Miss Fury: Pahlawan super perempuan yang terlupakan karena terlalu 'tangguh dan mandiri'

Sumber gambar, Maria Laura Sanapo
- Penulis, Nicholas Barber
- Peranan, BBC Culture
Sebelum Wonder Woman, ada pahlawan super perempuan lain yang tak kalah menakjubkan. Di usianya yang ke 80 tahun, Nicholas Barber memberikan penghormatan kepadanya - dan penciptanya yang terlupakan.
Musim gugur ini adalah ulang tahun ke-80 Wonder Woman, yang membuat debut komiknya pada Oktober 1941, dua tahun setelah Batman dan tiga tahun setelah Superman.
Tetapi sebelum kita merayakannya, kita harus mengangkat gelas kepada pahlawan super perempuan yang beraksi enam bulan sebelumnya, pada bulan April 1941. Namanya adalah Miss Fury.
Ditulis dan digambar oleh June Tarpé Mills, dia adalah pahlawan perempuan super pertama yang diciptakan oleh seorang perempuan, yang merupakan salah satu dari banyak alasan mengapa dia masih begitu inspiratif, delapan dekade kemudian.
Peminatnya termasuk Maria Laura Sanapo, seorang seniman komik Italia.
"Saya pikir kelahiran Miss Fury dapat dianggap sebagai awal dari era baru," kata Sanapo kepada BBC Culture.
Mills lahir di Brooklyn, New York pada tahun 1912 atau 1918, menurut sumber yang berbeda.
Dibesarkan oleh ibunya yang janda dan kerabat mereka, dia bekerja sebagai model dan ilustrator mode sebelum menjual komik pertamanya di akhir tahun 1930-an, seperti The Purple Zombie, Mann of India, and Daredevil Barry Finn.
Tetapi ketika Mills menulis komik-komik tersebut, dia menghilangkan "June" dari namanya, sehingga dia akan dikenal sebagai Tarpé Mills.
"Anak-anak akan kecewa besar jika mereka mengetahui bahwa penulis karakter yang kuat dan mengagumkan itu adalah seorang anak gadis," katanya kepada New York Post - sebuah sentimen yang akan digaungkan oleh Joanne Rowling hampir 60 tahun kemudian ketika memilih nama pena JK.

Sumber gambar, June Tarpé Mills
Namun identitas asli Mills tidak tersembunyi lama-lama.
Terobosan besarnya adalah komik di koran Minggu tentang seseorang yang sama mengagumkannya dengan tokoh pahlawan super Daredevil karya Barry Finn - tetapi meminjam kepribadian Mills yang gigih dan penampilannya yang glamor dan berambut hitam.
Komik Miss Fury pertama (atau lebih tepatnya, Black Fury, sampai Mills mengubah judulnya tak lama setelah itu) adalah semacam tiruan dari Batman.
Komik itu mengisahkan Marla Drake, sosialita New York yang akan pergi ke pesta gaun mewah dengan gaun Scarlett O'Hara merah berenda ketika seorang teman meneleponnya untuk mengatakan bahwa orang lain telah memilih pakaian yang sama.
Sedikit bereaksi berlebihan, Marla mencabik-cabik gaun itu dengan tangan kosong, sehingga pembaca bisa melihat sekilas stoking dan bretelnya, tetapi pelayan Prancisnya yang gelisah, Francine, memberikan saran: "Mengapa Anda tidak mengenakan kulit macan tutul hitam yang ditinggalkan paman Anda?"
Agaknya, Mills mencampur adukan antara macan kumbang dan macan tutul.
Dia juga kembali pada klise eksotis pada waktu itu dan menunjukkan bahwa kulit itu adalah jubah seremonial yang dikenakan oleh seorang dukun Afrika.
Tapi yang sebetulnya ia kenakan adalah baju terusan, lengkap dengan topeng bertelinga kucing, cakar, dan ekor.
Jangan lupa, karakter ini lahir seperempat abad sebelum Catwoman dan Black Panther mulai mengenakan kostum yang hampir sama - dan dalam bahasa Prancis, karakter itu disebut La Panthère Noire.
Marla mengetahui bahwa jubah yang ketat itu "diberkahi dengan kekuatan aneh yang memungkinkan pemakainya untuk menyelesaikan misi apa pun".
Tiba-tiba, dia bisa jadi lebih cerdas dan mengalahkan laki-laki tangguh. Marla, pun, diceritakan ramai diberitakan di kolom-kolom gosip.

