Ketika robot menggantikan peran manusia untuk memilih saat pemilu

Sumber gambar, Daniel Acker/Bloomberg via Getty Images
- Penulis, Frank Swaine
- Peranan, BBC Future
Dari daftar putar lagu sampai prospek jodoh, kita semakin dibuat nyaman oleh algoritma yang membuatkan keputusan-keputusan itu untuk kita. Lantas, kenapa tidak sekalian saja mereka mewakili kita untuk memilih dalam pemilu?
Bayangkan Anda berdiri di bilik suara dengan kertas suara terlipat di tangan Anda. Puluhan nama tercetak di dalamnya. Banyak di antara nama itu yang tidak Anda kenali. Akan tetapi, satu coblosan pada salah satu nama itu akan menentukan pemerintahan seperti apa yang memimpin Anda bertahun-tahun ke depan. Lantas, bagaimana cara Anda memilih kandidat yang tepat?
Itu adalah teka-teki yang dihadapi banyak pemilih di negara demokrasi di seluruh dunia, seperti Indonesia.
Biasanya, keputusan itu diambil berdasarkan kesetiaan terhadap partai pilihan, satu-dua kebijakan si kandidat yang berkesan, dan siapa yang kira-kira akan dipilih oleh keluarga dan teman-teman Anda sendiri.
Yang juga membuat para politikus 'buta', yaitu pilihan warga yang bisa benar-benar tidak jelas, mungkin karena suka pada potongan rambut si kandidat, seberapa menariknya penampilan mereka, berita yang baru mereka baca, atau mereka yang memilih dengan tujuan untuk "mengirimkan pesan" kepada penguasa.
Menentukan pilihan di bilik suara memerlukan usaha yang besar - membaca profil masing-masing kandidat, menimbang kepatutan mereka satu per satu. Kebanyakan orang tidak punya banyak waktu untuk melakukannya.
Pemilih di negara demokrasi terbesar dunia, India, misalnya, harus memilih satu dari 8.039 kandidat yang berasal dari 650 partai se-India dalam delapan fase pemilu.
Dengan pemilihan presiden AS yang akan digelar tahun 2020 mendatang, serta pemilu Inggris yang dijadwalkan bulan Desember ini, tugas pemilik hak suara semakin sulit. Tapi sebenarnya apakah teknologi bisa membantu kita membuat keputusan itu?
Bagaimanapun, akhir-akhir ini, algoritma sering membantu kita 'mengambil' keputusan-keputusan sulit.
Mesin rekomendasi membantu kita mencari tiket-tiket penerbangan paling murah, asuransi kendaraan terbaik, paket telepon pintar paling optimal, menampilkan iklan berbagai produk yang sebelumnya tak kita sangka kita butuhkan, mencarikan kita buku yang seru untuk dibaca, film untuk ditonton, memberikan saran kado spesial, dan membuatkan daftar putar lagu musisi kesukaan kita.
Kita bahkan membiarkan mesin menentukan orang seperti apa yang cocok dengan kriteria kencan kita. Untuk itu, apakah teknologi kecerdasan buatan juga bisa mencarikan kandidat politikus terbaik saat masa pemilu tiba?

Sumber gambar, Getty Images
Kenalkan Doru Frantescu, direktur Vote Watch Europe. Tahun ini, ratusan ribu warga Uni Eropa menggunakan sebuah 'alat' yang diproduksi lembaga think tank itu untuk mencocokkan diri mereka sebagai pemilih dengan kandidat yang paling sesuai dalam pemilu legislatif Parlemen Eropa.
Untuk melakukannya, tim Frantescu mengumpulkan 25 pertanyaan yang didasarkan pada berbagai keputusan nyata yang dibuat parlemen Uni Eropa.
Pengunjung website Your Vote Matters dapat memberikan suara seolah-olah mereka menjadi politikus, di mana suara itu nantinya digunakan algoritma untuk dicocokkan dengan kandidat yang pola pikirnya paling mirip dengan mereka. Tim Frantescu berharap fitur itu bisa diadaptasi untuk pemilu lainnya di masa depan.
"Sebagian besar pilihan yang kita buat didasarkan pada hal-hal yang tidak logis, terutama hal yang bersifat emosional - cara bicaranya, cara berpakaiannya," kata Frantescu.
