Mengapa perusahaan dan karyawan saling 'ghosting' satu sama lain

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Alex Christian
- Peranan, BBC Worklife
Alih-alih mengiriminya penolakan resmi atau penjelasan tentang apa yang telah terjadi, calon pemberi kerja mengabaikannya. Apakah kita terjebak dalam lingkaran 'ghosting'?
Ketika Laura diundang untuk wawancara tahap akhir di sebuah perusahaan musik multinasional yang berbasis di London, dia pikir dia hanya selangkah menuju posisi impiannya.
Setelah melewati wawancara telepon putaran pertama dan bertemu dengan anggota tim secara langsung, yang harus dilakukan Laura hanyalah bertemu dengan seorang eksekutif senior.
"Saya diberi kesan bahwa pertemuan itu hanya formalitas," kata Laura. "Wawancara berjalan dengan baik, dan saya kemudian diberi tahu bahwa saya akan mendapatkan pekerjaan itu."
Dan kemudian, tidak ada yang terjadi.
Baca juga:
Meskipun menerima jaminan awal bahwa dia akan bergabung dengan tim, email konfirmasi resmi tidak pernah tiba.
Laura beberapa kali menindak lanjuti ke departemen SDM perusahaan, dan hanya dibalas dengan pernyataan yang tidak berkomitmen.
"Selalu saya yang memulai percakapan," kata Laura. "Pesan terakhir mengatakan mereka berjanji untuk menghubungi saya segera setelah mereka punya lebih banyak info tentang peran baru saya. Saya tidak pernah mendengar kabar dari mereka lagi."
Laura sudah diabaikan. Istilah sekarang, ghosted. Mereka menghilang seperti hantu.
Alih-alih mengiriminya penolakan resmi atau penjelasan tentang apa yang telah terjadi, calon pemberi kerja mengabaikannya. Ini adalah praktik yang umum dalam proses rekrutmen.
Satu studi baru-baru ini terhadap 1.500 pekerja global menemukan bahwa 75% pencari kerja telah di-ghosted oleh perusahaan setelah wawancara kerja.
Pengusaha secara terbuka mengakui bahwa mereka melakukannya. Hanya 27% dari perusahaan AS yang disurvei oleh situs daftar pekerjaan mengatakan mereka tidak pernah mendiamkan kandidat pada tahun lalu.
Tapi bukan hanya perusahaan yang melakukannya. Saat ini, karyawan juga menghilang dan tidak memberi kabar, dalam jumlah yang lebih tinggi daripada sebelumnya.
Dalam survei yang sama pada tahun 2021, 28% pekerja mengatakan bahwa mereka telah menghilang tanpa kabar. Ini jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan 19% dua tahun sebelumnya.
Fenomena tersebut tampaknya terjadi pada semua tahapan proses rekrutmen. Beberapa pemberi kerja melaporkan bahwa kandidat memutuskan komunikasi setelah penyaringan telepon awal, seperempat mengatakan bahwa karyawan baru "tidak hadir" begitu saja di hari pertama mereka seharusnya mulai bekerja.
Ghosting dianggap sebagai praktik buruk bagi perusahaan dan pekerja. Tidak ada yang suka berada di pihak 'korban'.
Namun kebangkitannya tampaknya tak terhindarkan. Proses perekrutan digital membanjiri perusahaan dengan kandidat, sehingga sulit untuk menjawab pesan semua orang.
Ini juga terjadi saat pemberi kerja berebut mencari orang yang sesuai ketika kekurangan tenaga kerja memberi lebih banyak pilihan bagi para pencari kerja.
Apakah konsekuensi tak terhindarkannya adalah proses rekrutmen yang semakin tidak sopan? Dapatkah kedua belah pihak mengambil langkah untuk mencegah tren ini semakin parah?
Lebih mudah, tapi semakin tidak personal?
Istilah 'ghosting' awalnya diciptakan di dunia kencan. Artinya, secara tiba-tiba dan tak terduga mengakhiri semua kontak. Ini adalah fenomena sosial yang semakin diterima di tempat kerja dan dipraktikkan di kedua sisi meja wawancara.
