Nowa Huta: Kota utopis Joseph Stalin di Polandia yang berubah haluan dari komunisme ke kapitalisme

Sumber gambar, Tim E White/Getty Images
- Penulis, Luka Jukic
- Peranan, BBC Travel
Hanya sedikit negara yang mampu bangkit dari kehancuran akibat Perang Dunia Kedua seperti yang dilakukan Polandia.
Negara itu kehilangan sekitar seperlima dari populasinya. Ibu kotanya Warsawa hampir seluruhnya dihancurkan oleh Nazi, dengan banyak warisan budaya dijarah atau dihancurkan.
Bahkan perbatasan negara dipindahkan beberapa ratus kilometer ke barat, memaksa jutaan orang untuk pindah ke apa yang disebut "wilayah yang dipulihkan" yang pernah menjadi bagian dari Jerman, yang juga sebagian besar ditinggalkan dalam reruntuhan.
Namun dari puing-puing itu, harapan akan dunia baru muncul.
Seseorang yang bebas dari beban masa lalu muncul untuk mengembalikan kebanggaan bangsa yang hancur dan menyelesaikan penyakit sosial yang telah lama mengganggu.
Atau begitulah janji komunis Polandia yang mengambil alih kekuasaan pada tahun 1948.
Baca juga:
Di bawah pengawasan Joseph Stalin, komunis mulai membangun kembali negara itu, dipersenjatai dengan keyakinan ideologis bahwa masyarakat baru harus muncul dari yang lama.
Simbol masyarakat baru ini adalah kota Realis Sosialis bernama Nowa Huta.
Kota ini didirikan pada tahun 1949 di sebelah timur Krakow dan dibangun selama beberapa dekade berikutnya.
Pada intinya, di kota ini ada Pabrik Baja Vladimir Lenin, yang dimaksudkan untuk memproduksi lebih banyak baja daripada yang mampu diproduksi oleh seluruh negeri sebelum perang.
Nowa Huta secara harfiah berarti "Pabrik Baja Baru" dalam bahasa Polandia yang dibangun untuk mengakomodasi para pekerja.
Rencana kota sosialis utopis
Wilayah ini adalah proyek perencanaan kota paling ambisius di Polandia pascaperang: sebuah kota sosialis utopis yang dapat ditiru oleh wilayah lain.
Lima bulevar (jalan raya lebar dan besar) membentang dari Central Square, memberikan Nowa Huta bentuk pentagonal yang khas dan menekankan karakter monumentalnya.
Tetapi kematian Stalin pada tahun 1953 dan gerakan de-Stalinisasi membuat gaya Realis Sosialis tidak disukai.
Balai kota dan teater besar Nowa Huta tidak pernah dibangun, dan bagian kota lainnya diselesaikan dengan lebih sederhana.
Pada tahun 1973, sebagai hadiah hiburan, patung ikonik Lenin - yang terbesar di Polandia - menghiasi Avenue of Roses, tepat di utara alun-alun utama.
"Itu adalah kota yang direncanakan yang tidak benar-benar berjalan seperti yang diharapkan siapa pun," kata Dr Katherine Lebow, yang bukunya tahun 2013 Unfinished Utopia menawarkan gambaran rinci tentang bagaimana kota itu dibangun dan dikembangkan.
Terlepas dari dorongan ideologis, tulis Lebow, para perencana kota itu sendiri - beberapa arsitek dan perencana kota terkemuka Polandia saat itu - tidak menerima instruksi langsung tentang bagaimana seharusnya bentuk kota itu.
Namun, mereka menyadari bahwa kota itu dimaksudkan untuk menjadi kota ideal, yaitu desain yang menekankan pada taman dan apartemen yang luas, serta memastikan bahwa setiap blok memiliki semua layanan yang dibutuhkan.
Realisme Sosialis menekankan penggunaan gaya lokal dan konten sosialis, melihat semua bentuk seni sebagai bagian dari propaganda, termasuk arsitektur.
