Cara saya merencanakan pemakaman ramah lingkungan untuk diri sendiri

Pemakaman, penguburan ramah lingkungan

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Becca Warner
    • Peranan, BBC Future

Berbagai kegiatan permakaman kita meninggalkan jejak karbon yang tinggi. Becca Warner menggali bagaimana dia dapat merencanakan pemakaman yang lebih ramah lingkungan.

Tidak banyak dari kita yang suka membicarakan kematian. Karena kematian itu sesuatu yang gelap, menyedihkan, dan cenderung melemparkan kita ke dalam lingkaran eksistensial.

Namun, sebagai seseorang yang peduli terhadap lingkungan, kenyataan yang tidak menyenangkan adalah bahwa saya menyadari kalau harus berhenti mengabaikan kenyataan yang ada.

Begitu kita meninggal, tubuh kita perlu pergi ke suatu tempat, dan dengan cara kita membakar atau menguburkan jenazah seperti di negara-negara Barat, hal itu menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Kebanyakan orang di Inggris (tempat saya berasal) dikremasi ketika mereka meninggal, dan membakar jenazah tidak baik bagi planet ini.

Data statistiknya membuat bacaan yang menarik. Kremasi yang umum dilakukan di Inggris menggunakan tenaga gas, dan diperkirakan menghasilkan 126kg emisi setara CO2, hampir sama dengan berkendara dari Brighton ke Edinburgh.

Di Amerika Serikat, rata-ratanya bahkan lebih tinggi, yaitu 208kg (459lb) CO2e. Kegiatan ini mungkin bukan hal yang paling banyak menghasilkan karbon dalam hidup kita, namun ketika sebagian besar orang di banyak negara memilih untuk dibakar saat mereka meninggal, maka emisi tersebut akan bertambah dengan cepat.

Mengubur jenazah tidak jauh lebih baik. Di beberapa negara, kuburan dilapisi dengan beton, bahan yang intensif karbon, dan jenazah ditempatkan di peti mati yang terbuat dari kayu atau baja yang banyak sumber dayanya.

Baca juga:

Proses penguburan itu sering menggunakan cairan pembalseman yang sangat beracun, seperti formaldehida, yang larut ke dalam tanah bersama logam berat yang merusak ekosistem dan mencemari permukaan air.

Dan peti matinya saja dapat menghasilkan sebanyak 46kg CO2e, tergantung pada kombinasi bahan yang digunakan.

Saya menghabiskan hari-hari saya dengan mencoba melakukan hal yang ringan di planet ini, seperti mendaur ulang kotak sereal, naik bus, memilih tahu daripada steak.

Saya sulit menerima gagasan bahwa kematian saya akan memerlukan satu tindakan terakhir yang beracun. Saya bertekad untuk mencari opsi yang lebih berkelanjutan.

Pemakaman, penguburan ramah lingkungan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dalam pemakaman tradisional, kuburan dilapisi dengan beton, bahan yang banyak mengandung karbon, dan jenazah dibalsem dengan cairan beracun yang dapat larut ke dalam tanah.

Tujuan pertama saya adalah Natural Death Centre, sebuah badan amal yang berbasis di Inggris.

Saya mengangkat telepon dan senang mendapati Rosie Inman-Cook di ujung telepon, dia seorang dengan tipe cerewet dan tidak berbasa-basi yang dengan cepat memperingatkan saya tentang keraguan dari banyak praktik penanganan kematian alternatif.

"Selalu ada perusahaan yang ikut-ikutan, melihat sapi perah, menciptakan sesuatu. Ada banyak produsen peti mati dan paket pemakaman yang akan menjual 'barang ramah lingkungan' kepada Anda dan menanam pohon. Anda harus berhati-hati."

Perkataannya mengingatkan saya pada beberapa "guci ramah lingkungan" yang pernah saya baca.

