Perubahan iklim: Pulau-pulau kecil 'ramah lingkungan', antara 'harapan menerangi dunia atau sekedar tetesan air di lautan'

Pulau-pulau kecil yang memimpin transisi hijau

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pulau-pulau kecil yang memimpin transisi hijau

Di lepas pantai utara Irlandia Utara, di perairan Atlantik yang dingin, terdapat sebuah pulau kecil berbentuk L yang disebut Rathlin. Ini adalah rumah bagi sekitar 160 orang.

Energi listrik baru tiba di Rathlin pada awal 1990-an, dengan pembangunan tiga turbin angin.

Seorang penduduk pulau antusias bercerita ke media lokal tentang manfaat yang akan dibawa - dia tidak lagi harus menyalakan lilin ketika bangun untuk memberi makan bayinya di tengah malam.Energi bersih ini berasal dari angin yang selalu bertiup kencang di atas Rathlin dan menuju Irlandia hingga Inggris Raya.

Tapi seperti yang dijelaskan Michael Cecil, ketua Rathlin Development and Community Association, turbin itu tidak bertahan lama.

Setelah sekitar 10 tahun, alat itu runtuh. "Kami tidak bisa mendapatkan suku cadang, kami tidak bisa melakukan perawatan," kenangnya. Artinya, mereka kembali ke generator diesel emisi tinggi.

Meskipun Rathlin akhirnya terhubung ke jaringan listrik utama Irlandia Utara pada 2007, impian penduduk pulau saat ini untuk menghidupkan kembali tenaga angin dan membersihkan pasokan energinya, lebih kuat dari sebelumnya.

Pada 2030, Rathlin ingin menjadi pulau yang netral karbon, mengikuti jejak puluhan pulau kecil di seluruh dunia yang mengambil inisiatif sendiri melawan perubahan iklim dengan merangkul energi terbarukan, kendaraan listrik, dan keberlanjutan.Untuk beberapa nama, ada Pulau Sams di Denmark, yang mengandalkan energi angin dan energi terbarukan lainnya untuk listrik dan panas.

Baca juga:

Atau Tilos di Yunani, yang merupakan pulau pertama di negara itu yang swasembada energi.

Atau Jeju, pulau liburan Korea Selatan yang, seperti Rathlin, bertujuan untuk menjadi netral karbon pada akhir dekade ini.Ada yang mengatakan pulau-pulau hijau atau "pulau ramah lingkungan" ini adalah contoh yang cemerlang. Mereka menunjukkan kekuatan komunitas kecil dan bertindak sebagai suar yang menerangi jalan menuju dunia yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil.Tetapi yang lain berpendapat bahwa pulau-pulau yang berpenduduk beberapa ratus atau beberapa ribu jiwa itu "hanyalah tetesan air di lautan" ketika perubahan global yang cepat diperlukan.

Lebih buruk lagi, apa yang disebut sebagai contoh yang baik ini mungkin akan mengalihkan perhatian penduduk daratan dari tanggung jawab mereka sendiri terkait perubahan iklim.

Apakah pulau ramah lingkungan hanya membuang-buang waktu?

Di Rathlin, dampak perubahan iklim dan krisis keanekaragaman hayati sangat nyata

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Di Rathlin, dampak perubahan iklim dan krisis keanekaragaman hayati sangat nyata

Seperti di sebagian besar penjuru dunia, masyarakat Rathlin semakin sadar akan ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati."Kami melihat badai meningkat, kami melihat stok ikan berkurang, jumlah burung juga berkurang di sekitar pulau," kata Cecil.Tetapi komunitas Rathlin, terlepas dari jumlahnya, siap mengambil tindakan nyata, yang ada dalam DNA masyarakat, Cecil menambahkan: "Ada kebanggaan di pulau ini, kebanggaan untuk mengatasi apa yang diberikan alam kepada kami."Saat ini, Cecil dan rekan-rekannya sedang menyempurnakan rencana mereka untuk memasang turbin angin tunggal, mungkin satu dengan kapasitas sekitar 300 kilowatt - cukup untuk memberi daya pada sekitar 100 rumah di pulau itu - dan mereka telah mendorong adopsi kendaraan rendah emisi.Penduduk pulau telah memperoleh mobil listrik untuk kepentingan komunitas dan akan segera datang juga 20 sepeda elektronik.