Kota-kota tidak hanya dimaksudkan untuk menarik secara visual, tetapi juga untuk menggambarkan tema-tema sosialis dan berfungsi sebagai latar belakang untuk ritual politik.
Gigantomania gaya Soviet
Bagi sebagian besar orang Nowa Huta asli yang bermigrasi dari pedesaan Polandia, kota ini rasanya seperti memasuki dunia baru - dunia yang mereka sendiri bantu bangun.
"Pabrik baja baru akan menjadi ekspresi sempurna dari gigantomania gaya Soviet," tulis Lebow, "sebuah patung raksasa yang menunjukkan kekuatan sosialisme Promethean untuk mengubah manusia dan lanskap fisik."
Merupakan mitos umum bahwa lokasi Nowa Huta dipilih secara sengaja untuk mencemooh kota Krakow yang konservatif dan borjuis, dengan modernitas dan kepatuhannya pada nilai-nilai sosialis yang sangat kontras dengan ibu kota abad pertengahan Polandia.
Baca juga:
Krakow adalah kota tertua dan terbesar di Polandia yang pernah menjadi ibu kota negara itu pada masa kerajaan.
Namun, pengaruh arsitektur kota tua Krakow tidak dapat dilewatkan di Nowa Huta, dengan arkade, alun-alun internal, dan fitur desain lainnya yang direplikasi dalam skala besar.
Pada akhirnya, Krakow memiliki tawa terakhir ketika menyerap Nowa Huta pada tahun 1951.
Sementara Nowa Huta berhasil dalam banyak hal, nasibnya tidak dapat dipisahkan dari komunisme secara keseluruhan.
Dari komunisme ke kapitalisme
Pada 1990-an, Nowa Huta yang berpenduduk 200.000 orang menjadi identik dengan narkoba, kejahatan, kemiskinan, dan hooliganisme, yang terkenal di seluruh Polandia sebagai salah satu bagian negara paling terbelakang.
Namun, tidak demikian hari ini. Polandia adalah salah satu kisah sukses besar ekonomi modern Eropa, sesuatu yang dapat dirasakan baik di pusat kota besar maupun di tempat-tempat yang dulunya pinggiran seperti Nowa Huta.
"Nowa Huta adalah tempat tinggal yang semakin menarik," kata Mateusz Marchocki, pemandu berbahasa Inggris di Yayasan Promosi Nowa Huta, menunjukkan peningkatan dramatis harga sewa dalam beberapa tahun terakhir.
"Sebelumnya, semua kehidupan malam ada di Krakow."
Sekarang, Nowa Huta memiliki restoran, kafe, toko es krim, dan truk makanan muncul untuk menghibur penduduk kota.
Bahkan arena seluncur es, yang dibuka untuk periode Advent, tegas Marchocki, tidak akan terbayangkan saat dulu dia tumbuh dewasa.
Warisan komunisme
Sepuluh tahun yang lalu, pengunjung sulit mendapatkan apa-apa di kota, tetapi Nowa Huta telah belajar untuk memanfaatkan warisan komunisnya.
Kota ini menawarkan kepada orang asing dan orang Polandia gambaran tentang komunisme seperti dulu.
"[Polandia] muda saat ini tidak tahu seperti apa rasanya," kata Marchocki.
Berjalan di Nowa Huta seperti melangkah ke dunia para orang tua dan kakek-nenek mereka.
Dari Teater Rakyat yang telah direnovasi sepenuhnya dengan gaya Realis Sosialis yang diilhami Mesir dan lampu neon terang, hingga monumen gerakan Solidaritas, yang akan meruntuhkan komunisme di seluruh Polandia pada tahun 1989.
Tidak luput juga, terdapat sekitar 250 bunker nuklir yang terletak di bawah kota, peninggalan masa ketika orang khawatir tentang kiamat nuklir.
