisi karena tingkat stres tinggi.
Fokuslah pada bagaimana kata-kata Anda akan membantu orang yang mendengarkan daripada mencemaskan persepsi mereka terhadap Anda.
“Mungkin Anda akan terlihat lebih kaku dan jangan terlalu fokus pada diri sendiri dan perhatikanlah pendengar Anda,” kata Bates.

Sumber gambar, THINKSTOCK
Kenali juga “titik rawan” kata-kata pengisi untuk mengantisipasi perubahan yang harus Anda lakukan dalam pidato Anda, kata Cohen. Orang sering menggunakan kata-kata pengisi ini di awal atau akhir kalimat atau saat berpindah dari satu pikiran ke pikiran lainnya, katanya.
Dengan menyadari sepenuhnya pidato Anda, terutama di titik-titik rawan tersebut, bisa memudahkan Anda menghindari perangkap menggunakan kata-kata atau ungkapan pengisi.
Jika Anda sedang memberikan presentasi, kata-kata atau ungkapan pengisi biasanya akan menyelusup masuk dalam bagian pengenalan, kesimpulan dan bagian sulit dalam presentasi.
Daripada Anda menghapal keseluruhan presentasi, berikan perhatian khusus pada bagian-bagian tersebut. Dengan merasa percaya diri pada kata-kata Anda akan mengurangi penggunaan kata-kata atau ungkapan pengisi, kata Cohen.
“Semakin sering kita berlatih, semakin nyaman kita dengan isi presentasi tersebut,” katanya.
Membuat nyaman
Namun sesekali, tak masalah menggunakan kata-kata tersebut. Kadang menggunakan ungkapan seperti “iya kan” bisa membangun koneksi dengan kolega dan membuat Anda terdengar lebih alamiah dan lebih santai dalam pidato.
Daripada menghilangkan semua kata-kata atau ungkapan pengisi tersebut, Statman menyarankan untuk menghilangkan sekitar 90%-nya tapi membiarkan sisanya, terutama dalam percakapan yang lebih santai dengan kolega.
“Anda ingin terdengar seperti seseorang yang berada di momen tersebut dan menjadi autentik seperti itu kadang memunculkan kata-kata atau ungkapan pengisi,” katanya.

Sumber gambar, Getty
Proses untuk belajar mengambil jeda dan berbicara dengan lebih percaya diri tanpa menambah kata-kata ekstra bisa membutuhkan waktu tahunan, kata Lesley Stolz, kepala Johnson & Johnson Innovation’s JLABS California, yang sudah bekerja dengan Bates.
Meski Stolz sudah menghabiskan 18 tahun memperbaiki caranya berbicara di depan umum, menghilangkan ungkapan pengisi ini memang sulit, katanya.
Pada awal-awal kariernya, dia berusaha keras untuk menghilangkan kata-kata tersebut dari pidatonya lewat latihan, tapi dia tak sadar betapa seringnya kata-kata ini muncul dalam percakapan internal atau saat membuat kesepakatan.
Kini dia lebih mengenali tempat-tempat atau suasana informal yang memunculkan ungkapan tersebut.
“Saya sedang menegosiasikan perjanjian dan ungkapan atau kata-kata pengisi ini masuk. Kita harus selalu menyadarinya terus-menerus.”