Beberapa di antaranya bersifat biodegradable, sehingga abu yang terkubur dapat bercampur dengan tanah dan tumbuh menjadi pohon; yang lain mencampurkan abu dengan semen sehingga bisa menjadi bagian dari terumbu karang buatan.

Pilihan-pilihan ini menawarkan semacam kebaruan lingkungan: apa akhir yang lebih cocok bagi seorang pecinta laut selain beristirahat di antara terumbu karang atau bagi seorang fanatik hutan untuk "berubah" menjadi pohon setelah kematiannya?

Baca juga:

Satu-satunya masalah adalah betapapun ramah lingkungannya guci tersebut, abu yang disimpan di dalamnya adalah produk kremasi intensif karbon.

Jadi dapatkah saya membuat tubuh saya terhindar dari menjadi kepulan asap hitam?

Kewenangan Inman-Cook adalah mengadakan penguburan alami. Hal ini melibatkan penguburan jenazah tanpa penghalang terjadinya pembusukan, seperti tanpa cairan pembalseman, tanpa lapisan plastik atau peti mati logam.

Menurut analisis terbaru yang dilakukan oleh perusahaan sertifikasi keberlanjutan Inggris, Planet Mark, semua ini berarti nol emisi CO2.

Jenazah dimakamkan di kuburan yang relatif dangkal, yang mungkin merupakan taman seseorang, atau, seringnya merupakan tempat pemakaman alami.

Beberapa taman pemakaman alami mengizinkan untuk menandai kuburan dengan batu atau penanda sederhana lainnya; tempat pemakaman lain lebih ketat dan tidak mengizinkan pemberian tanda apapun sama sekali.

Tempat ini berupa hutan atau tempat yang kaya akan satwa liar, yang sering kali dikelola secara aktif mendukung konservasi.

"Ini [tentang] menciptakan ruang hijau untuk satwa liar, tempat yang bagus untuk dikunjungi orang, sekaligus menanam hutan baru, dan ini adalah warisan positif," kata Inman-Cook.

Namun bagaimana dengan bahan-bahan buatan yang masuk ke dalam tubuh manusia, seperti obat-obatan, mikroplastik, logam berat? Pastinya zat-zat tersebut tidak pantas berada di dalam tanah.

Baca juga:

Salah satu solusinya mungkin berupa peti mati yang terbuat dari jamur. Loop Living Cocoon mengklaim produknya sebagai peti mati "hidup" pertama di dunia.

Ini terbuat dari spesies jamur miselium asli non-invasif, yang juga digunakan untuk membuat panel insulasi, kemasan, dan furniture. Saya berbicara dengan penemunya, Bob Hendrikx.

"Hal terbaik yang bisa kami lakukan adalah mati di hutan dan berbaring begitu saja di sana," katanya.

"Tetapi salah satu masalah yang kita hadapi saat ini adalah degradasi tanah, yaitu kualitas tanah yang semakin buruk, terutama di lokasi pemakaman, karena banyaknya polusi di sana. Tubuh manusia [juga] semakin tercemar." Mikroplastik, misalnya, kini telah ditemukan dalam darah manusia.

Pemakaman, penguburan ramah lingkungan

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, Pemakaman alami semakin populer. Termasuk menguburkan jenazah tanpa zat-zat penghambat pembusukan, seperti cairan pembalseman, pelapis plastik atau peti mati dari metal.

Miselium mempunyai kekuatan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan menyerap logam berat yang dapat larut ke dalam air tanah.

Beberapa spesies jamur diketahui dapat menguraikan mikroplastik, dan penelitian di masa yang akan datang dapat mengungkapkan cara memanfaatkannya untuk penguburan manusia.

Namun berdasarkan penelitian saat ini, dampak nyata dari jamur di peti mati masih sulit diketahui.

Saya bertanya kepada Rima Trofimovaite, penulis laporan Planet Mark, apa manfaat yang mungkin diperoleh dari jamur peti mati.