Selain sejarahnya, yang dapat dijelajahi di Museum Nowa Huta yang dibuka pada tahun 2019 di lokasi bioskop lama, daya tarik utama wisatawan saat ini adalah sisa arsitektur Realis Sosialis Nowa Huta.
Sebagai satu dari dua pemukiman Realis Sosialis yang direncanakan dan dibangun di dunia, selain Magnitogorsk yang terletak jauh di pedalaman Rusia, Nowa Huta adalah sesuatu yang berbeda dari "modernisme hambar dan brutalisme abu-abu" yang biasanya diasosiasikan dengan sosialisme Eropa Timur.
Dicontohkan oleh bangunan-bangunan di Central Square - ironisnya dinamai untuk menghormati Ronald Reagan pada tahun 2004 - gaya Realis Sosialis juga dapat dilihat di dalam beberapa toko asli Nowa Huta.
Misalnya, interior yang sangat dekoratif dari toko seni rakyat Cepelix, yang terletak di sisi timur laut kota, dirancang oleh desainer interior top Polandia saat itu.
Permata arsitektur Realis Sosialis
Namun permata arsitektur Realis Sosialis Nowa Huta ada di bekas Gedung Administrasi Pabrik Baja, yang eksteriornya adalah tiruan Renaisans dan interiornya yang mewah masih menampilkan gaya yang ideal.
Meskipun secara teknis tertutup untuk umum, Yayasan Promosi Nowa Huta menawarkan tur ke gedung tersebut, dengan Marchocki menggambarkannya sebagai "bangunan paling ikonik di Nowa Huta."

Sumber gambar, Pawel Gaul/Getty Images
Dengan segala kemegahannya, pabrik ini adalah bukti ambisi utopis yang melahirkan kota - ambisi yang akan ditantang oleh para pekerja sendiri.
Pada tahun 1980, ketika negara itu diguncang oleh pemogokan yang disebut oleh serikat pekerja Solidaritas, Pabrik Baja Vladimir Lenin dari Nowa Huta menjadi kebanggaan cabang serikat kerja terbesar, dengan tingkat keanggotaan 97%.
Munculnya Paus Yohanes Paulus II
Gereja Katolik dengan tegas mendukung serikat pekerja dan protes, memaksa komunis yang berkuasa ke dalam posisi yang sangat canggung, berdiri menentang para pekerja yang seharusnya mereka wakili.
Selama periode inilah seorang uskup muda Krakow bernama Karol Wojtyła - kemudian Paus Yohanes Paulus II - mengangkat namanya untuk mendukung para pekerja dan perjuangan mereka.
Sesuai dengan ateisme yang dianut negara, kota ini sengaja dibangun tanpa gereja.
Baca juga:
Tetapi keinginan para pekerja untuk memiliki tempat ibadah begitu besar sehingga mereka mulai membangun secara ilegal dengan tangan.
Bata demi bata, tanpa alat berat, mereka mendirikan gereja pertama Nowa Huta, yang dikenal sebagai "Bahtera Tuhan" karena bentuknya yang modern dan unik.
Gereja itu sekarang menjadi salah satu kemegahan arsitektur kota, pada tahun 1995 bergabung dengan Gereja Our Lady of Czestochowa yang sangat geometris.
Kekontrasan ini - dari maksud awal pendirian kota dengan apa yang sebenarnya terjadi - dapat dilihat di seluruh Nowa Huta: dalam nama jalan, di gereja-gereja, dan bahkan dalam nasib modern kota itu.
Nowa Huta menjadi simbol yang hidup. Dari kemegahan rekonstruksi Stalinis, pemberontakan religiusitas anti-komunis, hingga kerusakan pasca-sosialis.
Nowa Huta telah menemukan kehidupan baru. Bukan sebagai cita-cita sosialis, melainkan sebagai cita-cita jenis baru di Polandia yang demokratis, kapitalis, dan Eropa.
Versi bahasa Inggris dari artikel ini,Nowa Huta: The city that went from communism to capitalismbisa Anda baca di laman BBC Travel.









