Keganjilan di balik film propaganda 'Raza' karya Jenderal Franco
- Penulis, Thomas Graham
- Peranan, BBC Culture
Ini adalah film layar lebar untuk menjadi pembenaran kekuasaan yang dicita-citakan Jenderal Franco, namun pemimpin fasis Spanyol itu justru lalu menyensornya dan menghancurkan semua 'copy' versi pertama, tulis Thomas Graham.

Sumber gambar, Getty Images
Kebanyakan diktator berakhir dalam revolusi, atau tidak benar-benar berakhir sama sekali. Tetapi Spanyol merupakan pengecualian yang langka.
Francisco Franco tutup usia dengan tenang pada 1975, hampir empat dasawarsa setelah pasukan fasisnya memenangkan Perang Saudara Spanyol.
Franco meyakini ia telah menyerahkan kekuasaan kepada Raja Juan Carlos.
Tetapi Juan Carlos sensitif terhadap gelombang sejarah. Tidak lama setelah mentornya meninggal, Juan Carlos melangkah untuk membangun demokrasi. Transisi Spanyol dari kediktatoran ke demokrasi berjalan sangat lancar. Dan itu berarti Spanyol tidak pernah benar-benar menangani masa lalunya.
Franco meninggalkan banyak beban untuk negaranya - dan debat yang tidak pernah usai perihal apa yang diperbuatnya.
Ada Valley of the Fallen, basilika yang dibangun untuk menghormati mereka yang tewas selama perang saudara, tempat Franco kini dimakamkan - setidaknya pada saat ini, karena baru saja parlemen mengesahkan sebuah dekrit raja, yang menetapkan bahwa jasadnya harus dipindahkan dari situs tersebut.
Ada begitu banyak jalan dan alun-alun yang diberi nama berdasarkan para tokoh fasis. Bahkan ada sebuah yayasan terkemuka yang didedikasikan untuk memperingati hidup dan karya Franco.
Tetapi salah satu peninggalan paling ganjil yang ditinggalkan Franco adalah sebuah film yang skenarionya dia tulis dengan menggunakan nama samaran pada 1942, yang masih bisa disaksikan secara daring di Spanyol.
Film berjudul Raza (Ras) muncul dengan silsilah ideologi ekstrem kanan. Tidak hanya karena ditulis oleh Franco, tetapi film itu disutradarai oleh José Luis Sáenz de Heredia, keponakan Primo de Rivera, pendiri Falange, partai fasis yang kemudian dipimpin oleh Franco.

Sumber gambar, SFG
Awalnya, film ini tampak seperti propaganda yang terang-terangan. Film itu berkisah tentang keluarga Churrucas, sebuah keluarga militer dari pedesaan.
Awal cerita, sekitar tahun 1897, sang ayah gugur dalam mempertahankan koloni Spanyol di Kuba melawan Amerika Serikat, meninggalkan istrinya yang membesarkan ketiga anak laki-laki dan perempuannya.
Sekian dekade kemudian, salah satu anak laki-lakinya terjun ke politik untuk uang dan kekuasaan, sementara anak-anaknya yang lain melakukan kegiatan yang lebih tradisional: ada yang jadi tentara, ada yang jadi pendeta ada pula yang jadi ibu rumah tangga.
Ketika pecah perang saudara, keluarga itu terpencar. Pedro, anak laki-laki yang bandel, berpihak pada pemerintahan Republik.
Anggota keluarga yang lain berpihak kepada Franco. Pada akhirnya, Pedro melihat kesalahan dalam jalan yang dipilih dan mengakuinya, membuktikan bahwa dirinya merupakan pasukan sejati dari Raza Spanyol - seperti halnya dengan anggota keluarga Churruca yang lain.
Puncaknya, keluarga itu disatukan kembali oleh anak laki-laki yang hebat, José, yang telah naik ke tampuk kekuasaan sebagai pemimpin militer bagi kaum fasis.

Sumber gambar, Getty Images
Film ini merupakan sebuah alegori yang menggambarkan Spanyol sebagai sebuah keluarga yang terpisah karena perang, tetapi kemudian bersatu kembali berkat tindakan anak yang terpilih.
Sebagai sebuah film, sulit menyebutnya orisinal. Tetapi sebagai propaganda yang disusun oleh Franco sendiri, film itu memunculkan kedalaman yang tak sengaja: mengungkapkan niatnya, dan mengkhianati kengkuhannya.
Membentuk citra
Keluarga Churruca tampaknya merupakan pengalaman Franco yang telah direvisi - dan sang pahlawan José Churruca adalah alter ego fiktif untuk Franco sendiri.
Kedua keluarga tersebut berasal dari Galicia. Keduanya memiliki latar belakang angkatan laut, tetapi José, seperti halnya Franco bertugas di angkatan darat.
Baik José dan Franco terlibat perang di Maroko, dan memiliki saudara laki-laki di Partai Republik, yang akhirnya kembali.
Keduanya menunda perkawinan sampai menyelesaikan tugas-tugas militernya. Pendeknya, Raza menyajikan sebuah narasi di mana Franco, yang secara samar menjadikan José Churruca sebagai dirinya, menggambarkan dirinya sebagai putra keluarga nasional Spanyol.
Tetapi Raza lebih dari sekedar proyek rugi: ini merupakan upaya awal untuk membentuk ingatan masyarakat melalui film.
Franco menulis Raza pada tahun 1940, segera setelah berakhirnya perang saudara. Dengan perkiraan sekitar setengah juta orang telah terbunuh.
Kedua belah pihakyang bertikai telah melakukan kekejaman ketika melakukan pembersihan terhadap musuh-musuh mereka; setelah Kamboja, Spanyol memiliki kuburan massal terbesar di dunia.
Meskipun Franco mencemooh pengaruh asing di Spanyol, namun dia telah menerima bantuan penting dari kaum fasis dari Italia dan Jerman.
Dan, yang terpenting, dia telah menggulingkan suatu pemerintahan yang dipilih secara demokratis. Dengan kata lain, perang itu rumit.
Franco ingin memberikan narasi yang lebih sederhana untuk mencapai tujuannya: Raza dapat menjadi versi resmi dari perang tersebut.