Dia mengatakan bahwa mungkin hanya ada sedikit data tentang apakah tubuh manusia dapat mencemari tanah setelah pemakaman alami di kuburan dangkal.

Namun dia mengatakan bahwa sebagian besar polutan kemungkinan "dipilah pada tingkat yang tepat dengan organisme yang tepat" ketika hanya beberapa meter di bawah tanah, sehingga tidak diperlukan jamur tambahan.

"Saya pikir tindakan seperti ini masih penting," katanya. "Kita tahu bahwa pemakaman alami paling sedikit mengeluarkan emisi, tapi tidak semua orang suka dibungkus dengan kain kafan. Orang mungkin lebih memilih jamur peti mati karena bentuknya."

Baca juga:

Betapapun ramah lingkungannya penguburan alami, dengan atau tanpa jamur, tanah tetaplah berharga.

Khususnya di kota-kota, ruang hijau untuk pemakaman di hutan alami sangatlah mahal. Hal inilah yang mendorong mahasiswa arsitektur muda Katrina Spade untuk menyelidiki apa yang bisa dilakukan agar penguburan di kota tidak terlalu boros.

Solusinya cukup logis: membuat kompos dari jasad manusia ke dalam bejana baja heksagonal, sehingga menjadi tanah padat nutrisi sehingga keluarga dapat menanamnya di kebun mereka.

Spade meluncurkan Recompose, fasilitas pengomposan manusia pertama di dunia yang terletak di Seattle pada tahun 2020.

Washington adalah negara bagian AS pertama yang melegalkan pengomposan manusia pada tahun yang sama, dan praktik tersebut kini legal di tujuh negara bagian AS. Fasilitas pengomposan manusia lainnya bermunculan di Colorado dan Washington.

Sejauh ini Recompose telah membuat kompos sekitar 300 mayat. Prosesnya berlangsung selama lima hingga tujuh minggu.

Dibaringkan di atas wadah khusus, lalu tubuh mayat itu dikelilingi serpihan kayu, alfalfa, dan jerami.

Udara dipantau dan dikontrol dengan cermat, untuk menjadikannya tempat yang nyaman bagi mikroba yang membantu mempercepat pembusukan tubuh.

Sisa-sisanya dibuang, diubah menjadi kompos seharga dua gerobak dorong. Tulang dan gigi yang tidak membusuk, dibuang, dipecah secara mekanis, dan ditambahkan ke dalam kompos.

Setiap implan, alat pacu jantung, atau sendi buatan didaur ulang bila memungkinkan, kata Spade.

Karena tidak memerlukan pembakaran yang menghabiskan banyak energi, pengomposan yang dilakukan oleh manusia memiliki jejak karbon yang jauh lebih kecil dibandingkan kremasi.

Dalam penilaian siklus hidup yang dilakukan oleh Leiden University dan Delft University of Technology, dengan menggunakan data yang disediakan oleh Recompose, ditemukan bahwa dampak pengomposan jenazah terhadap iklim ternyata hanya sebagian kecil dari dampak kremasi: 28kg CO2e dibandingkan dengan 208kg (459lb) CO2e di Amerika Serikat.

Ketika saya bertanya kepada Spade tentang produksi metana (gas rumah kaca berbahaya yang dilepaskan ketika bahan organik membusuk), dia menjelaskan bahwa wadah tersebut diangin-anginkan untuk memastikan tersedianya banyak oksigen. Hal ini mencegah proses anaerobik yang menyebabkan pembusukan, katanya.

Mengubah tubuh manusia menjadi tanah juga mengingatkan kita bahwa "kita tidak hidup berdampingan dengan alam, kita adalah bagian dari alam," kata Spade.

Pergeseran dalam hubungan kita dengan alam ini merupakan manfaat lingkungan yang sulit diukur namun "penting bagi planet yang sedang kritis ini", katanya.