"Kami menciptakan fitur ini agar orang-orang bisa membuat keputusan berdasarkan wawasan yang cukup dan alasan yang logis. Kami mencoba menjembatani jurang pemisah, dengan menggunakan teknologi untuk membantu masyarakat membuat pilihan yang tepat."
Pada kenyataannya, hal itu lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan.
Pertama-tama, tim Frantescu harus memilih isu-isu yang paling diperdebatkan - tidak perlu mengetahui bagaimana sikap pemilih terhadap isu yang juga diamini oleh sebagian besar anggota parlemen.
Isu-isu itu juga harus populer, sehingga pengguna sudah memiliki sikap yang jelas terhadapnya.
Terakhir, isu yang tidak sesuai intuisi harus disingkirkan - misalnya, undang-undang lingkungan yang ditolak oleh partai-partai pelestari lingkungan, karena UU itu mungkin tidak cukup tegas.
Bagi warga AS, startup iSideWith.com juga memiliki fitur serupa, yang mencakup pemilu lokal, nasional dan pemilu presiden.
Seperti sistem Frantescu, para pengguna iSideWith juga harus menjawab sederet pertanyaan terkait isu imigrasi, lingkungan, kebijakan luar negeri dan lainnya, untuk menemukan kandidat politik yang pahamnya paling sejalan dengan mereka.
Sejak pertama kali diunggah ke Facebook pada tahun 2011, lebih dari satu juta orang mengikuti kuis itu dalam enam bulan pertama. Per September 2019 lalu, fitur itu sudah 'dimainkan' oleh 52 juta orang.
Yang membedakan iSideWith dengan YourVoteMatters, kata salah satu pendiri perusahaan itu, Taylor Peck, adalah masuknya kandidat politik dari partai ketiga yang seringkali terlewatkan media - dan juga pemilih.
"Orang-orang seringkali mengatakan 'Wow, saya tidak pernah tahu tentang sosok-sosok kandidat ini, (padahal) saya punya banyak kesamaan dengan mereka'," kata Peck.
"Ada pilihan yang banyak orang tidak tahu mereka miliki."

Sumber gambar, Getty Images
Tapi, bisakah kita mempercayai perangkat-perangkat yang merekomendasikan politikus mana yang paling berhak menerima suara kita ini?
Pemilihan isu yang mendasari penilaian kita terhadap para kandidat politikus memiliki pengaruh besar, meskipun, baik Frantescu maupun Peck ingin menunjukkan bahwa opini dan pandangan para kandidat yang ada sudah didasarkan pada berbagai bukti: baik dari suara dukungan yang mereka berikan dalam pemerintahan, daftar janji kampanye, maupun lontaran komentar mereka yang terekam.
Kemudian juga muncul pertanyaan tentang bagaimana korelasi politikus dengan partai tempat mereka bernaung harus diukur. Misalnya, seorang politikus yang cenderung memiliki prinsip ekonomi sayap kanan belum tentu menjunjung prinsipnya itu di parlemen, jika partainya sendiri secara keseluruhan lebih condong ke kiri.
Bisakah algoritma menangkap kompleksitas dunia politik - yang seringkali disetir oleh proses kompromi dan pragmatisme?
Sebuah algoritma yang dibuat oleh Zaliha Khashman, seorang peneliti hubungan internasional di Near East University, Nicosia, Cyprus, diklaim bisa memprediksi bagaimana anggota Kongres AS memberikan dukungan mereka dalam berbagai isu nasional dengan cara mengombinasikan opini-opini publik yang mereka lontarkan dengan afiliasi partai mereka.
Namun Beth Singler, peneliti kecerdasan buatan (AI) di Universitas Cambridge, memperingatkan risiko yang bisa dihadapi jika terlalu mengandalkan kekuatan prediksi algoritma.
"Jika ada seseorang yang sedang maju sebagai calon presiden, dan mungkin belum pernah menjadi presiden sebelumnya, Anda tidak bisa menjamin bahwa mereka akan bertindak sesuai prediksi atau berdasarkan data tentang mereka," ujarnya.
"Anda tidak bisa menjamin bahwa mereka pasti akan bertindak sesuai arah tertentu - Manusia itu rumit."
Memilih menggunakan proksi
Bahkan kalaupun kita menjawab semua pertanyaan yang diajukan dalam YourVoteMatters dan iSideWith, kita hanya mampu memberikan perhatian sesaat terhadap isu yang ditanyakan saat itu. Padahal, jauh di lubuk hati, kita punya pendapat yang jelas tentang bagaimana isu-isu tadi seharusnya ditangani.