Tiba-tiba memutuskan komunikasi selama proses rekrutmen umumnya menguntungkan pihak yang berada di posisi yang lebih kuat. Secara tradisional, pemberi kerja lebih cenderung melakukannya daripada tenaga kerja.
Namun, bahkan sebelum Covid-19, ghosting telah menjadi tren yang berkembang di kalangan kandidat juga: berkat pasar kerja yang semakin ketat, mereka bisa mulai meniru perilaku perusahaan.
Tetapi pandemi telah bertindak sebagai katalis, memicu lonjakan saat ini. Yuletta Pringle, dari Society for Human Resource Management yang berbasis di Virginia, AS, mengatakan peningkatan tersebut datang dari pekerja dan pengusaha.
Pringle mengaitkan kenaikan itu sebagai akibat dari Pengunduran Diri Besar-besaran. "Kekurangan tenaga kerja telah membuat pemberi kerja dalam posisi terjepit dan putus asa mencari pekerja, yang berarti mereka harus makin banyak mencari pekerja secara online dan mungkin tidak dapat menanggapi semua orang," kata dia.
"Di sisi karyawan, ada begitu banyak lowongan pekerjaan sehingga mereka mungkin menghilang begitu saja saat sibuk mencari pekerjaan ideal dalam beberapa proses rekrutmen."
Dalam banyak kasus, proses rekrutmen telah didigitalkan. Algoritme pencarian kerja menyodorkan lowongan tepat di depan pekerja. Pilihan 'Melamar pekerjaan dengan mudah' berarti kandidat dapat mengirimkan resume untuk banyak pekerjaan dengan cara lebih mudah dari sebelumnya.
Wawancara virtual telah meningkatkan aksesibilitas, meningkatkan peluang bagi pengusaha dan pekerja untuk menemukan yang paling cocok.
"Sebelum pandemi, hanya sebagian kecil dari wawancara yang diperantarai melalui kami, dilakukan secara virtual," kata Craig Freedberg, direktur regional di perusahaan rekrutmen Robert Half, yang berbasis di London. "Sekarang, 99% wawancara tahap pertama dilakukan melalui panggilan Zoom."
Namun, kenyamanan perekrutan digital dan virtual membutuhkan biaya. Pengusaha harus memperluas jaringan mereka dan mewawancarai lebih banyak orang sebagai akibat dari krisis perekrutan.
Dampaknya terasa langsung bagi manajer perekrutan yang, baik di dalam perusahaan atau di perusahaan perekrutan eksternal, berurusan dengan banyak aplikasi.
"Kebanyakan ghosting yang kita lihat hari ini mungkin hanya fakta bahwa ada orang yang tidak bisa membalas pesan semua orang," kata Pringle.
Hilangnya wawancara langsung juga dapat menjadi faktor ghosting oleh kedua belah pihak. "Kadang-kadang lebih sulit membangun hubungan dengan seseorang secara virtual," kata Freedberg.
"Investasi emosional ketika pergi bertemu seseorang untuk wawancara langsung sulit untuk ditiru ketika pertemuan dilakukan cukup dengan mengklik tautan kalender dari rumah, dan lebih mudah bagi pemberi kerja untuk mengabaikan orang yang tidak diteminya secara tatap muka."
Oleh karena itu, prosesnya dapat terasa semakin transaksional. Di pasar kerja yang sedang berkembang saat ini, pelamar mungkin juga kebanjiran. "Setiap saat kandidat didekati banyak pekerjaan untuk dipilih," kata Freedberg. "Jika mereka punya beberapa lamaran sekaligus, akan lebih mudah untuk mengabaikan salah satunya."

Sumber gambar, Getty Images
Menyeimbangkan ghosting dan profesionalisme
Kondisi pasar mungkin menormalkan tidak membalas setiap prospek atau kandidat. Tapi kerugian dirasakan baik oleh pemberi kerja dan kandidat, yaitu meninggalkan kesan buruk dan kemungkinan mengakhiri hubungan profesional bahkan sebelum dimulai.
Karena alasan itu, beberapa perusahaan, tetap kukuh anti-ghosting, bahkan jika itu dilakukan oleh pencari kerja.