Sumber gambar, DC Films/Warner Bros
"Venus berpakaian hitam ini pasti benar-benar kucing yang marah!"
Dalam beberapa minggu, Marla terlibat dalam skema pemerasan Baroness Erica Von Kampf yang sedang menggali emas, yang poni segitiganya menyembunyikan swastika di dahinya.
Marla kemudian bekerja sama dengan seorang anggota suku Brasil albino dan mengalahkan tentara Jenderal Bruno, seorang Nazi bermata satu yang kehilangan lengannya dalam ledakan setelah dia menempelkan bom ke kucing peliharaan Marla.
"Rasanya seolah-olah segalanya bisa terjadi," kata Mike Madrid, penulis The Supergirls: Fashion, Feminism, Fantasy, and the History of Comic Book Heroines.
"Komik biasanya ditujukan untuk anak laki-laki atau perempuan di tahun 1940-an, tetapi Mills menggabungkan genre yang mencampuran komik superhero, roman, petualangan, dan perang secara unik."
Seorang perempuan yang sangat modern
Miss Fury sendiri juga unik.
"Dia tidak memiliki banyak kekuatan fisik, jadi dia menggunakan kecerdasannya untuk menemukan cara untuk melawan," kata Chelsea Stone, sutradara film dokumenter baru tentang Mills.
"Dia berpikir. Dia juga seorang romantis yang mencintai mode. Saya pikir banyak karakter perempuan dulu dan saat ini masih banyak yang hanya satu dimensi, tetapi Tarpé Mills tahu bahwa perempuan sejati tidak seperti itu dan dia menciptakan karakternya sesuai dengan itu. "
Marla adalah seorang pahlawan perempuan proto-feminis yang modern dan bangga dengan itu.
Ada beberapa laki-laki tampan yang menggilainya, dan bukannya sebaliknya; dia memiliki pekerjaan di dunia fesyen; dan dia bahkan mengadopsi balita dari musuh bebuyutannya dan menjadi ibu baginya, meski ia belum menikah- status yang belum pernah terdengar di komik pada saat itu.
"Dia mewakili semua perempuan pada masa itu," kata Sanapo, "yang memiliki peran dalam pembangunan kembali negara mereka saat para pria berperang".