Inti dari pemilu sendiri adalah memilih orang lain yang akan memikirkan dengan serius masalah-masalah tersebut. Yang kita perlukan adalah seseorang yang menganut nilai-nilai yang sama dengan kita, ketimbang dengan opini kita sendiri yang seringkali plin-plan.
Untuk itu, mesin rekomendasi terbaik adalah mesin yang dapat bekerja tanpa kita harus menguasai berbagai isu dengan terburu-buru.
Penelitian di Universitas Texas menemukan bahwa sejumlah pertanyaan yang tidak berhubungan dengan politik - misalnya apakah kita lebih suka kucing atau anjing - justru dapat memberikan gambaran yang lebih baik tentang kecenderungan sikap politik kita. Tapi masalahnya, kita memerlukan jawaban yang tepat, bukan sekadar gambaran.
Sayangnya, belum ada alat atau mesin yang bisa menemukan jawaban yang tepat - meskipun pengembang sebuah perangkat AI bernama Nigel mengklaim bahwa perangkatnya bisa 'membaca' diri Anda dengan cara mengobservasi perilaku Anda, dan mungkin suatu hari nanti bisa membantu Anda menentukan pilihan politik.
Meski demikian, sejauh ini, pencapaian perangkat itu masih sederhana: dipasang di telepon genggam, perangkat lunak itu bisa mengubah mode telepon genggam menjadi 'senyap' saat berada di bioskop.

Sumber gambar, Getty Images
Ada masalah lain: ketika kita melihat cerminan algoritma diri kita sendiri, ada kemungkinan kita tidak akan menyukai hasilnya. Banyak yang menganggap identitas politik sebagai sesuatu yang penting. Maka, ketika kita menemukan bahwa kecenderungan politik kita ternyata tidak sejalan dengan identitas politik yang kita yakini, hal itu bisa sulit untuk dicerna.
Misalnya, akan terasa sangat membingungkan ketika mengetahui bahwa pandangan dan perilaku online Anda menunjukkan bahwa Anda seorang konservatif, padahal Anda sendiri selama ini meyakini bahwa diri Anda - seperti keluarga dan teman Anda yang lain - adalah penganut sayap kiri (liberal) dalam spektrum politik.
Membalikkan skenario
Kecerdasan buatan juga merupakan pedang bermata dua. Dengan kemampuan algoritma untuk menginterogasi para kandidat politik, informasi yang terkumpul juga dapat memberitahu para politikus seperti apa pemikiran para pemilih tentang berbagai isu.
Legislator di Austin, Texas, misalnya, membeli data anonim dari iSideWith untuk melihat seperti apa pandangan warganya tentang aplikasi taksi online.
"Kami membantu dewan kota untuk memahami masalah dan memahami betapa beragamnya pendapat pemilih, ketimbang mengandalkan warga untuk mendatangi pertemuan-pertemuan publik dan menyuarakan masalah mereka," kata Peck.
Meski demikian, pemanfaatan informasi algoritma dengan cara ini bisa jadi kontroversial. Selama referendum Brexit, pengguna Facebook ditarget menggunakan isu-isu yang mungkin akan memancing reaksi mereka, seperti masalah imigrasi atau birokrat yang terlalu giat, lalu mengekspose mereka terhadap iklan-iklan politis yang menciptakan rasa takut.
Kemampuan untuk menciptakan penargetan iklan seperti ini dimungkinkan oleh tersedianya data dari Facebook yang terkumpul dari para penggunanya. (Anda bahkan bisa melihat sendiri apa yang Facebook pikir menjadi afiliasi politik Anda).
Praktik penargetan iklan sendiri kemudian menjadi skandal ketika akhirnya terbongkar, seperti perusahaan asal Kanada yang bertanggung jawab atas kampanye referendum Inggris, Aggregate IQ, yang kini tengah diselidiki pihak berwajib akibat hal itu.
Ada kekhawatiran lain terkait teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mulai masuk ke dunia politik dan memengaruhi perilaku kita dalam menentukan pilihan: secara disengaja atau tidak, algoritma dengan kompleksitasnya yang tinggi dan penuh dengan data mengandung unsur kecacatan yang sangat manusiawi.
"Kecerdasan buatan tidak sepenuhnya netral dalam membuat keputusan - ia bisa melanggengkan bias yang ada," laya Singler.

