Dari 'Pele' hingga 'The Father', rekomendasi 10 film yang patut ditonton pada Februari

Sumber gambar, Netflix)
- Penulis, Nicholas Barber
- Peranan, BBC Culture
Pele
Mengerti atau buta sama sekali tentang sepak bola, Anda sebaiknya tidak melewatkan film dokumenter yang jujur dan kompleks tentang salah satu pesepak bola terbaik yang pernah ada, Pele.
Pele yang bernama asli Edson Arantes do Nascimento dulu bertalenta besar sehingga ia dipilih masuk ke tim nasional pada usia 17. Dia kemudian tiga kali memenangkan Piala Dunia bersama tim Brasil.
Dan yang lebih penting lagi, Pele memberikan kepercayaan diri kepada Brasil sebagai negara modern. Walau begitu, peran monumental Pele itu muncul dalam berbagai tekanan. Kisah inilah yang ditelisik film mencekam ini.
Disutradarai David Tryhorn dan Ben Nicholas, dokumenter ini dibuat dengan kerja sama penuh dari Pele yang kini berusia 80 tahun. Sejumlah rekan satu tim Pele juga diwawancarai dalam film ini.
Film mengajukan pertanyaan sulit kepada Pele tentang keengganannya berbicara menentang pemimpin Brasil yang diktator dan kabar simpang siur tentang kemenangan Brasil di Piala Dunia tahun 1970 yang dikabarkan dicapai untuk menopang rezim represif.
Tayang di Netflix pada 23 Februari.

Sumber gambar, Larry Horricks/AIP
Minamata
Eugene Smith adalah salah satu jurnalis foto terbaik dan paling berpengaruh dari Amerika Serikat. Dia pernah terluka saat terkena tembakan mortir kala meliput pertempuran di Jepang selama Perang Dunia II.
Pada tahun 1971, Smith kembali ke Jepang untuk mendokumentasikan sebuah bencana lingkungan. Saat itu, sebuah perusahaan kimia membuang limbah beracun di dekat kota Minamata. Itu mengakibatkan deformitas dan kerusakan neurologis.
Dalam film drama yang disutradarai Andrew Levitas ini, sosok Smith dibintangi Johnny Depp.
Sementara dalam wawancara dengan media daring, Playlist, Jessica Kiang berkata dia memberikan penampilan terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir.
Kiang juga menyebut bahwa pendekatan Levitas yang adil menyeimbangkan narasi inspiratif dengan konteks dunia nyata yang tragis. Menurutnya, sang sutradara juga secara sensitif menguraikan cerita kepahlawanan sehari-hari dari laki-laki dan perempuan biasa yang paling terdampak bencana ini.
Dirilis pada 5 Februari di AS dan Kanada.

Sumber gambar, Warner Bros
The Little Things
John Lee Hancock pada tahun 1993 menulis skenario kisah ini sebagai cerita misteri detektif neo-noir kontemporer. Hancock adalah penulis di balik kisah Saving Mr Banks dan The Blind Side.
Hampir tiga dekade setelahnya, Hancock akhirnya menyutradarai cerita yang sekarang diinterpretasikan menjadi drama gelap, jauh hari ketika tidak semua polisi memiliki ponsel dan teknologi pelacakan DNA.
Film ini dibintangi tiga aktor pemenang Oscar: Denzel Washington berperan menjadi polisi lokal yang kelelahan, Rami Malek sebagai sersan yang kaku, dan Jared Leto sebagai tersangka utama menyeramkan dalam kasus pembunuhan berantai di Los Angeles.
"Hancock, dalam apa yang mungkin menjadi film terbaiknya, menyajikan kisah ini secara hebat dengan membangun thriller memikat yang mengandalkan talenta tiga aktor utama untuk menambang penyesalan atas sebuah misteri," kata Robert Daniels dari Polygon.
Dirilis pada 29 Januari di AS dan Kanada, serta pada 12 Februari di Inggris dan Irlandia.

