Dahsyatnya kekuatan ritual dalam kehidupan sehari-hari

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Karan Johnson
- Peranan, BBC Future
Beragam ritual dipraktikkan oleh berbagai budaya di seluruh dunia, tetapi mengapa ritual menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari manusia?
Ketika antropolog Bronislaw Malinowski mengunjungi Kepulauan Trobriand di Papua Nugini pada awal abad ke-20, ia mencatat persiapan rumit yang dilakukan para nelayan setiap kali hendak melaut.
Mereka melukis perahu mereka dengan cat hitam, merah dan putih, sambil membaca mantra. Kemudian mereka memukul perahu dengan tongkat kayu, yang ujungnya diwarnai tanah liat merah, dan para awak kapal menghiasi lengan mereka dengan cangkang kerang.
Malinowski mencatat sederetan panjang upacara dan ritual yang dilakukan para penduduk pulau sebelum menjelajah ke laut lepas. Namun ketika para nelayan pergi ke laguna tenang yang jaraknya dekat, mereka tidak melakukan ritual-ritual ini.
Malinowski menyimpulkan bahwa ritual "ajaib" yang dilakukan oleh penduduk pulau adalah sebuah respons untuk membantu mereka mengatasi kekuatan Samudra Pasifik yang tak terduga.
Baca juga:
Belakangan para antropolog mencatat bahwa para nelayan di belahan dunia lain, seperti mereka yang menangkap ikan laut dalam di lepas pantai teluk Texas dan kapten nelayan kapal drifter di East Anglia, Inggris, juga percaya pada takhayul dan ritual untuk membantu mereka mengatasi ketidakpastian dan bahaya dalam profesi mereka.
Tetapi bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa ritual sudah ada jauh sebelum abad ke-20. Salah satu bukti yang dianggap sebagai contoh paling awal dari praktik ritual manusia ialah ukiran ular piton di sebuah gua di Botswana, Afrika Selatan, yang berasal dari 70.000 tahun yang lalu.
Ribuan ujung tombak batu di gua itu diduga telah dibakar dalam sebuah ritual, termasuk beberapa yang diukir dengan cermat dari batu merah yang dibawa dari ratusan mil jauhnya. Para arkeolog yang menemukan ini percaya bahwa penghancuran ujung tombak adalah bagian dari pengorbanan ritualistik untuk sang piton.
Tapi mengapa manusia melakukan ritual sejak dahulu kala?

Para psikolog mendefinisikan ritual sebagai "urutan tindakan simbolis yang sudah ditentukan sebelumnya serta kerap ditandai dengan formalitas dan pengulangan yang tidak memiliki tujuan atau kegunaan langsung".
Penelitian mengidentifikasi tiga elemen ritual. Pertama, perilaku yang dilakukan secara berurutan - satu demi satu - dan ditandai oleh formalitas dan pengulangan. Kedua, perilaku itu mengandung makna simbolis, dan ketiga, perilaku ritual ini umumnya tidak memiliki kegunaan yang jelas.
Ritual terjadi cukup sering dalam kehidupan sehari-hari. Diyakini bahwa kita membentuk ritual berdasarkan nilai-nilai yang kita anut. Misalnya, orang-orang dengan nilai-nilai Kristen membaptis bayi mereka sebagai simbol kelahiran kembali rohani.
Tetapi fungsi ritual dapat lebih dari sekadar membantu kita untuk menjalankan nilai-nilai kita. Ritual juga dapat membantu mengurangi kecemasan.
Praktik ritualistik dapat membantu kita merasa lebih yakin dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Ritual meyakinkan otak kita akan keteguhan dan prediktabilitas karena ritual berfungsi sebagai "penyangga terhadap ketidakpastian dan kecemasan", menurut para ilmuwan.