David Quinney Mee, seorang pekerja komunitas di Rathlin Development and Community Association, mencatat bahwa sudah ada sistem panel surya di pulau itu untuk membantu mengisi daya kendaraan ini.Rathlin terkenal dengan koloni burung lautnya dan penduduk setempat ingin memastikan hewan-hewan ini dilindungi.

Skema bantuan sebesar Rp78 miliar atau (£4,5 juta) yang diumumkan tahun lalu bertujuan untuk menyingkirkan tikus dan musang, yang memangsa burung di Rathlin.Tetapi pemikiran tentang turbin angin yang juga membantu menghasilkan hidrogen dari air tawar di Rathlin tampaknya sangat memotivasi Cecil, yang sebelumnya bekerja untuk jaringan listrik Irlandia Utara.

Hidrogen, yang dapat diproduksi ketika ada lebih banyak energi angin daripada yang dibutuhkan penduduk pulau, dapat dijual ke organisasi terdekat yang mencari bahan bakar bebas karbon.

Cecil, yang juga mengemudikan feri yang melayani perjalanan pulau itu, juga berharap hidrogen dapat digunakan untuk memberi daya pada kapal transportasi."Kami akan menginvestasikan kembali uang itu ke dalam rumah dekarbonisasi dan transportasi dekarbonisasi," kata Cecil.Ini bukan hanya tentang memasukkan sedikit teknologi hijau. Tapi lebih pada membentuk teknologi ekosistem yang menggerakkan Rathlin menuju netralitas karbon dengan cara yang berbeda - dan, yang terpenting, penduduk pulau akan memiliki kemandirian finansial di dalamnya.

Pulau Sams di Denmark, kemandirian energi

Pulau Sams di Denmark menghasilkan semua energi yang dibutuhkan dari turbin angin miliknya sendiri

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pulau Sams di Denmark menghasilkan semua energi yang dibutuhkan dari turbin angin miliknya sendiri

Komunitas kecil yang terisolasi menghargai arti kemerdekaan dan kemandirian. Hal ini terbukti dalam berbagai proyek pulau ramah lingkungan di seluruh dunia.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Pulau Sams di Denmark, yang merupakan rumah bagi sekitar 4.000 orang."Kami tidak menyukai gagasan bahwa seseorang akan mengeksploitasi angin yang kami tinggali bersama," jelas Søren Hermansen, kepala eksekutif Akademi Energi Sams.

Dia menjelaskan bagaimana, pada tahun 2000, penduduk pulau telah bersatu untuk mengumpulkan uang - sebagian melalui pinjaman bank - untuk membayar 11 turbin angin yang akan mereka miliki sendiri.

Sekarang, Sams menjual kelebihan energi kembali ke jaringan listrik Denmark dan pinjaman tersebut telah dibayar kembali "sudah lama sekali".

Limbah pertanian di pulau itu, sumber daya terbarukan lainnya, juga dibakar untuk menyediakan pemanas bagi beberapa desa.

Hermansen tengah mempertimbangkan pompa panas sebagai alternatif yang mungkin lebih hijau, meskipun cara ini mungkin akan membutuhkan lebih banyak listrik yang dibeli dari daratan, sehingga mengancam status pulau sebagai swasembada energi.

Plus, membiarkan jerami membusuk daripada membakarnya berpotensi menyebabkan emisi gas rumah kaca yang sedikit lebih tinggi.Selain menurunkan emisi karbon, berbagai proyek hijau di pulau ini dimaksudkan untuk menyediakan lapangan kerja lokal dan meningkatkan kualitas hidup penduduk.

Hermansen berpendapat upaya ini mendorong orang untuk bermigrasi ke Sams, yang pada akhirnya dapat membalikkan penurunan populasi selama bertahun-tahun di pulau itu: "Ini lebih sehat, ada lebih banyak ruang dan udara yang lebih bersih."

Data dari peneliti Denmark menunjukkan populasi Sams dapat mulai meningkat dalam beberapa dekade mendatang berkat peningkatan imigrasi baru-baru ini.

