Mungkinkah semakin banyak perusahaan menawarkan cuti haid kepada pegawai perempuan?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Ali Francis
- Peranan, BBC Worklife
Pada awal tahun 2020, tepatnya tiga bulan setelah menjalani pekerjaan baru, Jessie, seorang editor berusia 28 tahun di New York, Amerika Serikat, pingsan di tempat kerja.
Dia tahu hari itu dia akan menstruasi dan harus menahan rasa sakit, tapi dia dan timnya harus berada di kantor untuk merekam video, terutama karena mereka kekurangan staf.
Jesse memutuskan tidak mengajukan izin sakit. "Saya tidak berpikir menstruasi dianggap sebagai penyakit," ujarnya.
Jadi ketika mulai merasakan kram hebat di perut dan punggung bawah, Jessie minum ibuprofen dan mencoba kembali bekerja. Namun dalam waktu 15 menit, tubuhnya terasa berat dan tegang. Dia juga merasa lemas.
"Aku pingsan. Semuanya buram dan saya tidak bisa benar-benar merespons," kata Jessie.
Dia lantas digotong ke sofa. Di situ dia berbaring dan membengkokkan badan ke posisi janin, sampai petugas kesehatan datang dan melarikannya ke rumah sakit dengan ambulans.
Jessie tidak menginginkan atau membutuhkan ambulans. Dia hanya ingin pulang dan berbaring.
Baca juga:
Jika perusahaan mengatur hak agar pegawai perempuan beristirahat di rumah selama menstruasi, Jessie merasa lebih nyaman mengambil cuti atau bekerja dari rumah ketika menghadapi periode tersebut.
Hak cuti seperti ini memang tersedia untuk pegawai di beberapa perusahaan. Ini disebut cuti haid.
Cuti ini memungkinkan pekerja yang mengalami gejala menstruasi atau menopause untuk mendapat opsi bekerja dari jarak jauh dan menjalani cuti berbayar setiap tahun, di luar hari libur berupah yang diamanatkan pemerintah federal di AS maupun cuti sakit.
Cuti haid telah muncul dalam berbagai bentuk di seluruh dunia setidaknya selama satu abad terakhir. Uni Soviet memperkenalkan kebijakan ini secara nasional pada tahun 1922, Jepang tahun 1947 dan Indonesia pada 1948 atau tiga tahun setelah merdeka.
Namun hal itu masih jarang terjadi di banyak negara ekonomi besar, termasuk AS, negara di mana Jessie tinggal.
Bagaimanapun, sebuah gerakan yang menuntut pemberlakuan cuti haid tengah berkembang. Apalagi, saat ini semakin banyak perusahaan di seluruh dunia mulai menerapkan cuti ini.
Jika diperkenalkan secara luas, pekerja perempuan, transgender, dan non-biner yang menstruasi akan mendapatkan keuntungan. Mereka akan memiliki opsi jelas untuk beristirahat pada masa-masa ketika mereka sangat membutuhkannya.
Sebagai hasilnya, pegawai diyakini akan lebih bahagia, lebih produktif, dan merasa lebih mudah untuk tetap bekerja.
Namun sejak cuti haid menjadi isu global, kelompok yang menolak wacana ini berpendapat bahwa hak ini tidak adil. Mereka juga menilai bahwa cuti haid dapat semakin memperdalam stigmatisasi terhadap orang-orang yang menstruasi.
Jadi apakah cuti haid membantu atau justru menghambat pegawai yang berjuang untuk tetap produktif saat mereka sangat membutuhkan istirahat?
'Kami diharapkan untuk bertahan tanpa bantuan apapun dan tetap bekerja'
Setiap orang mengalami gejala menstruasi yang bervariasi. Jika beberapa perempuan melewati siklus bulanan mereka, ada kelompok perempuan lain yang mengalami berbagai efek samping berat, terutama mereka yang memiliki kondisi seperti endometriosis atau gangguan dysphoric pramenstruasi (PMDD).
Efek samping itu biasanya berupa kram, sakit punggung, dan migrain. Sejumlah peneliti menyebut kondisi itu merupakan penyebab paling umum dari rasa sakit yang dialami perempuan dalam usia reproduksi.
Kebanyakan perempuan mencoba menahan rasa sakit dan tetap bekerja. Pilihan itu sering diambil karena mereka enggan mengungkap gejala yang berhubungan dengan menstruasi kepada atasan mereka.
Beberapa alasan yang mendasari keputusan itu adalah kecemasan dianggap lemah atau tidak mampu melakukan pekerjaan mereka, kata Gabrielle Golding, dosen senior di Adelaide Law School, Australia.
