Phantom Thread: Lima bintang untuk film terakhir Daniel Day-Lewis

Phantom Thread: film terakhir Daniel Day-Lewis

Sumber gambar, Focus Features

    • Penulis, Caryn James
    • Peranan, BBC Culture

Sang aktor mengatakan bahwa Phantom Thread akan menjadi penampilan terakhirnya. Jika itu benar, maka ini adalah salam perpisahan yang luar biasa, tulis Caryn James.

Pada awal Phantom Thread, Daniel Day-Lewis menjalani ritual pagi harinya dengan sangat teliti.

Dia memerankan Reynolds Woodcock, seorang perancang mode pada London 1950an.

Dengan ketepatan luar biasa, dia menyemir sepatunya, menyikat rambut kelabunya, dan memakai sedikit riasan pada pipinya.

Setiap gestur mengungkap ketepatan pemilihan aktor dalam film ini: seorang perfeksionis yang memerankan seorang perfeksionis.

Adegan ini juga menggambarkan bahwa meski film terbaru Paul Thomas Anderson ini berlatar dunia mode, tapi ini bukan soal baju.

Secara visual, film ini mengagumkan. Lebih dari itu, film ini juga adalah kisah yang bernuansa dan kompleks secara psikologis soal obsesi, cinta, kendali dan menyerahkan diri, semuanya terbungkus dalam romansa Gothic.

Dalam artian terbaik, Phantom Thread seperti gabungan film Alfred Hitchcock dan novel Henry James.

Phantom Thread

Sumber gambar, Focus Features

Ini merupakan teritori yang baru buat Anderson, yang dikenal dengan film-film berani berlatar California, seperti Boogie Nights. Tapi dia menggambarkan dunia Woodcock dengan sangat mudah.

Musik piano menggemakan era 1950an tanpa terkesan retro (lagu My Foolish Heart digunakan sebagai musik tema instrumental.)

Kamera bergerak dan membawa kita ke dalam townhouse elegan gaya era Georgia di mana Woodcock bekerja dan tinggal bersama saudari dan partner bisnisnya, Cyril (Lesley Manville).

Hubungan mereka sangat unik. Tatapan tajam Cyril dan kekakuannya mengingatkan akan karakter Mrs Danvers di Rebecca karya Hitchcock, namun Manville membuat sosoknya lebih manusiawi dan mengabdi pada saudaranya.

Phantom Thread: film terakhir Daniel Day-Lewis

Sumber gambar, Focus Features

Baju-baju necis yang gelap membuatnya tidak mencolok, sementara Reynolds mengenakan baju berbahan beludru warna mauve dan sutra. ("Baju ini akan memberi saya keberanian," kata seorang puteri yang tak bahagia, dan menggambarkan nilai sebenarnya dari karya Reynolds.)

Meski begitu, Cyril cukup tegas. Saat Reynolds lelah dengan perempuan terakhir yang dibawanya ke dalam rumah, Cyril mengambil prakarsa untuk mengatakan kepada perempuan itu bahwa dia sudah harus pergi.

Reynolds menyebut saudarinya "my old so-and-so," semacam panggilan sayang yang bisa diharapkan datang dari pasangan yang sudah lama menikah.

Dengan keseimbangan yang luar biasa, Day-Lewis, Manville dan Anderson memungkinkan kita untuk mengamati suatu keunikan tanpa mengesankan sesuatu yang lebih daripada sekadar ikatan emosional yang kuat.

Reynolds, anehnya, terikat begitu kuat dengan keluarganya. Helaian rambut ibunya dijahit ke lapisan jaketnya sehingga sang ibu selalu dekat di hatinya.

Saat dia merasa ibunya sedang melihatnya, dia mengatakan pada Cyril, "Begitu nyamannya mengetahui bahwa mereka yang sudah mati mengamati mereka yang masih hidup. Saya tidak merasa itu menakutkan."

Phantom Thread: film terakhir Daniel Day-Lewis

Sumber gambar, Focus Features

Tak ada penampakan hantu yang tidak alamiah, kecuali saat Reynolds mengalami demam tinggi, dan Phantom Thread membawa emosi dari sebuah kisah hantu.

Dalam penampilannya yang luar biasa dan begitu jernih, Day-Lewis membuat karakternya begitu unik tapi juga meyakinkan.

Reynolds begitu percaya diri pada bakat dan dirinya sendiri, sopan namun mengesankan, dan dikelilingi oleh staf dan klien yang hormat padanya. Namun, sama halnya seperti Manville, Day-Lewis menghindari karakternya menjadi semacam karikatur.

Meski begitu tak ada dalam hidup Reynolds yang kaku yang mempersiapkannya untuk Alma (Vicky Krieps), seorang pelayan yang cantik dan sederhana dari latar belakang Eropa yang tidak jelas, yang melayaninya sarapan di sebuah penginapan di desa.

