Mungkinkah berpakaian modis meski sedang di rumah saja bisa membuat kita lebih bahagia?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Bel Jacobs
- Peranan, BBC Culture
Dari semua tren yang diperkirakan akan muncul di peragaan busana musim semi 2021, kegembiraan bukanlah yang pertama terlintas dalam pikiran. 2020 adalah tahun yang menantang, berdandan pada masa sekarang rasa-rasanya jadi tidak sopan?
Tapi tetap saja gaya ini keluar: kemeja sutra cerah karya Dries van Noten; ruffles khas Molly Goddard; motif bunga berwarna cerah; mantel rok bersulam - semuanya dalam parade kemewahan yang tampak lebih mewah dari sebelumnya.
'Everyday exuberance', seperti yang dijelaskan Vogue, ada di sini: "Musim semi ini, simpan celana jin biru dan krem, dan ganti dengan sesuatu yang sedikit lebih menyenangkan".
Tetapi jika fesyen dimaksudkan sebagai penanda budaya pada masanya, bukankah seharusnya kita tidak bergembira? Ternyata tidak juga.
Lihatlah di linimasa media sosial Anda. Berdandan ketika sedang terkurung di rumah saja, adalah tren terbaru.
Ya, awalnya memang ada banjir celana jogging dan pakaian santai: Hailey Bieber mengenakan kaus dan celana panjang, bersantai di depan perapian atau menari dengan Justin dengan kaos dan celana panjang.
Ada aktor India Hrithik Roshan dengan pakaian olahraga sedang belajar main piano. Seolah-olah para selebritas memahami bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk memamerkan pembelian barang mewah terbaru mereka.
Tetapi pada waktu ketika ajang penghargaaan Met Gala seharusnya digelar pada bulan Mei, semua orang sudah muak dengan pakaian rumahan.

Sumber gambar, Julia Roberts/Instagram
Saat Anna Wintour menjadi pembawa acara online 'A Moment with the Met', Julia Roberts mengunggah potret dirinya di kamar mandi, mengenakan gaun tumpuk hitam-putih dengan tulisan: "Ini saya… tidak akan ke Met Ball malam ini #stayhome".
Aktris Amanda Seyfried berfoto di luar ruangan, dengan rok lonceng bermotif bunga yang cantik.
Priyanka Kapadia Badani, direktur fesyen Vogue India, telah menata dan mengarahkan pemotretan melalui layar komputernya sejak karantina wilayah, atau lockdown.
Influencer AS Leandra Medine Cohen, alias Man Repeller, tetap mengunggah serangkaian pakaian yang sangat bergaya, meskipun dari kamar tidurnya.
Sementara itu, di Inggris, banyak pencinta mode yang kembali mengenakan pakaian modis, meskipun dari rumah saja, melakukan panggilan Zoom atau pergi ke warung terdekat.
Dengan gaya sempurna, artis multi-platinum Sophie Ellis-Bextor menyelenggarakan serangkaian acara disko online dari dapurnya selama lockdown, lengkap dengan anak-anak yang tampak bosan.
Pengarah gaya Trinny Woodall membuat kita tidak bosan menyaksikan puluhan video make-up dan cara memakai payet.

Sumber gambar, Amanda Seyfried/Instagram
Aktor Inggris Amanda Holden mengenakan gaun pesta untuk membuang sampah, memicu tren nasional berdandan ketika melakukan pekerjaan domestik: dengan dengan gaun bulu merak untuk menyetrika pakaian, memakai jaket formal untuk memotong rumput.
Di sisi lain, pekerja yang berkantor dari rumah menghadiri rapat daring dengan pakaian penuh gaya.
Apakah Anda bisa tetap fokus kerja saat kolega Anda berpakaian seperti penguin adalah satu hal, tetapi ada hal lain yang jelas: jika berdandan untuk pesta itu mengasyikkan, berdandan saat Anda tidak ke mana-mana mulai menjadi tren baru.
"Ketika aktivitas lain yang membantu kita untuk merasa 'seperti kita' seperti bertemu teman dan bekerja, tidak tersedia, berdandan dapat membantu orang memperkuat rasa jati dirinya," kata Rose Turner, psikolog mode di Sekolah Tinggi Mode London.
"Pakaian memengaruhi cara orang berpikir dan berperilaku. Mengenakan pakaian 'kerja' dapat membantu motivasi dan konsentrasi, dan mengenakan sesuatu yang istimewa dapat membantu memecahkan monotonnya isolasi, dan memperbaiki suasana hati orang."