Sumber gambar, Getty Images
Raza menuangkan kembali sejarah Spanyol sesuai dengan pandangan nasionalis Franco: Tuhan, keluarga dan ras Spanyol.
Kaum fasis yang mewakili hal-hal ini, sementara kaum republikan dianggap penentang nilai-nilai itu.
Ini berarti kaum fasis tidak berjuang untuk kekuasaan politik, tetapi untuk keselamatan Spanyol. Sementara kaum republikan adalah pembawa kekacauan: kotor dan menjijikan, mabuk dengan anggur communion, serta menembaki para pendeta.
Pembagian ini tidaklah halus, tetapi gambaran yang kuat terus berusaha dilekatkan pada pikiran. Dalam satu adegan sekelompok pendeta dibawa ke pantai, jejak kaki mereka memudar di pasir yang basah ketika mereka berdoa, memberkati diri sendiri, serta orang-orang yang akan membunuh mereka.
Salah satu trik yang digunakan dalam film untuk memperlihatkan kebenaran versi pembuatnya adalah memadukan gambar-gambar fiktif dan dokumenter.
Mengambil adegan penutup film, di mana para nasionalis merayakan kemenangan pada akhir perang sipil. Menampilkan José Churruca dari jarak dekat dalam tempat kehormatan di parade, kemudian dipotong dengan adegan tembakan dalam parade kemenangan Franco sendiri yang terjadi pada tahun 1939.
Kemudian, adegan lain memperlihatkan potongan gambar berurutan sekaligus momen puncak film tersebut - kematian heroik para laki-laki dari keluarga Churruca, misalnya - dicampur dengan gambar perang saudara yang sebenarnya.
Keanehan pengeditan ini mengaburkan batas antara cerita José dan Franco.

Sumber gambar, Getty Images
Nyatanya, Raza lebih mendekati suatu otobiografi yang dibuat oleh Franco, dan dia selalu mengawasi produksinya.
Ketika sedang dilakukan pengambilan gambar, seorang supir akan datang hampir setiap hari untuk memberikan instruksi yang sama persis tentang bagaimana suatu adegan itu seharusnya diambil.
Film ini juga sangat didukung oleh negara, dengan 1.650.000 peseta - nilai yang besar pada saat itu. Jumlah tersebut sebagian dihabiskan untuk puluhan set dan kostum, serta ratusan film tambahan sepanjang hampir 45.000 meter, hanya satu dari 15 yang digunakan. Orson Welles akan tersenyum karena hal tersebut.
Setelah pengambilan gambar itu selesai, Franco mengadakan acara nonton tertutup.
Saénz de Heredia mengenang: "Kami menonton film itu bersama-sama, Franco dan saya duduk di depan, istrinya dan para undangan lain berada di belakang; dari sudut mata, dengan bantuan cahaya dari layar, saya melihatnya bergerak, dan matanya basah serta menatap dengan penuh perhatian, hal ini membuat saya merasa senang, karena artinya semua berjalan baik."
"Dan ketika akhirnya semua selesai, dia berkata persis seperti ini: sangat bagus, Saénz de Heredia - Anda telah berhasil."

Sumber gambar, Getty Images
Namun kepuasan Franco hanya berumur pendek. Dia telah menulis ulang sejarah untuk menyesuaikan dengan kebutuhannya - dan, saat itu, dia membutuhkan perubahan.
Pada akhir dekade, tatkala kaum fasis kalah dalam Perang Dunia Kedua, dan versi Franco tentang perang saudara harus ditulis ulang untuk melegitimasi kekuasaannya.
Jadi, pada tahun 1950, Franco menyensor filmnya sendiri, dan menghancurkan semua salinan lama yang dapat ditemukannya.
Judulnya menjadi Espíritu de una Raza ('Spirit of a Race'). Semua salam fasis dipotong habis-habisan. Wujud musuh kemudian berubah dari kaum republik, kalangan agama, kalangan borjuis dan politisi, menjadi komunis.
Dan permusuhan dengan Amerika Serikat dienyahkan- mereka segera menjadi sekutu. Saat ini Raza sepadan dengan bentuk politik baru selama Perang Dingin.
Ini merupakan pelintiran Orwellian yang pas. Pembentukan mitos Franco, di mana Raza hanyalah sebagian, telah mengaburkan catatan sejarah.
Bahkan sekarang, setelah lebih dari 40 tahun kematiannya, tidak ada konsensus tentang makna perang saudara dan kediktatoran Franco.
Beberapa jajak pendapat dilakukan untuk mengungkapkan suatu ambivalensi yang tidak berkesudahan.
Salah satu yang dilakukan pada 2008 memperlihatkan mayoritas merasa yakin bahwa Francoisme memiliki dua sisi yang "sama bagus dan sama jeleknya".
Jajak pendapat yang sama menunjukkan masyarakat menentang tuntutan hukum terhadap para mantan pejabat Franco, dan setengah hati terhadap komisi kebenaran untuk menuntut pertanggungjawaban atas perang saudara.
Hanya minoritas yang sangat kecil yang sekarang mempercayai versi sejarah Raza, tetapi barangkali telah terlalu banyak keraguan dan kebingungan yang ditanamkan di benak rakyat Spanyol untuk melindungi warisan sang arsitek.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam Bahasa Inggris di Raza: The strange story of Franco's 'lost' film di laman BBC Culture.