Kota Tilos hanya memiliki 500 penduduk, tetapi memiliki ambisi besar untuk mendorong dekarbonisasi di Yunani

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kota Tilos hanya memiliki 500 penduduk, tetapi memiliki ambisi besar untuk mendorong dekarbonisasi di Yunani

Tarikan utopia yang dirasakan selalu kuat dan mempromosikan energi bersih di pulau-pulau kecil adalah bagian dari proyek besar Uni Eropa.

Energi Bersih untuk Sekretariat Kepulauan UE mendukung inisiatif semacam itu dan Komisi Eropa menghabiskan miliaran euro untuk skema energi terbarukan di pulau-pulau di sekitar benua.

Masing-masing negara juga bekerja untuk membangun pulau-pulau netral karbon. Pemerintah Skotlandia, misalnya, menginginkan enam pulaunya sepenuhnya netral karbon pada tahun 2040.Tetapi tidak semua orang yakin bahwa menempatkan semua uang dan menekankan pada pulau-pulau kecil adalah ide yang bagus.

Pada tahun 2017, Adam Grydehøj dari South China University of Technology menulis makalah yang menggambarkan ketergesaan untuk membangun pulau ramah lingkungan sebagai "perangkap".Makalah itu berpendapat bahwa, teknologi bersih dam inisiatif pulau ramah lingkungan mungkin tidak lebih dari kemenangan simbolis - kisah sukses yang diambil oleh pemerintah saat memimpin status quo (kerusakan) di daratan.

Plus, solusi yang memungkinkan pulau kecil untuk "go green" mungkin tidak berlaku di tempat lain, seperti lingkungan perkotaan dengan kepadatan tinggi yang membutuhkan sumber daya energi yang sangat besar sebagai perbandingan."Kepulauan kecil mungkin menjadi panutan, tetapi mereka bukan yang paling dibutuhkan dunia. Swasembada lokal tidak selalu berkontribusi banyak pada keberlanjutan global," tulisnya.Namun, mereka yang memimpin proyek pulau ramah lingkungan bersikeras bahwa memberikan contoh yang baik adalah hal yang kuat untuk dilakukan.

Pulau Tilos Yunani, surplus energi

Tilos menggunakan kombinasi energi matahari dan angin untuk memberi daya pada penduduknya, dan menggunakan teknologi baterai untuk menyimpan kelebihannya

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Tilos menggunakan kombinasi energi matahari dan angin untuk memberi daya pada penduduknya, dan menggunakan teknologi baterai untuk menyimpan kelebihannya

Maria Kamma-Aliferi adalah walikota pulau Tilos Yunani, rumah bagi sekitar 500 orang.

Tahun lalu, Tilos mengalami energi mandiri berkat tenaga angin dan matahari yang dipadukan dengan baterai yang dapat menyimpan energi saat terjadi surplus.

Kamma-Aliferi dan rekan-rekannya berniat untuk melangkah lebih jauh, dengan rencana untuk membangun program daur ulang yang luas di seluruh pulau untuk mencapai status "tanpa limbah"."Kami ingin Tilos menjadi mercusuar bagi pulau-pulau Eropa lainnya, pulau-pulau Yunani lainnya, untuk menunjukkan kepada mereka bahwa jika satu pulau kecil seperti kita dapat melakukan semua itu, maka mereka dapat melakukannya," kata Kamma-Aliferi, melalui seorang penerjemah.

Pulau Bornholm di Denmark menuju netral karbon

Sementara itu, Bornholm, sebuah pulau di Denmark yang berpenduduk kurang dari 40.000 orang di Laut Baltik antara Denmark dan Polandia, berharap menjadi netral karbon hanya dalam waktu tiga tahun.

Peningkatan yang signifikan dalam pembangkit energi angin dapat membantu pulau menuju tujuan ambisius ini.

Tahap pertama dari ekspansi angin, yang akan menyediakan dua gigawatt, telah disetujui dan persiapan telah dimulai, kata walikota Bornholm, Jacob Trst.

Tujuannya adalah untuk menyediakan listrik ke tiga juta rumah.

Energi angin Bornholm yang melimpah menjadikannya tempat yang ideal untuk ladang angin, dan pulau ini bermaksud untuk memanen daya yang cukup untuk tiga juta rumah

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Energi angin Bornholm yang melimpah menjadikannya tempat yang ideal untuk ladang angin, dan pulau ini bermaksud untuk memanen daya yang cukup untuk tiga juta rumah

Skotlandia bertujuan untuk menjadi pemimpin yang selangkah lebih maju, dalam sebuah proyek untuk membangun bukan hanya satu tetapi enam pulau netral karbon, kata juru bicara pemerintah Skotlandia.

