Tenaga kerja muda Eropa alami dampak buruk akibat Brexit

Generasi muda Eropa

Sumber gambar, Getty

Banyak warga negara Eropa yang tinggal dan bekerja di Inggris kini menghadapi ketidakpastian tentang arah karier mereka setelah Inggris memutuskan untuk menarik diri dari Uni Eropa atau Brexit, tetapi golongan muda dipastikan mengalami kerugian paling besar.

Ketika Laurens Geffert, 32, pindah ke Inggris dari Jerman pada 2011 untuk mengikuti program penempatan kerja, ia mengira hanya akan tinggal selama delapan bulan.

Namun setelah ada sejumlah tawaran pekerjaan dan peluang merampungkan studi PhD di Universitas Cambridge, ia memutuskan untuk menetap. Ia sekarang bekerja di London sebagai ahli data di perusahaan teknologi keuangan.

“Ketika kita tinggal di suatu tempat dalam jangka lama, kita berubah,” kata Geffert.

“Jika saya pulang ke Jerman, kadang-kadang saya bertanya-tanya mengenai orang Jerman dan ciri khas mereka. Identitas saya semakin condong ke Inggris.”

  • <link type="page"><caption> Dampak Brexit, ekspatriat di Inggris rugi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/07/160714_vert_cap_brexit" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Brexit 'sangat merusak' ekonomi Inggris</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160722_majalah_brexit_ekonomi" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kepercayaan konsumen turun tajam setelah Brexit </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160722_majalah_brexit_ekonomi" platform="highweb"/></link>

Seperti halnya banyak orang yang dilahirkan pada abad ini yang bekerja di Inggris, Geffert telah menjadi orang Inggris selama tahun-tahun belakangan dan kini tak begitu yakin di mana tempat yang menjadi pijakannya.

Banyak warga muda Eropa merasa kecewa dengan hasil referendum di Inggris dan kemungkinan akan menghadapi ketidakpastian karier selama bertahun-tahun.

Setidaknya diperlukan dua tahun bagi Inggris untuk merundingkan penarikan dirinya dari Uni Eropa.

Brex-odus?

Warga Eropa

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Golongan muda lintas negara menggelar demonstrasi di London menentang hasil referendum.

Kini ia dan kekasihnya, seorang dokter muda keturunan Prancis-Hong Kong yang besar di Hong Kong, tengah mempertimbangkan untuk meninggalkan London.

“Saya tak sepaham dengan arah yang terjadi,” katanya. “Saya merasa saya tak mau menjadi bagian dari arah itu.”

Pasangan itu mempertimbangkan sejumlah alternatif, termasuk Boston, Amerika Serikat. Di sana, kekasih Geffert dapat melanjutkan studi dan mencari pekerjaan sesuai bidangnya.

Banyak pekerja dari negara-negara anggota Uni Eropa pada usia 20-an hingga pertengahan 30-an tahun mengalami keadaan sulit serupa.

“Saya kesulitan menemukan sisi positif bagi generasi muda akibat hasil referendum ini,” kata Christian Odendahl, ekonom utama di Pusat Reformasi Eropa.

Beberapa hari sebelum pemungutan suara dalam referendum, Odendahl dan koleganya, John Springford, menganalisis apa dampaknya bagi orang-orang muda Eropa jika pemilih Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa.

Analisis menunjukkan kalau pun Inggris berhasil merundingkan syarat-syarat dagang yang menguntungkan dengan Eropa, resesi jangka pendek akan tetap mempengaruhi kalangan tenaga kerja muda yang berusaha menginjakkan kaki di bursa kerja.

Hak berpindah

Warga Eropa
Keterangan gambar, Warga Eropa yang bekerja di Inggris dan sebaliknya mengalami ketidakpastian masa depan.

Florian van Megen, 32, adalah bagian dari generasi muda Eropa yang besar di era ketika bepergian di negara-negara di Eropa mudah.

Van Megen, warga Jerman, bertemu dengan istrinya, warga Inggris sembilan tahun lalu di Belanda ketika mereka mengikuti program pertukaran mahasiswa yang sangat populer, Erasmus.

Sejak saat itu ia mengambil jurusan undang-undang Eropa, bekerja di Brussels, Belgia, dan sekarang tinggal dan bekerja di London untuk badan perdagangan yang mewadahi para manager aset.

Van Megen mengatakan dengan referendum Inggris ini maka generasinya tak lagi punya jaminan hak untuk berpindah-pindah antar negara untuk bekerja.

Van Megen, yang berada di Brussels ketika referendum digelar di Inggris dan berada di Jerman pada akhir pekan setelah referendum, mengatakan, “Saya tak ragu bahwa mereka akan mengizinkan saya masuk kembali ke Inggris. Namun saya tidak tahu apakah hal yang sama masih akan berlaku dua tahun lagi.”

Pandangan orang Inggris

Referendum ini mencipatakan satu lapisan kekhawatiran lagi bagi generasi rakyat Inggris yang sudah menghadapi situasi sulit, kata Vicky Spratt, redaktur The Debrief, situs berita dan gaya hidup bagi perempuan yang dilahirkan pada abad ini. Situs itu berkantor di Inggris.

Spratt, 28, mengatakan referendum ini menjadi pukulan lagi bagi generasi yang sudah mengalami masalah keuangan seperti pinjaman pendidikan perguruan tinggi dan kredit rumah. Spratt mengatakan kalangan orang muda Inggris setidaknya sejauh ini bisa memastikan diri bebas bergerak di dunia.

“Kami besar di era online dengan pandangan global. Kami hanya perlu satu klik untuk mengetahui bagaimana orang-orang di dunia hidup, apa yang mereka pakai, jenis produk kecantikan yang mereka gunakan,” ungkapnya.

Dengan adanya tiket internasional yang murah dan fasilitas bebas visa, mudah bagi warga Inggris untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut. “Perasaan umum yang timbul adalah apakah hal yang benar-benar baik ini akan diambil dari kita juga?”

Pemudi Inggris

Sumber gambar, PA

Keterangan gambar, Kemarahan ditujukan kepada para politikus yang mengkampanyekan Inggris keluar dari Uni Eropa.

Salah satu persoalan besar yang mungkin dialami perusahaan-perusahaan Inggris adalah memilih karyawan muda dan terdidik. Demikian dikatakan oleh Alex Hemsley, salah satu pendiri dan direktur Global {M}, perusahaan perekrutan jasa teknologi dan keuangan yang berkantor di London.

Kesepakatan tanpa visa kerja antara negara-negara anggota Uni Eropa sangat membantu, baik perusahaan besar maupun perusahaan perintis untuk merekrut talenta dari calon-calon warga negara dari lebih dari dua puluh negara, kata Hemsley, yang bekerja bersama perusahaan dan calon tenaga kerja dari seluruh dunia.

Jika negara-negara Uni Eropa mulai membatasi akses pekerja Inggris untuk bekerja di negara-negara itu, menurut Hemsley, tempat-tempat menarik bagi pekerja muda akan segera muncul.

Kota-kota seperti Dubai, Sydney dan Singapura dapat mengambil keuntungan dari pekerja Inggris yang ingin mendapat pengalaman internasonal dengan mudah.