Setelah dia mengajaknya makan malam — menghapus lipstiknya dan mulai mengubahnya sesuai keinginannya — mereka kembali ke rumah Reynolds dan ke sebuah adegan yang menggoda secara sembunyi-sembunyi.

Rumah Reynolds di London penuh dengan cahaya, jendela besar, dan marmer, sementara rumahnya di desa adalah sebuah pondok yang gelap.

Phantom Thread: film terakhir Daniel Day-Lewis

Sumber gambar, Focus Features

Di ruang kerja Reynolds, Alma melepas pakaiannya. Reynolds menaruh kain di bahunya dan mulai merancang dan — untuk menceritakan lebih jauh, maka akan mengatakan terlalu banyak, tapi adegan ini begitu tipikal akan kecerdasan Phantom Thread dan kejutan-kejutan yang muncul, dan kita tak bisa tahu secara pasti apa yang dilakukan oleh Reynolds.

Benang yang terjahit rapi

Bahkan setelah Alma pindah ke townhouse sebagai model dan dewi inspirasi Reynolds, hubungan mereka tetap misterius.

Sesuai dengan gaya 1950an, tidak ada adegan seks. Kamar Alma dekat dengan Reynolds dan kita dibiarkan berspekulasi.

Krieps membawa kerendahan hati dalam membawakan Alma, yang setuju saat Reynolds menciptakan ulang dirinya.

Dan saat ternyata Alma punya pikiran dan keinginan sendiri, Krieps membawa derajat perubahan itu dengan halus, sebagai tanggapan akan seorang kekasih yang putus asa. "Mungkin saya suka selera saya sendiri," katanya pada Reynolds.

Phantom Thread: film terakhir Daniel Day-Lewis

Sumber gambar, Focus Features

Tarik-menarik kekuatan antara tiga karakter itu mulai terjadi pada babak kedua film. Dan seperti halnya dalam novel-novel Henry James, permukaan yang tenang menyembunyikan kelindan cinta yang rumit, motif rahasia serta manipulasi.

Film ini menjadi semakin dramatis dan sedikit ajaib, ketika Reynolds mengatakan pada Alma bahwa dia membutuhkan Alma untuk "memutus kutukan" yang membuatnya berada dalam kepompong selama bertahun-tahun. Namun ini tidak berakhir seperti halnya sebuah dongeng.

Setiap aspek film ini menunjukkan estetika elegan Anderson dan perubahan yang begitu halus dalam nadanya.

Musik latar Jonny Greenwood, dari melodi 1950an ke Debussy dan Schubert, meningkatkan dan mengingatkan setiap emosi yang ada di film ini, tanpa menjadikannya sesuatu yang berlebihan.

Kostum Mark Bridges menciptakan gaya jam pasir yang merupakan kekhasan rumah desain Woodcock.

Sinematografer dalam film ini adalah Anderson sendiri.

Dia membiarkan kamera bergerak bebas, mengikuti para penjahit yang datang untuk bekerja dan menaiki tangga spiral di rumah itu. Dan lebih seringnya, dia berada di belakang, dan perlahan mendekat dalam suatu adegan, perlahan membimbing mata kita.

Namun naskah dan penyutradaraanlah yang membuat fim ini unik.

Dengan kepastian, Anderson memberikan sedikit adegan lucu di tengah guncangan emosi.

Phantom Thread: Lima bintang untuk film terakhir Daniel Day-Lewis

Sumber gambar, Focus Features

Ada ketegangan di meja sarapan Woodcock karena adegan mengoles mentega yang terlalu keras.

Dalam satu adegan, Alma dan Reynolds berkeras untuk melepas bajunya dari seorang perempuan Amerika yang mabuk dan tidur karena dia tak layak mengenakannya. (Dan dia mengelap mulutnya di kerah baju itu.)

Setelahnya, jelas bahwa Alma dan Reynolds merasakan tekanan erotis dari tindakan mereka bersama-sama 'mempertahankan' baju kreasi Reynolds. Dan Anderson cukup tahu untuk membiarkan tatapan para aktor berbicara mewakili mereka.

Phantom Thread: film terakhir Daniel Day-Lewis

Sumber gambar, Focus Features

The Master, satu lagi film Anderson soal obsesi dan keinginan, terasa kacau seperti pahlawannya dalam film itu. Namun Phantom Thread terkendali dengan begitu cantik, bahkan saat plotnya menghadirkan gajah di sebuah pesta Tahun Baru yang kacau.

Perubahan psikologis di akhir film lebih terasa seperti sesuatu yang diinginkan oleh Anderson daripada sesuatu yang layak didapat oleh para karakternya, tapi itu adalah sebuah kegagalan kecil.

Judul film ini terinspirasi oleh kondisi di kalangan penjahit era Victoria, yang bekerja dengan jam yang begitu panjang sampai-sampai sesudahnya mereka melihat benang yang kasat mata.

Makna yang berlapis ini begitu tepat untuk sebuah film yang berdasar pada realitas, menjadi mewah, dan mengungkap lebih banyak kekayaan dalam setiap kali menonton.

line