Pemerintah Skotlandia melihatnya sebagai peluang bagi komunitas pulau untuk "memimpin" perjalanan negara yang lebih luas menuju nol emisi bersih."Proyek pulau netral karbon dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi semua pulau di Skotlandia dan, jika memungkinkan, menjadi praktik baik netralitas karbon yang mungkin relevan juga di daratan, melalui pertukaran pengetahuan dan berbagi praktik yang baik," katanya.Elin Slätmo, peneliti senior di pusat penelitian Nordik Nordregio, dan rekan-rekannya telah mempelajari lusinan pulau ramah lingkungan di wilayah Nordik, menemukan berbagai tingkat keberhasilan.

Inisiatif yang paling efektif, katanya, adalah yang melibatkan masyarakat pulau secara langsung dalam transisi menuju sistem energi terbarukan atau skema hijau lainnya.Namun, ada kekurangan penelitian tentang apakah proyek yang relatif kecil ini memiliki dampak positif pada masyarakat luas, tambahnya.

Slätmo menunjukkan, solusi pulau ramah lingkungan bahkan tidak mudah diterjemahkan dari satu pulau kecil ke pulau lainnya."Kita harus menyesuaikannya dengan struktur masyarakat yang sudah ada," katanya.

Proyek harus sesuai dengan jaringan listrik yang ada, infrastruktur daur ulang dan sampah, kebutuhan transportasi dan sebagainya.

Dengan kata lain, komunitas kecil yang terorganisir mungkin dapat mengambil langkah menuju netralitas karbon atau nol emisi ke tangan mereka sendiri - tetapi pendekatan yang sama tidak akan mungkin dilakukan di mana-mana.Bagi Hermansen, ini bukan batu sandungan besar. Ukuran tidak selalu menjadi penghalang untuk mencapai netralitas karbon - Jepang adalah salah satu negara yang bertujuan untuk memimpin dalam hal itu, ia menunjukkan.

Pulau-pulau kecil hanyalah upaya pertama, seperti cawan petri di mana orang dapat mencoba ide-ide itu untuk masa depan, katanya.Dan masih ada peluang bagi orang-orang yang tinggal di daratan untuk mengambil pendekatan hiperlokal yang terinspirasi pulau kecil menuju netralitas karbon ini.

"Jika Anda tinggal di gedung apartemen, mengapa tidak memasang panel surya di atap? Dan pengisi daya listrik di garasi?" tambah Hermansen.Seperti yang dikatakan Trøst, walikota Bornholm, yang penting adalah para perintis mengambil langkah maju, di mana pun mereka tinggal.

"Seseorang perlu melangkah dan memimpin dalam hal ini," katanya. "Dan tidak masalah apakah itu Bornholm atau Amerika Serikat, selama seseorang melakukannya, itu menunjukkan jalan kepada orang lain."Semua upaya ini menimbulkan pertanyaan yang menarik dan jauh lebih besar: sejauh mana dorongan menuju emisi rendah dan masyarakat yang lebih hijau harus dilakukan. Oleh sekelompok kecil orang yang termotivasi, berdasarkan kasus per kasus, atau pemerintah nasional yang memberlakukan kebijakan menyeluruh?Dalam praktiknya, proyek yang sukses sering kali memiliki elemen keduanya.

Penduduk pulau Sams diuntungkan karena mendapatkan bantuan subsidi energi terbarukan yang membuat turbin mereka lebih ekonomis, misalnya.Di tengah perdebatan "berdampak atau tidak", Cecil mengatakan, "Kami mungkin tidak dapat mentransplantasikan solusi spesifik berbasis pulau ke tempat lain dengan mudah - tetapi mungkin itu tidak masalah. Apa pun peluangnya, semangat juang Rathlin adalah yang sangat kami butuhkan."Seperti yang dikatakan Cecil, "Terserah setiap anggota masyarakat untuk melakukan upaya yang mereka rencanakan."

Versi bahasa Inggris dari artikel ini,The tiny islands leading the green transitionbisa Anda baca di lamanBBC Travel.