Berbagai studi menunjukkan bahwa ritual memberi efek mengurangi kecemasan dalam hampir semua upaya yang melibatkan tekanan tinggi. Dalam satu percobaan, misalnya, para peneliti menyuruh partisipan untuk menyanyikan lagu "Don't Stop Believing" dari band rock Journey di depan orang asing, sebuah tugas yang pastinya memicu kecemasan.
Para peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk melakukan ritual sebelum tampil (termasuk menaburkan garam ke gambar yang mereka buat sendiri). Sedangkan kelompok kedua diberi instruksi tentang hal-hal yang harus mereka lakukan dan dibiarkan untuk duduk dengan tenang.
Detak jantung para peserta, perasaan cemas, dan penampilan mereka dalam membawakan lagu kemudian diukur untuk menentukan tingkat kecemasan. "Partisipan yang menyelesaikan ritual bernyanyi lebih baik, memiliki detak jantung yang jauh lebih rendah, dan mengaku merasa kurang cemas dibandingkan peserta yang tidak melakukan ritual," kata Francesca Gino, peneliti dari Harvard Business School, sekaligus salah satu penggagas studi ini.
Dalam studi lain yang melibatkan 75 perempuan Hindu di Mauritius, kecemasan pada peserta dipicu dengan meminta mereka mempersiapkan pidato untuk dinilai oleh para ahli. Semua peserta dipasangi monitor detak jantung dan diminta untuk menyelesaikan survei pada awal dan akhir percobaan. Sebagian peserta diarahkan ke kuil setempat untuk melakukan ritual sebelum menyelesaikan survei kedua, sementara sisanya hanya diminta untuk duduk dan bersantai.
Kedua kelompok melaporkan tingkat kecemasan yang sama dalam survei pertama. Namun, setelah survei kedua, tingkat kecemasan yang dilaporkan oleh para peserta yang melakukan ritual lebih rendah. Pembacaan detak jantung juga menegaskan bahwa peserta yang melakukan tindakan ritualistik mengalami kecemasan fisiologis yang lebih rendah.
Para psikolog olahraga juga berpendapat bahwa ritual sebelum tampil dapat memberikan manfaat bagi para atlet, seperti eksekusi yang lebih baik dan mengurangi tingkat kecemasan.
Rafael Nadal, pemenang 20 gelar Grand Slam, konon memiliki banyak ritual - tepatnya, 19 ritual - yang ia lakukan sebelum setiap pertandingan. Dalam otobiografinya yang terbit pada tahun 2012, Rafa: My Story, Nadal menjelaskan bahwa ritualnya adalah "cara untuk menempatkan diri saya dalam pertandingan, menata lingkungan saya sesuai dengan urutan yang saya pikirkan di dalam kepala saya."

Sumber gambar, Getty Images
Kebetulan, jenis ritual tampaknya tidak berpengaruh pada efeknya. Gino menambahkan bahwa "bahkan ritual sederhana bisa sangat efektif".
Penelitian menunjukkan, secara paradoks, bahwa bahkan ritual yang melibatkan rasa sakit, cedera atau trauma dapat memberi beragam manfaat psikologis bagi mereka yang melakukannya. Misalnya, orang-orang yang berjalan di atas bara api mengaku merasa lebih bahagia setelah mengikuti ritual yang berat ini.
Ada juga beberapa bukti yang mengindikasikan bahwa ritual dapat membantu kita mengatasi masa-masa paling sulit dalam hidup, misalnya saat berduka.
Ritual akhir kehidupan dapat menciptakan hubungan yang lebih kuat antara orang yang sekarat dan orang-orang terkasih mereka. Dalam sebuah studi pada tahun 2014, para peneliti menemukan level kesedihan lebih rendah di antara partisipan yang melakukan ritual pribadi, misalnya mencuci mobil almarhum setiap minggu.
Ketika mengalami kehilangan, biasanya kita merasa kehilangan kendali, jadi mungkin tidak mengherankan bila ritual digunakan untuk menciptakan suatu bentuk keteraturan supaya kita bisa kembali mengambil kendali.