"Dalam industri kami, sangat penting untuk membangun hubungan yang kuat, jadi kami tentu saja anti-ghosting," kata Christoph Hardt, pendiri pasar konsultasi Comatch, yang berbasis di Berlin.
"Namun demikian, kami melihat lebih banyak permintaan kami kepada konsultan tidak dijawab. Itu dapat dilihat sebagai tidak profesional, tetapi ini adalah konsekuensi dari pasar saat ini. Seorang pekerja mungkin tak menjawab pesan hanya karena mereka terlalu sibuk."
Pringle menyarankan bahwa baik pengusaha maupun pekerja dapat mengambil manfaat dari definisi ghosting dan sampai titik mana itu menjadi ketidakprofesionalan.
"Jika Anda memposting lowongan kerja secara digital dan ratusan kandidat melamar tapi tetapi tidak dibalas satu per satu, apakah itu ghosting? Atau, apakah ghosting akan terjadi setelah ada kontak dua arah dan kemudian komunikasi terputus? Akan sangat membantu untuk mendefinisikannya terlebih dahulu. "
Seperti istilah kencannya, Freedberg percaya bahwa ghosting wawancara berakar pada kurangnya komitmen.
"Pendahulu dari ghosting adalah ketika salah satu pihak tidak merasa terlibat dalam proses atau memiliki investasi emosional," katanya.
"Harus ada penekanan yang lebih besar untuk mendekati orang yang menurut Anda benar-benar tepat untuk pekerjaan itu. Dan, jika seseorang meluangkan waktu dari hari mereka untuk wawancara, secara virtual atau secara langsung, mereka layak mendapatkan umpan balik."
Pringle percaya tanggung jawab untuk komunikasi masih berada di pihak pemberi kerja - dan mengatakan jenis komunikasi yang tepat dapat membatasi prospek ghosting sejak awal.
"Jika pemberi kerja jelas dan spesifik dalam persyaratan posisi, tepat di awal proses perekrutan, itu bisa membantu mengurangi ghosting di sisi karyawan," kata dia.
Tetap berhubungan dengan kandidat selama proses rekrutmen juga penting, kata Freedberg. "Seringkali, ini hanya tentang mengelola ekspektasi," kata dia.
"Jika ada penundaan proses rekrutmen di kedua sisi, menanggapi email orang dan memberi tahu mereka akan selalu dianggap sebagai praktik yang baik."
Tapi pekerja juga punya tanggung jawab. Freedberg menyarankan bahwa alih-alih melamar pekerjaan dengan autopilot, pekerja seharusnya berhati-hati memilih posisi yang menawarkan kecocokan. Jika tidak, mereka berisiko membuang waktu perekrut.
"Jika seorang kandidat setuju untuk bertemu untuk wawancara, kemudian memutuskan untuk menghilang, itu tidak akan disukai klien," kata dia. "Itu hanya praktik yang buruk."
Secara umum, untuk kedua belah pihak, aturan praktisnya adalah semakin jauh Anda mengikuti proses rekrutmen, semakin ghosting tidak dapat diterima.
Semakin banyak upaya yang diinvestasikan oleh pelamar atau perusahaan dalam proses rekrutmen, semakin kasar pemutusan kontak yang akan dirasakan. Tak pelak, itu akan meninggalkan kesan buruk - seperti yang dialami Laura.
Pada akhirnya, dia tidak pernah menerima email penolakan. Sebaliknya, penundaan, keraguan, dan ghosting yang dia alami menimbulkan pukulan psikologis yang lebih dalam, yang menyebabkan dia memikirkan kembali seluruh karirnya.
"Saya lebih suka diberitahu bahwa untuk alasan apa pun saya tidak mendapatkan pekerjaan itu," kata Laura.
"Tidak ada alasan untuk menakut-nakuti saya: Saya telah menginvestasikan begitu banyak waktu dan energi untuk mencapai titik itu, hanya untuk dijatuhkan begitu saja."
Versi bahasa Inggris dari artikel ini,Why workers and employers are ghosting each othersbisa Anda baca di lamanBBC Worklife.