Pemakaman, penguburan ramah lingkungan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, "Mengubah tubuh manusia menjadi tanah mengingatkan kita bahwa "kita tidak berdekatan dengan alam, kita adalah bagian dari alam," kata Katrina Spade, pendiri Recompose.

Siapa sajakah yang bisa dijadikan kompos? Saya menyampaikan pertanyaan ini kepada Spade karena saya ingin tahu apakah saya "memenuhi syarat" untuk mendapatkan hasil yang sama seperti kulit pisang.

Jawabannya, secara umum, ya, tapi tidak jika saya meninggal karena Ebola, penyakit prion (sejenis penyakit otak menular yang langka), atau tuberkulosis, karena patogen ini belum terbukti dapat diuraikan melalui pengomposan, kata Spade .

Saat dia menjelaskan prosesnya, saya terkejut bahwa pakaian mungkin tidak diterima di wadah pengomposan.

Sebaliknya, jenazahnya dibungkus dengan kain linen, dan keluarga yang memilih untuk mengadakan upacara dapat menutupinya dengan serpihan kayu organik, jerami, bunga, bahkan serpihan surat cinta.

"Dalam satu kasus, sebuah keluarga membawa paprika merah dan bawang ungu yang baru saja matang di kebun orang yang mereka cintai, hal itu sungguh indah," kenang Spade.

Tubuh memasuki "wadah ambang batas", tempat tim Recompose mengambil alih. Mereka melepaskan kain kafannya tetapi tidak melepaskan bunga dan sayur-sayurannya.

Saya diam-diam berharap keluarga saya benar-benar melaksanakan proses itu di sini. Saya membayangkan sekeranjang pohon cemara, gundukan jamur, mungkin beberapa tanaman dari rumah kaca kesayangan saya.

Semua ini terasa sangat bersahaja, namun ada pilihan rendah karbon lainnya yang berpusat pada elemen berbeda, yaitu air.

"Kremasi air" (juga dikenal sebagai "aquamation", "alkaline hydrolysis" atau "resomation") adalah sebuah alternatif dari kremasi tradisional, dan merupakan metode pilihan bagi Uskup Agung Desmond Tutu, yang membantu mengakhiri apartheid di Afrika Selatan.

Ini merupakan proses yang lebih lembut dan bersih dibandingkan kremasi, karena hanya menghasilkan 20kg CO2e.

"Itu perbedaan yang besar," kata Trofimovaite. "Anda memangkas emisi dalam jumlah besar dengan resomasi dibandingkan dengan kremasi api."

Sekitar 1.500 liter (330 galon) air dicampur dengan kalium hidroksida, dan dipanaskan hingga suhu 150C. Hanya dalam empat jam, tubuh manusia menyusut hingga menjadi cairan steril.

Lebih dari 20.000 orang telah dikremasi dengan air selama 12 tahun terakhir, sebagian besar di Amerika Serikat.

Penyedia layanan pemakaman terbesar di Inggris, Co-op Funeralcare, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan memperkenalkan praktik ini pada akhir tahun ini.

Kecepatan kremasi air menjadikannya pilihan anggaran yang bagus. Co-op memperkirakan biayanya sebanding dengan kremasi api, sekitar £1.200 ($1.500) dengan dukungan dasar tetapi tanpa layanan pemakaman.

Harga penguburan alami bisa sama, tetapi biayanya seringkali jauh lebih tinggi, bergantung pada lokasi pemakaman masing-masing.

Pengomposan jauh lebih mahal yaitu $7.000 (£5.500) - sedikit lebih mahal dari rata-rata penguburan standar di Inggris, yang berharga £4.794 ($6.107).

Saya berbicara dengan Sandy Sullivan, pendiri Resomation, sebuah perusahaan yang menjual peralatan kremasi air ke rumah duka di seluruh Amerika Utara, Irlandia, dan Inggris (dan berencana menjualnya di Belanda, Selandia Baru, dan Australia pada tahun depan).

