Cerita penyelamatan 'surga biota laut' yang terancam hilang di India

Pulau Vaan

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Kamala Thiagarajan
    • Peranan, BBC Future

Pulau Vaan di Teluk Mannar, India, tenggelam dengan cepat ke Laut Laccadive. Namun sebuah tim ahli kelautan berupaya menyelamatkannya.

Ratusan perahu nelayan terombang-ambing di perairan biru cerah yang mengelilingi Pulau Vaan, sebidang kecil tanah di antara India dan Sri Lanka.

Pulau ini menandai awal dari zona yang sangat dilindungi karena rentan rusak, yaitu Cagar Biosfer Teluk Mannar.

Perairan ini merupakan tempat bagi keanekaragaman hayati pantai India yang paling bervariasi.

Penuh dengan kehidupan laut, tempat ini merupakan rumah bagi 23% dari 2.200 spesies ikan India, 106 spesies kepiting dan lebih dari 400 spesies moluska, lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik, lumba-lumba tanpa sirip, dan paus bungkuk.

Sekitar 150.000 nelayan bergantung pada cadangan laut ini untuk mata pencaharian mereka. Dan Pulau Vaan adalah pintu masuk ke dunia itu.

Setengah jam dari daratan dan mudah diakses ke 47 desa yang merupakan tulang punggung garis pantai yang berpenduduk padat ini, Vaan selalu menjadi tempat perlindungan dari badai bagi nelayan dan titik sentral bagi para peneliti.

Meski begitu, selama 50 tahun belakangan, pulau ini tenggelam dengan cepat.

Pada tahun 1986, 21 pulau sejenis di wilayah ini dilindungi ketika Cagar Biosfer Teluk Mannar, yang pertama di Asia, ditetapkan di Laut Laccadive.

Sekarang tinggal 19 buah, dua di antaranya telah terendam dan berikutnya Pulau Vaan terancam hilang. Di tahun 1973, Vaan memiliki luas 26,5 hektare (65 acre), kemudian menyusut menjadi hanya 4,1 hektare (10 acre) di tahun 2016.

Di titik itu erosi begitu ekstrem sampai-sampai para peneliti memperkirakan pulau itu akan tenggelam seluruhnya di tahun 2022.

Pulau Vaan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Penangkapan ikan merupakan sumber pendapatan penting di kota-kota pesisir dan desa-desa di bagian Tamil Nadu, India Selatan.

Alasan kenapa pulau-pulau kecil yang kaya secara ekologis seperti Vaan lenyap merupakan kombinasi dari praktik penangkapan ikan secara liar, naiknya permukaan laut karena perubahan iklim dan penambangan karang-karang yang sudah terbentuk lama, yang kini sudah dinyatakan terlarang di daerah tersebut.

Terumbu-terumbu buatan dikerahkan untuk membantu menghambat gelombang mencapai pulau-pulau, dan siasat itu sangat efektif.

Namun untuk memberikan masa depan jangka panjang bagi Pulau Vaan dan sekitarnya, seluruh ekosistem perlu dikembalikan lagi.

Gilbert Mathews, ahli biologi kelautan di Suganthi Devadason Marine Research Institute (SDMRI) yang terletak di kota pesisir dekat Thuthukudi di India Selatan, beralih ke lamun, sejenis tanaman laut yang tampak polos dan tidak berbahaya, sebagai cara untuk menyelamatkan ekosistem pulau.

Lamun yang sering disalahartikan sebagai rumput laut, adalah tanaman yang tumbuh di bawah air dan memiliki akar, batang dan daun yang jelas. Mereka menghasilkan bunga, buah-buahan dan biji-bijian, serta memainkan peran penting dalam menjaga ekosistem laut.

"Seperti halnya karang, kelompok-kelompok rumput ini menyediakan habitat bagi banyak makhluk laut yang indah, seperti kuda laut dan ikan kadal, yang dapat ditemukan di antara lamun sepanjang tahun," kata Mathews.

Lamun menyediakan lingkungan yang tepat bagi ikan-ikan muda dan invertebrata untuk menyembunyikan diri, sambil menyerap karbon dioksida terlarut dan menciptakan lingkungan yang kaya akan oksigen dan nutrisi.

Dengan kemampuannya untuk menangkap sedimen, lamun juga bertindak sebagai filter alami, membersihkan perairan dan memperlambat erosi.

Mathews menyelidiki lamun-lamun di sekitar Pulau Vaan pertama kali pada tahun 2008. Ia menyelam ke perairan dangkal dua kali sebulan, hingga delapan jam sehari.

Dengan perasaan cemas, dia melihat banyak kelompok-kelompok lamun mengambang di perairan sekitarnya. Pulau-pulau ini adalah rumah bagi padang lamun yang paling mewah di anak benua India, tetapi mereka mulai terlepas.