Hasil survei tahun 2021 dari Victorian Women's Trust and Circle In, penyedia perangkat lunak SDM yang berbasis di Melbourne, Australia, menunjukkan bahwa 70% dari 700 responden tidak nyaman berbicara dengan manajer mereka tentang bagaimana mereka mengatasi gejala menopause, yang sering digolongkan periode berat.
Pada jajak pendapat yang sama, 83% responden mengatakan pekerjaan mereka terpengaruh secara negatif akibat situasi tersebut.
Kondisi ini, menurut Golding, cenderung diperburuk dengan tidak adanya skema cuti haid. Akibat efek samping yang mengerikan, perempuan sering kali terdorong untuk mengabaikan kesehatan fisik dan mental mereka.
Bekerja dengan rasa sakit sebenarnya merupakan berita buruk bagi pengusaha dan pemberi kerja. Kondisi itu menyebabkan tingkat kehadiran turun rata-rata sembilan hari per orang setiap tahun, menurut survei Universitas Radboud 2019 terhadap 32.748 wanita yang tinggal di Belanda.
Peneliti riset ini menyarankan agar menstruasi dianggap sebagai persoalan di tempat kerja.
Chloe Caldwell, penulis buku memoar menstruasi berjudul The Red Zone: A Love Story, mengaku sering berkutat dengan pekerjaannya sebagai barista dan pelayan restoran pada usia 20-an tahun. Itu mendorongnya menormalisasi diri dari kemarahan, kecemasan, dan kram yang menyiksanya.
Baru setelah pingsan beberapa kali, pada tahun 2017 Caldwell akhirnya didiagnosis mengalami PMDD-sebuah sindrom pramenstruasi yang sangat parah. Usai diagnosis itu, dia dapat mengakses perawatan medis yang tepat.
Caldwell, yang sekarang berusia 36 tahun, percaya bahwa di AS khususnya, gagasan bahwa pekerja harus menomorduakan kebutuhan mereka adalah efek dari budaya sosial Amerika.
"Kami diharapkan untuk mengalah dan bekerja bekerja, bahkan ketika kami benar-benar kehilangan darah," katanya.
Kebijakan cuti haid, menurut Golding, memberi jalur langsung kepada pegawai seperti Caldwell untuk mengajukan cuti dan beristirahat.
Merasa 'sangat dihormati'
Wacana memperkenalkan kebijakan cuti haid menyebar di beberapa negara yang secara tradisional tidak menawarkan dukungan apapun kepada pegawai yang sedang menstruasi.
Australia adalah salah satu negara yang memprioritaskan manfaat cuti haid. Sebagian alasannya adalah dorongan kebutuhan: saat pasar tenaga kerja Australia mengalami krisis selama pandemi, para pebisnis mencari cara mempertahankan pekerja mereka. Dan cuti haid adalah keuntungan yang dapat menjaga kesetiaan pegawai.

Sumber gambar, Getty Images
Namun meningkatnya minat pada cuti menstruasi juga terkait dengan pergeseran budaya seputar kesehatan reproduksi yang telah muncul sebelum pandemi. Pendapat ini dikatakan Mary Crooks, Direktur Eksekutif Victorian Women's Trust, di Melbourne, Australia.
Produk menstruasi, misalnya, telah dibebaskan dari Pajak Barang dan Jasa (GST) Australia sejak Januari 2019.
Selain itu, beberapa sekolah umum menyediakan pembalut dan tampon gratis untuk mengurangi tingkat ketidakhadiran murid perempuan.
Pemerintah federal Australia juga baru saja mengumumkan rencana aksi nasional untuk memperluas pengobatan endometriosis dengan anggaran sebesar AUD$58 juta (Rp594 miliar).
Di perusahaannya, Crooks menerapkan 12 hari cuti menstruasi dan menopause pada tahun 2016. Kebijakan itu diambil setelah survei terhadap sekitar 3.500 orang pada 2015 menunjukkan kekhawatiran utama responden (58%) adalah menemukan waktu untuk beristirahat dari pekerjaan.
Perusahaannya telah menerbitkan formulir cuti haid dan fasilitas pendukung lainnya untuk mendorong pihak lain di berbagai sektor mengambil langkah yang sama. Beberapa yang menerapkan cuti haid ini, antara lain, lembaga non-protif Badan Akreditasi Penyelam Australia dan pengelola dana pensiun Future Super.
Crooks berkata, agensinya menerima semakin banyak pertanyaan terkait kebijakan cuti haid.
Lucy, manajer komunikasi berusia 28 tahun dari Melbourne, merasakan langsung manfaat dari kebijakan ini. Dia bergabung dengan perusahaan yang memberikan cuti menstruasi pada Mei 2021.