Dia tampak sabar ketika saya mengatakan bahwa saya membayangkan prosesnya sebagai semacam pencairan, dan saya tidak yakin bagaimana perasaan saya tentang hal itu.

"Inilah yang akhirnya kamu dapatkan," katanya sambil mengangkat tas besar bening berisi bubuk putih cerah. "Omong-omong, ini tepung," tambahnya cepat.

Intinya produk akhirnya kering, seperti abu. Bubuknya mirip dengan apa yang dikembalikan ke keluarga, hanya terdiri dari tulang-tulang yang dihancurkan secara mekanis (saat mengikuti kremasi api).

Jaringan lunak tubuh terurai di dalam air dan menghilang melalui pipa menuju instalasi pengolahan air.

Pemakaman, penguburan ramah lingkungan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kremasi api merupakan salah satu upacara pemakaman yang paling banyak menggunakan karbon.

Kantong Sullivan yang berisi bubuk itu melambangkan makanan fisik yang sangat penting bagi banyak keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Julie Rugg, direktur Cemetery Research Group dari Universitas York di Inggris, sebagai inti dari pemikiran kita tentang praktik pemakaman.

"Dalam menghadapi kematian, kita mencari penghiburan. Dan sangat menarik melihat adanya konflik di dalam beberapa kasus, antara apa yang berkelanjutan dan apa yang dianggap menghibur," katanya. Kantong abu tulang dan kompos dapat mengatasi hal ini dengan menawarkan sesuatu yang nyata, sebuah penghiburan bagi kesedihan kita.

Saat saya mempertimbangkan berbagai opsi yang telah saya pelajari, peleburan, mulsa (dikafankan), atau miselium, pikiran saya kembali ke percakapan pertama saya dengan Inman-Cook.

Saya terpesona dengan kesederhanaan penguburan alami, tidak adanya lonceng, peluit, wadah atau ruangan.

Saya senang mengetahui bahwa, berdasarkan semua yang telah dia pelajari selama analisis ilmiahnya, Trofimovaite telah mencapai kesimpulan yang sama.

"Saya akan mencoba melakukannya sealami mungkin," katanya kepada saya.

"Pemakaman secara alami adalah yang paling menarik." Namun pemakaman alami tanpa tanda adalah contoh sempurna dari konflik yang diidentifikasi Rugg.

"Ada yang bilang bahwa mereka menyukai gagasan untuk dikuburkan di padang rumput yang indah ini, tapi mereka tidak bisa meletakkan apa pun di kuburan itu," katanya.

Rugg menggambarkan "berkebun dengan bergerilya" yang terjadi di salah satu situs pemakaman alami, oleh seorang anggota keluarga yang diam-diam menandai makam orang yang mereka cintai dengan semanggi yang khas.

"Apa yang harus kita capai adalah sebuah sistem yang membuat kita merasa bahwa rasa kehilangan yang kita alami adalah hal yang istimewa. Kita harus memikirkan keberlanjutan dalam skala yang masih memberikan kenyamanan."

Jawabannya, menurut saya, terletak pada memikirkan kembali apa arti "istimewa".

Seperti yang dikatakan Rugg, di taman peringatan pada umumnya, "Anda tidak bisa mencari plakat di mana-mana. Kami menolak menghilangnya orang yang sudah mati, dan sebenarnya kami merasa hal itu kurang menghibur daripada yang kami kira."

Saya mengakhiri percakapan tersebut dengan perasaan yang jelas bahwa, dengan asumsi saya untuk menghindari kepulan asap, salah satu hal paling berguna yang bisa saya lakukan adalah benar-benar menolak klaim atas sebidang tanah.

Saya berharap keluarga saya dapat terhibur dengan mengetahui bahwa saya akan lebih bahagia jika menyatu dengan lanskap yang utuh. Mengapa menjadi pohon ketika saya bisa menjadi hutan?

--

Versi bahasa Inggris dari artikel berjudul How I planned my own green funeral dapat Anda simak di BBC Future.