Sumber gambar, Warner Bros
Judas and the Black Messiah
Seperti film karya Aaron Sorkin yang tayang tahun 2020, The Trial of the Chicago 7, film terbarunya yang berjudul Judas and the Black Messiah juga merupakan drama politik AS yang berlatar dekade 1960-an. Dan tampaknya, kisah ini sangat relevan dengan yang banyak diperbincangkan saat ini.
Daniel Kaluuya berperan sebagai Fred Hampton yang kala itu menjabat Ketua Partai Black Panther di Illinois.
Dalam ceritanya, pimpinan FBI saat itu, Edgar Hoover yang diperankan Martin Sheen, cemas Hampton yang dia anggap pemimpin revolusioner muda akan menjadi "mesias berkulit hitam".
Hoover lantas menginstruksikan salah satu agen telik sandinya, (diperankan Jesse Plemons) untuk mengambil tindakan dengan cara apa pun yang menurutnya diperlukan.
Agen itu kemudian mengirim ancaman lewat surat kaleng kepada seorang pencuri mobil bernama William O'Neal (LaKeith Stanfield). Sang agen meminta O'Neal memata-matai Hampton dan melaporkan hasilnya kepada FBI.
"Setelah pembunuhan George Floyd dan reaksi publik terhadap kejadian itu, saya seperti, 'Oh wow, film dan orang-orang ini mengartikulasikan perasaan banyak orang saat ini," kata Daniel Kaluuya.
"Banyak orang perlu mendengar apa Ketua Fred katakan dan melihat bagaimana dia bergerak memimpin gerakan," ujar Kaluuya.
Film ini akan dirilis pada 12 Februari di AS dan Kanada, serta pada 26 Februari di Inggris.

Sumber gambar, A24 Films
Minari
Drama otobiografi Lee Isaac Chung ini mendapat ulasan yang bagus. Di sisi lain, film ini juga menjadi kontroversi.
Sebagian besar dialog dalam film ini berbahasa Korea, sehingga penyelenggara Golden Globes memasukkannya ke kategori Film Berbahasa Asing.
Namun Minari juga kisah tentang sebuah keluarga asal AS yang bekerja di sebuah ladang pertanian kecil di Arkansas pada dekade 1980-an. Merujuk hal ini beberapa pengamat berkata, mengategorikan film ini sebagai film berbahasa asing adalah sudut pandang ketinggalan zaman sekaligus hinaan.
Meski begitu, mari kita berkonsentrasi pada ulasan positif tentang film ini.
Dalam tulisannya di Los Angeles Times, Glenn Whipp menyebut film ini "sekarang terasa seperti balsem, sebuah kisah keluarga yang lembut, jujur, dan lembut, yang dipenuhi orang baik yang berusaha keras mencintai satu sama lain'.
Minari diisi didikan khas keluarga Korea-Amerika yang dialami Chung, tapi ada juga nilai-nilai universal tentang bagaimana seorang manusia bergulat dengan kehidupan.
Dirilis pada 12 Februari di AS, 18 Februari di Australia, dan 26 Februari di Kanada.

Sumber gambar, Sony Pictures Classics
French Exit
French Exit menawarkan kepada kita hadiah yang sangat berharga: penampilan utama yang sangat langka dari Michelle Pfeiffer.
Film komedi unik yang menyedihkan ini diadaptasi oleh penulis skenario Patrick DeWitt dari novel satir yang dibuatnya sendiri. Dalam film ini, Pfeiffer berperan sebagai Frances, seorang janda sosialita di New York.
Setelah menghabiskan semua uang yang ditinggalkan suaminya, Frances pindah dari apartemen mewahnya ke Paris bersama putranya, Lucas Hedges. Dan dari sinilah masalah dimulai.
Frances adalah orang yang membakar rangkaian bunga untuk menarik perhatian pelayan restoran. Dia juga melakukan ritual pemanggilan arwah sehingga dia dapat berkomunikasi dengan mendiang suaminya melalui kucing peliharaannya.
"Nada komedi film ini beberapa kali terdengar sarkastis, menyentuh dan lucu, dengan humor yang berasal dari tingkah seekor kucing yang ikut dalam perjalanan mereka," kata Caryn James dari BBC Culture.
"Semua humor itu, ditambah pemandangan indah Paris yang jarang dilihat turis semestinya menjadi terobosan besar untuk sutradara film ini, Azazel Jacobs," kata James.
Dirilis pada 12 Februari di AS, Kanada, dan Italia, serta 26 Februari di Inggris Raya dan Irlandia.

Sumber gambar, Cate Cameron/Lionsgate
Barb and Star Go to Vista Del Mar
Menakutkan, sekarang sudah satu dekade sejak film Bridesmaids keluar. Dua penulis skenario yang pernah masuk nominasi Oscar, Kristen Wiig dan Annie Mumolo, sejak saat itu menjadi sangat sibuk.
Wiig menulis untuk film The Martian, Ghostbusters, dan Wonder Woman 1984. Itu adalah sedikit dari banyak skenario film yang dibuatnya. Sementara itu, Mumolo secara reguler menulis untuk serial televisi.
Namun akhirnya sekarang mereka menulis untuk satu film komedi yang sama, sekaligus turut membintanginya.
Belum banyak detail yang kita ketahui saat ini. Cuplikan filmnya yang bernuansa ceria dan sarat warna pastel tidak menunjukkan wajah karakter utama.
Dan ternyata, Wiig dan Star berperan sebagai dua sahabat yang memulai petualangan baru ketika untuk pertama kalinya meninggalkan kota kecil mereka di kawasan barat-tengah AS, untuk berlibur ke Florida.
Ada gelak tawa, air mata, dan penjahat yang berkomplot untuk membunuh semua orang di kota dalam film ini.
Akan tayang di VOD internasional mulai 12 Februari.