Meskipun dia tidak ingin cuti setiap bulan, Lucy telah menggunakan kebijakan tersebut beberapa kali pada hari pertama menstruasi, terutama ketika mengalami kram yang sangat buruk, yang diperparah kelelahan dan serangan depresi. Kondisi itu biasanya membuat Lucy sulit berkonsentrasi.
Menurut Lucy, kebijakan perusahaannya yang menawarkan sistem kerja fleksibel dan 12 hari cuti haid berbayar setiap tahun optimal membangun budaya kepercayaan dan itikad baik.
Gagasan bahwa 'Anda adalah yang paling memahami tubuh dan kebutuhan Anda" mendorongnya untuk meluangkan waktu dan memulihkan diri ketika dia membutuhkan cuti haid.
Hak cuti menstruasi juga memotivasi Lucy untuk bekerja lebih keras saat dia tidak sedang haid. Ini membuatnya lebih mungkin untuk merekomendasikan tempat kerjanya kepada orang lain.
Jika pada pekerjaan sebelumnya Lucy merasakan tekanan untuk menjadi prajurit di tempat kerja, sekarang dia merasa sangat dihormati. "Bukan hanya sebagai sepasang tangan dan kaki, tetapi sebagai manusia seutuhnya," kata Lucy.
Sejumlah perusahaan merasakan manfaat cuti menstruasi. Kristy Chong, CEO Modibodi, sebuah perusahaan pakaian dalam yang berbasis di Balmain, Australia, tidak menyesal memperkenalkan 10 hari cuti berbayar untuk stafnya pada Mei tahun 2021.
Chong berkata, kepercayaan di antara manajer dan pekerja telah meningkat dan karyawan pun tampak lebih produktif. Cuti ini, kata dia, turut membantu memposisikan Modibodi sebagai tempat yang menarik untuk bekerja.
"Dengan mendukung perempuan lewat kebijakan ini, Anda memberdayakan mereka untuk benar-benar ingin bekerja dan mengedepankan yang terbaik," ujarnya.
Namun, kebijakan cuti menstruasi secara luas dianggap terlalu mahal, terutama oleh kelompok yang sering mengeluhkan biaya yang dikeluarkan majikan untuk membayar pegawai yang sedang cuti.
Namun Marian Baird, seorang profesor isu gender dan hubungan kerja di Business School University of Sydney, mengatakan perusahaan kemungkinan akan mendapat manfaat saat menerapkan kebijakan tertentu.
"Jika Anda memberikan hak yang tepat, produktivitas perempuan meningkat. Komitmen dan loyalitas mereka juga meningkat. Jelas ada manfaat yang dirasakan perusahaan," ucapnya.
Beban keuangan apa pun sangat berharga bagi Victorian Women's Trust, kata Crooks. Setelah lima tahun menawarkan cuti haid, ketidakhadiran staf rata-rata enam hari per tahun.
Ini adalah misi Trust untuk memberdayakan perempuan, walau ada manfaat untuk menerapkannya. Crooks yakin, perusahaan yang menyediakan tempat yang lebih baik untuk pegawai perempuan akan lebih unggul dari korporasi yang tidak menjalankan kebijakan ini.
Komplikasi
Namun di tengah meningkatnya momentum pemberian cuti menstruasi, kebijakan itu masih rumit dan mengundang tanda tanya.
Beberapa kritikus khawatir gagasan modern cuti haid dapat menghambat kesetaraan gender di tempat kerja karena karyawati yang menstruasi akan diperlakukan berbeda. Anggapan ini muncul walau maksud cuti haid adalah mengurangi tabu terkait menstruasi dan meningkatkan kesejahteraan pegawai.
Mendasarkan kebijakan pada kondisi tubuh perempuan, menurut Golding, dapat memicu stereotip berbahaya bahwa perempuan adalah pegawai yang kurang layak atau tidak dapat diandalkan saat menstruasi. Padahal, kata dia, pemikiran seperti itu tidak logis sama sekali.
Melissa Dobman, seorang psikolog organisasi dan penulis buku Yes, You Can Talk About Mental Health at Work, juga khawatir perempuan dapat dicap terlalu "emosional" jika mereka mendiskusikan gejala menstruasi mereka di kantor.
Walaupun, menurut Dobman, pemimpin perusahaan semestinya bisa mengambil kerentanan itu sebagai peluang menunjukkan keterampilan manajemen.