Tangkai-tangkainya dicabut oleh pada nelayan yang mengoperasikan kapal pukat, yang memasang dua atau lebih jaring untuk menyapu perairan dangkal.

Penangkapan ikan di sepanjang perairan dangkal dan mengganggu padang lamun merupakan kegiatan ilegal di India, tetapi karena pengawasan yang buruk, undang-undang itu tidak ditegakkan secara ketat.

Bersama dengan hasil tangkapan pukat berupa krustasea dan ikan, mereka juga menarik ratusan tangkai lamun hijau yang kemudian dibuang begitu saja di sepanjang pantai.

Pulau Vaan

Sumber gambar, Heyder Affan

Keterangan gambar, Hamparan yang tersebar di satu wilayah seluas 110 km persegi (42 mil persegi) - setara dengan satu wilayah kota Chandigarh di India - telah lenyap setiap tahun sejak 1980.

Dengan menghancurkan lamun, para pengguna pukat secara tidak langsung menyebabkan ketidakstabilan ekosistem tempat mereka bergantung - tanpa lamun sebagai dasar ekosistem, cadangan ikan menjadi berkurang.

Dalam penelitian yang dilakukan antara tahun 2011 dan 2016, Mathews menemukan bahwa 45 kilometer persegi hamparan lamun telah terdegradasi di Palk Bay, tempat pertemuan air laut dari Samudra Hindia dengan Teluk Bengal.

Di Teluk Mannar, 24 kilometer persegi sudah mati. "Kami percaya bahwa dengan mengembalikan padang lamun di sepanjang perairan ini, kami dapat memperkuat pulau dan mungkin dapat menyelamatkan pulau ini dan mencegah yang lain tenggelam ke laut," katanya.

Mathews memahami bahwa memulihkan lamun bakal menjadi tantangan. Sebuah penilaian global terhadap 215 penelitian, yang dipimpin ahli biologi kelautan Michelle Waycott dari University of Adelaide, Australia, menemukan bahwa lamun telah menghilang secara cepat di seluruh dunia.

Hamparan yang tersebar di satu wilayah seluas 110 kilometer persegi, setara dengan satu wilayah kota Chandigarh di India, telah lenyap setiap tahun sejak tahun 1980.

Secara keseluruhan, 29% lamun telah hilang sejak pencatatan dimulai pada tahun 1879.

Pulau Vaan

Sumber gambar, SDMRI

Keterangan gambar, Lamun-lamun di sekitar Pulau Vaan tidak merata dan berwarna kecoklatan sebelum berlangsung transplantasi

Tetapi jika padang lamun dapat dihidupkan kembali di sekitar Pulau Vaan, mereka juga dapat berfungsi sebagai penyerap karbon.

"Penanaman dan restorasi memberikan solusi yang berkembang ke arah mitigasi perubahan iklim dan memberikan perlindungan di bagian dunia yang sangat rapuh ini, yang sering dilanda angin topan dan angin kencang," kata Edward J.K. Patterson, Direktur SDMRI.

Awalnya, para peneliti mencoba menarik kelompok-kelompok lamun itu langsung dari dasar laut yang berpasir, dan memindahkannya ke lokasi yang sudah gundul. Tetapi hal itu tidak berhasil - pukat masih bisa mencabut mereka, menghancurkan kerja keras tim.

Jelaslah mereka perlu menemukan cara lain, tetapi banyak teknik rehabilitasi yang biasa digunakan di bagian lain dunia membutuhkan biaya tinggi, lebih membutuhkan tenaga kerja, dan oleh karena itu tidak layak.

Misalnya, satu metode yang sudah sangat dikenal adalah penyebaran dan penaburan benih lamun. Tetapi ini tidak praktis karena lahannya harus digali di bawah air dan setiap benih ditanam dengan tangan.

Mathews dan rekan-rekannya kemudian menghabiskan waktu delapan tahun mencoba mencari cara yang lebih baik untuk menyelamatkan lamun.

Sementara itu, erosi terus berlanjut dan di tahun 2013 Pulau Vaan terbelah dua ketika air laut merambah pulau.

Pada tahun 2016 Teluk Mannar mengalami episode pemutihan karang terburuk yang pernah terjadi, saat kehilangan 16% hamparan karangnya.

Merestorasi karang dan lamun adalah proyek kembar, karena keduanya bertindak sebagai penghalang alami, memberikan perlindungan dari gelombang yang kuat dan mengurangi erosi.

Pulau Vaan

Sumber gambar, SDMRI

Keterangan gambar, Para ahli biologi kelautan membawa karung yang besar dan kuat berisi lamun segar ke permukaan untuk ditanami kembali di tempat-tempat yang kurang bagus.