Sumber gambar, Sony Pictures Classics
The Father
Ada beberapa film tentang demensia yang beredar saat ini, termasuk Falling, yang akan dibahas pada bagian lain tulisan ini.
Yang unik dari film yang diadaptasi oleh Florian Zeller dari drama panggungnya ini adalah demensia dari sudut pandang orang yang mengidapnya.
Anthony Hopkins berperan sebagai laki-laki berusia 80-an tahun yang puas tinggal sendirian di apartemennya di London. Di tengah kepuasannya itu, dia menilai orang-orang dan harta benda di sekitarnya terus berubah.
Dalam beberapa adegan, putrinya diperankan oleh Olivia Colman dan pada adegan lainnya dimainkan oleh Olivia Williams.
Film yang dibuat Florian Zeller ini kini mendapatkan angka 100 persen di situs Rotten Tomatoes. Capaian itu diraih karena kejelian Zeller membuat tipuan sinematik dan akting luar biasa para pemerannya.
"Untuk berperan menjadi laki-laki yang mulai kehilangan kesehatan mentalnya, Hopkins secara terukur menghapus kualitas akting yang kita harapkan darinya, dari sosok dengan keeleganan, persuasif, dan berenergi menjadi sosok yang penuh kelemahan dan kesusahan," kata pengamat film, AA Dowd, di AV Club.
"Adegan terakhir dari film ini adalah salah satu adegan yang paling memilukan sepanjang karier Hopkins."
Dirilis pada 26 Februari di AS dan Italia, serta tanggap 12 Maret di Inggris.

Sumber gambar, BBC Films
The Mauritanian
Sesaat setelah serangan teror 11 September 2001, Mohamedou Ould Slahi ditangkap di sebuah pernikahan keluarga di Mauritania. Dicurigai sebagai perekrut Al Qaeda, dia diterbangkan ke pangkalan militer AS di Teluk Guantanamo, Kuba.
Di sana dia dikurung selama 14 tahun, walau tidak dituduh melakukan kejahatan apapun.
Kevin Macdonald, sutradara yang menggawangi The Last King of Scotland dan State of Play, menceritakan kisah mengerikan Slahi dengan bantuan sejumlah pemain film kawakan.
Tahar Rahim, yang pernah membintangi The Serpent dan A Prophet menjadi pemeran utama. Jodie Foster didapuk memerankan pengacara berkarakter keras yang meragukan apakah ada cukup bukti untuk menahan Slahi.
Sementara itu, Benedict Cumberbatch menjadi jaksa yang bertekad tidak membiarkan Slahi melenggang dari Guantanamo.
Kritikus film James Mottram di South China Morning Post menyebut The Mauritanian sebagai sebuah film yang luar biasa, sebuah tontonan panjang dan melelahkan yang pada akhirnya menggembirakan.
Dirilis pada 17 Februari di Prancis, 19 Februari di AS dan Kanada

Sumber gambar, Quiver Distribution/Mongrel Media
Falling
Viggo Mortensen paling dikenal sebagai aktor dengan anatomi rahang berbentuk persegi yang membintangi The Lord of the Rings dan Green Book.
"Sekarang dia telah menulis dan menyutradarai film pertamanya," tulis kritikus film Peter Bradshaw di The Guardian.
"Dan film ini adalah karya yang sangat berharga, disunting dan disusun dengan gambar-gambar indah, dengan penampilan yang luar biasa oleh aktor veteran Lance Henriksen.
"Penampilan Henriksen suram dan tajam pada bagian akhir menyedihkan di drama tentang demensia ini."
Falling adalah film terbaru dalam katalog drama tentang penyakit demensia yang ada saat ini. Film lainnya adalah Supernova, Relic, dan The Father.
Mortensen berperan sebagai John, seorang laki-laki homoseksual di California yang tinggal bersama suami dan putrinya.
Henriksen berperan sebagai ayahnya yang berstatus duda, bernama Willis. Dia adalah petani fanatik yang dipaksa untuk tinggal bersama John ketika ingatannya memburuk.
Waspadalah: Willis adalah monster yang lebih menakutkan daripada sosok apa pun yang pernah dimainkan Henriksen di Aliens atau siapapun yang djiumpai Mortensen di The Lord of The Rings.
Dirilis pada 5 Februari di AS dan Italia, 25 Februari di Portugal.
---
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di BBC Culture.