Tetapi manfaat ritual juga melampaui individu - ritual juga terbukti bermanfaat dalam kelompok.
Perilaku ritualistik dapat menguatkan ikatan sosial ketika kita mempraktikkannya secara kolektif. "Memiliki jejaring sosial sering dikaitkan dengan kesejahteraan, dan diperkirakan bahwa ritual - pertemuan kelompok yang sering - sangat baik dalam memfasilitasi jaringan semacam itu," kata Valerie van Mulukom, psikolog di Coventry University di Inggris dan salah satu penggagas studi tentang efek ritual sekuler pada ikatan sosial.
Ritual kelompok menunjukkan bahwa semua anggota berpikiran sama dan menganut nilai-nilai yang sama, sehingga menciptakan atmosfer kepercayaan. Misalnya, nyanyian ritualistik telah terbukti membuat para suporter tim sepak bola merasa terhubung.
Dan bagi bintang pop Beyonce, mengucapkan doa bersama semua krunya sebelum tampil adalah "latihan spiritual" untuk mewujudkan penampilan yang sempurna.
"Setelah berpartisipasi dalam ritual kelompok, banyak individu melaporkan bahwa mereka merasa lebih terhubung dengan orang lain (dalam kelompok itu), dalam beberapa kasus bahkan ketika mereka hanya mengamati ritual itu," kata Johannes Karl, mahasiswa kedokteran di Victoria University of Wellington, Selandia Baru yang mempelajari bagaimana ritual memengaruhi ikatan sosial dan kesehatan.

Sumber gambar, Getty Images
Penelitian oleh van Mulukom tentang ritual keagamaan di Brasil dan Inggris menyimpulkan bahwa keikutsertaan dalam ritual meningkatkan ambang rasa sakit dan kemampuan untuk mengalami emosi positif, yang mempererat ikatan sosial dalam kelompok.
Tetapi ikatan sosial tidak hanya terbatas pada ritual keagamaan. "Kami menemukan bahwa efek ini dihasilkan pada ritual keagamaan maupun ritual sekuler," imbuh van Mulukom.
Bagaimanapun, walaupun ritual memberi banyak manfaat, ada juga beberapa dampak buruknya.
Dalam kelompok, bukti-bukti ilmiah mengindikasikan bahwa ritual dapat menimbulkan bias antar kelompok . Sebagai contoh, sebuah studi yang memberikan sekantung mainan kepada sekelompok anak-anak mendapati bahwa mereka yang berpartisipasi dalam ritual kolektif lebih sering menunjukkan mainan mereka kepada anggota kelompok yang berpartisipasi dalam ritual daripada kepada anak-anak yang tidak termasuk dalam kelompok.
Selain itu, ritual kelompok yang mengandung unsur kekejaman, misalnya perpeloncoan yang marak dalam upacara inisiasi mahasiswa atau militer, sangat berbahaya. Perpeloncoan seringkali melibatkan tindakan-tindakan melecehkan atau mempermalukan yang, dalam beberapa kesempatan langka, mengakibatkan kematian.
Penelitian tentang pencegahan perpeloncoan menyimpulkan bahwa dibutuhkan komitmen pada perubahan budaya untuk menghapuskan ritual kelompok yang berbahaya ini.
Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa ritual - entah itu bersifat informal, sekuler, berbasis individu atau kelompok - dapat berdampak positif pada kesejahteraan kita.
Dan mengingat salah satu efek ritual adalah mengurangi stres, Gino menyarankan supaya kita "melakukan ritual sebelum menjalani situasi menegangkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya sebelum memberikan presentasi, mengikuti ujian, atau melakukan percakapan yang sulit."
Seperti halnya para nelayan di Kepulauan Trobriand, ritual dapat membantu meneguhkan hati Anda untuk menghadapi lautan ganas yang menanti Anda.
--
Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini di BBC Future.