Para ilmuwan dari SDMRI saat itu telah menyempurnakan teknik transplantasi yang lebih baik untuk memulihkan lamun.

Mahalakshmi Bupathy, seorang peneliti khusus karang lunak, bergabung dengan tim pada tahun 2016 bersama "rekan menyelamnya", seorang peneliti bunga karang, Arathy Ashok, untuk mencoba metode baru ini.

Beberapa kali sebulan, Bupathy dan Ashok memulai harinya sejak pukul lima pagi dengan menyelam ke dasar laut.

Pertama, mereka mensurvei lokasi di sepanjang 19 pulau yang tersisa di Teluk Mannar dan Palk Straight, serta mencatat daerah bawah laut mana yang membutuhkan lebih banyak lamun dan mana yang masih memiliki lamun yang berlimpah.

Daerah yang terakhir itu bisa menjadi "donor" yang menjanjikan untuk mengisi kembali daerah yang lebih rusak. Mereka juga mencatat keanekaragaman hayati di daerah itu, merekam vegetasi dan populasi ikan.

Yang mengejutkan, di mana ada banyak lamun, kehidupan lautnya kaya. "Saya menemukan sebentuk bunga karang raksasa yang terakhir terlihat di perairan ini 30 tahun yang lalu," kata Ashok. "Mereka adalah makhluk yang penuh teka teki."

Selanjutnya, pasangan ini mengumpulkan tangkai-tangkai lamun dewasa dari lokasi donor terpilih.

"Seseorang harus sangat berhati-hati ketika menggali mereka," kata Bupathy. Tangkainya memiliki dua jenis akar - satu set yang tumbuh vertikal dan yang lainnya secara horizontal, yang perlu disingkirkan tanpa merusaknya.

Sebelum memasukkan tangkai-tangkai itu ke dalam kantong-kantong, Bupathy dan Ashok membersihkan dengan seksama di air laut untuk membersihkan endapan.

Upaya awal yang gagal telah mengungkapkan bahwa penanaman kembali dengan sedimen yang berlebihan menghalangi sinar matahari dan mencegah fotosintesis, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman itu.

Kemudian, tim meletakkan tas-tas itu di atas kapal, tempat anggota tim lainnya sedang menunggu dengan wadah lain yang berisi air laut.

Setelah terendam seluruhnya di dalam wadah itu, lamun-lamun itu kemudian harus dipindahkan ke lokasi transplantasi dalam waktu satu jam, atau tangkai-tangkainya akan mati.

Pulau Vaan

Sumber gambar, SDMRI

Keterangan gambar, Para ilmuwan memiliki jendela pendek untuk memilah rumput laut yang bagus sebelum menanamnya kembali ke tempatnya yang baru.

Ketika sampai di daerah target, yaitu daerah tandus bekas padang lamun, berbagai tunas itu lantas diikat ke sebuah kuadrat plastik seluas 1 meter persegi dengan menggunakan tali rami.

Sebanyak enam tali rami dapat mengikat hampir 120 tunas ke kotak. Akar harus dibiarkan utuh, sehingga bisa tertanam di tanah ketika transplantasi berlangsung.

Tergantung pada keadaan cuaca, tim itu membenahi lebih dari 80 kuadrat sehari, masing-masing diikat dengan pucuk yang jika mereka beruntung, dapat menyatukan Pulau Vaan kembali.

"Membutuhkan waktu dua atau tiga bulan agar akar-akarnya terikat ke tanah di bawah air yang berpasir dan berlumpur," kata Ashok. Setelah itu, mereka akan menyelam kembali untuk mengambil kuadrat plastik.

Mereka memantau secara cermat tempat-tempat yang sudah direhabilitasi untuk memastikan apakah lamun itu bisa bertahan.

Setiap bulan, tim mengukur parameter lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan lamun, seperti suhu air, salinitas, tingkat keasaman, turbulensi, sedimentasi dan tingkat oksigen terlarut.

Pada bulan kelima, tim itu mulai melihat tanda-tanda keberhasilan - sepertinya lamun pulau itu tumbuh kembali. Kuadrat-kuadrat telah memberikan stabilitas tambahan untuk menumbuhkan akar kepada tangkai-tangkai itu.

"Kami dapat melihat dengan jelas peningkatan keanekaragaman hayati di area ini," kata Bupathy.

"Kami melihat berbagai macam ikan bersirip, moluska, kuda laut, penyu." Hamparan lamun yang bertindak sebagai donor telah mengisi kembali titik-titik yang dulu hilang, dan menjadi setebal sebelumnya.

Pulau Vaan

Sumber gambar, SDMRI

Keterangan gambar, Hamparan padang rumput laut yang terdegradasi dapat pulih dengan bantuan proses transplantasi yang ditargetkan, dan daerah donor juga mengisi kembali stok mereka yang hilang.