Sumber gambar, Maria Laura Sanapo
Salah satu tanda modernitas karakter tersebut adalah bahwa berbulan-bulan dapat berlalu tanpa dia mengenakan pakaian hitam sama sekali - dan itu tidak menghentikannya berkeliling dunia dan melawan mata-mata Nazi.
"Di sejumlah komik tahun 1940-an," kata Madrid, "Anda memiliki karakter perempuan yang tidak dapat mengekspresikan diri mereka dalam kehidupan sehari-hari...
"Mereka hanya bebas saat mereka mengenakan kostum dan pergi keluar untuk melawan pelaku kejahatan. Ini adalah karakter yang ditulis oleh laki-laki," jelas Madrid.
"Apa bedanya dengan Marla Drake adalah bahwa dia sudah menjalani hidupnya dengan tingkat kebebasan tertentu, jadi kostum bukanlah sesuatu yang dia andalkan. Ini tampak seperti interpretasi praktis yang unik perempuan terhadap karakter dengan identitas rahasia. "
Anda tidak bisa menyalahkan Marla karena meninggalkan kostum hitamnya di lemari ketika dia memiliki persediaan pakaian tahun 1940-an yang tampaknya tak ada habisnya untuk dipilih.
Selain plotnya yang tidak dapat diprediksi dan pemeran utamanya yang independen, daya tarik komik ini banyak memamerkan gambar-gambar setelan, sepatu, topi, dan gaun paling trendi yang dibuat Mills.
Entah dia sedang terjun payung dari pesawat yang terbakar atau bergulat dengan Baroness di balkon penthouse, Marla kerap tampak anggun dengan busananya yang indah.
"Saya suka betapa praktisnya Marla Drake bahkan ketika dia mengenakan gaun yang paling mempesona," kata Corinna Bechko, penulis sejumlah komik Star Wars, Alien dan Wonder Woman.
"Mills membuktikan bahwa seorang perempuan dapat menulis dan menggambar komik, termasuk memasukkan hal-hal yang secara tradisional dianggap feminin, seperti mode dan sosok keibuan, dan masih menceritakan pahlawan perempuan yang benar-benar hebat."
Tentu, mengenakan semua gaun yang berbeda itu berarti Marla harus berganti pakaian secara teratur: Mills sering menggambarkan dia dan dan Baroness bersiul di sekitar apartemen mereka dengan pakaian dalam dan menikmati kamar mandi mereka, sehingga komik itu menawarkan keindahan yang jauh lebih menggairahkan daripada Batman atau Wonder Woman.
Badan sensor tidak selalu senang
Ketika salah satu rekan Marla mengenakan bikini bermotif daun untuk pertunjukan di klub malam, beberapa surat kabar memilih untuk menutupi tubuhnya dengan gumpalan tinta merah atau menangguhkan komik minggu itu sama sekali.
Tetapi para pembaca senang dengan perempuan-perempuan yang digambar dengan susah payah dan proporsional seperti kartun ini: Mills mengirim poster Miss Fury kepada prajurit Perang Dunia Kedua dan karakter itu dilukis di hidung tiga pengebom Amerika.
Betapapun dicintainya komik itu, komik itu tak lagi terbit pada tahun 1951, tepat 10 tahun setelah pertama kali diterbitkan.
Sebagian alasannya karena Mills kerap melewatkan tenggat waktu: dia adalah seorang perokok berat dengan masalah paru-paru, dan dedikasinya pada karya seninya yang teliti berdampak pada kesehatannya.
Tetapi alasan lainnya, kata beberapa komentator, adalah penggambaran perempuan yang tangguh dan mandiri dianggap tidak lagi sesuai dengan Amerika pasca-perang yang konservatif.
Mills bertahan sebagai artis komersial, tetapi dia tidak pernah kembali menjadi seniman komik.
"Itu adalah masa-masa sulit bagi seorang perempuan yang ingin menjadi kartunis," kata Sanapo.
"Mills membutuhkan lebih banyak dukungan daripada yang dia dapatkan. Dia melampaui masa, tetapi dia sangat diremehkan".
Dia menjalani tahun-tahun terakhirnya sebagai seorang penyendiri di sebuah apartemen kumuh di Brooklyn, mengerjakan novel grafis yang belum selesai.

Sumber gambar, Getty Images
Ketika dia meninggal pada tahun 1988, Miss Fury hampir terlupakan - takdir yang kejam untuk pahlawan super ikonik.
"Sejujurnya, saya pikir itu karena dia bukan bagian dari alam superhero terkenal [seperti pahlawan super Marvel dan DC]," kata Bechko.
"Dan juga karena dia tertutup oleh Catwoman, yang merupakan karakter yang sangat berbeda meskipun terkadang dia memiliki penampilan yang mirip."
Tetap saja, Miss Fury telah terbukti menjadi macan tutul/macan kumbang dengan sembilan nyawa.
Penulis dan artis lain telah menghidupkannya kembali: Bechko telah menulis serangkaian komik Miss Fury untuk Dynamite Entertainment, dan Sanapo telah mengilustrasikannya.
Karya Mills sendiri baru-baru ini dicetak ulang dalam koleksi bersampul tebal yang mewah, dengan kata pengantar oleh Trina Robbins, sesama inovator komik kelahiran Brooklyn.
Pada 2019, Mills mendapat penghargaan dalam Eisner Award Hall Of Fame industri komik Amerika - 13 tahun setelah William Moulton Marson, pencipta Wonder Woman, dan 23 tahun setelah Bob Kane, salah satu pencipta Batman.
Meski demikian, kecil kemungkinan Miss Fury akan setenar pahlawan super lain, tetapi dalam beberapa hal dia sama pentingnya.
"Ada begitu banyak diskusi dalam beberapa dekade terakhir tentang interpretasi baru karakter perempuan dalam komik," kata Madrid, "dan tentang seniman perempuan yang menampilkan pandangan mereka ke dunia.
"Tarpé Mills sudah melakukan semua itu di tahun 1940-an".
Versi bahasa Inggris dari artikel ini, Remembering Miss Fury - the world's first great superheroinebisa Anda baca di laman BBC Culture.