Sumber gambar, Getty Images
Ini penting, karena peran AI semakin besar, bukan hanya dalam menentukan kandidat politik mana yang layak diekspose ke khalayak, tapi juga siapa yang tidak bisa kita lihat.
Media sosial juga semakin mengandalkan AI untuk menyortir informasi mana yang tidak akurat dan bersifat hoaks yang diunggah secara online menjelang pemilu.
Facebook, yang dituduh membiarkan tumbuh suburnya informasi palsu untuk memengaruhi hasil referendum Brexit dan Pemilu AS 2016, tengah berupaya untuk menjadikan platformnya lebih awas terhadap keberadaan oknum-oknum nakal.
Untuk pemilu India 2019, perusahaan jejaring sosial itu meluncurkan sejumlah fitur untuk memberantas berita bohong. Artikel-artikel mencurigakan akan ditampilkan di bagian bawah, pengelola laman Facebook pun akan diberitahu bila Facebook membagikan artikel yang membantah unggahan yang sarat berita bohong.
Fitur "terhubung dengan kandidat" juga menyediakan informasi yang sudah terverifikasi tentang sosok seorang kandidat kepada pengguna Facebook.
Dan pada tahun 2018, WhatsApp juga melakukan perubahan di platformnya, sehingga suatu pesan hanya dapat diteruskan kepada maksimal lima orang saja, untuk membatasi persebaran berita bohong.
Perubahan itu dilakukan diam-diam ke seluruh dunia awal tahun ini. Penelitian terbaru pun menunjukkan bahwa strategi itu berhasil.
Tugas yang sulit untuk menentukan informasi mana yang mengandung kabar bohong masih sangat tergantung pada para pengonfirmasi fakta (fact checkers) manusia, dan dengan skala media sosial yang sangat besar, mereka terkadang sangat terbebani.
Dampaknya, kandidat politik yang berharap dapat merengkuh suara pemilih di abad ke-21 akan menemui rintangan yang serupa dengan rintangan biasanya, di mana mereka harus bisa 'meyakinkan' algoritma - yang membentuk umpan laman media sosial kita - bahwa kampanye mereka benar-benar otentik.
Masyarakat yang berwawasan adalah kunci kekuatan demokrasi, dan itu menjadi sebagian alasan mengapa kita punya peraturan yang membela hak kebebasan berekspresi dan menindak tegas penyebaran informasi palsu.
Akan tetapi, karena AI semakin terlibat menentukan apa yang bisa kita lihat di linimasa, kekhawatiran tentang bisa-tidaknya kita mempercayai orang yang menulis suatu informasi di dunia maya bertambah dengan rasa takut terkait tingkat kepercayaan kita terhadap algoritma yang menyusun linimasa kita.
Bisakah memangkas 'si perantara'?
Jika pada akhirnya kita memutuskan untuk menaruh kepercayaan pada teknologi algoritma ini, kita bisa saja memutuskan bahwa algoritma sebaiknya memegang peran yang jauh lebih besar dari sekadar membantu kita memilih kandidat politik.
Jika keseharian kita di Facebook saja cukup untuk membuat platform itu memahami niatan politik kita, apa kita masih butuh sosok politikus di parlemen?
"Politikus menjaga agar manuvernya tetap luas, sehingga mereka bisa memelintir (janji politik) mereka setelah pemilu," kata Frantescu.
"(Tapi) algoritma tidak akan melakukan hal itu, ia justru akan menjalankan apa yang kita harapkan, dan ia tidak memiliki konflik kepentingan yang bisa memengaruhi keputusannya."
Politikus mungkin akan 'tersakiti' dengan gagasan bahwa pekerjaan mereka bisa diotomatisasi: akan tetapi, robot macam apa yang bisa mereplika kemampuan kepemimpinan, orasi, inspirasi dan kompromi?
"Saya tidak tahu apakah suatu saat saya akan percaya sepenuhnya dengan netralitas sistem kecerdasan buatan," kata Singler.
Hal itu membawa kita kembali ke bilik suara dan segepok kertas suara di genggaman. Apakah sebuah mesin bisa membantu kita memutuskan kandidat mana yang akan kita pilih? Jawabannya: ya, dan kemungkinan besar mesin itu juga sudah memengaruhi kita sekarang.
Tapi pilihan terakhir tetap ada di tangan Anda - demikian juga tanggung jawab atas pilihan itu.
Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris padaHow robots are coming for your votedi lamanBBC Future.