Tetapi, karena ikan-ikan dan kehidupan laut lainnya mulai pulih, begitu juga dengan para nelayan. Jaring-jaring pukat mulai menarik rumput-rumput laut yang baru ditransplantasikan.

Tim terus melakukan penyelaman, memastikan kembali kekuatan tunas dengan cara menarik mereka.

Cuaca yang buruk antara bulan April dan September sering menghambat pekerjaan mereka, tapi dalam delapan bulan ketika laut tenang, proyek restorasi itu mengalami kemajuan yang stabil.

Berpacu melawan pukat sering berarti berjam-jam di bawah air, dengan makanan cepat di atas kapal.

Bupathy teringat suatu kali ketika hidungnya mulai berdarah karena dia menyelam ketika sedang flu. Ashok ingat goresan kecil dan memar karena karang yang dia lewati.

Namun, melihat padang lamun tumbuh dan berkembang, menghilangkan semua perasaan tidak enak itu. "Menyaksikan ekosistem terbentuk dan tumbuh beragam, sangat membahagiakan," kata Bupathy.

Ada alasan lain di samping mencegah erosi Pulau Vaan yang mendorong kegigihan para peneliti.

Kehilangan padang lamun mirip dengan penggundulan hutan secara massal di darat, dan ini bisa memiliki efek domino karena lamun sensitif terhadap perubahan suhu.

"Pemanasan suhu air laut yang cepat dalam beberapa dekade terakhir telah menyusutkan padang lamun tempat menyimpan karbon, yang pada gilirannya mempercepat pemanasan global," kata Roxy Mathew Koll, seorang ilmuwan perubahan iklim di Indian Institute of Tropical Meteorology di Pune.

Semua itu membuat upaya Bupathy, Ashok dan rekan-rekan mereka lebih tepat waktu.

"Pemulihan padang lamun di sepanjang pantai India dapat membantu menyelamatkan ekosistem," kata Koll.

"India memiliki garis pantai yang besar, jadi jika ini berhasil, usaha ini dapat direplikasi untuk lingkungan serupa lainnya di sepanjang pantai - yang akan berkontribusi pada upaya nasional untuk mengurangi emisi dan membalikkan perubahan iklim sebanyak mungkin."

Sejauh ini, sembilan hektar lamun yang terdegradasi telah direhabilitasi di Teluk Mannar.

Seperti halnya di Pulau Vaan, tempat-tempat yang terkena erosi secara cepat lainnya, seperti Pulau Koswari, Pulau Kariyachalli dan Vilanguchali telah sukses mentransplantasi.

Dua hektar lebih telah direstorasi di sekitar pulau-pulau di Teluk Palk. Para peneliti berharap bahwa pada waktunya lamun yang dipulihkan akan menarik mamalia yang terancam punah, seperti duyung

Pulau Vaan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ketika rumput laut sudah dipulihkan, diharapkan spesies-spesies seperti dugong akan muncul kembali di Teluk Mannar, di mana saat ini mereka berada dalam ancaman.

Dalam jangka panjang, penegakan hukum India terhadap perusakan lamun harus menjadi bagian dari solusi.

Pada tahun 2019, rancangan undang-undangan tentang pengelolaan peraturan perikanan laut diusulkan.

Jika disahkan menjadi undang-undang, maka kapal penangkap ikan yang lebih besar dan kapal pukat mekanik perlu didaftarkan dan dilisensikan di bawah departemen negara.

Mereka akan membutuhkan izin untuk menangkap ikan, yang dapat mengarah pada pemantauan yang lebih baik dan pada akhirnya mengurangi kerusakan lamun dan karang di kawasan itu.

Hingga saat ini, upaya bersama untuk memulihkan terumbu karang dan lamun di sekitar Pulau Vaan dan tetangganya telah memperkuat garis pantai yang terdegradasi, membuatnya menjadi lebih kuat menghadapi ancaman, kata Patterson.

"Ini adalah upaya pertama di India untuk berjuang menyelamatkan pulau yang tenggelam," katanya. Dan tampaknya berhasil - untuk saat ini, pulau Vaan menjadi stabil.

--

Emisi dari perjalanan yang diperlukan untuk melaporkan kisah ini adalah 0 kg CO2: penulis mewawancarai narasumber dari jarak jauh, dia sudah terbiasa dengan daerah Teluk Mannar dan pernah bekerja di sana beberapa kali.

Emisi digital dari cerita ini diperkirakan sekitar 1,2 sampai 3,6 gram CO2 per tampilan halaman. Coba cari tahu lebih banyak lagi bagaimana kami menghitung angka itu di sini.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Future Planet dengan judul The divers rescuing a drowning island.