Sumber gambar, Jamie Windust
Benar sekali, kata penulis dan editor LGBTQ+, Jamie Windust. "Saya merasa benar-benar melakukan sesuatu hari ini jika saya mengenakan pakaian modis," kata dia.
"Jika saya di rumah saja, saya akan tetap berpakaian seperti saya akan keluar. Atau jika saya hanya pergi ke toko, saya akan berpakaian seolah-olah saya akan pergi. Saya selalu senang mengikuti fashion, jadi saya tidak mengerti mengapa kita harus berhenti, bahkan jika perjalanan kita menjadi lebih sederhana."
Ratu menari
Sadie Clayton setuju dengan sepenuh hati. Seniman dan direktur kursus mode di London College of Contemporary Arts ini berusaha membuat para siswanya tetap bersemangat dengan mengenakan rambut Afro, bibir semerah mobil pemadam kebakaran, dan titik-titik khas yang dilukis di bawah matanya.
"Bagi saya, ini adalah bagian terbesar dari diri saya," kata dia sambil tertawa.
"Tanpa itu, Sadie Clayton tidak akan ada." Dia pun memulai hobi baru: menari dengan menggunakan sepatu roda.
"Sering kali, saya mengenakan legging yang funky sambil mendengarkan beberapa lagu. Rasanya seperti berada di era 1980-an!"
Hal yang paling mendebarkan adalah semangat pembangkangan yang mendasari semua pilihan kostum ini.
Tentu saja, fashion memiliki masa. Pada akhir Perang Dunia Pertama dan pandemi flu tahun 1918, mode merespons dengan gaun flapper dan banyak riasan. Rok lebar pada Tampilan Baru Dior tahun 1947 adalah balas dendam yang ditujukan untuk melawan masa Depresi.
Gaya disko muncul menyusul gejolak sosial dan ekonomi pada pertengahan 1970-an.
Mungkin tidak mengherankan kalau sekarang dia kembali: dalam karya baru oleh ratu disko Kylie Minogue; dalam koleksi Disco pembuat sepatu Terry de Havilland dan, tentu saja, di dapur Ellis-Bextor, tempatnya menciptakan karya album.

Sumber gambar, Sadie Clayton
"Bagi saya, ini tentang kebutuhan mendasar untuk memberikan katarsis dan pelarian dari berita," kata Ellis-Bextor kepada Guardian.
Namun pandemi juga mengubah hubungan kita dengan mode. Beberapa dari kita dengan lega beralih ke celana olahraga, yang lain kembali pada kesukaan mereka yang dulu, menikmati apa yang sudah mereka miliki.
"Perubahan terbesar bagi saya adalah memahami seberapa banyak yang saya konsumsi," kata Michela Vinton, direktur kemitraan afiliasi di platform vintage baru Display Copy.
"Sekarang, saya menghabiskan lebih banyak waktu mengenakan pakaian saya dengan cara yang berbeda."
Yang lain meluangkan waktu di rumah untuk memeriksa lemari dan mencari harta karun.
"Saya punya salah satu tas vintage ibu saya," kata Danielle Franca Swift, produser eksekutif Display Copy.
"Tas itu berusia sekitar 30 tahun dan saya merasa sangat tertarik pada benda semacam itu, yang memiliki nilai sentimental, yang terasa nyaman. Normalnya, saya mungkin tidak melakukannya. Saya semakin sering mencari keterikatan emosional dalam pakaian saya."
Diam-diam, planet ini berterima kasih kepada kita.
"Berdandan adalah cara untuk mendapatkan kembali kebahagiaan, terlepas dari faktor luar," kata fashion futuristGeraldine Wharry.
"Menyadari diri Anda, sebagai pribadi, meskipun tidak ada orang lain yang melihat Anda, adalah hal yang paling penting. Orang-orang menjadi kreatif dengan pakaian di lemari mereka dan menikmatinya," ujarnya.
"Mereka bertanya pada diri sendiri, apa yang benar-benar membuat saya bahagia? Mereka telah melalui lockdown pertama di [Inggris] dan menyadari bahwa tidak layak untuk hidup hanya dengan celana olahraga."
Atau, seperti yang pernah dikatakan mendiang Karl Lagerfeld: "Celana olahraga adalah tanda kekalahan. Anda kehilangan kendali atas hidup Anda, jadi Anda membeli beberapa celana olahraga."

Sumber gambar, Sophie Ellis-Bextor/Instagram
Banyak yang percaya pandemi dapat menawarkan kanvas kosong untuk awal yang baru.
"Kita akan keluar dari ini, seperti kita keluar dari perang," kata Li Edelkoort, dalam percakapan dengan Vanessa Friedman dari New York Times.
"Bangunannya masih ada, tapi semuanya telah jadi reruntuhan. Kita akan menginginkan dua hal: keamanan dan menari."
Syukurlah, rasanya kita sudah berlatih.
Versi bahasa Inggris dari artikel ini, How dressing up can make us happy, bisa Anda simak di laman BBC Culture.