Selain itu, bahkan jika kebijakan cuti menstruasi diterapkan, pekerja harus merasa seperti mereka berada dalam lingkungan budaya yang cukup permisif untuk memanfaatkannya. Golding mengungkap hal itu dengan mengutip sejumlah kasus terdahulu di seluruh dunia di mana tingkat ketidakhadiran rendah, seperti di Jepang.
Bahkan, menurut Golding, pegawai yang memiliki hak menghindari mengambil cuti karena "rasa malu dan stigma" yang terkait gagasan bahwa itu dapat menghambat karier mereka.
Banyak pegawai, kata dia, baru bersedia memanfaatkan hak cuti jika merasa atasan mereka benar-benar mendukung.
Situasi ini tidak lepas dari faktor pemimpin perusahaan, terutama di industri yang didominasi laki-laki, kata Marian Baird.
Menurutnya, para pimpinan perusahaan dapat memberi isyarat melalui kata dan tindakan bahwa kebijakan cuti itu dapat digunakan dan pegawai yang telah mengambil cuti dapat berbicara secara terbuka tentang pengalaman mereka.

Sumber gambar, Getty Images
Cara kerja dari jarak jauh yang semakin populer juga dapat berperan dalam seberapa bersedia seorang pekerja untuk mengambil cuti haid, bahkan di perusahaan yang mengadvokasi hal ini.
Golding berkata, perempuan mungkin memilih untuk terus bekerja dari rumah daripada mengambil cuti sehari dan berisiko harus mengungkapkan situasi mereka kepada atasan.
Dan meski kebijakan ini mungkin menguntungkan pekerja yang memutuskan untuk menggunakannya, tunjangan perusahaan seperti cuti menstruasi berbayar atau opsi bekerja dari rumah, tidak diberikan secara universal.
Pekerja di sektor jasa, yang menghabiskan hari kerja dengan berdiri mereka, dipaksa memilih antara hari libur dan gaji. Golding percaya, ketidaksetaraan ini harus diperbaiki secara sistemik.
"Hak atas cuti menstruasi berbayar, yang diamanatkan dalam undang-undang yang berlaku secara luas, menyatakan perempuan dari beragam latar belakang sosial-ekonomi akan diberikan kesempatan untuk mengambil cuti itu," tuturnya.
'Kehidupan akan lebih berbeda'
Terlepas dari masalah yang memperumit cuti haid, menurut Baird, jika majikan tidak mengakomodasi pegawai yang sedang menstruasi, pekerja justru bisa mundur dari pasar tenaga kerja secara permanen.
Karyawan yang mengalami menopause, misalnya, memiliki risiko signifikan untuk meninggalkan pekerjaan mereka, menurut sebuah studi tahun 2021 yang diterbitkan oleh Standard Chartered Bank Inggris.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa 25% dari 2.400 responden menyebut gejala haid yang mereka alami, termasuk kurangnya kesadaran dan dukungan dari majikan maupun rekan kerja, membuat mereka lebih mungkin untuk mundur dari pekerjaan.
Sekitar 22% responden lainnya menyebut faktor yang sama membuat mereka lebih mungkin untuk pensiun seutuhnya.
Golding menyebut kekhawatiran seputar kesetaraan gender sebagai hal wajar. Dia juga merasa tren yang membutuhkan momentum ini akan membawa hasil yang lebih positif, bahkan jika pemerintah tidak menuangkannya dalam regulasi.
"Manfaatnya akan lebih besar daripada dampak buruknya," kata Golding.
Adapun, Crooks menyebut bertambahnya perusahaan yang menawarkan cuti haid sukarela adalah pertanda baik.
Sementara Baird menilai bahwa gerakan seperti yang dilakukan di Australia juga dapat memiliki efek positif dalam skala global. Hal ini terutama terjadi karena pekerja dari generasi milenal dan Gen Z semakin blak-blakan daripada pendahulu mereka.
Perusahaan, di sisi lain, kata Baird, menghadapi kekurangan tenaga kerja dan berusaha menawarkan kebijakan yang dapat menarik dan mempertahankan pekerja perempuan muda yang cerdas.
Kembali di New York, Caldwell, seperti halnya Jessie, mau tak mau membayangkan skenario di mana dia memiliki akses ke cuti menstruasi berbayar di tempat kerjanya.
"Saya akan belajar lebih awal untuk merawat diri sendiri dan bahwa saya tidak harus menyangkal fungsi tubuh saya," katanya.
"Itu benar-benar bisa mengubah cara saya berpikir tentang diri saya sendiri. Dengan demikian saya akan menjalani kehidupan yang berbeda," ucapnya.
---
Nama asli Lucy dan Jessie disembunyikan untuk melindungi privasi mereka.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di BBC Worklife.











